« Landasan Perencanaan Kurikulum yang Ideal di Sekolah | Home | The Count of Monte Cristo : Seni Membalas Dendam ala Dumas »
Bila Nabi Jatuh Cinta : Sebuah Catatan Dari “The Fifth Mountain” (‘Gunung Kelima’) Karya Paulo Coelho?
By admin | November 8, 2008
![]()
Ketika membaca “The Alchemist”, saya bisa tahu bagaimana rasanya menyelami alam pikiran orang lain, terutama pikiran Santiago si gembala. Perasaan yang sama saya rasakan kembali ketika membaca karya Paulo Coelho yang lain, “The Fifth Mountain”. Dalam novel itu, Coelho mengajak saya untuk merasakan dan menyelami pikiran Nabi Elia as. (dalam Islam dikenal dengan ‘Ilyas’ as. –pen.).
Paulo Coelho bukan orang pertama dan satu-satunya yang telah memfiksikan seorang Nabi. Jauh sebelumnya, para pujangga kuno Eropa dan Timur Tengah sejak abad ke-12 dan 13 telah membuat berbagai karya yang mencoba mereka-reka perikehidupan para nabi. Di abad ke-20 dan 21 pun, masih banyak penulis yang melakukan hal sama. Kisah para nabi bahkan juga diangkat ke layar putih dengan berbagai tema dan judul seperti “Ten Commandement” (Kisah Nabi Musa as –Charlton Heston, Hollywood, 1969) dan “The Message” (Kisah Nabi Muhammad SAW –Anthony Quinn, Hollywood, 1982).
Walau pemfiksian kisah nabi telah banyak dilakukan, saya belum pernah menemukan satu penulis atau sineas pun yang mencoba mengangkat sisi-sisi manusiawi seorang nabi dengan aspek ruhiyah kehidupannya secara seimbang. Biasanya, kalau tidak condong pada aspek ruhiyah saja, fiksi macam ini cenderung terlalu kurang ajar dalam menempatkan nabi sebagai manusia. Dalam “David & Betsheba” yang ditulis oleh Graham Grene, Nabi Daud as digambarkan sebagai (naudzubillah) playboy yang hobi meniduri istri orang tanpa menyinggung sama sekali kelebihannya sebagai seorang utusan Allah. Demikian pula dalam “Yusuf & Zulaikha” karya Taufiqurrahman al-Azizy yang terus menerus mencekoki pembaca dengan bualan-bualan cinta imajiner sang penulis tentang Yusuf as dan Zulaikha.
Apapun pendapat anda, saya sangat menghargainya. Namun untuk saya, tulisan-tulisan macam “David & Betsheba” dan “Yusuf & Zulaikha” yang saya paparkan sebagai contoh pada paragraf di atas menunjukan bagaimana seorang penulis bisa menjadi voyeur karena terlalu terobsesi untuk “mengobrak-abrik” sisi-sisi pribadi para nabi.
Hal inilah yang menjadi kelebihan Coelho dalam “The Fifth Mountain”. Terlepas dari perbedaan akidah antara saya dan Coelho, namun saya memandang hanya Coelho-lah yang mampu mengangkat aspek kemanusiaan dan ruhiyah seorang nabi secara santun dan seimbang. Tak pelak lagi bahwa hal ini merupakan sebuah daya tarik dahsyat bagi pembaca buku bermutu.
=> Masalah Cinta
Sebagai seorang muslim, sejak kecil saya diajari untuk menempatkan Khalik dan makhluk-Nya secara proporsional. Keyakinan yang saya anut mengajarkan bahwa seorang nabi hanyalah manusia biasa yang tetap tidak bisa disejajarkan dengan sang Khalik –betapapun hebatnya mereka. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Ana Basyarun…” untuk menegaskan bahwa ia tak berbeda dengan kita dalam hal fisik. Abubakkar Shiddiq r.a., salah seorang sahabat Nabi kemudian mempertegas hal ini ketika nabi berpulang ke rahmatullah dengan mengatakan, “Barang siapa menyembah Muhammad, maka ia telah mati. Namun barang siapa menyembah Allah, maka Allah tak pernah mati.”
Hal tersebut yang kemudian membuat saya dapat cepat menerima “The Fifth Mountain” sebagai bacaan yang menyenangkan tanpa harus mengeliminasi sikap sopan dan hormat saya pada para nabi. “The Fifth Mountain” mengajak kita untuk berandai-andai, seperti apa kira-kira perasaan Elia as ketika beliau terbuang dari tanah airnya; ketika ia berada di sebuah negeri yang asing dan memusuhinya; bahkan ketika beliau bertemu dengan seorang janda yang kemudian dikisahkan membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta memang bentuk sisi manusiawi paling indah yang dapat dirasakan oleh manusia, termasuk para nabi.
Khusus untuk masalah cinta, saya tahu benar bahwa banyak saudara seiman saya yang menabukan masalah ini untuk dibicarakan. Apalagi jika objek pembicaraan itu ialah seorang nabi yang jelas memiliki sifat ma’shum. Namun, saya ingin mengingatkan bahwa beberapa bagian dalam Al Qur’an pun memuat kisah cinta para nabi, seperti kisah Ibrahim as. (Abraham) dengan Sarah (Sarai) dan Hajjar (Hagar), Adam as dengan Hawa (Eva), hingga kisah kesetiaan cinta istri Ayyub as (Job) ketika suaminya mendapat ujian berat dari Allah.
Cinta Elia yang digambarkan Coelho dalam novel ini tak terbatas pada hasrat seorang lelaki pada perempuan semata. Coelho juga menggambarkan bagaimana kasih sayang Elia pada anak sang janda setelah ibunya meninggal. Ini menunjukan bagaimana Coelho mencoba memberikan gambaran cinta sejati seorang manusia pilihan dalam novelnya.
Selain kisah cinta Elia as, novel ini juga mengangkat pergulatan sang nabi ketika diberi kebebasan untuk memilih waktu dan tempat untuk mempertunjukkan mukjizat yang hendak dianugerahkan padanya. Apakah di hadapan bangsa Israel, bangsanya sendiri yang telah mengusirnya, atau di hadapan bangsa Funisia, bangsa asing yang bersedia menerimanya dari pengasingan. Beberapa pergulatan lain pun dipaparkan secara mendalam dan rinci dengan terus menerus mempertunjukan bagaimana sisi manusiawi sang nabi dijalin dalam satu ikatan dengan kelebihan ruhiyah untuk menerima wahyu secara kontinyu.
Dengan lugas dan teratur, Coelho mampu melibatkan pembaca dalam pergulatan alam pikiran sang nabi dari perspektif yang sangat manusiawi tanpa menyampingkan aspek ruhiyahnya. Pembaca diajaknya untuk ikut merasakan dan ‘menikmati’ bagaimana jika seandainya kita berada dalam posisi Nabi Elia as. Pembaca sentimental mungkin akan menangis membaca beberapa bagian dalam buku ini, sementara pembaca temperamental akan marah, yang dialektikal akan berpikir sepanjang malam, dan yang bodoh tak akan mau baca…
Sejujurnya saya akui bahwa ada beberapa bagian dalam “The Fifth Mountain” yang tidak saya sepakati. Namun hal itu tak mengurangi keasyikan saya dalam membaca novel ini. Justru hal tersebut dapat memicu dialektika saya untuk lebih berkembang dan menafakuri kehidupan dan kemanusiaan seorang nabi. Coba anda ingat-ingat, pernahkah anda berandai-andai; “hm seperti apa ya, bila seorang nabi jatuh cinta?” <kakazifa>
Topics: Book Reviews & Comments >< Resensi & Komentar Buku, Culture & Literature >< Sastra & Budaya | 2 Comments »








May 15th, 2010 at 6:06 pm
Awalnya saya bingung, nabi yang mana yang dimaksud sebagai Ilyas. Setahu saya, dalam literatur Yahudi, Ilyas diidentikkan dengan Elijah, sedangkan Ilyasa’ dengan Elisha. Tapi setelah membaca beberapa sinopsis, sepertinya si penerjemah cenderung merubah nama Elijah menjadi Elia. Barangkali agar lebih sesuai dengan lidah orang Indonesia. Kedua nabi ini dalam Al-Quran hanya disebutkan secara minor, yakni pada Q. 37:123-132, sedangkan Ilyasa hanya dijelaskan dengan predikat orang yang diberi kelebihan dan terpilih. Karena minor, kisah yang ada tentang keduanya hanya didapatkan dari Perjanjian Lama semata. Mungkin, ada beberapa hadits, tapi keabsahannya dipertanyakan. Saya sendiri belum baca 5th Mountain, tapi dari alur cerita yang saya intip di beberapa resensi, sepertinya Coelho telah menggunakan lebih banyak imajinasi, dibanding misalnya, berpegang pada redaksi resmi yang telah ada. Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa Coelho dipandang jauh lebih baik dari pemaparan kisah nabi Dawud oleh Graham Grene?
Bagi umat Islam,imajinasi Grene barangkali keterlaluan. Tapi bagi orang Yahudi dan Kristen, yang ia lakukan hanyalah dramatisasi semata, sama seperti The Passion of Christ. Kenapa? Karena affair Dawud dan Bathsheeba tertulis dalam Kitab Suci mereka, dengan cara yang vulgar pula. Dalam Al-Quran, affair ini “tidak ada”. Entah karena Al-Quran menggunakan simbolisasi yang lebih halus, dalam Q. 38:20-25, atau memberikan perspektif berbeda mengenai soal ini pada empat ayat sesudahnya. Tapi, berdasarkan kesamaan alur cerita, beberapa penulis kisah para nabi, seperti Thabari dan Tsa’labi mengkaitkan rangkaian ayat Al-Quran di atas dengan kisah yang ada dalam Perjanjian Lama. Beberapa penulis kontemporer, telah menghapus kisah ini dalam buku mereka dan menafsirkan ayat tersebut tanpa petunjuk apa-apa. Bagi saya, niat mereka baik, tapi tidak memberikan pemahaman yang memadai mengenai konteks yang dibicarakan oleh ayat tersebut.
Bagi masyarakat Yahudi, Dawud dan Sulayman tidak pernah dipandang sebagai nabi. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh pertikaian politik saat penulisan Perjanjian Lama, bisa juga sistem kemasyarakatan mereka yang membagi dua kekuasaan politik dan agama ketangan dua orang yang berbeda. Baik Dawud dan Sulayman memenuhi dua kualifikasi tadi, sehingga salah satunya harus dihapus. Karena itulah, mereka dilihat hanya sebagai raja Yahudi, bukan nabi.
O ya, Jezebel (Izabel) itu seorang putri Finisia. Ia menikah dengan Ahab yang merupakan raja Israel (bedakan dengan Judah). Meski menikah dengan orang Yahudi, Jezebel tidak pernah pindah agama. Ia kemudian membawa dewa nasional bangsa Finisia ke wilayah Israel dan menyembah mereka bersama dengan Tuhan orang Israel, El. Tindakan Jezebel ini kemudian ditentang oleh Elijah yang menganggap Ahab telah berbuat syirik. Dalam sebuah kontes, Elijah menang dan para pendeta Baal dibantai oleh bangsa Israel. Kisah pengasingan Elijah ke Finisia adalah fiktif, mungkin itu digunakan Coelho untuk menjelaskan pengasingan diri yang ia lakukan seusai kontes tadi. Dari sudut pandang Biblikal, kisah Coelho ini adalah sebuah dekonstruksi bagi kisah serupa di Perjanjian Baru. Dan semua itu, tidak kita dapatkan dengan detil dalam Al-Quran, sama seperti nama Hajar, Sarah dan Hawwa, yang semuanya saduran dari kisah-kisah Biblikal semata.
May 15th, 2010 at 6:18 pm
Tambahan, Al-Quran tidak pernah memasukkan kisah cinta Ibrahim. Bahkan, nama Sarah dan Hajar pun tidak pernah disebut serta kisah perseteruan keduanya tidak pernah ada. Hal serupa juga terjadi pada kisah Adam, yang tidak pernah menyebut nama Hawwa. Demikian pula Ayyub (mungkin lebih tepat, rasa kasih Ayyub terhadap istrinya) Satu-satunya “kisah percintaan” yang sebenarnya pelampiasan hawa nafsu hanya ada dalam kisah Yusuf.