<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Official Weblog of Mahardhika Zifana &#187; Family &amp; Education &gt;&lt; Pendidikan &amp; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://mahardhikazifana.com/category/family-education-pendidikan-keluarga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mahardhikazifana.com</link>
	<description>His Knowledge, Thinking, and Journal</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Dec 2009 04:55:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>UU BHP : Di antara Para pemimpin Indonesia dan Raja Rama V dari Thailand</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/uu-bhp-di-antara-para-pemimpin-indonesia-dan-raja-rama-v-dari-thailand.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/uu-bhp-di-antara-para-pemimpin-indonesia-dan-raja-rama-v-dari-thailand.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 12:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Tak jauh dari gugusan pulau Nusantara, pada tahun 1868, negeri Siam mencatat sebuah sejarah. Negeri tersebut menobatkan seorang raja yang baru berusia 15 tahun, Raja Rama V dari Dinasti Chakri, menggantikan ayahnya yang mangkat. Nah, apa istimewanya Raja Rama V ini? Salah satu kalimat mutiara yang pernah diucapkan mulutnya menghiasi buku diari saya. Bunyinya:
“Send your [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Tak jauh dari gugusan pulau Nusantara, pada tahun 1868, negeri Siam mencatat sebuah sejarah. Negeri tersebut menobatkan seorang raja yang baru berusia 15 tahun, Raja Rama V dari Dinasti Chakri, menggantikan ayahnya yang mangkat. Nah, apa istimewanya Raja Rama V ini? Salah satu kalimat mutiara yang pernah diucapkan mulutnya menghiasi buku diari saya. Bunyinya:</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="color: black;">“<em>Send your children to school and give them the benefit of free education to enable them to become better citizens,</em><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></em></span></a><em>” </em>(Rama V)</span><span id="more-511"></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Meskipun Rama V naik tahta dalam usia muda, berkat didikan ayahnya, Raja Rama IV, ia berpandangan jauh ke depan untuk menyelamatkan bangsanya. Saat itu negara-negara Eropa sedang berlomba-lomba memperluas tanah jajahan di belahan Asia. Berkat usaha dan kerja keras serta kelihaiannya, Thailand tak pernah dijajah negara Barat hingga detik ini.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Nah, sekarang mari kita bandingkan sikap pemimpin Thailand yang hidup di Abad 18 itu dengan para pemimpin Indonesia yang hidup di zaman sekarang, Abad 21. Menyedihkan sekali bahwa kita mendapati para pemimpin kita yang hidup dalam zaman yang lebih modern ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata masih memiliki pikiran dan perspektif yang dangkal menyangkut pendidikan.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Betapa tidak, Indonesia baru mencanangkan wajib belajar (Wajar) 9 tahun pada akhir era rezim Soeharto di tahun 1996. Tujuannya, menyiapkan SDM Indonesia agar menjadi pekerja yang cakap dan terampil. Tapi sampai saat ini Wajar 9 tahun itu hanya kata-kata indah yang tak pernah terlaksana. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Maka, adalah wajar jika berdasarkan World Competitiveness Report 1996, kualitas Sumber Daya Manusia Thailand menempati urutan ke-40 dunia. Sementara kualitas SDM Indonesia baru berada pada urutan ke-45, jauh di bawah Singapura yang menempati urutan ke-8, Malaysia ke-34, Cina ke-35, Filipina ke-38. Dalam peringkat Indeks Pembangunan Manusia atau IPM yang dibuat UNDP di tahun 1999, Indonesia pun ‘sukses’ menempatkan diri pada peringkat yang kurang menggembirakan, yaitu posisi 105 dari 108 negara yang diteliti.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Rendahnya kualitas SDM Indonesia, mutlak sangat berkaitan dengan alokasi anggaran pendidikan dan tata penyelenggaraan pendidikan yang dijalankan di negeri ini. pada medio 1983 hingga 1993, alokasi anggaran pendidikan di Indonesia sebesar 10 persen. Sedang Singapura telah mengalokasikan 22 persen anggarannya, Thailand 21 persen, Malaysia 20 persen serta Filipina 15 persen. Sangat menyedihkan sekali bahwa kesadaran untuk meningkatkan anggaran pendidikan Indonesia baru bisa direalisasikan dalam amandemen keempat UUD 1945 tahun 2001, yang mengisyaratkan minimal 20 persen dari APBN-APBD, dan itu pun masih sebatas di atas kertas karena hingga kini masih belum ada realisasinya.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Di tengah pergulatan bangsa ini untuk menjadikan pendidikan sebagai panglima, tiba-tiba saja DPR mengesahkan sebuah Rancangan Undang-Undang yang dinamakan UU BHP (Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan) demi alasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan mengatasi minimnya anggaran. Nun lama sebelum UU BHP ini disahkan, pada tahun 2002 pemerintah telah membuat regulasi tentang Perguruan tinggi berbasis BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang konsepnya merupakan cikal bakal BHP sekarang ini. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Sedianya, konsep BHP dirancang untuk memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada kampus untuk menata dan mengelola konsep dan anggaran sendiri. Alkisah, berdasarkan UU BHP itu pula kampus diberi keleluasaan hingga pada menata kurikulum sendiri dan mencari sponsor untuk mengatasi kebutuhan anggaran yang tidak akan lagi dipasok oleh pemerintah melalui ditjen Dikti. Diatur pula bahwa 1/3 dana penyelenggaraan pendidikan tinggi akan dibebankan kepada peserta didik. Namun seperti sudah kita ketahui, biasanya kenyataan selalu berbicara lain di negeri ini.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Maka, tak aneh jika disahkannya UU BHP ini kemudian menuai protes dari para mahasiswa yang kritis. Otonomi pengelolaan keuangan dengan melepas begitu saja PT mau tak mau akan membuat PT kelimpungan mencari dana penyelenggaraan pendidikan. Untuk PT-PT yang tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri, tak ada jalan lain bagi mereka untuk menyiasati ini selain dengan membebankan dana penyelenggaraan tersebut kepada mahasiswa. Parahnya, ini kemudian diperkuat oleh ketentuan bahwa 1/3 dana penyelenggaraan pendidikan tinggi akan dibebankan kepada peserta didik. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Pada kenyataannya, klausul penarikan sebagian dana dari peserta didik pada hakikatnya merupakan pelanggaran kepada UUD 1945 yang mengatur bahwa setiap warga negara berhak untuk memperoleh pengajaran. Berhak berarti memiliki hak, jadi dalam hal ini, pendidikan adalah hak yang harus diterima setiap warga negara tanpa memandang kasta, agama, apalagi harta. Dengan klausul UU macam ini, pupuslah sudah harapan warga miskin namun kaya prestasi untuk bisa ikut menikmati pendidikan tinggi. Mereka terpaksa harus bertekuk lutut kepada anak-anak yang kaya namun berotak miskin yang bisanya adalah anak-anak para kapitalis kaya dan pejabat. Semua hanya karena negara yang tak bisa menjalankan fungsinya untuk memberikan hak pendidikan kepada mereka.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Kemudian klausul yang memperbolehkan penataan kurikulum sendiri dan mencari sponsor untuk mengatasi kebutuhan anggaran, adalah klausul yang mengandung potensi bahaya besar. Ilustrasinya begini: bagaimana jika sebuah universitas yang sudah kehilangan dana bantuan pemerintah menyiasati dana penyelenggaraan pendidikan dengan memperoleh sponsor. Lalu sponsor tersebut adalah pihak-pihak asing yang hanya mau memberikan dana jika kurikulum di universitas tersebut diatur agar sesuai dengan kepentingan sponsor? Maka bahaya besar mengancam, sebab PT akan segara belaih fungsi menjadi corong kepentingan politik pihak asing. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Dengan segala kelemahannya itu, secara pribadi saya menganggap bahwa UU BHP ini mutlak bukan dibuat demi kepentingan rakyat dan atas dasar aspirasi rakyat. Namun UU BHP ini hanya disahkan untuk kepentingan segelintir kapitalis yang ingin ikut menuai untung dari maraknya dunia pendidikan tinggi yang semakin bergairah karena rakyat semakin menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi generasi mendatang. Dalam hal ini, entah di mana nurani dan pikiran para pemimpin bangsa ini, juga para wakil rakta di DPR ketika mereka mengesahkan UU BHP.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Terakhir, simpati saya untuk mereka yang masih berstatus mahasiswa PTN&#8230;.semoga kalian adalah korban terakhir dari skema dan sistem pendidikan Indonesia yang tidak pernah mencerdaskan rakyatnya&#8230;</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="color: black;">Kirim anak-anak kalian ke sekolah dan biarkan mereka menerima pendidikan gratis agar mereka terdidik untuk menjadi warga negara yang baik (terjmh. Bebas –pen.)</span></p>
</div>
</div>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Fsocial-history-sosial-sejarah%2Fuu-bhp-di-antara-para-pemimpin-indonesia-dan-raja-rama-v-dari-thailand.html&amp;linkname=UU%20BHP%20%3A%20Di%20antara%20Para%20pemimpin%20Indonesia%20dan%20Raja%20Rama%20V%20dari%20Thailand"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/uu-bhp-di-antara-para-pemimpin-indonesia-dan-raja-rama-v-dari-thailand.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model Role Playing Dalam Aktivitas Pembelajaran</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/model-role-playing-dalam-aktivitas-pembelajaran.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/model-role-playing-dalam-aktivitas-pembelajaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 11:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung kompetensi tamatan sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitikberatkan pada model belajar konvensional seperti ceramah, sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Tujuan pendidikan di sekolah harus </span><span style="color: black;">mampu </span><span style="color: black;">mendukung kompetensi tamatan sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitikberatkan pada model belajar konvensional seperti ceramah</span><span style="color: black;">,</span><span style="color: black;"> sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar (Suwarma, 1991; Jarolimek, 1967). Suasana belajar seperti itu, menjauhkan peran pendidikan IPS dalam upaya mempersiapkan warga negara yang baik dan memasyarakat (Djahiri, 1993)</span><span id="more-466"></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Di sekolah saat ini, </span><span style="color: black;">ada </span><span style="color: black;">indikasi bahwa pola pembelajaran bersifat<em> teacher centered</em>. Kecenderungan pembelajaran demikian, mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri siswa dalam pembelajaran sehingga prestasi belajar yang dicapai tidak optimal. Kesan menonjolnya verbalisme dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih terlalu kuat. Hasil penelitian Rofi’uddin (1990) tentang interaksi kelas di sekolah dasar menunjukkan bahwa 95% interaksi kelas dikuasai oleh guru. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan oleh guru dalam interaksi kelas berupa pertanyaan-pertanyaan dalam kategori kognisi rendah.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah model belajar role playing. Menurut Zuhaerini (1983), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang didalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Sementara itu, Davies (1987) mengemukakan bahwa penggunaan role playing dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan-tujuan afektif. Esensi role playing, menurut Chesler dan Fox (1966) adalah <em>the involvement of participant and observers in a real problem situation and the desire for resolution and understanding that this involvement engender</em>.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa penggunaan model ini dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Ada empat asumsi yang mendasari model ini </span><span style="color: black;">memiliki </span><span style="color: black;">kedudukan</span><span style="color: black;"> yang </span><span style="color: black;">sejajar dengan model-model </span><span style="color: black;">p</span><span style="color: black;">engajar</span><span style="color: black;">an</span><span style="color: black;"> lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah: Pertama, secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menekankan dimensi &#8220;di sini dan kini&#8221; (<em>here and now</em>) sebagai isi pengajaran. Kedua, bermain peran memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain. Ketiga, model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Keempat, model mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi (<em>covert</em>) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Untuk dapat mengukur sejauhmana bermain peran memberikan manfaat kepada pemeran dan pengamatnya ditentukan oleh tiga hal, yakni (1) kualitas pemeranan; (2) analisis yang dilakukan melalui diskusi setelah pemeranan; (3) persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi nyata dalam kehidupan. Pembelajaran dengan model role playing dilaksanakan menjadi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut: (1) tahap memotivasi kelompok; (2) memilih pemeran; (3) menyiapkan pengamat; (4) menyiapkan tahap-tahap permainan peran; (5) pemeranan; (6) diskusi dan evaluasi; (7) pemeranan ulang; (8) diskusi dan evaluasi kedua; (9) membagi pengalaman dan menarik generalisasi.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Kemampuan guru dalam performa pembelajaran merupakan seperangkat perilaku nyata guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya (Johnson, dalam Natawidjaya, 1996). Menurut Sunaryo (1989) dan Suciati (1994), performansi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran mencakup tiga aspek, yaitu membuka pelajaran, melaksanakan pelajaran, dan menutup pelajaran.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana kesiapan mental dan menumbuhkan perhatian siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari. Dasar kesiapan mental yang dimaksud, menurut Sumaatmadja (1984) antara lain minat, dorongan untuk mengetahui kenyataan, dan dorongan untuk menemukan sendiri gejala-gejala kehidupan. Menurut pendapat Connel (1988), kesiapan belajar siswa meliputi kesiapan afektif dan kesiapan kognitif. Sedangkan menurut Bruner (dalam Maxim, 1987), kesiapan merupakan peristiwa yang timbul dari lingkungan belajar yang kaya dan bermakna, dihadapkan kepada guru yang mendorong siswa dalam berbagai peristiwa belajar yang menggugah.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Berdasarkan kutipan pendapat di atas, aktivitas membuka pelajaran pada hakikatnya merupakan upaya guru menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan, dan membuat keterkaitan. Menarik perhatian siswa dapat dilakukan antara lain dengan gaya mengajar, penggunaan alat-bantu mengajar, dan pola interaksi yang bervariasi. Kemampuan melaksanakan proses pengajaran menunjuk kepada sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh guru ketika ia menyajikan bahan pelajaran. Pada tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, antarsiswa, dan antara siswa dengan kelompok belajarnya. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Selanjutnya, Oregon (1977) mengemukakan pula mengenai cakupan pelaksanaan pengajaran seperti aspek tujuan pengajaran yang dikehendaki, bahan pelajaran yang disajikan, siswa yang belajar, metode mengajar yang digunakan, guru yang mengajar, dan alokasi waktu dalam mengajar.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="color: black;">Kemampuan mengakhiri atau menutup pelajaran merupakan kegiatan guru baik pada akhir jam pelajaran maupun pada setiap penggalan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini dilakukan dengan maksud agar siswa memperoleh gambaran yang utuh mengenai pokok-pokok materi yang dipelajarinya. Menutup pelajaran secara umum terdiri atas kegiatan-kegiatan meninjau kembali dan mengevaluasi. Meninjau kembali pelajaran mencakup kegiatan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, sedangkan mengevaluasi pelajaran merupakan kegiatan untuk mengetahui adanya pengembangan wawasan siswa setelah pelajaran atau penggal kegiatan belajar berakhir.</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Ffamily-education-pendidikan-keluarga%2Fmodel-role-playing-dalam-aktivitas-pembelajaran.html&amp;linkname=Model%20Role%20Playing%20Dalam%20Aktivitas%20Pembelajaran"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/model-role-playing-dalam-aktivitas-pembelajaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Nawas Trapped the Caliph</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/abu-nawas-trapped-the-caliph.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/abu-nawas-trapped-the-caliph.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 02:33:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[True Stories >< Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Once upon a time, Abu Nawas walked alone and passed a Bedouin Village. In that Village, He saw a cafe where hundreds of people gathered and formed a crowd. Interested Abu Nawas then wished to see what made the Bedouins gathered there. He then knew that the cafe was a place used by a Bedouin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Once upon a time, Abu Nawas walked alone and passed a Bedouin Village. In that Village, He saw a cafe where hundreds of people gathered and formed a crowd. Interested Abu Nawas then wished to see what made the Bedouins gathered there. He then knew that the cafe was a place used by a Bedouin to sell <em>Harira</em> mush –a popular Bedouin traditional food made from rice and meat. Abu Nawas did not immediately step into that cafe. Felt run down and wish to rest, hence he stopped to walk up at a village boundary.</span><span id="more-452"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Abu Nawas rested and sat under a tree. He felt that the atmosphere was very fresh and then he fallen asleep under the tree. He didn’t know for how long he slept there. But suddenly, someone took his body and threw him onto a hard ground. Crush! He suddenly waked-up.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">“Ouwch! Who threw me here?” he asked furiously.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">He then realized that he was in a sultry column which had iron grates –like a prison or jail. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Hey! Let me out of here! Why did you put me here?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">It took no long time, when A big body Bedouin appeared. Abu Nawas paid attention to him carefully. He remembered this people! He was the Harira mush seller near the middle of village.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Speak no loudly! And eat this quickly!&#8221; said the big Bedouin as he gave a saucer of food through the column hole. Abu Nawas did not immediately eat that food. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Why I am served a sentence to prison?&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“I am going to kill you and make you meat for my Harira mush!”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“What? So you sell a mush with human’s meat?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Exactly! That is our favored food, stranger!”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Our? So all of villagers eat human’s meat?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Sure! It includes your meat for you will be pieces of meat tomorrow!”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Since when did all of you become cannibals?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Since&#8230;I don’t know&#8230;but we have become cannibals for long time. At least once in a month we eat human.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“So how do you get the human?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“We are seeking it nowhere. But every time a man passing this village, we surely catch him and make him mush.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Abu Nawas kept silence for a moment. He thought and tried to find way to escape from that madness. He felt angry to the Caliph who didn’t know that some of his people in his Caliphate had become cannibals. He then realized that the Caliph may be innocent. That condition may be caused by the Interior Minister who always reported the good and hided the bad to the Caliph. But the Caliph surely had to know about that village.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Abu Nawas, then talked to the big Bedouin,</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“My body is thin and you will not get enough meat for all villagers. If you let me out of here, I am going to bring a friend of mine who are fat and have a big body, so you may get a lot of meat from him. He will be able to provide meats for five days, perhaps.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Is it true?&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“I never lie!”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">The bedouin kept silence for a while. Then he finally agreed to let Abu Nawas leaved the prison. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Then, Abu Nawas went to the palace and faced His Majesty, the Caliph Harun Al Rasheed.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">The Caliph asked him,</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;What’s up Abu Nawas? Why do you want to see me?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Your Majesty, I just visited a unique village.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Unique village? What do you mean?&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;There is a villager who sells delicious Harira Mush. Besides, the village has a fresh air and good view.&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Well, I am so interested to visit the village. I will prepare my troops to go there!&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;But I think it is good for you to go there without </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Pardon me, Sir. But I think it will be better for you to go there without the guardian troops. You have to undercover as an ordinary person.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“But it is the procedure for me as the Caliph of this State?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Pardon me, Your Majesty, if you bring the army hence the countryside people will be fear and you will not see the mush seller.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Well&#8230;You’re right, perhaps. So when will you take me there?”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“What about now, your majesty? If we go now, we can arrive at the village at noon.”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Finally, the caliph agreed to undercover himself as an ordinary person who followed Abu Nawas to visit the Bedouin village.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Abu Nawas guide the Caliph to step into the place where people ate mush. There, they bought some bowl of mush. Thus the Caliph ate his mush.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;You’re right, Abu Nawas. This mush is so delicious. It is true!&#8221; said the Caliph after he ate the mush.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Hey! Why don’t you eat yours, Abu Nawas?&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;"><span> </span>“I find my stomach so full, your majesty,&#8221; Abu Nawas said. At the same time, he winked up to the mush seller.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">After eating, the Caliph was guided to visit a place of shade trees which has fresh atmosphere around.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;You also right&#8230;the atmosphere is really fresh and &#8230;.. ahhhhh &#8230;&#8230;.. I am so sleepy,&#8221; said the Caliph.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Wait your majesty! I would like to go for a moment. I feel that I need to go to pee&#8230;,”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">“Alright, just go if you want to go!”</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Then, Abu Nawas stepped away. Then the Caliph was fallen asleep. But he suddenly waked up when he heard someone shout at him,</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;"> &#8220;Hey you fat! Wake up! Or I will kill you here!&#8221; The mush seller shouted to the Caliph while he also swung his sword near His Majesty’s neck.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;"> &#8220;What is it?!&#8221; the Caliph protested.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Shut up! Stand up and walk!&#8221;</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Then, the Caliph followed the Bedouin’s command. He then were put in the jail where Abu Nawas has also been put there a day before.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">&#8220;Why do you put me here?&#8221; ask the Caliph.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Tomorrow, we will kill you, we will mix your body’s meat with wheat flour to make our famous delicious mush. Haha!”</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;My God! so I ate&#8230;?&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Yes you have been eating our mush, mush with man’s meat.&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Oughwh&#8230;.!&#8221; His Majesty wanted to vomit what he had eaten, but he could not.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Now, sleep! &#8230; For the future say that you will die.&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Wait&#8230;.&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Huh? What do you want now?&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;How much you get from selling the mush each day?&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Fifty Dirhams!&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;That’s all?&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Yes!&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;I can give you five hundred Dirhams by only selling a hat.&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Ah&#8230;, you’re kidding?&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Now just give me materials to make a cloth hat. Tomorrow morning, you can try to sell the hat that I make in the market of Baghdad. You may have all of the money!&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">The Bedouin was in doubt. But anyway, he then turned and stepped away. Then he came back with materials for making hat.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">A day after and late in the morning, the Caliph gave a good hat to the Bedouin. His Majesty said,</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Sell this hat to Minister Farhan in Baghdad palace.&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Then, the Bedouin obeyed the Caliph’s suggestion.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Minister Farhan was surprised when the Bedouin came to meet him.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;What do you want?&#8221; Farhan asked.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;Selling this hat&#8230;&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Farhan found that it is a good hat. He tried to check and was so surprised when he found that there were ornaments with a form of letters. It was actually a letter from the Caliph to himself.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;How much is this hat?&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;It is five hundred Dirhams! No less!&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">“Alright! I buy this!&#8221;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">The Bedouin then went home with a happy face. He did not know that Minister Farhan had sent soldiers to take a step. At the mid-day, soldiers came back to the palace and reported the location of the mush vendor’s village.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Farhan acted quickly in accordance to mail message from the Caliph. Thousands of armed soldiers were brought to the village. All Bedouins in that village were arrested while he also conducted the successful rescue for the Caliph.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;It was fortunate that you have acted quickly. Just a little late, I have been a mush!&#8221; stated the Caliph to Farhan.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;This was caused by Abu Nawas! He must have a punishment!&#8221; Farhan said.</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">&#8220;No! It is yours! You never check that residents of this village are cannibals!&#8221; Shout the Caliph.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Fsocial-history-sosial-sejarah%2Fabu-nawas-trapped-the-caliph.html&amp;linkname=Abu%20Nawas%20Trapped%20the%20Caliph"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/abu-nawas-trapped-the-caliph.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sex Education Prevents AIDS and HIV Spreading</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/sex-education-prevents-aids-and-hiv-spreading.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/sex-education-prevents-aids-and-hiv-spreading.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 04:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Billions of people living on this planet are afraid of AIDS. In five years study of thousands participants, it is found that people do not ready to have HIV in their body. However, based on the recent research, every minute the HIV attacks at least three people. Because of that, the most challenging job for [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Billions of people living on this planet are afraid of AIDS. In five years study of thousands participants, it is found that people do not ready to have HIV in their body. However, based on the recent research, every minute the HIV attacks at least three people. Because of that, the most challenging job for world of medicine now is to find the cure for HIV infection and AIDS and it becomes something people like to think.<span id="more-391"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Whenever we think about the HIV and AIDS, some of us always think that it is a complex disease that couldn’t be cured. Just a little part of us thinks how to make a right medicine handling for this syndrome. People also do not often think about how to prevent people get AIDS or HIV since prevention is the most right step to undo people infected AIDS.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">The best prevention is to let people know about AIDS and HIV. When people really know about the danger of AIDS and HIV, they won’t do something that can make them infected. It’s also important to educate people about healthy sex because sex intercourse is the most important factor in spreading of AIDS and HIV. Making people know about HIV and AIDS is the most effective way to prevent than just tell about how to act in preventing AIDS and HIV such using condom etc.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height: 150%;">In order to make people knowing healthy sex, AIDS and HIV by well, it is very important to put sex education in school. Beside AIDS and HIV problem, we see that many young people are trapped in free sex nowadays. So, beside to make effective prevention for AIDS and HIV spreading, put sex education in school would be a usable way in handling and preventing people demoralization such free sex.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height: 150%;">However, we also have a challenge of putting sex education in school. We know that generally, Indonesian people think that talking about sex is something impolite. Because of that, we have to make people understand about whole comprehensively. By that way, people would understand about the important of sex education in school.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Ffamily-education-pendidikan-keluarga%2Fsex-education-prevents-aids-and-hiv-spreading.html&amp;linkname=Sex%20Education%20Prevents%20AIDS%20and%20HIV%20Spreading"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/sex-education-prevents-aids-and-hiv-spreading.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Making Students to be Able to Make a Good Writing</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/making-students-to-be-able-to-make-a-good-writing.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/making-students-to-be-able-to-make-a-good-writing.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 04:13:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Lenneberg (1967) once noted that writing are culturally specific, learned behavior. It means that writing is not like talk that is learned universally and naturally, but it used to be learned by members of a literate society. In other words, writing skills cannot be built by human nature but it is skills that people should [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText2" style="line-height: 150%;">Lenneberg (1967) once noted that writing are culturally specific, learned behavior.<span> </span>It means that writing is not like talk that is learned universally and naturally, but it used to be learned by members of a literate society.<span> </span>In other words, writing skills cannot be built by human nature but it is skills that people should build it in themselves by learn it.<span id="more-388"></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height: 150%;">Nowadays, almost every society in this world has literate culture.<span> </span>Besides, people now make a lot of written media for communication.<span> </span>We see that there are newspapers, magazines, bulletins etc.<span> </span>Because of that, skills of reading and writing have become very important skills for human’s life.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Writing ability therefore takes on great importance.<span> </span>It influences us in making a good writing composition that we are going to use in written communication.<span> </span>Because of that, we have to realize that people’s writing ability must always be improved in order to make people able to write.</p>
<p class="MsoHeading8" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-style: normal;">Brown (1994) has explained about how to teach writing by performing topic of research on second language writing.<span> </span>In the earlier chapter that as communicative language teaching gathered momentum in the 1980s, teachers learned more and more about how to teach fluency, not just accuracy how to use authentic texts and contexts in the classroom, how to focus on the purposes of linguistic communication and how to capitalize on learners’ intrinsic motives to learn.<span> </span>And all principles that have been developed to fulfill those needs are also applied to advances in the teaching of writing in second language and foreign language contexts.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Brown highlighted three issues in teaching writing history for our consideration as we prepare to teach writing skills.<span> </span>There are process and product, Contrastive rhetoric and Authenticity.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Looking at this issue is to distinguish between real writing and display writing.<span> </span>As explained by Raimes (1991), real writing is writing when the reader doesn’t know the “answer” and genuinely wants information.<span> </span>But writing could be primarily for the display of student knowledge if in a class; the instructor is the sole reader.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height: 150%;">Brown (1994) also listed some characteristic of written language.<span> </span>There are<strong> </strong>permanence, production time, distance, orthography, complexity, vocabulary, and formality<strong>.<span> </span></strong>Besides, there are some micro-skills that we have to acquire in writing activity such as produce graphemes and orthographic pattern to English, produce writing at an efficient rate of speed to suit the purpose etc.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">There are some types of classroom writing performance that we can use in teaching writing such imitative, or, writing down.<span> </span>Others are intensive, or, controlled, Self-writing, display writing, real writing<span> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;">From a few related literatures, I found many things that are related with teaching writing.<span> </span>For next, I will try to write down a few points in teaching writing which Brown didn’t write in his <em>Teaching By Principles</em>.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height: 150%;">We all know that according to Lenneberg (1967), writing is culturally specific, learned behavior; it means that writing is not like talk that is learned universally and naturally.<span> </span>It used to be learned by members of a literate society.<span> </span>In other words, writing skills cannot be built by human nature but it is skills that people should build it in themselves by learn it.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Byrne (1988), in his <em>Teaching Writing Skill</em> noted some problems in writing are Psychological Problems, Linguistic Problems, and Cognitive Problems.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Teachers and learners have specific kinds of writing that they want to do.<span> </span>They also may have some specific skills that need to be developed.<span> </span>Next below are writing activities that can be engaging and challenging and can add variety to writing instruction.<span> </span>Besides, they could develop important literacy skills.<span> </span>The writing that emerges from an activity may be an end in itself or may lead to more extensive writing, employing one of the approaches discussed above.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><em>Assessing Needs</em>: This activity tries to have learners write about what they want to learn and why is an excellent way for the teacher to conduct a class needs assessment.<span> </span>Beginning level learners can write just a few words in English, or in their native language if need be.<span> </span>At higher levels, learners can write a simple letter, an entry in a dialog journal, or even an essay.<span> </span>They can be asked to respond to questions such as &#8220;Where do you use English?”<span> </span>&#8220;Where do you want to use English?”<span> </span>&#8220;What language skills (reading, writing, speaking, listening, use of vocabulary, use of grammar) are you interested in developing?&#8221; and &#8220;Where and how do you practice reading?”<span> </span>(e.g., at home, reading books to my child)<span> </span>(Weddel &amp; Van Duzer, 1997).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><em>Reacting to a Text or Stimulus</em>: By doing this activity, learners can be able to record their reactions to various stimuli.<span> </span>They might do a free writing or an LEA piece in response to a piece of music; a photograph or drawing; a sound, such as water being poured; or even smells, such as the aroma of different spices or flowers.<span> </span>They can also respond to a field trip, movies, or written texts such as stories, poetry, and narratives.<span> </span>Reactions can be in single words, sentences, paragraphs, an essay, or a poem (Kazemak &amp; Rigg, 1995.)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><em>Writing Letters</em>: this activity is containing letters of complaint (while studying consumerism), cover letters (while preparing for employment), or letters of advice (while studying newspaper features) allow learners to practice some of the types of writing that are useful in their daily lives.<span> </span>At beginning levels, learners can fill in the blanks with content words such as, &#8220;The ____ is broken.”<span> </span>At more advanced levels, learners can compose letters on their own or be guided by questions.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><em>Analyzing and Synthesizing Information</em>: Adults frequently need to interpret information that appears in graphic form such as charts, drawings, and maps, or interpret and synthesize information from several sources.<span> </span>To prepare for this kind of writing, learners can complete grids based on information they gather from class or community surveys.<span> </span>For example, at the beginning level, a simple grid can ask for the names of the learners in the class and their native countries or languages.<span> </span>Groups of learners can work together to fill in parts of the grid and then share their information with the entire class to complete the grid.<span> </span>They can then use this information to write simple sentences describing their class, such as &#8220;There are nine Spanish speakers and four Russian speakers in our class.”<span> </span>At higher levels, learners can gather more extensive data and then write a descriptive paragraph or composition.<span> </span>Using maps, learners can write directions for getting from one location to another.<span> </span>After reading articles on a topic such as immigration, learners can write a letter to the editor or a summary of the information presented.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><em>Making Lists</em>: We will see that lists can help learners generate vocabulary and provide the basis for larger pieces.<span> </span>For example, when studying banking, learners might enjoy listing how they would spend a million dollars.<span> </span>Other lists might be about favorite foods, places, or activities; wishes; things missed about one&#8217;s country; or things liked in the United States.<span> </span>For a beginning learner, a few words might suffice.<span> </span>More proficient learners may write several sentences or more.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">We see that many EFL or ESL teachers cannot make their students to be able to make a good writing because certain steps they use are not appropriate with their student’s need.<span> </span>Sometimes, teacher’s way in teaching writing limits students’ ideas and ability in writing.<span> </span>In this chapter, Brown tells us about that.<span> </span>He also tells about ways that we can use in teaching writing in second or foreign language.</p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">So the most important thing in teaching writing is to train and increase student’s ability in making good writing.<span> </span>It is because writing is a learned behavior and the most important task for a teacher who teaches writing is to do that.</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Ffamily-education-pendidikan-keluarga%2Fmaking-students-to-be-able-to-make-a-good-writing.html&amp;linkname=Making%20Students%20to%20be%20Able%20to%20Make%20a%20Good%20Writing"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/making-students-to-be-able-to-make-a-good-writing.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boys Must Cry</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/boys-must-cry.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/boys-must-cry.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Nov 2008 11:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[I never agree with ‘boys don’t cry’. I don’t know why, actually, but I suggest that crying is a need for me. Although that I am a man, I use to cry when I face certain circumstances. I always feel that cry makes me better. All negative emotions will be erased after crying. I don’t [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span>I never agree with ‘boys don’t cry’.<span> </span>I don’t know why, actually, but I suggest that crying is a need for me. Although that I am a man, I use to cry when I face certain circumstances. I always feel that cry makes me better. All negative emotions will be erased after crying. I don’t feel that I am not a masculine just because I always cry at certain conditions.</span><span id="more-258"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span>Masculinity is defined as important measure to show a gender (male) superiority. This point of view is something that needs to be changed. Many studies show that crying is a normal activity of human being. Specification of gender shouldn’t limit someone to act humanly, therefore, crying.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span>Culture is having a great impact on how people discerning crying. For example, some communities state that crying is women’s activity. The others may conclude crying as a normal activity both for men and women. Concerning crying as a need of human, people should think about it. Some old-fashioned idiom or opinion must be removed from human’s daily life totally. Human must realize that life becomes more complex nowadays –so humanity should be consider in defining value or norm in a society.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span>Many findings show that crying should be put as a normal activity. For example, several doctors from Mumbai Hospital in India find that crying can make human release wastes from the eyes. This finding has successfully shows that Phil Donahue statement is right –</span><em><span>people who never cry are like people who never laugh: there is something wrong with them.</span></em><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span>So, revolution of cultures in every society should be done to accommodate crying as a normal activity. Babies are crying and adult also. Every society will always be changed. And now it is time to change people opinion about crying, in all over the world of course!</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Fsocial-history-sosial-sejarah%2Fboys-must-cry.html&amp;linkname=Boys%20Must%20Cry"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/social-history-sosial-sejarah/boys-must-cry.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Islam Dalam Pendidikan Keluarga</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/konsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/konsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 11:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga didefinisikan sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak. Setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam ajaran agama Islam, anak adalah amanat Allah. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Jelas, tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Keluarga didefinisikan sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak. Setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam<span> </span>ajaran agama Islam, anak adalah amanat Allah. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Jelas, tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Allah memerintahkan :<span id="more-228"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em>“Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan neraka”.</em> [Al Ayah]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Kewajiban itu dapat dilaksanakan dengan mudah dan wajar karena orang tua memang mencintai anaknya. Ini merupakan sifat manusia yang dibawanya sejak lahir. Manusia diciptakan manusia mempunyai sifat mencintai anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em>“Harta dan anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia”.</em> [Al-Kahfi ayat 46]<em></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua anaknya yang masih kecil. Aisyah memberikan tiga potong kurma kepada wanita itu. Diberilah oleh anak-anaknya masing-masing satu, dan yang satu lagi untuknya. Kedua kurma itu dimakan anaknya sampai habis, lalu mereka menoreh kearah ibunya. Sang ibu membelah kurma (bagiannya) menjadi dua, dan diberikannya masing-masing sebelah kepada kedua anaknya. Tiba-tiba Nabi Muhammad SAW datang, lalu diberitahu oleh Aisyah tentang hal itu. Nabi Muhammad SAW bersabda :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;">“Apakah yang mengherankanmu dari kejadian itu, sesungguhnya Allah telah mengasihinya berkat kasih sayangnya kepada kedua anaknya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Uraian diatas menegaskan bahwa (1) wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya, dan (2) kewajiban itu wajar (natural) karena Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anaknya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">Agama Islam secara jelas mengingatkan para orang tua untuk berhati hati dalam memberikan pola asuh dan memberikan pembinaan keluarga sakinah, seperti yang termaktub dalam QS Lukman ayat 12 sampai 19. Dan apabila kita kemudian kaji isi ayat diatas, maka kita akan menemukan beberapa point-point penting diantaranya adalah :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan jiwa orang tua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;">Pembinan jiwa orang tua di jelaskan dalam Surah Luqman ayat 12 :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><em>Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan tauhid kepada anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Makna tentang pembinaan tauhid,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Luqman Ayat 13 :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><em>Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezhaliman yang besar”.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">Luqman Ayat 16 :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><span> </span><em>(Lukman berkata) : Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu<span> </span>perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya<span> </span>Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">Yang dimaksud dengan “Allah Maha Halus” ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu begamana kecilnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan akidah anak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Mengenai pembinaan akidah ini, Surah Luqman memberikan gambaran yang begitu jelas. Dalam surat tersebut pembinaan akidah pada anak terdapat dalam empat buah ayat yaitu ayat 14, 15, 18 dan ayat ke 19.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan jiwa sosial anak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Pembinaan sosial pada anak dalam keluarga, dijelaskan dalam surat Luqman ini melalui ayat ke 16 dan ayat ke 17. Untuk ayat ke 16 telah disebutkan pada point ke dua.<span> </span>Sedangkan ayat ke 17 dari surat Luqman berbunyi :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><em>Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang patut diutamakan.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga dikatakan sebagai lingkungan pendidikan pertama karena setiap anak dilahirkan ditengah-tengah keluarga dan mendapat pendidikan yang pertama di dalam keluarga. Dikatakan utama karean pendidikan yang terjadi dan berlangsung dalam keluarga ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pendidikan anak selanjutnya. (Maman Rohman, 1991:24).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Para ahli sependapat bahwa betapa pentingnya pendidikan keluarga ini. Mereka mengatakan bahwa apa-apa yang terjadi dalam pendidikan keluarga, membawa pengaruh terhadap lingkungan pendidikan selanjutnya, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Tujuan dalam pendidikan keluarga atau rumah tangga ialah agar anak mampu berkembang secara maksimal yang meliputi seluruh aspek perkembangan yaitu jasmani, akal dan ruhani. Yang bertindak sebagai pendidik dalam rumah tangga ialah ayah dan ibu si anak. Ingatlah selalu kepada apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"><em>“Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah. Maka ibu-bapanyalah yang menasranikanatau menyahudikan atau memajusikannya. (H.R. Bukhari Muslim)</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"><em> </em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">Dari hadist nabi tersebut tergambarkan bagaimana pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga. Dimana dalam hal ini keluarga berperan untuk membentuk pribadi anaknya ke arah yang lebih baik.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fkonsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html&amp;linkname=Konsep%20Islam%20Dalam%20Pendidikan%20Keluarga"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/konsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skorsing</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/true-stories-kisah-nyata/skorsing.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/true-stories-kisah-nyata/skorsing.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 01:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[True Stories >< Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[oleh Mahardhika Zifana*
 
&#60;Cerpen ini saya tulis khusus untuk Asep Gunawan, alias Opiek –Presiden Hima Bahasa Inggris UPI Periode 2006/2007 pada bulan Oktober 2006. Jadi bukan untuk kepentingan komersial (seperti biasanya kalau saya nulis Cerpen, hehe…) Berhubung ternyata baru bulan Oktober 2008 hard copy-nya bisa saya berikan, jadi baru sekarang sayaupload di blog ini. Semoga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong>oleh Mahardhika Zifana*</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;">&lt;Cerpen ini saya tulis khusus untuk Asep Gunawan, alias Opiek –Presiden Hima Bahasa Inggris UPI Periode 2006/2007 pada bulan Oktober 2006. Jadi bukan untuk kepentingan komersial (seperti biasanya kalau saya nulis Cerpen, hehe…) Berhubung ternyata baru bulan Oktober 2008 hard copy-nya bisa saya berikan, jadi baru sekarang sayaupload di blog ini. Semoga ada guna dan manfaatnya, terutama untuk mereka –para aktivis dan para mantan aktivis </span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;">Ormawa</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:200%;">.&gt;</span></em><span id="more-159"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-size:10pt;line-height:200%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em>Suatu hari di bulan September 2006</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Bila lewat jam 12 malam acara masih berlangsung, maka kami terancam akan diusulkan untuk diskorsing, <em>Kang</em>…” ujar Opiek, sang Presiden Hima<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Wajahnya mengisyaratkan sejuta bimbang yang tak mungkin dapat kuterka atau kukira-kira. Lalu kutatap Ramdhan, dia tersenyum simpul. Kutatap matanya dan dia menatapku. Namun Ramdhan hanya mengangkat bahu dengan senyum simpul yang tetap menghias wajahnya. Kemudian, satu-persatu, kutatap wajah-wajah di sekelilingku; ada beragam ekspresi yang tak dapat kujelaskan satu persatu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Acara LDKM<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hima Bahasa Inggris UPI<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> kali ini rupanya mendapat ujian yang cukup berat. Pak Iwa, Ketua Jurusan<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Bahasa Inggris, ingin agar Peserta LDKM mendapat jatah waktu yang cukup untuk tidur. Sementara, tradisi Hima kami mensyaratkan bahwa LDKM ialah acara tanpa tidur, artinya peserta LDKM harus terjaga sepanjang malam sebagai bagian dari <em>riyadhah<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> untuk melatih fisik dan mental kepemimpinan mereka sebagai calon organisator.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Di kampus kami, hubungan antara dosen dan mahasiswa, birokrat dan aktivis memang merupakan hubungan yang pelik bagai benang kusut bergulung dengan tali rami dan sedikit tahi cicak. Di satu sisi, para aktivis organisasi tidak ingin menjadi subordinat dari birokrasi kampus level manapun; mulai dari rektorat, dekanat, hingga jurusan (tanpa <em>-at</em>). Di sisi lain, aku dapat memahami bahwa para dosen dan birokrat kampus sebenarnya memiliki niat baik untuk memandu organisasi mahasiswa intra-kampus agar dapat tampil secara lebih elegan dan manusiawi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Kemudian, dalam diamku aku teringat masa lima tahun silam, ketika aku, Eri, Arief, Trisna, dan beberapa kawan lainnya sedang berada pada posisi yang kini diduduki oleh Opiek, Wafi, dan kawan-kawannya. Ingatan itu masih segar dalam otakku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em>Suatu pagi di bulan September tahun 2001….</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Pak Wahyu memanggil kita, Ka,” ujar Eri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Ada apa, Ri?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Soal LDKM dan PAB<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang akan kita gelar, “ ujar Eri. Sejenak ia menghela nafas. Matanya menerawang seolah mencoba menerobos dinding tebal Sekretariat Hima Bahasa Inggris di Gedung Pentagon<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> sore itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Kapan?” tanyaku seolah tak acuh. Tanganku mencoba meneruskan ketukan-ketukan di kibor komputer, membuat surat undangan untuk seluruh anggota SC<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> KAB<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hima.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Besok…,” jawab Eri. Kemudian ia melanjutkan, ”Hanya kita berdua, saja.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Maka keesokan harinya, selepas mengikuti kuliah <em>Writing</em>, kami berdua bergegas menuju Kantor Jurusan. Pak Wahyu sedang menandatangani beberapa surat ketika kami datang. Beliau kemudian mempersilakan kami untuk masuk. Di balik meja Ketua Jurusan, kulihat Pak Bachrudin sedang sibuk menekuri beberapa lembar kertas yang entah apa isinya. Beliau nampak tak acuh dengan kehadiran kami. Seperti itulah jurusan kami dulu. Kami, para Pengurus Hima, memang lebih banyak berhubungan dengan Pak Wahyu –sang Sekretaris Jurusan- daripada dengan sang Ketua Jurusan, Pak Bachrudin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Tak lama kemudian, Pak Wahyu meraih kursi dan duduk di depan kami. Sejenak beliau duduk dan bersandar bagai orang melepas penat setelah bekerja berat. Mungkin pekerjaannya hari itu memang banyak sehingga membuat wajahnya nampak masai. Kemudian beliau membelai kepalanya yang hanya ditumbuhi sedikit rambut di bagian belakang. Setelah berkali-kali menghela nafas panjang, beliau berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Ini soal acara Hima,  Ri…, Ka…” ujarnya sambil memandang ke arah Eri dan aku bergantian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Ada apa dengan acara Hima, Pak?” tanyaku diplomatis dan masih terpengaruh dengan judul film ‘Ada Apa dengan Cinta’ yang CD bajakannya baru saja kutonton malam hari sebelumnya di Komputer Hima.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Kami, pihak jurusan dengan sangat menyesal dan terpaksa tidak akan memberi izin untuk kegiatan-kegiatan Hima yang akan melibatkan mahasiswa baru di dalamnya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Aku dan Eri menghela nafas hampir bersamaan. Aku sebenarnya sudah dapat menduga apa yang akan beliau katakan. Itu adalah cerita lama yang selalu diulang setiap tahun dengan tokoh-tokoh yang sama; Ketua &amp; Sekretaris Jurusan Vs. Presiden &amp; Sekretaris Jenderal Hima. Yang membedakan hanya pemeran tokoh-tokoh itu yang berganti-ganti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Tak lama kemudian, dengan gaya diplomasi tipuan ala Presiden Amerika<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>, Pak Wahyu melanjutkan apa yang telah beliau sampaikan dengan retorika argumentasi yang tak dapat dijejalkan ke dalam otak kami. Inti pembicaraannya ialah bahwa Jurusan sebenarnya selalu berada bersama Hima dalam setiap kegiatan apapun terkecuali kegiatan yang di dalamnya ada mahasiswa baru. Alasannya ialah ketakutan mereka akan kemungkinan munculnya perpeloncoan senior pada junior dalam acara-acara itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Sebagai orang yang selalu mencoba menjadi manusia empatik, aku sebenarnya sangat memahami alasan kekhawatiran itu. Sepekan sebelum hari itu, seorang mahasiswa baru Jurusan Geologi meninggal dunia di ITB saat sedang mengikuti acara <em>outbond</em> Hima Geologi ITB. Sebuah acara yang mirip dengan acara PAB yang akan kami selenggarakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Praktis pertemuan di jurusan itu dilewatkan dengan omongan <em>nonsense</em> Pak Wahyu tentang kemanusiaan dalam relevansinya terhadap hubungan senior dan junior di dalam organisasi Hima. Setelah itu, aku dan Eri keluar dari ruangan itu dengan aneka pikiran yang berputar di otak kami bagai piringan hitam <em>gramophone</em> hingga langkah-langkah kaki kami sampai di Sekretariat Hima.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“<em>So, what will we do, Mr. President</em>?”<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> ujarku membuka percakapan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Itu semua <em>nonsense, bulshit</em> dan sekaligus <em>unbelieveable</em>!” jawab Eri. Tekanan emosi terdengar lugas dalam nada bicaranya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Kasus ITB itu tak bisa dijadikan justifikasi untuk melarang kegiatan di sini, Ka!” lanjut Eri, masih dengan nada yang sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Aku termangu dengan jeritan dalam hati bahwa ucapan Eri seratus persen benar. Hima Bahasa Inggris UPI yang kami pimpin tak memiliki kultur kekerasan yang dapat mencelakakan para junior yang baru bergabung di dalamnya. Sebaliknya, kami bahkan sangat protektif pada adik-adik kelas kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Dua minggu sebelum hari itu, BEM fakultas menggelar acara Orientasi Kampus. Acara inilah yang menjadi salah satu <em>cukang-lantaran<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> dilarangnya kegiatan Hima, karena acara itu dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mencabut hak asasi para junior. Hima kami adalah satu-satunya Hima di Fakultas yang bereaksi keras akan hal ini. Kami mengancam akan menarik adik-adik kami dari acara itu jika mereka terus-menerus diperlakukan tak manusiawi. Tak lupa, aku juga sempat melontakan ancaman bahwa Hima kami akan vakum dalam kegiatan ormawa fakultas jika kegiatan penerimaan baru masih tetap diwarnai perpeloncoan. Peristiwa itu jelas sudah menjadi bukti sahih bahwa kekhawatiran jurusan bahwa akan terjadi perpeloncoan dalam acara Hima sangat tidak beralasan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Namun alasan tinggal alasan. Larangan pun tetap larangan. Dua hari setelah hari itu, aku dan Eri giat melakukan lobi-lobi ke jurusan agar Hima tetap diperbolehkan menggelar acara untuk para junior. Namun untuk setiap seribu argumen yang kami ajukan, maka seketika jurusan pun memiliki seribu satu argumen untuk menyanggah kami. Tentu itu bukan hal aneh. Bukankah mereka adalah guru-guru kami yang tentu saja jauh lebih pandai dari kami. Di antara barisan jurusan ada banyak profesor, doktor, dan master yang siap memberikan jutaan argumen cerdas nan tak terbantahkan. Sementara di barisan Hima, hanya ada mahasiswa-mahasiswa kurang ilmu yang mencoba mengubah pendirian para mahaguru berilmu tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Alhasil, dua hari itu tak memberikan efek apapun bagi keputusan jurusan. Anak ingusan sekalipun tak akan mau menjilat ludah yang telah ia cipratkan ke tanah, apalagi para mahaguru dengan deretan gelar profesor, doktor, dan master di sekeliling namanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Namun jangan panggil kami dengan nama Dhika dan Eri jika kami menyerah begitu saja. Hari berikutnya, kami kumpulkan semua pengurus Hima untuk melaksanakan rapat darurat. Hampir semua pengurus Hima hadir ketika itu. Kami pun segera memulai rapat dengan menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi Hima. Antusiasme pengurus Hima dalam menyikapi masalah ini sungguh di luar dugaan. Sebelumnya, kami menduga jika kumpulan anak manja yang menamakan diri sebagai anggota ‘Kabinet Hima Bahasa Inggris UPI’ itu akan menyerah begitu saja dan meminta kami untuk mengikuti saja apa kata dosen karena takut imbas skorsing hingga D.O. sepeti di ITB. Namun ternyata dugaan kami salah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Jangan sebut diri kita aktivis jika kita menyerah begitu saja pada justifikasi tak ilmiah yang disodorkan guru-guru kita!” ujar Trisna<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> berapi-api. Trisna ialah Ketua Departemen Komunikasi kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Saya sepakat dengan Trisna. Puncak dari pengabdian kita sebagai pengurus Hima ialah pendidikan yang bisa kita berikan pada adik-adik kita. Kita tak hendak mengkafirkan mereka…kita hendak mendidik mereka agar menjadi militan-militan tangguh yang siap mengemban tugas sebagai <em>agent of change</em> di negeri ini,” ujar Budi<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> tak kalah sengit. Budi ialah Ketua Biro Keuangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Yang terpenting, pendidikan itu tak akan pernah terwujud jika acara yang hendak kita gelar dibatalkan begitu saja,” timpal Arief<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>, Ketua Departemen Organisasi yang bertanggung jawab langsung pada acara pengkaderan mahasiswa baru. Dia patut menjadi orang yang paling tersinggung dengan ide jurusan untuk mengeliminasi acara yang dibawahinya, sebab itu berarti kegiatan persiapan yang telah digarapnya bersama para stafnya selama berbulan-bulan akan sia-sia. Mereka pun akan dihitung sebagai makhluk-makhluk yang menghabiskan waktu secara mubazir karena hal itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Kita semua memahami hal tersebut,” ujar Eri memangkas aneka opini yang isinya seragam walau rupanya tak sama, “hanya yang sedang kita cari di sini ialah solusi dari masalah yang kita hadapi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Paparan Eri membungkam semua mulut di ruang rapat. Hampir semua orang nampak termenung karena berpikir, walau cara mereka berpikir tentu berbeda-beda. Di sudut kiri ruangan, kulihat Ima<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> –Ketua Departemen Pendidikan- mengusap-usap ujung kerudung biru yang membungkus kepalanya. Sementara di sudut lain, Iman Kosasih<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> –Ketua Departemen Minat &amp; Bakat- memonyongkan bibirnya sambil mengkerutkan kening. Mirip simpanse yang sedang <em>anfaal</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Semenit-dua menit berlalu, tak ada ide yang mencuat ke permukaan. Akhirnya aku mengambil inisiatif,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Sebenarnya, kita harus bertanya pada diri kita; apa sebenarnya yang hendak kita cari dalam menggelar kaderisasi anggota baru?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Lho? <em>Kok</em> kau nanya lagi, Sekjen?!” teriak Indra<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dari pojok belakang ruangan. Yang ini ialah Ketua Biro Administrasi Hima. Tangannya sibuk mengelap kacamata tebalnya. Semua mata di ruang itu kemudian terarah padaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Aku berdehem satu kali dan siap mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan maksudku. Namun gelegar suara milik Rendi si Ketua Divisi Kerohanian mendahuluiku,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Apa yang dikatakan Kang Dhika benar adanya, kawan. Sebelum kita mengambil keputusan tentang sikap apa yang hendak dikeluarkan oleh organisasi kita dalam menyikapi masalah ini, kita perlu menyelami dulu akar masalahnya. Dan kalimat tanya dari Sekjen kita tadi ialah akar yang sesungguhnya, bukan larangan dari jurusan itu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Bijak sekali, kawan. Sungguh bijak,” timpal Eri sambil melirik sang Ketua Divisi. Makhluk yang dilirik menyeringai seperti kambing sedang birahi. Aku tak ingin membiarkan masalah ini larut dalam jeratan polemik debat kusir, maka aku kembali bersuara,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Jawaban pertanyaan tadi sebenarnya sederhana…ketika kita bertanya; apa sebenarnya yang hendak kita cari dalam menggelar kaderisasi anggota baru? Jawabannya ialah pendidikan yang bisa kita berikan pada adik-adik kita…persis seperti yang dikatakan Budi…<em>Nah</em>, karena itu… objek dari semua polemik ini ialah adik-adik kita, para mahasiswa baru…’ ucapanku terpotong suara merdu dari tengah ruangan,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Nggak usah muter-muter, <em>lah</em>! Langsung saja ke inti permasalahannya. Apa sih yang mau <em>antum</em> omongin,” pemilik suara ini ialah makhluk paling cantik yang pernah aku lihat di dunia –setidaknya hingga saat itu. Aku percaya bahwa Tuhan menciptakan makhluk ini langsung dengan tangan-Nya sendiri karena hasil ciptaannya begitu indah. Namanya *****, Ketua ETS<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Biasanya, aku selalu kehabisan kata bila bertukar ucap dengan makhluk itu. Sialnya, dalam rapat penting itu, kebiasaan itu kembali muncul karena aku pun terdiam dan otakku kehilangan memori untuk melanjutkan apa yang hendak kukatakan. Semua ideku hilang dan berganti dengan wajah indahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Eri adalah makhluk paling mengagumkan di Hima. Ia memang peka dengan kebiasaanku itu, maka ia segera mengambil alih jalur bicara,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Aku bisa memahami maksud Dhika. Maksudmu ialah kita kembalikan semua ini pada para junior itu sendiri…bukan begitu, Dhik?” ujarnya sambil melirik ke arahku sambil menepuk punggungku agak keras, mungkin maksudnya hendak menyadarkan aku yang lagi melongo. Pantaslah bila seluruh mahsiswa Jurusan Bahasa Inggris memilihnya sebagai Presiden Hima Bahasa Inggris. Karena ia adalah makhluk cerdas yang memahami kelemahan kawannya dan cepat menangkap maksud orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Eh…oh…iya…begitu, Ri” ujarku tergagap-gagap. Sial pada saat itu karena otakku ini masih berkutat pada makhluk berkerudung hijau di tengah ruangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Hei, Sekjen…kau sakit mendadak, ya?”teriak Indra dari pojok ruangan. Aku menggeleng perlahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">“Nggak!” teriakku lantang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Singkat cerita, rapat hari itu pun menelurkan hasil yang mengagumkan. Kami sepakat untuk terus menggarap kegiatan-kegiatan KAB. Masalah larangan jurusan akan kami serahkan pada Mahasiswa baru sebagai objek dari kegiatan itu. Bila mereka merasa harus mengikuti kegiatan itu, maka dengan senang hati tangan kami terbuka menyambut mereka. Namun bila mereka tak mau mengikuti acara itu, kami pun tak akan memaksa. Ini sejalan dengan visi dan misi organisasi untuk selalu mengedepankan hak asasi manusia dalam menentukan pilihan sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Kami telah mengoper bola kepada mahasiswa baru. Merekalah yang akan menentukan apa yang hendak mereka perbuat. Kami hanya akan berkonsentrasi pada persiapan dan penyelenggaraan kegiatan. Sikap kami itu kemudian kami sampaikan pada jurusan. Seperti film-film Hollywood usang yang di-<em>re-run</em> tanpa bosan oleh stasiun-stasiun TV Indonesia, sikap jurusan pun sama seperti tahun-tahun sebelumnya; marah besar karena ketidakpatuhan kami pada kebijakan mereka yang tidak bijak di mata kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Tak pelak lagi, ancaman skorsing, pemotongan nilai, hingga D.O. bertebaran memenuhi rongga-rongga telinga kami dalam setiap kesempatan tatap muka kami dengan para guru kami yang sesungguhnya amat kami hormati dan banggakan. Namun seperti yang dikatakan oleh pepatah, anjing menggonggong dan kafilah pun berlalu. Dalam hal ini, kami tentu berperan sebagai kafilah. Sedang birokrat universitas dengan segala perangkatnya ialah A*****nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Ancaman-ancaman macam skorsing, pemotongan nilai, hingga D.O. kami anggap tak lebih dari serapah sampah yang tak akan terbukti. Kami tahu benar hal ini karena seketika setelah ultimatum jurusan keluar, kami giat mencari literatur tentang skorsing dan aneka sanksi lain yang mungkin dapat dijatuhkan pada mahasiswa. Dan aneka peraturan mulai dari Undang-undang Sistem Pendidikan, Peraturan Pemerintah tentang pendidikan tinggi hingga Statuta dan AD/ART universitas mengatur masalah ini dengan ketat sekali sehingga memberikan skorsing pada mahasiswa tak semudah membalik telapak tangan. Dilihat dari segi yurisprudensi pun kami tak mungkin tersentuh oleh tangan-tangan sanksi. Bila kasus ITB dijadikan acuan, maka itu tak relevan. Di Hima kami, tak pernah ada dalam sejarahnya seorang mahasiswa baru mampus ketika mengikuti acara Hima. Jangankan meninggal, tergores seujung kuku oleh jamahan senior pun tidak. Kami adalah manusia-manusia berbudaya yang belajar pendidikan dan kelemahlembutan sastra dan bahasa. Itulah yang kami terjemahkan dalam kegiatan Hima.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Rencana kami kemudian berjalan mulus tanpa hambatan. Skorsing, pemotongan nilai, hingga D.O. yang dikumandangkan tak mempan bagai peluru membentur baja. Segera setelah kami kemukakan sikap kami pada jurusan, pihak jurusan pun bergerilya pada mahasiswa baru agar memboikot acara-acara KAB. Namun ikatan emosional mereka dengan para pengurus Hima jelas lebih besar dibanding dengan para guru kami. Bagaimanapun kami dan mereka berstatus sama; mahasiswa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Akhirnya, hingga akhir hayat studi kami di UPI, tak sekalipun sanksi macam skorsing, pemotongan nilai, apalagi D.O. menjamah kami. Beruntung sekali bahwa para dosen kami adalah manusia-manusia profesional dan memiliki integritas tinggi. Pertentangan kami dengan mereka dalam alur birokrasi dan organisasi tak pernah berimbas ke dalam kelas. Praktis kami pun tetap dapat lulus dengan nilai bagus. Hampir semua pengurus Hima yang seangkatan denganku, terutama para ketua departemen, lulus sangat memuaskan dengan IPK di atas tiga. Eri Kurniawan, sang Presiden, bahkan lulus dengan <em>cum-laude</em> segera mengabdi di almamater kami sebagai dosen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Hal itulah yang membedakan kami dengan para pengurus Hima generasi berikutnya. Daya tahan fisik dan mental, jasmani dan rohani, kognitif dan psikomotorik, yang kami miliki dalam menghadapi tekanan birokrat jelas jauh lebih baik dari generasi-nya Opik. Penanganan kami terhadap sebuah masalah pun jauh melampaui kemampuan mereka. Kami ‘bermain cantik dan elegan’ dalam menghadapi tekanan dan serangan bagai pertahanan tim sepakbola Italia yang menganut sistem gerendel <em>catenaccio</em>. Kami pun mampu melakukan <em>counter-attack</em> yang cepat bagai serangan balik tim sepakbola Inggris.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Aku pikir, dari generasi-ke-generasi, kualitas manusia-manusia yang mengurus Hima semakin menurun karena beberapa sebab. Yang pasti individu-individu yang berkutat di dalamnya tak bisa disalahkan karena mereka pun merupakan salah satu bagian dari sistem. Dan sistem itu terus menggiring mahasiswa menjauhi sikap militan yang sesungguhnya dibutuhkan dalam menjalankan suatu organisasi. Pembuat sistemlah yang harus disalahkan, bukan manusia yang hidup di dalamnya ataupun sistem itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em>*Mahardhika Zifana adalah seorang penulis, penerjemah, dan pedagang. Saat kuliah di UPI pernah menjadi aktivis mahasiswa kelas teri.</em></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hima ialah akronim dari Himpunan Mahasiswa. Jenis organisasi intra universiter yang menghimpun mahasiswa berdasarkan Jurusan atau Program Studi.</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> LDKM ialah singkatan dari Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa. Sebuah acara yang dapat ditemukan di berbagai Himpunan Mahasiswa. Biasanya berisi pembekalan aneka kemampuan dasar organisasi dan kepemimpinan</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hima Bahasa Inggris UPI ialah organisasi intra universiter yang menghimpun mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa &amp; Sastra Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia.</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ketua Jurusan ialah pimpinan birokrasi universitas di tingkat Jurusan.</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Riyadhah ialah sebuah kata dalam bahasa Arab yang artinya kurang lebih ‘latihan’ atau ‘pembiasaan’.</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> PAB ialah singkatan dari Pengukuhan Anggota Baru. Salah satu acara dalam rangkaian Kaderisasi Anggota Baru (KAB) Hima. Biasanya diadakan setelah LDKM. Bentuk acara ini ialah <em>outbond</em>.</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Gedung Pentagon ialah sebuah gedung butut di kampus UPI yang menjadi simbol hegemoni ‘aktivisme’ para mahasiswa FPBS UPI. Di Gedung itulah 6 Hima di FPBS UPI bermarkas. Hima Bahasa Inggris yang diceritakan dalam kisah ini adalah salah satunya.</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SC merupakan kependekan dari Steering Committee. Dalam bahasa Indonesia berarti Panitia Pengarah, Merupakan hierarki tertinggi dari keseluruhan panitia. Tugas utamanya memastikan kepemimpinan Ketua Panitia Pelaksana berjalan sesuai prosedur yang berlaku. Di Hima Bahasa Inggris UPI, Ketua SC untuk setiap kegiatan dijabat oleh Sekretaris Jenderal organisasi itu secara <em>Ex-Officio</em>.</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat no. 6. ini adalah serangkaian acara yang digelar pada setiap awal tahun ajaran untuk menyambut kehadiran mahasiswa baru yang juga merupakan anggota baru Hima.</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Maksudnya Presiden Amerika Serikat. Karakter antagonis nan jahat yang selalu pura-pura baik walau seisi dunia tahu bahwa ia adalah makhluk barbar nan biadab yang tidak manusiawi. Pemerannya berganti setiap empat tahun dalam sebuah sandiwara politik yang diberi judul ‘Pemilu Demokratis’. Hingga tahun 2005, sudah ada 43 orang yang memerankan karakter ini.</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Kalimat ini dinukil dari sebuah percakapan dalam film Air Force One yang memajang aktor beken Harisson Ford sebagai pemeran utama.</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ungkapan dalam bahasa sunda yang kurang-lebih berarti ‘penyebab’.</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Orang ini sekarang sudah menjadi guru di Perguruan Al Azhar</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Kalo’ yang ini sudah jadi PNS di lingkungan Departemen Agama</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Si Aa yang satu ini, sekarang bekerja sebagai Senior Editor di sebuah penerbit.</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Saat tulisan ini dibuat, si teteh ini baru saja meraih gelar master.</p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Jadi Guru SMA di Sukabumi</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Orang ini sudah menjadi pengusaha sukses di Banjaran, Bandung Selatan.</p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> English Tutorial Service –Biro Jasa Kursus Hima Bahasa Inggris UPI. Nama dan identitasnya sengaja saya sensor demi menjaga privasi dan kehormatannya.</p>
</div>
</div>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Ftrue-stories-kisah-nyata%2Fskorsing.html&amp;linkname=Skorsing"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/true-stories-kisah-nyata/skorsing.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/true-stories-kisah-nyata/a-journey-to-the-past-%e2%80%93sebuah-perjalanan-menembus-sekat-waktu-dalam-lkm-hima-bahasa-inggris-upi-2008.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/true-stories-kisah-nyata/a-journey-to-the-past-%e2%80%93sebuah-perjalanan-menembus-sekat-waktu-dalam-lkm-hima-bahasa-inggris-upi-2008.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 01:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[True Stories >< Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[
A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008
Sabtu, 18 Oktober 2008 lalu, saya didaulat untuk mengisi materi ‘Teknik Persidangan’ dalam acara LKM[1] Hima Bahasa Inggris UPI[2] 2008. Setelah berbulan-bulan (atau mungkin bertahun-tahun?) saya tak lagi ‘bersentuhan’ dengan Hima Bahasa Inggris UPI, saya akhirnya berkesempatan untuk kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008</strong></p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpFirst" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Sabtu, 18 Oktober 2008 lalu, saya didaulat untuk mengisi materi ‘Teknik Persidangan’ dalam acara LKM<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hima Bahasa Inggris UPI<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> 2008. Setelah berbulan-bulan (atau mungkin bertahun-tahun?) saya tak lagi ‘bersentuhan’ dengan Hima Bahasa Inggris UPI, saya akhirnya berkesempatan untuk kembali melakukannya. <span id="more-157"></span></p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Saya dijadwalkan untuk mengisi pada pukul 14:25 WIB. Namun sejak pukul 12:25, saya sudah tiba di kampus. Saya sengaja tiba jauh lebih awal. Selain karena takut terlambat dan mencederai janji kepada Panitia, saya pun tak sabar lagi ingin segera melihat seperti apa wajah sebuah kegiatan Hima Bahasa Inggris UPI di masa sekarang.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Semula, saya heran mengapa materi ‘Teknik Persidangan’ disampaikan pada waktu siang hari bolong seperti itu. Biasanya, materi ‘Teknik Persidangan’ disampaikan beberapa saat sebelum sidang di malam hari. Kemudian saya mendapatkan jawaban yang menyentak: LKM kali ini dipenggal dalam dua hari kegiatan yang masing-masing hari hanya boleh digelar sampai pukul 17:00. Dengan demikian, acara persidangan dalam LKM pun akan harus digelar siang hari keesokan harinya.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Sesaat setelah tiba, saya menyempatkan diri untuk makan siang lebih dulu di sebuah warung yang terletak tak jauh dari kampus UPI. Beberapa saat kemudian, Ramdhan Adhi, sahabat baik saya, menemui saya dan kami pun berlalu menuju gedung PKM.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Sekira pukul 13.25, kami menjejakkan kaki di lobi gedung PKM. Nampak wajah-wajah muda nan bersemangat dengan jas almamater membungkus tubuhnya lalu-lalang di antara lobi dan pelataran gedung PKM. Asep Gunawan alias Opiek, mantan Presiden Hima Bahasa Inggris UPI periode 2006/2007, dan Wafi Wifqatillah, mantan Sekretaris Jenderal Hima Bahasa Inggris UPI periode 2006/2007, menyambut kami di lobi. Kebetulan, mereka berdua didaulat untuk menjadi para hakim Mahkamah dalam kegiatan tersebut. Kemudian kami duduk di salah satu pojok lobi PKM dan berbincang-bincang –saling melepas kangen dan menanyakan kabar masing-masing.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Tak lama kemudian, beberapa orang panitia menemui saya dan membicarakan persiapan penyampaian materi yang akan saya berikan. Hadir pula sang Presiden Hima Bahasa Inggris UPI, Yazid. Kami pun berbicara lumayan banyak tentang situasi dan kondisi Hima di masa sekarang.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Ada turihan luka mendalam di hati saya ketika mendengar cerita bahwa hingga saat kegiatan LKM tersebut digelar, Hima Bahasa Inggris UPI masih belum memiliki sekretariat tetap pasca kebakaran gedung pentagon beberapa waktu lalu. Seketika, empati saya mengalir deras kepada para pengurus Hima Bahasa Inggris UPI periode sekarang. Bayangkan saja: mereka harus berjuang mempertahankan eksistensi Hima Bahasa Inggris UPI di tengah ketiadaan sekretariat. Entah bagaimana mereka melaksanakan koordinasi, kegiatan kesekretariatan harian, hingga kumpul-kumpul antar-sesama tanpa adanya sekretariat. Dengan segala keterbatasan tersebut, adalah sebuah prestasi besar bagi mereka untuk dapat tetap menggelar kegiatan itu. Dalam hal ini, semangat mereka layak untuk diberikan apresiasi tersendiri.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Pukul 14:15 WIB, panitia mempersilakan saya untuk segera beranjak ke Auditorium PKM, tempat kegiatan LKM digelar. Dengan langkah kaki bergetar dan jantung berdebar, saya memasuki auditorium yang relatif cukup luas tersebut. Namun seketika itu pula, turihan luka di hati saya semakin dalam.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Di dalam ruangan yang relatif cukup luas tersebut, saya lihat peserta yang mengisi ruangan hanya memenuhi antara 4-5 deretan terdepan. Selebihnya, nampak kursi auditorium kosong-melompong atau diisi oleh beberapa orang panitia yang duduk termangu, mengikuti jalannya acara. Subhanallah! Gejala apakah ini? Apakah kegiatan kaderisasi Hima Bahasa Inggris UPI sudah nampak sebagai kegiatan yang tidak menarik di mata para mahasiswa baru?</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dalam nada bimbang dan kelebatan beragam pertanyaan di benak saya, saya menyampaikan materi tentang Teknik Persidangan kepada para peserta. Hingga saya usai menyampaikan materi dan berlalu dari tempat itu, beragam pertanyaan itu tetap ada.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Malam hari. Ketika ragam pertanyaan itu belum juga menemukan jawaban, saya menerima sebuah sms dari salah seorang panitia. Isinya kurang lebih meminta kesediaan saya untuk menyaksikan jalannya sidang keesokan harinya. Karena saya memang penasaran ingin melihat jalannya persidangan tersebut untuk sekaligus memastikan apakah penyampaian materi yang saya lakukan sukses atau tidak, saya memutuskan untuk datang kembali ke kampus UPI keesokan harinya.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Saya datang pukul 13.00 lebih sedikit. Saya melihat dan mengamati jalannya sidang. Para peserta yang hanya sedikit itu nampaknya cukup memahami etika dan aturan sidang. Secara umum, saya merasa cukup puas dengan hal itu, pertanda bahwa materi ‘Teknik Persidangan’ yang saya sampaikan hari sebelumnya cukup meresap ke dalam sanubari mereka. <em>But still…</em>ragam pertanyaan yang kemarin bertubi-tubi memukul genderang otak saya kembali mencuat.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Pukul 16.15, Saya lalu keluar dari Auditorium PKM. Saya melihat kearah kerumunan panitia, kemudian ke arah peserta yang berhamburan keluar untuk istrirahat shalat ashar. Kemudian saya melihat ke dalam ruangan PKM. Di samping kanan ruang auditorium, bendera Hima Bahasa Inggris melambai tertiup angin, seolah sedang melambai kepada saya dan mengajak saya menekuri kembali perikehidupan di kampus. Angan saya memang terbang ke masa lalu, ketika saya masih menjadi mahasiswa dan Sekretaris Jenderal Hima Bahasa Inggris UPI. Namun kaki saya tetap berpijak di masa sekarang, masa ketika tahun-tahun itu telah terlewati.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Saya kemudian berjalan ke luar gedung PKM. Di halaman gedung PKM, saya menatap ke arah bangunan gedung FPBS yang baru, sebuah gedung yang bersih dan kokoh. Lalu saya berjalan ke muka gedung itu. Gedung itu adalah mesin waktu yang akan menghantarkan para panitia berjas almamater itu ke masa depan. Dari situ, saya mengarahkan pandangan saya ke muka Gedung Pentagon yang kusam. Bagian depannya telah tertutup seng pembatas. Saya lihat kekumuhannya lalu kembali beranjak teringat kepada masa lalu.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Gedung itu dinamai Pentagon –sama dengan nama Gedung Markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Bukan hendak meniru atau menjiplak, bentuk alas gedung itu memang segi tujuh alias pentagon.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Masa dahulu, pada hari-hari kerja di waktu siang, Gedung Pentagon biasanya digunakan sebagai tempat kuliah bagi mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni. Sementara bila malam tiba, gedung itu seolah berubah menjadi pasar malam. Betapa tidak, di gedung itu ada lima markas HMJ<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> di lingkungan Fakultas Bahasa dan Seni. HMJ Bahasa Indonesia di lantai tiga, HMJ Bahasa Perancis dan HMJ Seni Rupa di lantai dua, HMJ Bahasa Arab dan Hima Bahasa Inggris –Himpunan kami- di lantai dasar. Para aktivis HMJ yang biasa <em>nongkrong</em> di sekitar gedung itu selalu membuat kehebohan saat malam. Terkadang di muka gedung itu ada kumpulan orang bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi dengan kombinasi suara dan musik gitar yang <em>men sana en corporesano</em> –alias musik ke sana suara ke sono. Atau, ada juga mahasiswa yang suka teriak-teriak di muka gedung itu –katanya <em>sih</em> mendeklamasikan puisi, walau akhirnya lebih mirip dengan racauan orang gila. Bagaimanapun, gedung itu terasa sebagai gedung yang paling hidup bila dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya di kampus itu. Cita rasa sastra dan seni mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni memang terbilang unik bila dibandingkan dengan mahasiswa fakultas lainnya.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Tanpa terasa, tiba-tiba saja langkah kaki saya telah sampai di dekat sisi gedung tempat sebuah ruangan yang dulu merupakan sekeretariat Hima Bahasa Inggris di ujung ruangan. Saya melirik melalui seng pembatas ke dalam, jelas tak ada seorang pun di sana. Hanya ada dinding kusam yang kotor dan kesunyian yang melanda tempat itu, sesunyi hati saya yang sedang termangu di dekatnya.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Lalu saya duduk di depan seng pembatas gedung pentagon dan menatap ke depan. <span lang="IN">Dari tempat</span> saya<span lang="IN"> duduk, </span>saya <span lang="IN">menatap lurus ke Villa Isola, bangunan tua yang pernah menjadi saksi kedigjayaan seorang Tuan tanah bernama Baretti<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>pada masa penjajahan Belanda. Bangunan itu masih tegak dan kokoh berdiri, tetap menjadi simbol keagungan Kampus Bumi Siliwangi UPI yang setiap harinya menampung ribuan orang mahasiswa. Dulu, </span>saya adalah <span lang="IN">salah satu dari mahasiswa-mahasiswa itu. </span>Saya <span lang="IN">datang ke kampus ini untuk mengejar mimpi dan masa depan. Kini, </span>saya hanyalah seorang biasa <span lang="IN">yang </span>menyaksikan para <span lang="IN">mahasiswa itu mengejar mimpi dan masa depan dalam janji balutan gelar sarjana.</span></p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Pandangan saya kemudian kembali ke ruangan di pojok gedung pentagon itu.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dulu di muka ruangan itu, saya biasa berkacak pinggang sambil menatap ke dalam sekretariat yang selalu berantakan, lalu marah-marah kepada para anggota Kabinet Hima Bahasa Inggris yang selalu malas membersihkan ruangan…</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dulu di muka ruangan itu, Fahrul Riza –yang sekarang menjadi instruktur Aikido itu, sering duduk sambil menggoda perempuan-perempuan yang lewat di depan ruangan.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dulu di muka ruangan itu, Arief Kurniawan –yang sekarang menjadi Senior Editor di Grafindo itu, sering membaca buku sambil melamun, kebiasaan khasnya…</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dulu di muka ruangan itu, Trisna Kristiana –yang sekarang menjadi Guru di Al Azhar itu, selalu menyeruput kopi di pagi hari sambil menghisap sebatang rokok <em>ketengan</em>.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dulu di muka ruangan itu, Eri Kurniawan –yang sekarang menjadi Dosen UPI yang sedang belajar di Amerika itu, sering duduk melamun, entah memikirkan apa.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dulu di muka ruangan itu, Budi Sampurna –yang sekarang menjadi PNS di Departemen Agama itu, sering duduk menghitung pengeluaran dan pemasukan keuangan Hima.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Dan dulu di dalam ruangan itu…kami berkumpul, berbicara, bertengkar, bermain, tidur, makan, menonton televisi atau VCD bajakan, dan melakukan banyak hal lainnya.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Sejenak kesunyian terus melingkupi saya yang sedang duduk di situ, sesunyi cinta saya kepada ruangan di pojok gedung pentagon itu. Demi melihat kondisi ruangan itu sekarang, mata saya tidak dapat menahan derasnya buliran air yang mendesak keluar dari mata saya. Sendiri di tempat itu, saya menangis tersedu-sedu. Saya menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua emosi di dalam dada.</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><em>My journey to the past…</em> perjalanan waktu yang saya lakukan, dengan sebuah mesin waktu bernama kenangan, telah menghantarkan saya kepada luka mendalam di dada. Luka yang terturih karena cinta kepada ruangan di pojok gedung pentagon itu. Beberapa orang lalu-lalang di muka gedung kumuh itu dan beberapa di antaranya menatap ke arah saya yang sedang menangis sendiri. Orang-orang itu, tetap tak dapat menghilangkan kesunyian di hati saya, kesunyian cinta saya kepada ruangan di pojok gedung butut bernama pentagon itu…</p>
<p class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="margin-bottom: 7.2pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNoSpacingCxSpLast" style="margin-bottom: 7.2pt; line-height: 150%; text-align: justify;">Minggu, 19 Oktober 2008.</p>
<div style="text-align: justify;"><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteTextCxSpFirst" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Latihan Kepemimpinan Mahasiswa. Dulu kegiatan ini bernama LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa)</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteTextCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris UPI</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteTextCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> HMJ ialah singkatan untuk Himpunan Mahasiswa Jurusan. Istilah umum untuk menyebut organ mahasiswa Intra Universiter tingkat jurusan.</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteTextCxSpLast" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Baretti sebenarnya dilahirkan sebagai orang Italia. Namun ia menjadi warganegara Belanda.</p>
</div>
</div>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Ftrue-stories-kisah-nyata%2Fa-journey-to-the-past-%25e2%2580%2593sebuah-perjalanan-menembus-sekat-waktu-dalam-lkm-hima-bahasa-inggris-upi-2008.html&amp;linkname=A%20JOURNEY%20TO%20THE%20PAST%20%E2%80%93Sebuah%20Perjalanan%20Menembus%20Sekat%20Waktu%20dalam%20LKM%20Hima%20Bahasa%20Inggris%20UPI%202008"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/true-stories-kisah-nyata/a-journey-to-the-past-%e2%80%93sebuah-perjalanan-menembus-sekat-waktu-dalam-lkm-hima-bahasa-inggris-upi-2008.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Landasan Perencanaan Kurikulum yang Ideal di Sekolah</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/landasan-perencanaan-kurikulum-yang-ideal-di-sekolah.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/landasan-perencanaan-kurikulum-yang-ideal-di-sekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 02:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[
Para perencana pendidikan harus mampu memahami dan menggunakan sejumlah besar data yang berhubungan dengan pengembangan SDM dan pembelajaran agar dapat mengembangkan berbagai program sekolah. Berbagai isu utama yang berkenaan dengan tujuan persekolahan dikelompokan ke dalam empat bidang utama, yaitu kekuatan sosial, pengelolaan ilmu pengetahuan, pertumbuhan dan perkembangan manusia, dan pembelajaran sebagai suatu proses. Keempat bidang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Para perencana pendidikan harus mampu memahami dan menggunakan sejumlah besar data yang berhubungan dengan pengembangan SDM dan pembelajaran agar dapat mengembangkan berbagai program sekolah. Berbagai isu utama yang berkenaan dengan tujuan persekolahan dikelompokan ke dalam empat bidang utama, yaitu kekuatan sosial, pengelolaan ilmu pengetahuan, pertumbuhan dan perkembangan manusia, dan pembelajaran sebagai suatu proses. Keempat bidang ini berperan merupakan landasan perencanaan kurikulum.</span><span id="more-173"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kekuatan sosial menegaskan peran sekolah sebagai salah satu agen perubahan sosial di dalam suatu komunitas masyarakat. Dengan peran tersebut, pengembangan sekolah dilakukan agar dapat menghasilkan <em>output </em>yang diperlukan dalam upaya memperkuat kehidupan sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengelolaan ilmu pengetahuan bermakna bahwa salah satu tujuan persekolahan adalah untuk menciptakan berbagai pengetahuan yang diperlukan dan untuk dapat mengelolanya sesuai dengan maksud dan tujuan dari suatu disiplin ilmu tersebut. Selain itu, hal ini juga menandakan adanya peran sekolah sebagai salah satu tempat pengembangan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bidang pertumbuhan dan perkembangan manusia menjadi salah satu tujuan yang sekaligus juga merupakan tantangan yang harus dijawab dan disiasati oleh dunia sekolah. Sekolah harus mampu menghasilkan dan mengarahkan output yang dapat menjawab berbagai masalah dan kemungkinan yang dapat terjadi karena pertumbuhan dan perkembangan manusia yang senantiasa berubah setiap saat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran sebagai suatu proses menuntut sekolah untuk dapat menggelar suatu proses pencerdasan yang efektif bagi seluruh peserta didik dan juga pendidik yang ada di dalam lingkungan sekolah. Dengan kata lain, tidak hanya para siswa yang dituntut untuk dapat mengembangkan kecerdasannya, namun juga para gurunya. Hal ini akan memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan di dalam sekolah sebagai sebuah lingkungan pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Keempat bidang utama tersebut saling berhubungan satu sama lain. Maka, proses yang terjadi di dalam salah satu dari keempat bidang tersebut juga akan berimbas pada bidang lainnya. Oleh karena itu, para pengelola sekolah dan juga pengelola pendidikan secara umum, harus mampu menciptakan keseimbangan di dalam upaya mendorong progresivitas sekolah sebagai salah satu bagian dari proses pencapaian tujuan dalam keempat bidang tersebut. Karena itu pula, maka semua pihak yang terlibat di dalam pross pendidikan harus mampu memahami dan memiliki pengetahuan yang cukup di dalam keempat bidang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengetahuan yang semakin bertambah dalam keempat bidang tersebut menunjukan bahwa perencanaan kurikulum memiliki sifat dasar yang normatif. Karenanya, harus ada sejumlah keputusan yang harus ditempuh untuk menyikapi berbagai permasalahan yang dapat mempengaruhi program persekolahan. Agar dapat memunculkan sejumlah alternatif yang dapat ditempuh, perencana kurikulum harus memahami pengetahuan yang mereka miliki dan kemudian mengubahnya ke dalam bentuk filsafat pendidikan yang konsisten. Dengan begitu, maka landasan perencanaan kurikulum dapat digunakan untuk membangun suatu kerangka dan bangunan kurikulumyang kokoh dan kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Ffamily-education-pendidikan-keluarga%2Flandasan-perencanaan-kurikulum-yang-ideal-di-sekolah.html&amp;linkname=Landasan%20Perencanaan%20Kurikulum%20yang%20Ideal%20di%20Sekolah"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/landasan-perencanaan-kurikulum-yang-ideal-di-sekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
