<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Official Weblog of Mahardhika Zifana &#187; Motivasi &gt;&lt; Motivation</title>
	<atom:link href="http://mahardhikazifana.com/category/motivasi-motivation/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mahardhikazifana.com</link>
	<description>His Knowledge, Thinking, and Journal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Aug 2010 11:52:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pelajaran Moral Berharga di Balik Opera van Java</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 01:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi >< Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya tidak menonton sinetron. Sekira dua bulan terakhir, pada setiap prime time antara jam 8 sampai jam 9 malam, saya rajin menonton Opera van Java (OvJ) di Trans7 setiap hari Senin – Jumat. OvJ adalah sebuah pertunjukan yang unik dan khas sekali. Secara pribadi, saya menganggap para kreator dan tim kreatif yang bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sudah lama saya tidak menonton sinetron. Sekira dua bulan terakhir, pada setiap <em>prime time</em> antara jam 8 sampai jam 9 malam, saya rajin menonton Opera van Java (OvJ) di Trans7 setiap hari Senin – Jumat. OvJ adalah sebuah pertunjukan yang unik dan khas sekali. Secara pribadi, saya menganggap para kreator dan tim kreatif yang bekerja dalam acara ini telah memberikan sebuah tontonan yang konyol namun menghibur. Inilah yang membedakan OvJ dengan sinetron. Walau sama-sama konyol, bagi saya sinetron sama sekali tidak mengibur dan memberikan input berarti.<span id="more-937"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">OvJ mengadaptasi teknik penceritaan wayang, di mana seorang dalang, yaitu Parto Patrio, menjadi narator sekaligus pengatur laku para wayang. Bedanya, dalam OvJ, wayang yang dimainkan mirip dengan Wayang Wong (wayang orang). Sekurangnya, ada 4 wayang tetap di sana –Azis Gagap, Sule SOS, Andre Taulany, &amp; Nunung Srimulat. Kemudian kelengkapan lainnya, adalah 2 orang sinden, yakni Dewi Gita dan Rina API. Lalu apa bedanya OvJ dengan Wayang Wong?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Pertama, kisah yang ditampilkan dalam OvJ tidak melulu berkisar pada kisah-kisah wayang tradisional macam Bharatayudha, Ramayana, Kakawin Arjuna, dsb. OvJ juga menampilkan berbagai kisah klasik dari bangsa-bangsa lain di dunia –misalnya dalam episode dua hari lalu ditampilkan kisah Sindbad the Sailorman yang diadaptasi dari cerita 1001 Malam. Ini adalah nilai lebih OvJ lainnya. Kalangan yang cenderung kuper dan tidak mengenal kisah atau peristiwa sejarah setidaknya jadi bisa tahu tentang kisah atau momen sejarah tersebut. Walaupun pasti tidak akurat karena sebagai acara komedi, OvJ banyak menyimpangkan kisah-kisah dan cerita, namun setidaknya penonton yang belum tahu jadi tahu bahwa di Galia ada kisah Asterix, atau di Denmark ada cerita Hansel &amp; Gretel, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kelebihan lainnya, adalah sebuah kekonyolan. Para wayang, terutama Azis Gagap dan Sule SOS, sering menyimpang dari naskah yang telah digariskan dalam cerita yang mereka mainkan. Bukan sekedar improvisasi konyol, penyimpangan yang mereka lakukan benar-benar sebuah penyimpangan total. Dalam episode yang saya tonton tadi, misalnya, Kisah yang dituturkan adalah tentang Nyai dasima. Namun sule dan Azis dengan seenaknya mengganti cerita menjadi Si Pitung dan si Ja’i. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kekonyolan mereka itu terkadang memancing amarah Sang Dalang. Uniknya, kemarahan Sang Dalang ini juga yang biasa memancing tawa penonton. Itulah sebabnya, setiap di akhir pementasan OvJ, sang Dalang selalu membacakan sebuah pantun yang bunyinya tetap: “<em>Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya bingung. Yang pening bisa ketawa</em>!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Bagi saya, penyimpangan skenario yang sering dilakukan Sule dan Azis sesungguhnya bukan sekedar kekonyolan atau banyolan hampa yang terkadang garing. Namun jika kita renungkan secara mendalam, sebenarnya ada nilai filosofis di balik penyimpangan naskah dan skenario cerita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Dunia ini panggung sandiwara, kata Ahmad Albar. Hakikatnya, manusia berperan sebagai wayang. Kemudian Allah<span> </span>adalah Sang Dalang dalam sandiwara besar ini. Masing-masing memiliki peran yang harus dimainkan, sesuai dengan skenario. Apakah skenario kehidupan dunia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN"><span> </span>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51: 56)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Seperti halnya dalam OvJ, para wayang diberikan kebebasan untuk memilih. Mereka masing-masing bisa memilih –apakah hendak memainkan perannya sesuai tuntunan Sang Dalang, atau memilih untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan skenario. Tentu saja, ada konsekuensi untuk masing-masing pilihan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah, anda mau memilih yang mana? Sesuai skenario, atau menciptakan penyimpangan demi sebuah kelucuan yang mungkin hanya jadi bahan tertawaan tanpa makna?</span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Al Qur’an dan Kedahsyatan sebuah Puisi</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/antara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/antara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 01:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture & Literature >< Sastra & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi >< Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda perhatikan note-note facebook saya secara seksama, baru pada dua atu tiga note terakhir saya menyertakan tag nama-nama friends di dalam note yang saya buat. Sebelumnya, saya tidak pernah nge-tag siapapun dalam note-note yang saya post di facebook. Ini, terutama untuk note-note yang berisi puisi. Saya nge-post puisi-puisi itu lebih karena ingin memperbanyak notes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Jika anda perhatikan note-note facebook saya secara seksama, baru pada dua atu tiga note terakhir saya menyertakan tag nama-nama friends di dalam note yang saya buat. Sebelumnya, saya tidak pernah nge-tag siapapun dalam note-note yang saya post di facebook. Ini, terutama untuk note-note yang berisi puisi. Saya nge-post puisi-puisi itu lebih karena ingin memperbanyak notes (hehe&#8230;), bukan berharap untuk dibaca banyak orang.<span id="more-933"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Walau demikian, puisi-puisi itu ternyata banyak juga yang membaca. Ada beberapa yang diberi tanda ‘like’ oleh sahabat-sahabat jamaah fesbukiyyah. Saya senang juga menyaksikan bahwa ada beberapa orang yang memberikan apresiasi tinggi kepada puisi saya tanpa harus susah payah nge-tag dan ‘maksa’ orang membacanya. Ini pun membuat saya jadi PeDe dan mulai yakin bahwa bakat dan kemampuan menulis saya tidak terbatas pada menulis fiksi dan esei, namun juga menulis puisi dan syair (narsis, ya? Hehehe&#8230;).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah, ternyata ada hal yang juga mencengangkan di balik puisi-puisi itu yang membuat saya tertegun dan heran. Baru pada beberapa hari terakhir ini saya <em>ngeh</em> dan sadar akan hal itu. Ada beberapa orang yang tiba-tiba saja merasa bahwa di antara puisi-puisi itu ditujukan kepada diri mereka secara pribadi. Beberapa orang itu, ada yang merasa dan yakin bahwa saya mengungkapkan kebencian pribadi, ketidaksukaan, bahkan juga cinta kepada diri mereka atau orang tertentu. Akibatnya ada orang-orang yang jadi berubah sikapnya. Ada orang yang tadinya sebel jadi baik (alhamdulillah) ada yang tadinya baik jadi tambah baik (alhamdulillah) lalu ada yang tadinya baik jadi sebel (astaghfirullah) dan, yang paling paling parah, yang tadinya sebel jadi tambah sebel (astaghfirullahal adziim&#8230;, gustiiii&#8230;, jelema teh meni kabina-bina teuing atuuuh!).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Duh&#8230;, saya jadi heran dan bingung juga. Perasaan, setiap kali menulis puisi, motivasi yang saya kembangkan dalam membuat kalimat adalah apa yang terlintas di kepala, bukan perasaan dalam hati. Puisi-puisi saya itu murni puisi, lho! Dari pencarian kalimat untuk membuat susunan kalimat indah semata, bukan karya-karya yang bersifat dekrit atau proklamasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Fenomena ini lalu memancing saya untuk membuka-buka beberapa buku tentang apresiasi puisi. Kemudian saya teringat bahwa ada sifat-sifat umum dalam puisi –yakni, pada mulanya puisi memiliki sifat lepas dan apersepsi (non-persepsi), kemudian pemahaman atas kalimat-kalimat di dalamnya menjadi sisi subjektif pembaca. Misalnya begini; cara saya memahami puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar, tentu akan berbeda dengan cara anda atau orang lain dalam memahami puisi tersebut. Nah, rupanya si sisi subjektif ini juga akan berpengaruh bilamana apresiator mengenal orang yang menulis puisi itu secara pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ooo&#8230; saya pun paham, mengapa ada orang-orang yang memiliki persepsi seperti yang saya kemukakan di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kemudian saya jadi teringat kepada Al Qur’an. Gaya bahasa yang digunakan dalam Qur’an adalah syair. Bahasanya indah dan enak disimak dengan purwakanti yang bagus. Misalnya, lihat surah An-Naas. Penggalan suku kata terakhir pada surah itu selalu berbunyi ‘naas’, sangat sistematis dan teratur dengan pengalan suku-suku kata yang pas saat dibaca dan dilagukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah, saat tiba pada poin pemahaman dan apresiasinya sebagai syair, saya pun jadi paham mengapa seorang yang shaleh giat membaca dan mempelajari makna dan kandungan ayat-ayat Qur’an. Betapa tidak, di sana ada banyak ayat yang mengabarkan tentang surga beserta deskripsi surga dan keindahannya, serta kualifikasi orang-orang saleh yang layak masuk surga. Maka, saya pun menyadari, mengapa ayat-ayat Qur’an itu bisa membuat orang senang. Dengan gaya syair dalam Al Qur’an itu, mereka Ge-eR dengan kabar tentang siapa saja yang layak masuk surga. Hehehe&#8230;., becanda, ah. Piss! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Poinnya ialah begini; mungkin Allah sengaja membentuk gaya bahasa Qur’an dalam wujud syair untuk lebih mendekatkan makna dan pemahamannya dalam perspektif orang yang membacanya. Maka, orang yang hanya membaca tanpa berusaha menyelami maknanya memang tidak akan tahu dan mendekatkan persepsi pribadi mereka untuk menjadi pribadi yang selaras dengan Qur’an itu sendiri, karena itu hanya akan terjadi pada orang yang ‘mengenal’ Allah secara pribadi. Beghitchu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Setuju, engga? Terserah, ah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Allahu’alam.</span></em></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/antara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin Hati</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/motivasi-motivation/cermin-hati.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/motivasi-motivation/cermin-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi >< Motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=931</guid>
		<description><![CDATA[Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah kisah: Alkisah, seorang ayah baru saja selesai mandi. Ia lalu keluar dari kamar mandi. Tepat di ambang pintu kamar mandi yang terletak tak jauh dari dapur itu, anaknya menaruh sebuah ember berisi air yang sedang dipergunakannya untuk mengepel lantai. Tanpa sengaja, sang Ayah menyenggol ember tersebut saat ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah kisah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Alkisah, seorang ayah baru saja selesai mandi. Ia lalu keluar dari kamar mandi. Tepat di ambang pintu kamar mandi yang terletak tak jauh dari dapur itu, anaknya menaruh sebuah ember berisi air yang sedang dipergunakannya untuk mengepel lantai.<span id="more-931"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Tanpa sengaja, sang Ayah menyenggol ember tersebut saat ia keluar dari ambang pintu. Air pun tumpah membasahi lantai. Ia lalu marah-marah,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">“Goblok! Ngapain kamu naro ember di sini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Demikian kalimat sang ayah menghardik anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Keesokan hari, sang ayah hendakmencuci motornya. Ia lalu mengambil ember berisi air. Namun hanya ada seperempat air di ember itu. Ia hendak mengisinya di kamar mandi. Namun di dalam kamar mandi itu ada anaknya yang sedang mandi. Akhirnya ia menyimpan ember berisi air itu di ambang pintu kamar mandi. Sementara ia sendiri menunggu anaknya selesai mandi di ruang tengah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Tanpa sengaja, sang anak menyenggol ember tersebut saat ia keluar dari ambang pintu. Air pun tumpah membasahi lantai, persis seperti kejadian pada hari sebelumnya. Nah.., tahukah anda&#8230;, apa reaksi sang ayah saat mengetahui anaknya menyenggol ember hingga isinya tumpah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ia kembali marah-marah dan berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">“Goblok! Mata kamu ditaro di mana? Ember segitu gedenya gak keliatan?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah&#8230;, para pembaca yang budiman,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang macam sang ayah dalam cerita di atas. Kita sering menemukan seseorang yang memandang segala sesuatu atas dasar egosentrisme. Ia tidak mau disalahkan, walau jelas sesuatu itu adalah salahnya. Ia juga selalu memandang dirinya benar dan orang lain salah. Andai kesalahannya jelas pun, ia akan mencari kambing hitam untuk disalahkan atas peristiwa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sesungguhnya, setiap peristiwa di muka bumi ini selalu terjadi atas andil lebih dari satu orang saja. Demikian filosofis kehidupan dunia. Kita bisa mengambil contoh ekstrem dari sebuah kasus perkosaan, misalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sang korban jelas tidak terima dan akan menyalahkan sang pemerkosa yang tiba-tiba saja membekapnya dan memaksanya melayani nafsu bejatnya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sementara sang pemerkosa bisa berkilah bahwa dirinya tergoda melakukan perbuatan laknat itu karena merasa ditantang oleh perempuan yang menjadi korbannya. Sang korban mengenakan pakaian yang minim dan seksi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Demikian kebenaran tidak akan pernah ditemukan dalam perspektif egosentrisme, karena masing-masing merasa bahwa dirinya benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Pandangan kita atas peristiwa yang telah terjadi mungkin bisa lebih positif jika kita berpikir dan memahami filosofi bahwa pada setiap peristiwa di muka bumi ini selalu terjadi atas andil lebih dari satu orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sayangnya, kita –manusia– lebih senang menyalahkan orang lain atas terjadinya sebuah peristiwa, khususnya yang tidak mengenakkan bagi kita. Demikian peristiwa macam itu selalu terjadi akibat ketidakmampuan kita memandang segala peristiwa dari sisi yang positif, dimana mungkin kita pun memiliki andil yang tidak kecil atas terjadinya peristiwa tersebut. Selama itu, maka peristiwa macam itu akan terus terjadi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada ayah yang memarahi anaknya karena menyenggol ember yang disimpan sang ayah di ambang pintu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada pemerkosa yang menyalahkan korbannya karena berpakaian minim</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada koruptor yang menyalahkan gajinya yang kecil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada mahasiswa yang menyalahkan temannya saat mendapat nilai jelek, karena temannya itu membuatnya lupa belajar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada sopir angkot yang menyalahkan penumpang yang meminta turun di letter ‘S’ saat ia ditilang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada calon presiden yang menyalahkan KPU karena perolehan suaranya kecil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ada pelaku pemboman yang menyalahkan negara Barat yang tidak adil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sepantasnya, setiap kali terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup kita, kita melihat ke arah cermin hati untuk berkaca dan melihat: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">“Apa peran yang aku sumbangkan dalam kejadian ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Selama itu tidak dilakukan, entah sampai kapan manusia bisa memandang segala hal dari sisi yang positif, mengembangkan sifat husnuzhan, dan memberikan empati kepada orang lain setelah terjadinya sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan bagi dirinya&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Allahushshamad.</span></em></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/motivasi-motivation/cermin-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
