<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Official Weblog of Mahardhika Zifana &#187; Religion &amp; Philosophy &gt;&lt; Agama &amp; Filsafat</title>
	<atom:link href="http://mahardhikazifana.com/category/religion-philosophy-agama-filsafat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mahardhikazifana.com</link>
	<description>His Knowledge, Thinking, and Journal</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Dec 2009 04:55:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pelajaran Moral Berharga di Balik Opera van Java</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 01:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi >< Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya tidak menonton sinetron. Sekira dua bulan terakhir, pada setiap prime time antara jam 8 sampai jam 9 malam, saya rajin menonton Opera van Java (OvJ) di Trans7 setiap hari Senin – Jumat. OvJ adalah sebuah pertunjukan yang unik dan khas sekali. Secara pribadi, saya menganggap para kreator dan tim kreatif yang bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Sudah lama saya tidak menonton sinetron. Sekira dua bulan terakhir, pada setiap <em>prime time</em> antara jam 8 sampai jam 9 malam, saya rajin menonton Opera van Java (OvJ) di Trans7 setiap hari Senin – Jumat. OvJ adalah sebuah pertunjukan yang unik dan khas sekali. Secara pribadi, saya menganggap para kreator dan tim kreatif yang bekerja dalam acara ini telah memberikan sebuah tontonan yang konyol namun menghibur. Inilah yang membedakan OvJ dengan sinetron. Walau sama-sama konyol, bagi saya sinetron sama sekali tidak mengibur dan memberikan input berarti.<span id="more-937"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">OvJ mengadaptasi teknik penceritaan wayang, di mana seorang dalang, yaitu Parto Patrio, menjadi narator sekaligus pengatur laku para wayang. Bedanya, dalam OvJ, wayang yang dimainkan mirip dengan Wayang Wong (wayang orang). Sekurangnya, ada 4 wayang tetap di sana –Azis Gagap, Sule SOS, Andre Taulany, &amp; Nunung Srimulat. Kemudian kelengkapan lainnya, adalah 2 orang sinden, yakni Dewi Gita dan Rina API. Lalu apa bedanya OvJ dengan Wayang Wong?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Pertama, kisah yang ditampilkan dalam OvJ tidak melulu berkisar pada kisah-kisah wayang tradisional macam Bharatayudha, Ramayana, Kakawin Arjuna, dsb. OvJ juga menampilkan berbagai kisah klasik dari bangsa-bangsa lain di dunia –misalnya dalam episode dua hari lalu ditampilkan kisah Sindbad the Sailorman yang diadaptasi dari cerita 1001 Malam. Ini adalah nilai lebih OvJ lainnya. Kalangan yang cenderung kuper dan tidak mengenal kisah atau peristiwa sejarah setidaknya jadi bisa tahu tentang kisah atau momen sejarah tersebut. Walaupun pasti tidak akurat karena sebagai acara komedi, OvJ banyak menyimpangkan kisah-kisah dan cerita, namun setidaknya penonton yang belum tahu jadi tahu bahwa di Galia ada kisah Asterix, atau di Denmark ada cerita Hansel &amp; Gretel, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kelebihan lainnya, adalah sebuah kekonyolan. Para wayang, terutama Azis Gagap dan Sule SOS, sering menyimpang dari naskah yang telah digariskan dalam cerita yang mereka mainkan. Bukan sekedar improvisasi konyol, penyimpangan yang mereka lakukan benar-benar sebuah penyimpangan total. Dalam episode yang saya tonton tadi, misalnya, Kisah yang dituturkan adalah tentang Nyai dasima. Namun sule dan Azis dengan seenaknya mengganti cerita menjadi Si Pitung dan si Ja’i. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kekonyolan mereka itu terkadang memancing amarah Sang Dalang. Uniknya, kemarahan Sang Dalang ini juga yang biasa memancing tawa penonton. Itulah sebabnya, setiap di akhir pementasan OvJ, sang Dalang selalu membacakan sebuah pantun yang bunyinya tetap: “<em>Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya bingung. Yang pening bisa ketawa</em>!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Bagi saya, penyimpangan skenario yang sering dilakukan Sule dan Azis sesungguhnya bukan sekedar kekonyolan atau banyolan hampa yang terkadang garing. Namun jika kita renungkan secara mendalam, sebenarnya ada nilai filosofis di balik penyimpangan naskah dan skenario cerita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Dunia ini panggung sandiwara, kata Ahmad Albar. Hakikatnya, manusia berperan sebagai wayang. Kemudian Allah<span> </span>adalah Sang Dalang dalam sandiwara besar ini. Masing-masing memiliki peran yang harus dimainkan, sesuai dengan skenario. Apakah skenario kehidupan dunia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN"><span> </span>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51: 56)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Seperti halnya dalam OvJ, para wayang diberikan kebebasan untuk memilih. Mereka masing-masing bisa memilih –apakah hendak memainkan perannya sesuai tuntunan Sang Dalang, atau memilih untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan skenario. Tentu saja, ada konsekuensi untuk masing-masing pilihan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah, anda mau memilih yang mana? Sesuai skenario, atau menciptakan penyimpangan demi sebuah kelucuan yang mungkin hanya jadi bahan tertawaan tanpa makna?</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fpelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html&amp;linkname=Pelajaran%20Moral%20Berharga%20di%20Balik%20Opera%20van%20Java"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pelajaran-moral-berharga-di-balik-opera-van-java.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Al Qur’an dan Kedahsyatan sebuah Puisi</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/antara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/antara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 01:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture & Literature >< Sastra & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi >< Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda perhatikan note-note facebook saya secara seksama, baru pada dua atu tiga note terakhir saya menyertakan tag nama-nama friends di dalam note yang saya buat. Sebelumnya, saya tidak pernah nge-tag siapapun dalam note-note yang saya post di facebook. Ini, terutama untuk note-note yang berisi puisi. Saya nge-post puisi-puisi itu lebih karena ingin memperbanyak notes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Jika anda perhatikan note-note facebook saya secara seksama, baru pada dua atu tiga note terakhir saya menyertakan tag nama-nama friends di dalam note yang saya buat. Sebelumnya, saya tidak pernah nge-tag siapapun dalam note-note yang saya post di facebook. Ini, terutama untuk note-note yang berisi puisi. Saya nge-post puisi-puisi itu lebih karena ingin memperbanyak notes (hehe&#8230;), bukan berharap untuk dibaca banyak orang.<span id="more-933"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Walau demikian, puisi-puisi itu ternyata banyak juga yang membaca. Ada beberapa yang diberi tanda ‘like’ oleh sahabat-sahabat jamaah fesbukiyyah. Saya senang juga menyaksikan bahwa ada beberapa orang yang memberikan apresiasi tinggi kepada puisi saya tanpa harus susah payah nge-tag dan ‘maksa’ orang membacanya. Ini pun membuat saya jadi PeDe dan mulai yakin bahwa bakat dan kemampuan menulis saya tidak terbatas pada menulis fiksi dan esei, namun juga menulis puisi dan syair (narsis, ya? Hehehe&#8230;).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah, ternyata ada hal yang juga mencengangkan di balik puisi-puisi itu yang membuat saya tertegun dan heran. Baru pada beberapa hari terakhir ini saya <em>ngeh</em> dan sadar akan hal itu. Ada beberapa orang yang tiba-tiba saja merasa bahwa di antara puisi-puisi itu ditujukan kepada diri mereka secara pribadi. Beberapa orang itu, ada yang merasa dan yakin bahwa saya mengungkapkan kebencian pribadi, ketidaksukaan, bahkan juga cinta kepada diri mereka atau orang tertentu. Akibatnya ada orang-orang yang jadi berubah sikapnya. Ada orang yang tadinya sebel jadi baik (alhamdulillah) ada yang tadinya baik jadi tambah baik (alhamdulillah) lalu ada yang tadinya baik jadi sebel (astaghfirullah) dan, yang paling paling parah, yang tadinya sebel jadi tambah sebel (astaghfirullahal adziim&#8230;, gustiiii&#8230;, jelema teh meni kabina-bina teuing atuuuh!).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Duh&#8230;, saya jadi heran dan bingung juga. Perasaan, setiap kali menulis puisi, motivasi yang saya kembangkan dalam membuat kalimat adalah apa yang terlintas di kepala, bukan perasaan dalam hati. Puisi-puisi saya itu murni puisi, lho! Dari pencarian kalimat untuk membuat susunan kalimat indah semata, bukan karya-karya yang bersifat dekrit atau proklamasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Fenomena ini lalu memancing saya untuk membuka-buka beberapa buku tentang apresiasi puisi. Kemudian saya teringat bahwa ada sifat-sifat umum dalam puisi –yakni, pada mulanya puisi memiliki sifat lepas dan apersepsi (non-persepsi), kemudian pemahaman atas kalimat-kalimat di dalamnya menjadi sisi subjektif pembaca. Misalnya begini; cara saya memahami puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar, tentu akan berbeda dengan cara anda atau orang lain dalam memahami puisi tersebut. Nah, rupanya si sisi subjektif ini juga akan berpengaruh bilamana apresiator mengenal orang yang menulis puisi itu secara pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ooo&#8230; saya pun paham, mengapa ada orang-orang yang memiliki persepsi seperti yang saya kemukakan di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kemudian saya jadi teringat kepada Al Qur’an. Gaya bahasa yang digunakan dalam Qur’an adalah syair. Bahasanya indah dan enak disimak dengan purwakanti yang bagus. Misalnya, lihat surah An-Naas. Penggalan suku kata terakhir pada surah itu selalu berbunyi ‘naas’, sangat sistematis dan teratur dengan pengalan suku-suku kata yang pas saat dibaca dan dilagukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nah, saat tiba pada poin pemahaman dan apresiasinya sebagai syair, saya pun jadi paham mengapa seorang yang shaleh giat membaca dan mempelajari makna dan kandungan ayat-ayat Qur’an. Betapa tidak, di sana ada banyak ayat yang mengabarkan tentang surga beserta deskripsi surga dan keindahannya, serta kualifikasi orang-orang saleh yang layak masuk surga. Maka, saya pun menyadari, mengapa ayat-ayat Qur’an itu bisa membuat orang senang. Dengan gaya syair dalam Al Qur’an itu, mereka Ge-eR dengan kabar tentang siapa saja yang layak masuk surga. Hehehe&#8230;., becanda, ah. Piss! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Poinnya ialah begini; mungkin Allah sengaja membentuk gaya bahasa Qur’an dalam wujud syair untuk lebih mendekatkan makna dan pemahamannya dalam perspektif orang yang membacanya. Maka, orang yang hanya membaca tanpa berusaha menyelami maknanya memang tidak akan tahu dan mendekatkan persepsi pribadi mereka untuk menjadi pribadi yang selaras dengan Qur’an itu sendiri, karena itu hanya akan terjadi pada orang yang ‘mengenal’ Allah secara pribadi. Beghitchu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Setuju, engga? Terserah, ah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Allahu’alam.</span></em></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fantara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html&amp;linkname=Antara%20Al%20Qur%E2%80%99an%20dan%20Kedahsyatan%20sebuah%20Puisi"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/antara-al-quran-dan-kedahsyatan-sebuah-puisi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernah Ada Komunitas Yahudi di Cina</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pernah-ada-komunitas-yahudi-di-cina.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pernah-ada-komunitas-yahudi-di-cina.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 13:13:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Bukti-bukti arkeologis menunjukkan adanya eksistensi komunitas Yahudi di Cina pada awal abad ke-8. Ketika itu memang banyak saudagar Yahudi yang bepergian melintasi Jalur Sutra antara Persia dan India. Banyak pengelana, termasuk Marco Polo, pada abad 13, melaporkan pertemuan mereka dengan orang-orang Yahudi di Cina. Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), salah seorang kaisar Ming diberitakan pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bukti-bukti arkeologis menunjukkan adanya eksistensi komunitas Yahudi di Cina pada awal abad ke-8. Ketika itu memang banyak saudagar Yahudi yang bepergian melintasi Jalur Sutra antara Persia dan India. Banyak pengelana, termasuk Marco Polo, pada abad 13, melaporkan pertemuan mereka dengan orang-orang Yahudi di Cina. Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), salah seorang kaisar Ming diberitakan pernah menganugerahkan tujuh nama marga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di sana. Beberapa nama tersebut masih teridentifikasi hingga zaman sekarang: Ai, Lao, Jin, Li, Shi, Zhang dan Zhao. Shi dan Jin adalah nama-nama yang sama dengan nama Yahudi yang umum ditemukan di barat: Stone dan Gold.</span><span id="more-504"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sebuah tugu peringatan kuno (pilar batu peringatan) mencatat bahwa tahun 1421 merupakan puncak proses asimilasi orang-orang Yahudi ke dalam masyarakat Cina. Mereka diperbolehkan untuk ikut serta dalam ujian pegawai negara dan memasuki profesi-profesi pemerintahan. Catatan-catatan lokal dari abad 16-20 menceritakan bahwa orang-orang Yahudi umumnya mencapai kesuksesan di tengah masyarakat beraliran Confusius terlepas proporsi jumlah mereka yang kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Dilaporkan pula bahwa pada 1163, Ustad Leiwei (dalam bahasa Persia yang dekat dengan Cina, Ustad berarti &#8216;Rabbi&#8217;) menjadi pemimpin agama, dan bahwa mereka membangun sebuah sinagoga yang dikelilingi oleh sebuah balai studi, sebuah pemandian untuk ritual baptis, dan dapur bersama untuk menyediakan daging <em>kosher</em> (Ibrani = halal).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ironisnya, penemuan orang-orang Yahudi Kaifeng lebih menarik minat orang Kristen Eropa daripada orang-orang Yahudi sendiri. Sementara Yahudi Kaifeng kehilangan kontak dengan saudara-saudara mereka. Orang luar pertama yang melakukan kontak dengan koloni Yahudi Kaifeng ialah para pendeta Jesuit pada abad 17. Mereka melaporkan bahwa sinagoga Yahudi Kaifeng tetap hidup dan menjalankan praktek peribadatan serta peringatan hari raya, mereka tetap mengharamkan babi, menyunat anak-anak mereka, dan mengikuti syariah Musa seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi Eropa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Asimilasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Alasan hilangnya jejak dan asimilasi komunitas tersebut adalah kurangnya Taurat terjemahan Cina, hilangnya pengetahuan bahasa Ibrani, kurangnya jumlah Rabbi, dan rusaknya sinagoga mereka oleh banjir Sungai Kuning. Pada pertengahan abad 19, kemiskinan menyeebabkan orang-orang Yahudi yang tersisa menjual bangunan dan Mushaf-mushaf sinagoga ke misionaris Protestan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Peninggalan sinagoga mereka meliputi catatan tatacara ritual peribadatan, dua mangkuk batu, catatan pencucian badan sebelum upacara ibadah, serta kayu silinder gulungan Taurat kasus. Ini, serta salinan prasasti-prasasti yang disebutkan di atas kini berada di di Royal Ontario Museum, Toronto.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Selama Abad Pertengahan, para ahli teologi Eropa sangat tertarik dengan mushaf Torah Kaifeng. Mereka ingin membandingkan kitab tersebut dengan kitab mereka sendiri karena ahli-ahli teologi Kristen menduga adanya perubahan sejumlah ayat-ayat tertentu di dalam Taurat pada zaman Talmud, yang menyebabkan sengketa hebat di Eropa pada Abad 16. Kembali pada sebuah kitab yang &#8220;murni dan benar&#8221; akan menyelesaikan masalah, dan jika bagian-bagian yang hilang ditemukan, akan membuktikan bahwa para rabbi memang telah mengubah naskah kitab suci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Organisasi-organisasi Kristen membeli dan menyimpan enam gulungan Taurat Kaifeng. Tentu saja, gulungan Taurat Kaifeng yang ditemukan akhirnya memang identik dengan gulungan Taurat di Eropa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ketidaktahuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Komunitas yahudi tersebut terus melemah, seperti tercatat di dalam surat kaum Yahudi Kaifeng ke Barat pada pertengahan abad ke-19: </span><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">&#8220;Morning and night, with tears in our eyes and with offerings of incenses do we implore that our religion may again flourish. We sought everywhere, but could find none who understood the letter of the Great Country (Hebrew) which causes us deep sorrow.&#8221;</span></em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Komunitas Kaifeng bahkan pernah menampilkan gulungan Taurat di tempat-tempat umum dengan tanda menawarkan balasan untuk setiap musafir yang lewat dan dapat menerjemahkan teks tersebut untuk mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Walaupun kurang praktek formal keagamaan, Yahudi Kaifeng memiliki rasa identitas etnis. Beberapa orang tetap mendaftar anak-anak mereka sebagai &#8220;Youtai&#8221; (Yahudi) pada dokumen pemerintah, tepat di sebelah kolom di mana identitas mereka seharusnya ditulis &#8220;Han&#8221; (Etnik Cina). Mereka pun senang menerima kunjungan orang-orang Yahudi asing ke tempat mereka. Mempelajari warisan mereka sangat sulit karena sangat sedikit catatan tentang Judaisme yang tersedia di Cina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Disarikan dari: http://www.jewish-holiday.com</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fpernah-ada-komunitas-yahudi-di-cina.html&amp;linkname=Pernah%20Ada%20Komunitas%20Yahudi%20di%20Cina"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/pernah-ada-komunitas-yahudi-di-cina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Tahun Baru Masehi Dirayakan?</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/kenapa-tahun-baru-masehi-dirayakan.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/kenapa-tahun-baru-masehi-dirayakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 13:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Tepat pada malam tanggal 1 Januari, rakyat Indonesia biasanya menyambut kedatangan Tahun Baru Masehi dengan penuh sukacita. Tanpa memandang agama, ras, dan suku, lapangan Monas biasanya disesaki lelaki &#38; perempuan tua, muda, remaja, dan kanak-kanak menyambut kehadiran tanggal 1 Januari dengan penuh keceriaan. Situasi di Monas merepresentasikan situasi di Indonesia pada umumnya. Di kota-kota lain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Tepat pada malam tanggal 1 Januari, rakyat Indonesia biasanya menyambut kedatangan Tahun Baru Masehi dengan penuh sukacita. Tanpa memandang agama, ras, dan suku, lapangan Monas biasanya disesaki lelaki &amp; perempuan tua, muda, remaja, dan kanak-kanak menyambut kehadiran tanggal 1 Januari dengan penuh keceriaan. Situasi di Monas merepresentasikan situasi di Indonesia pada umumnya. Di kota-kota lain, situasi semacam itu juga tercipta dengan segala pernak-perniknya. Peringatan Tahun Baru Masehi memang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.<span id="more-24"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Walau peringatan Tahun Baru Masehi telah menjadi bagian dari tradisi yang melekat pada masyarakat Indonesia, sangat sedikit sekali orang Indonesia yang memahami nilai-nilai filosofi dan sejarah yang terkandung di dalam peringatan Tahun Baru Masehi. Secara tradisi, peringatan Tahun Baru Masehi merupakan budaya asli Eropa yang diimpor ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Sebelum masa penjajahan Belanda, rakyat Indonesia hanya mengenal kalender Hijriyah dan Kalender Saka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Budaya peringatan Tahun Baru Masehi tak lepas dari peringatan kelahiran Isa Al Masih as. dalam kepercayaan orang Kristen. Nama Masehi diambil dari kata Al Masih –gelar untuk Nabi Isa as. yang dianggap Tuhan oleh Umat Kristen. Secara lughowi, kata Masehi juga sering digunakan untuk menyebut nama lain dari agama Kristen. Tahun Masehi dalam bahasa Latin disebut <em>Anno Domini</em> (Tahun Tuhan), disingkat AD.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Sebelum mengenal kalender Masehi, bangsa Romawi telah mengenal kalender Julian yang dihitung dari masa kelahiran Julius Caesar. Adapun Bulan-bulan pada Kalender Julian sama persis dengan kalender Masehi. Tarikh awal tahun Masehi atau tahun 1 Masehi dihitung sejak tahun yang diyakini sebagai tahun kelahiran Isa Al Masih. Walau perhitungannya dimulai dari tarikh kelahiran Isa Al Masih, perhitungan kalender Masehi baru dilakukan pada tahun 526 Masehi saat <span lang="EN">Dionisius Exiguus</span> –s<span lang="EN">eorang pejabat tinggi kepausan di Roma</span>–<span> <span lang="EN">yang diserahi tugas menyusun kalender gereja menetapkan perhitungan tahun <em>Anno Domini</em> berdasarkan dugaannya bahwa Isa Al Masih lahir </span></span>526 tahun sebelum saat itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Bila kita mengikuti perkiraan Dionisius Exiguus tentang kelahiran Isa al-Masih, 1 Januari mendatang kita akan memasuki tahun 2008. Perhitungan yang dibuat Dionisius Exiguus itu dilandaskan kepada naskah Injil Lukas bahwa Isa Al Masih mulai mendakwahi bangsa Yahudi pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, yang bertahta dari tahun 60 Julian sampai 83 Julian (14-37 Masehi). Injil Lukas pun ternyata main tebak dalam menyatakan usia Isa Al Masih saat itu, karena kalimat dalam Injil itu berbunyi <em>quasi annorum triginta</em><em><span style="font-style:normal;"> (kira-kira 30 tahun). Maka </span></em>Dionisius Exiguus langsung menetapkan tahun 47 Julian sebagai tahun 1 Masehi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Gereja Katolik yang menetapkan Kalender Masehi mengatur bahwa masa sebelum kelahiran Isa Al Masih dinamakan masa Sebelum Masehi (BC = <em>Before Christ</em>). Perhitungan tahun dilakukan mundur alias minus berdasarkan asumsi teologis bahwa Isa Al Masih ialah penggenapan dan pusat sejarah dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Ternyata Dionisius Exiguus tidak memahami kitab Sucinya sendiri dengan baik. Sebenarnya dua Injil dalam Alkitab (Injil Lukas &amp; Matius) mencatat bahwa kelahiran Isa Al Masih terjadi pada masa pemerintahan Raja Herod di Palestina (10 sampai 43 Julian). Ini berarti Isa Al Masih dilahirkan antara tahun 37 SM dan 4 SM. Kemudian, Injil Lukas juga menyebut bahwa Isa al-Masih lahir saat Gubernur Suriah, Quirinius, mengadakan sensus penduduk di Palestina atas perintah Kaisar Oktavianus Augustus (memerintah tahun 27 SM-14 M). Sensus ini berlangsung sesudah pengangkatan Quirinius tahun 6 SM (41 Julian). Jadi Isa Al Masih kemungkinan besar dilahirkan pada tahun 42 Julian (5 SM). Nah,…kalau kita ingin konsisten menghitung tahun kalender ini sejak lahirnya Isa Al Masih a.s., seharusnya Tahun Baru sekarang adalah tahun 2013.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Jauh sebelum munculnya Kalender Masehi yang bodoh ini, peringatan Tahun Baru sudah biasa dilakukan bangsa Romawi. Dalam kalender Julian yang dipakai bangsa Romawi zaman dulu, awal tahun dihitung mulai 1 Maret, saat musim semi dimulai. Ketika Isa Al Masih alias Yesus Kristus ditetapkan sebagai Tuhan dalam Konsili Nicea yang digagas Kaisar Konstantin, ditetapkan pula bahwa tanggal kelahiran Isa adalah 25 Desember, menggantikan ulang tahun Hercules. Mungkin pertimbangannya adalah karena baik Hercules maupun Yesus sama-sama ‘anak’ Tuhan. Kaisar Konstantin lalu menarik awal tahun dari 1 Maret ke tanggal 1 terdekat dengan 25 Desember, yakni 1 Januari. Sejak itu, peringatan Tahun Barunya orang Eropa pun pindah ke tanggal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Maka perayaan Tahun baru merupakan salah satu bagian dari paket perayaan Natal. Bukti lain bahwa perayaan Tahun Baru Masehi adalah satu paket dengan Natal adalah melalui ungkapan yang umum di Eropa bahwa ucapan <em>‘Merry Christmas’</em> (Selamat Natal) selalu diikuti dengan ucapan <em>‘and Happy New Year’</em> (dan selamat Tahun Baru).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Di Eropa dan negeri barat lainnya, bentuk perayaan <em>‘Merry Christmas and Happy New Year’</em> ini sangat khas dan tidak pernah berubah sejak zaman Jahili Romawi. Kalaupun ada perubahan hanya dalam hal alat-alat dan busana yang semakin modern. Secara substansi, semuanya sama. Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi disambut dengan pesta besar-besaran, malam akhir tahun ditunggui, lalu nyanyian dilantunkan, lonceng tengah malam pun dibunyikan, kembang api dinyalakan di sana-sini, terompet ditiup, ucapan ‘<em>merry christmas and happy new year’</em> diteriakkan di mana-mana. Tak lupa pula, campur bebas pria dan wanita yang bukan muhrim pun ‘memeriahkan’ semua acara rohani ini. Bentuk perayaan ini lalu diadopsi oleh hampir semua negara di dunia. Orang-orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam pun tak mau dianggap kuno dan ketinggalan zaman, lalu ikut-ikutan melakukan semua ketololan yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Jahiliyah itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Muda-mudi</span><span lang="EN"> Indonesia</span><span lang="EN"> –bahkan juga orang tua– dengan bangganya ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi. Selain beberapa bentuk perayaan yang diadopsi seperti meniup terompet, menyalakan kembang api, dan kadang-kadang ada acara seperti pesta, tontonan musikal, mereka juga mengadakan acara duduk-duduk sambil ngobrol mengahabiskan waktu akhir tahun, ada juga yang mengadakan kegiatan introspeksi akhir tahun seperti muhasabah, mabit, dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Bila ditanya alasan mengapa orang Indonesia ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi, paling alasan yang sering kita dengar adalah, “untuk refreshing aja, enggak tiap hari ini”. Padahal mayoritas orang Indonesia adalah umat Islam yang jelas-jelas sudah punya Tahun Baru sendiri (yang bahkan jarang mereka rayakan). Padahal kalau dipikir-pikir <em>refreshing</em> bisa dilakukan di lain waktu, tanpa mesti ikut-ikutan acara Tahun Baru Masehi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Saya yakin para pembaca banyak yang tak setuju dengan opini saya. Tapi coba pikir lagi, dong. Apa sebenarnya manfaat perayaan ini? Kalau dilihat dari segi waktu, akan banyak waktu yang terbuang percuma. Padahal setiap muslim harus mempertanggungjawabkan waktu yang dihabiskannya di dunia pada Hari Hisab kelak. Dari segi biaya, bisa dipastikan banyak uang berhamburan tanpa guna. Dari segi kesehatan pun jelas akan merusak tubuh karena harus begadang untuk menunggu malam akhir tahun. Dari segi keamanan, seringkali terjadi tindak kriminal di malam tersebut. Dari segi ketertiban umum, mengganggu kehidupan dan kenyamanan masyarakat yang ingin melewatkan malam itu dengan tidur (seperti saya tentunya). Dari segi moral, seringkali campur bebas terjadi antara pria dan wanita yang bukan muhrim. Paling yang merasakan manfaat dan keuntungan dari perayaan ini cuma tukang terompet, tukang kembang api, para artis dan segolongan kecil masyarakat lainnya yang mengail keuntungan dari kerugian sebagian besar masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN">Jelas bahwa Tahun Baru Masehi bukan tahun baru yang bisa dirayakan oleh semua orang. Namun hanya untuk dirayakan oleh mereka yang beragama Masehi/Kristen. Jangan-jangan saat kita ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi malah mengganggu umat agama lain yang sedang beribadah atau bahkan sama dengan ikut-ikutan ibadah agama lain (Naudzubillah!). Padahal umat Islam seharusnya menghargai umat agama lain yang sedang merayakan tahun barunya. Jadi, <em>ngapain</em> juga kita ikut merayakan tahun baru umat agama lain? Renungkanlah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Wingdings;"><span>v<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN">“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati dan menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”</span></em><span lang="EN"> (Al- Ashr, 1-3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Wingdings;"><span>v<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN"><span> </span><em>“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”</em> (Al A’raf, 31).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Wingdings;"><span>v<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN">“Barang siapa yang menyerupai perbuatan suatu kaum, maka ia termasuk di dalamnya”</span></em><span lang="EN"> (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="EN">Sumber-sumber:<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span></span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span><!--[endif]--><em><span style="font-style:normal;">STUDIA Edisi 224/Tahun ke-5,</span> </em>Di Balik Perayaan Tahun Baru Masehi, <em>27 Desember 2004</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span><!--[endif]-->Irfan Anshory, <strong><span style="font-weight:normal;" lang="EN">Tahun Berapakah Sekarang?, artikel di dalam Pikiran Rakyat, <em>Sabtu 30 Desember 2006</em></span></strong></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fkenapa-tahun-baru-masehi-dirayakan.html&amp;linkname=Kenapa%20Tahun%20Baru%20Masehi%20Dirayakan%3F"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/kenapa-tahun-baru-masehi-dirayakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Introducing Ka’abah</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/introducing-ka%e2%80%99abah.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/introducing-ka%e2%80%99abah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 12:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Every year, millions of people are gathered in Mecca. They perform al Hajj pilgrimage –a Muslim obligation commanded by Allah. Among many routine activities during the pilgrimage, Thawaf is the most famous and well-known activity. Thawaf is an activity where the pilgrims walk around the Ka’abah. Ka’abah is the small cubicle shrine in the Great [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Every year, millions of people are gathered in Mecca. They perform al Hajj pilgrimage –a Muslim obligation commanded by Allah. Among many routine activities during the pilgrimage, Thawaf is the most famous and well-known activity. Thawaf is an activity where the pilgrims walk around the Ka’abah. Ka’abah is the small cubicle shrine in the Great Mosque of Mecca which contains the Hajjar Aswad –a famous black Stone of Mecca. Ka’abah also represents the direction (kiblah) to which Muslims turn in praying. Ka’abah is actually just an ordinary building. It is not a worshiped building or god. Turn in praying to Ka’abah doesn’t mean to pray to Ka’abah itself.</span><span id="more-446"></span><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">History of </span><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ka’abah began <span style="color: black;">before the human being was created by Allah and before they descend to earth. Angels was commanded by Allah to descend to earth and found </span>Ka’abah. Then <span style="color: black;">they are commanded to do Thawaf around the </span>Ka’abah<span style="color: black;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Then, it came the period of Adam creation. He then was degraded to earth –in a region which now is India. Hereinafter he walked to look for his wife –Eve. Around this house of Allah, he met Eve and later lived his family there. Allah’s House (this Ka&#8217;abah) became place for religious service to Him during the time, since the period of Prophet Noah, Ibrahim, and also other prophets.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">The ancient Arabs also did not pray to Ka&#8217;abah. They knew that Ka&#8217;abah is not a thing to be worshiped. Even the Quraish tribe, who are known as Pagans, did not worship the Ka&#8217;abah. Although that the ancient Quraish worshiped stone, rocks, wooden statue, they realized that Ka&#8217;abah is just an ordinary building who cannot be worshiped.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">When Abrahah, Negus of Ethiopia, launched an attack to Ka&#8217;abah with his army, the Arabs did not fel a fear of losing Ka&#8217;abah for they believe that Ka&#8217;abah itself is not God –just a house which is honored by God. They believed that Ka&#8217;abah will be guarded by its owner –Allah. Even Abdul Muthalib, Prophet Muhammad’s grandfather, was busier to take care of his goats and camels at that time. He minimized his attention for he believed that Allah who will take care of Ka&#8217;abah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">So, the common Western scholar’s statement that Muslim worships the Ka&#8217;abah is clearly a mistake. That statement shows that they have superficial of knowledge regarding Islam. Their analysis which derives the statement shows that they just have little knowledge about Islam but speak as well as they has a broad knowledge of Islamic faith.</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fintroducing-ka%25e2%2580%2599abah.html&amp;linkname=Introducing%20Ka%E2%80%99abah"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/introducing-ka%e2%80%99abah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How Should Arab-Israeli View Themselves?</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/how-should-arab-israeli-view-themselves.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/how-should-arab-israeli-view-themselves.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 12:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Millions of Arabs live in Israel. Majority of them are given Israel citizenship. Thus they become an element in a ‘melting pot Israel’. Some of them try to accept their existence in Israel as an unhindered reality that then makes them called themselves ‘Israeli’. 
For me, it is quiet funny to find that an Arab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Millions of Arabs live in Israel. Majority of them are given Israel citizenship. Thus they become an element in a ‘melting pot Israel’. Some of them try to accept their existence in Israel as an unhindered reality that then makes them called themselves ‘Israeli’.</span><span id="more-444"></span><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">For me, it is quiet funny to find that an Arab call himself as an Israeli. It is undoubtedly that ethnicity is a factor that describes a nation identity. Although there is an exception in many cases such as in United States or Indonesia –where ethnicity is regarded as unimportant for there are many ethnics which view themselves as a nation. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">The case will be different in a country where an ethnic form as a single majority. The nation’s identity will be bounded by traditions and values of such ethnic. For instance, the German’s identity cannot be separated from the Aria-European customs and traditions which then called as the German’s Values. These values are usually derived from common faith or consensus among its people.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Israel which is formed by Jewish certainly holds Jewish values and traditions as their identity. It has been familiarly known that Jewish values and traditions contradict to Islamic values and traditions –while Islam has been the identity of Arabs for centuries. This is the first problem in defining position of Arabs live in Israel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">The second problem comes from the political escalation during the emergence of Israel to nowadays. Israel is a Jewish state which is situated on Arab’s land. They are surrounded by Arab countries which fight against them for decades. This condition creates a new value where they view and put each other as the main enemy. Of course, it is a huge dilemma for Arabs live in Israel to watch their country fight against other countries that have same identity to theirs.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">The answer for ‘how should Arab-Israeli view themselves?’ will depend on how the Arab-Israeli view on the values they hold. They are free to decide whether they are Arab or Israeli for values is related to faith, not ethnic or race. If they hold Jewish values, it means that they view themselves as Israeli. But if they strongly hold Arab values, it means that they are Arabs. Thus Arab-Israeli will only reflect ethnicity in its relation to national identity –not personal faith and believes.</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fhow-should-arab-israeli-view-themselves.html&amp;linkname=How%20Should%20Arab-Israeli%20View%20Themselves%3F"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/how-should-arab-israeli-view-themselves.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feminist Literature and Criticism</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/feminist-literature-and-criticism.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/feminist-literature-and-criticism.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 04:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[First time appearance of feminism is considered on 1890s to 1920s in United States and Britain. This First Wave Feminism shouted about women’s right in voting, equal position in law, and equality in work fields. In the 1970s, Second Wave Feminism was occurred. One of its powers was the emergence of feminist literature.
Betty Freidan in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">First time appearance of feminism is considered on 1890s to 1920s in United States and Britain. This First Wave Feminism shouted about women’s right in voting, equal position in law, and equality in work fields. In the 1970s, Second Wave Feminism was occurred. One of its powers was the emergence of feminist literature.</span><span id="more-386"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Betty Freidan in her book (<em>Feminine Mystique</em>, 1963) marks the emergence of feminist literature by criticizing the condition where women were put in domestic realm as housewives, child bearers and husband’s servant. She thinks that it reduced women’s identity to sexual and social passivity. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Marry Ellman (<em>Thinking about Women,</em> 1965) initiated modern feminist literary criticism in United States. She criticized the stereotype of women in male-authored texts. Then, feminist literary criticism challenged traditional norms of English, initiated by Kate Millet’s <em>Sexual Politics </em>(1969). She provided first modern principle of feminist literary criticism by embarking sexist assumption in male-authored texts. She also introduced the fundamental term ‘patriarchal’. </span><span>P</span><span lang="IN">atriarchy was </span><span>defined as </span><span lang="IN">a society system </span><span>which put </span><span lang="IN">power</span><span>s</span><span lang="IN"> on the hands of men</span><span>.</span><span> </span><span style="color: black;">It is considered as socially, politically, and economically gives privileges and power to men, which deliberately or not, caused women subordination. She also differed sex and gender. Sex was determined biologically, while gender was defined as a psychological concept refers to sexual identity required culturally. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Basically feminism movement tries to break the social political subordination of women.<span> </span>It is generally divided into two aspects. First, it identifies inequalities and injustice in the way women are treated in particular society and the disabilities and disadvantages resulted. Thus, the main aim of feminism is eliminating mistreatment and unequal treatment of women and understanding the different situation of women due to the different culture and stages of history. Second, it asserts value, and values of women, the human dignity and worth of each woman individually and also the different contributions that women make to their culture. Thus it pointing women contribution in field apparently dominated by men that were forgotten and submerged; one of them is literature.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="color: black;">Some scholars argue that feminist literary criticism was established as women’s form of protest toward discriminations in education and literature. Feminist literary criticism attempts to make a global redefinition, reinterpretation, and redeployment of previous literary theories –for instance Marxism, Structuralism, etc. &#8211; as an aspect of a revolutionary sexual politics. The previous texts containing such literary theories were considered as only taken account to men’s point of view. Furthermore, works focus on women were aimed for women readers only while works, which focus on men, were considered aimed for general audiences men and women. Thus feminist literary criticism is also trying to break the canonical and literary history, which did not give the same proportion towards women and men authors.</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Ffeminist-literature-and-criticism.html&amp;linkname=Feminist%20Literature%20and%20Criticism"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/feminist-literature-and-criticism.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khalifah Umar bin Khattab ra. Vs. Para Pelatih Sepakbola</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/khalifah-umar-bin-khattab-ra-vs-para-pelatih-sepakbola.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/khalifah-umar-bin-khattab-ra-vs-para-pelatih-sepakbola.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 12:32:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[‘The best defense is attacking’
‘Sebaik-baiknya pertahanan adalah Penyerangan’
Selama ini kita mengenal ungkapan tersebut sering didengungkan oleh para pelatih sepakbola yang menganut karakter permainan menyerang, seperti Marco van Basten, Johan Cruijjf, dan Luiz Felipe Scolari. Entah ada hubungannya atau tidak, 15 Abad yang lalu Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah mengeluarkan ungkapan: 
‘Khairul difa’i, al hujaani’
Arti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">‘The best defense is attacking’</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">‘Sebaik-baiknya pertahanan adalah Penyerangan’</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Selama ini kita mengenal ungkapan tersebut sering didengungkan oleh para pelatih sepakbola yang menganut karakter permainan menyerang, seperti Marco van Basten, Johan Cruijjf, dan Luiz Felipe Scolari. Entah ada hubungannya atau tidak, 15 Abad yang lalu Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah mengeluarkan ungkapan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">‘Khairul difa’i, al hujaani’</span></em><span id="more-236"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Arti kalimat tersebut kurang lebih sama dengan kalimat beken dalam filosofi sepakbola menyerang di atas. Itulah sebabnya mengapa dalam masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, tentara Islam sangat agresif melancarkan dakwah dengan jalan jihad dan sukses menaklukan wilayah-wilayah di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Pada hakikatnya, sebuah pola permainan dalam sepakbola tidak melulu mementingkan titik berat pada permainan menyerang atau bertahan karena sepakbola menuntut dua hal yang sama pentingnya, yakni mencegah lawan mencetak gol dan mencetak gol ke gawang lawan. Karena itu, dalam sebuah skema permainan menyerang, sebuah tim tetap memerlukan para pemain bertahan (bek). Begitu pula dalam skema permainan bertahan, sebuah tim tetap memerlukan para pemain menyerang (striker atau forwarder). Pada kenyataannya, masing-masing pola memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung kepada permainan yang dikembangkan oleh tim masing-masing. Sebuah tim yang mengandalkan sepakbola bertahan pun bisa sukses mengalahkan lawan, terbukti oleh skema gerendel <em>Catenaccio</em> Italia yang berhasil memberikan gelar juara dunia di tahun 1982 di Spanyol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Dahulu, Khalifah Umar bin Khattab ra. ternyata tidak melulu memperhatikan perluasan wilayah Khilafah, namun juga menjaga pertahanan akidah dan pengetahuan rakyat di dalam negara Khilafah dengan sebaik-baiknya. Beliau berjuang keras mempertahankan kemakmuran rakyat sebagai pilar kekuatan negara. ‘Pola permainan’ inilah yang dianut oleh para pemimpin Islam sehingga membuat Islam berjaya selama 12 abad, hingga akhirnya performa kekuatan politik Islam mulai menurun di Abad ke-18 dan hancur lebur di Abad ke-20 dengan tumbangnya Khilafah Usmaniyah di Turki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bagaimana dengan ‘pola permainan’ Umat Islam sekarang? Jujur saja, saya kira sekarang ini, Umat Islam bagai ‘bermain tanpa pola’. Umat Islam sekarang sedang menjadi bulan-bulanan lawan yang terus ‘mencetak gol demi gol’ ke gawang Umat Islam, mulai dari pembakaran Masjidil Aqsha di tahun 1960-an hingga pelecehan Nabi Muhammad Saw. dalam kartun Jylland Posten tahun 2006 dan penulisan novel ‘Jewel of Madina’ baru-baru ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bagaimana jika sebuah kesebelasan memiliki tim pelatih yang memahami permainan dengan sempurna? Mulai dari pelatih kepala, pelatih fisik, hingga pelatih kiper semua tahu skema terbaik dan kemampuan tim asuhannya. Jaminan gelar juara mungkin lebih besar ada di tangan. Namun ini tak terlepas dari penampilan pemain dalam menjalankan instruksi pelatih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Jika seorang pelatih menginstruksikan pemainnya untuk bermain dengan pola 4-4-2, maka jelas bahwa 4 anak asuhnya harus berdiri sejajar di tengah sebagai gelandang, 4 lainnya berdiri sejajar di belakang sebagai bek, dan 2 lainnya berdiri di depan sebagai penyerang. Plus satu kiper di bawah gawang tentunya. Masing-masing memiliki tugas dan kewajiban sendiri yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya guna meraih kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Jika Umat Islam diibaratkan sebagai sebuah tim sepakbola, maka Nabi Muhammad Saw. adalah pelatih kepala. Kemudian para Khulafaur Rasyidin adalah para asistennya. Pelatih kepala telah menginstruksikan kepada Umat Islam untuk menarapkan sebuah ‘skema permainan’ yang disebut Syariah dan Khilafah, pola yang menjadi jaminan prestasi ‘kesebelasan’ ini. Namun ternyata ‘kesebelasan’ ini bermain dengan ‘skema’ kapitalisme dan liberalisme. Maka kacaulah ‘permainan kesebelasan’ ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Nah&#8230;inilah analogi situasi yang dihadapi Umat Islam dengan dunia sepakbola.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Di tengah situasi banyaknya kebobolan di gawang, Umat Islam ternyata tidak serta merta menyadari kesalahannya. Beberapa pemainnya malah menyalahkan skema permainan yang diinstruksikan pelatih. Ada juga yang mangkir dan keluar dari arena permainan. Lalu ketidakjelasan permainan yang dikembangkan pun semakin kacau karena tidak adanya kerjasama tim yang kompak. Tidak jelas siapa yang jadi kiper, siapa yang jadi bek, siapa yang jadi gelandang, dan siapa yang jadi striker. Lalu, tidak jelas pula siapa kaptennya di lapangan, semua pemain mengenakan ban kapten karena semua ingin menjadi kapten.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Padahal instruksi tim pelatih sangat jelas dan mudah dipahami. Pelatih kesebelasan ini adalah manusia terbaik yang paham apa yang harus dilakukan. Kekacauan ini jelas disebabkan oleh ketidakmengertian pemain pada skema yang diinstruksikan pelatih. Juga dipicu oleh keengganan pemain menyimak instruksi pelatih dengan sebaik-baiknya. Para pemain terbawa oleh irama permainan lawan dan tidak bisa mengambangkan permainan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Hingga saya membuat tulisan ini, peluit akhir masih belum berbunyi. Masih belum terlambat bagi kesebelasan ini untuk membenahi permainan, menerapkan skema dan pola yang diinginkan pelatih kepala. Menata kembali permainan, membangun pertahanan dan penyerangan untuk bisa mencetak gol ke gawang lawan. Namun, ini kembali kepada akar masalah, bersediakah para pemain melaksanakan instruksi pelatih dan menjalankan tugas masing-masing dengan penuh disiplin dan tanggung jawab?</span></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fkhalifah-umar-bin-khattab-ra-vs-para-pelatih-sepakbola.html&amp;linkname=Khalifah%20Umar%20bin%20Khattab%20ra.%20Vs.%20Para%20Pelatih%20Sepakbola"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/khalifah-umar-bin-khattab-ra-vs-para-pelatih-sepakbola.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Bali Bombers: Are They Mujahids or Terrorists?</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/the-bali-bombers-are-they-mujahids-or-terrorists.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/the-bali-bombers-are-they-mujahids-or-terrorists.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 12:36:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[When I sat on the bench of second grade in High school, I was amazed by two figures of Palestinian Woman ‘terrorists’ from the Marxist Palestinian faction PFLP. They were Suhaila Sami Andrawes Sayeh and Leila Khaled. What was my reason? Was it because of their ideology? Alternatively, was it for their action? No! My [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">When I sat on the bench of second grade in High school, I was amazed by two figures of Palestinian Woman ‘terrorists’ from the Marxist Palestinian faction PFLP. They were Suhaila Sami Andrawes Sayeh and Leila Khaled. What was my reason? Was it because of their ideology? Alternatively, was it for their action? No! My only reason was very simple: because they were beautiful women.</span><span id="more-238"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">In less than five year later, in 2002, I heard names of Abdul Aziz a.k.a. Imam Samudra, Amrozy, and Ali Ghufron a.k.a. Mukhlas. Then, what is the correlation between Suhaila Sayeh and Leila Khaled with the three people who are later often called ‘First Bali Bombing Trio’? It is the title that they have –Terrorist</span><span style="color: black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">The Trio confessed that they have directed a Bombing in Bali on 12 October 2002. They assume that their action is a form of Jihad in a global war between Muslim people with the United States and its allies. They consider that world in present have been a global battlefield, where there is no longer separation among peaceful area and conflict area, so each attacking action can be conducted anytime and anyplace during this war</span><span style="color: black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">I definitely do not agree to the concept of jihad assumed by the trio. This is an expression appear from my mind and thinking. Not even a moment, I ever confess that what has been happened in Bali on 12 October 2002 is a jihad action. For me, my opinion is clear and will be consistent; Bali Bombing is not a form of Jihad –only an accident of history in the timeline of Islamic civilization</span><span style="color: black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Despite my thinking and opinion, I also have to bow the obligation burdened by Allah Ta’ala to me as a Muslim to love the Trio as my brothers</span><span style="color: black;">:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em>‘Laa yu’minu ahaddukum hatta yuhiba li akhihi maa yuhibbu linafsih’</em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Then shall we follow to call them with the title of ‘terrorist’? A long as I know, they are also human being and they believe in Islamic teachings. As a Muslim, they are human being who own adherence to Islamic teachings, seriously deepen the teaching of their religion, and stand up for the people of Islam</span><span style="color: black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Every event in this world excesses other events -this phenomenon is popular as ‘the causality method’. In Indonesian culture, this is toned with expression &#8216; there is no smoke if there is no fire&#8217;, or Newton words: &#8216;each reaction is caused by an action</span><span style="color: black;">&#8216;.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">The Bali Bombing action, undoubtedly, has a correlation to others events in this world. What are they? What events triggered that kind of ‘jihad’? The answer is clear for there is a Dark Ages of Islamic civilization as the raising of Western capitalism and liberalism.</span></p>
<p class="MsoNormal">It is true that have been many victims caused by the Bali Bombing action. However, there also have been more victims caused by <span style="color: black;">Western capitalism and liberalism and their policies. For example, the Western policies to support Israeli in Middle East conflicts have create miseries for millions of Palestinian people. The latest policies to invade Iraq and Afghanistan also create similar problem for millions of Muslims who live in both countries.</span></p>
<p class="MsoNormal">If people discuss Bali Bombing for it victimized many people to death, then why can people admit that there have been more victims caused by Western actions in whole World? Bali Bombing, nevertheless, was just a ‘smoke’ while Western actions and policies are the ‘fire that still burn’. Sometime, we are too busy to put our attention to the ‘smoke’ and forget to extinguish the ‘fire’.</p>
<p class="MsoNormal">As the ‘smoke’, Bali Bombing narrows our breath and makes our eyes smarting. Nevertheless, the wounds caused by the fire burn are clearly more dangerous for people. So, what should Muslims do? I think that the Muslim Ummah need a kind of Jihad that has a nature of water for it is able to extinguish the fire, not just being a smoke of fire.</p>
<p class="MsoNormal">The Bali Bombing Trio has now gone. As their brother in Islam, I have prayed that any good deeds of them will be responded by Allah’s reward. I expect that their mighty spirit of defending Muslim Ummah and their love to Islam will also be rewarded by Allah. They might be distorted in drawing the meaning of Jihad, and it is their business with Allah. For they who agree to their concept of Jihad, they will be a heroic mujahids. I respect to their opinion, although I absolutely do not agree. However, for you who do not agree to their ‘jihad’, I think that you should think twice before rewarding the title of terrorist for the title is more suitable to be attached to the United States and European countries.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fthe-bali-bombers-are-they-mujahids-or-terrorists.html&amp;linkname=The%20Bali%20Bombers%3A%20Are%20They%20Mujahids%20or%20Terrorists%3F"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/the-bali-bombers-are-they-mujahids-or-terrorists.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Islam Dalam Pendidikan Keluarga</title>
		<link>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/konsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/konsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 11:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family & Education >< Pendidikan & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga didefinisikan sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak. Setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam ajaran agama Islam, anak adalah amanat Allah. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Jelas, tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Keluarga didefinisikan sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak. Setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam<span> </span>ajaran agama Islam, anak adalah amanat Allah. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Jelas, tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dalam rumah tangga. Allah memerintahkan :<span id="more-228"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em>“Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan neraka”.</em> [Al Ayah]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Kewajiban itu dapat dilaksanakan dengan mudah dan wajar karena orang tua memang mencintai anaknya. Ini merupakan sifat manusia yang dibawanya sejak lahir. Manusia diciptakan manusia mempunyai sifat mencintai anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em>“Harta dan anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia”.</em> [Al-Kahfi ayat 46]<em></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua anaknya yang masih kecil. Aisyah memberikan tiga potong kurma kepada wanita itu. Diberilah oleh anak-anaknya masing-masing satu, dan yang satu lagi untuknya. Kedua kurma itu dimakan anaknya sampai habis, lalu mereka menoreh kearah ibunya. Sang ibu membelah kurma (bagiannya) menjadi dua, dan diberikannya masing-masing sebelah kepada kedua anaknya. Tiba-tiba Nabi Muhammad SAW datang, lalu diberitahu oleh Aisyah tentang hal itu. Nabi Muhammad SAW bersabda :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;">“Apakah yang mengherankanmu dari kejadian itu, sesungguhnya Allah telah mengasihinya berkat kasih sayangnya kepada kedua anaknya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Uraian diatas menegaskan bahwa (1) wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya, dan (2) kewajiban itu wajar (natural) karena Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anaknya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">Agama Islam secara jelas mengingatkan para orang tua untuk berhati hati dalam memberikan pola asuh dan memberikan pembinaan keluarga sakinah, seperti yang termaktub dalam QS Lukman ayat 12 sampai 19. Dan apabila kita kemudian kaji isi ayat diatas, maka kita akan menemukan beberapa point-point penting diantaranya adalah :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan jiwa orang tua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;">Pembinan jiwa orang tua di jelaskan dalam Surah Luqman ayat 12 :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><em>Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan tauhid kepada anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Makna tentang pembinaan tauhid,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Luqman Ayat 13 :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><em>Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezhaliman yang besar”.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">Luqman Ayat 16 :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><span> </span><em>(Lukman berkata) : Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu<span> </span>perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya<span> </span>Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">Yang dimaksud dengan “Allah Maha Halus” ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu begamana kecilnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan akidah anak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Mengenai pembinaan akidah ini, Surah Luqman memberikan gambaran yang begitu jelas. Dalam surat tersebut pembinaan akidah pada anak terdapat dalam empat buah ayat yaitu ayat 14, 15, 18 dan ayat ke 19.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembinaan jiwa sosial anak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Pembinaan sosial pada anak dalam keluarga, dijelaskan dalam surat Luqman ini melalui ayat ke 16 dan ayat ke 17. Untuk ayat ke 16 telah disebutkan pada point ke dua.<span> </span>Sedangkan ayat ke 17 dari surat Luqman berbunyi :</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;"><em>Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang patut diutamakan.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga dikatakan sebagai lingkungan pendidikan pertama karena setiap anak dilahirkan ditengah-tengah keluarga dan mendapat pendidikan yang pertama di dalam keluarga. Dikatakan utama karean pendidikan yang terjadi dan berlangsung dalam keluarga ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pendidikan anak selanjutnya. (Maman Rohman, 1991:24).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Para ahli sependapat bahwa betapa pentingnya pendidikan keluarga ini. Mereka mengatakan bahwa apa-apa yang terjadi dalam pendidikan keluarga, membawa pengaruh terhadap lingkungan pendidikan selanjutnya, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Tujuan dalam pendidikan keluarga atau rumah tangga ialah agar anak mampu berkembang secara maksimal yang meliputi seluruh aspek perkembangan yaitu jasmani, akal dan ruhani. Yang bertindak sebagai pendidik dalam rumah tangga ialah ayah dan ibu si anak. Ingatlah selalu kepada apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"><em>“Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah. Maka ibu-bapanyalah yang menasranikanatau menyahudikan atau memajusikannya. (H.R. Bukhari Muslim)</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"><em> </em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%;">Dari hadist nabi tersebut tergambarkan bagaimana pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga. Dimana dalam hal ini keluarga berperan untuk membentuk pribadi anaknya ke arah yang lebih baik.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fmahardhikazifana.com%2Freligion-philosophy-agama-filsafat%2Fkonsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html&amp;linkname=Konsep%20Islam%20Dalam%20Pendidikan%20Keluarga"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/konsep-islam-dalam-pendidikan-keluarga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
