« Novel-Novel Pada Zaman Revolusi Indonesia (4) : ‘Bukan Pasar Malam’ Karya Pramoedya Ananta Toer | Home | Menerima dan Menolak dalam Bahasa Indonesia (1): Konsep Dasar »
Novel-Novel Pada Zaman Revolusi Indonesia (5) : ‘Kubur Tak Bertenda’ Karya Mohamad Ali
By admin | March 17, 2009
Salah satu karya novel Mohamad Ali yang berjudul Kubur Tak Bertenda memberikan gambaran pada kita mengenai kekecewaan seorang tokoh yang bernama Soejono terhadap kondisi saat itu. Sebagai seorang manusia yang hidup serba berkecukupan, Soejono tidak dapat menerima kondisi masyarakat yang rusak. Dia ingin berontak, tetapi tidak bisa karena dia tidak memiliki kekuatan karena pribadinya lemah.
Karena itu, ketidakpuasannya terhadap zaman kondisi zaman itu berubah menjadi dendam. Dia dendam terhadap Trisni yang telah menghiananti dirinya dan terhadap bangsanya yang tidak mau peduli lagi kepadanya yang cacat sebagai akibat pertempuran melawan penjajah.
“Patutlah orang yang menjebloskan dirinya kedalam kurung yang sempit dan lembap ini, hanya karena soal itu? Hanya karena ia hendak membalaskan dendamnya? Patutkah dia disekap yang gelapini? Dia, Soejono! Pejuang yang telah bertempur mati-matian melawan penjajah untuk mempertahankan…” (Ali, 1958:51).
Di sini terlihat kekecewaan Soejono dengan memperlihatkan lapisan egonya yang tinggi. Dia berpikir bahwa yang diperbuatnya untuk tanah air harus berimbalan. Sekurang-kurangnya sebuah penghargaan atau sebuah negeri yang makmur. Dia berontak karena apa yang dilukiskan oleh ayahnya ternyata tidak sesuai dengan yang ada. Dia berpikir bahwa setelah semuanya berjuang, akan munculah dunia baru. Akan tetapi, dia menemukan kenyataan yang lain.
Pergolakan yang ada dalam dirinya berubah menjadi sejenis tekanan perasaan yang selalu muncul sebgai suatu kompulsi. Kompulsi yang berat dirasakan itu selalu muncul tatkala dia tertumbuk pada masalah kenyataan yang dialaminya iotu. Pada saat kesadarannya muncul, dia mencoba untuk menerima kenyataan yang ada, akan tetapi dia terbanting pada kekecewaan dan kegelisahannya itu.
Pergolakan di dalam diri Soejono memunculkan dialog batin. Dialog itu mengantarkan soejono pada kesadaran bahwa semua perjuangan yang telah dilakukannya semata-mata demi cita-cita suci untuk membela tanah airnya. Cita-cita suci itu tidak menuntut adanya balasan.
“Bukankah dia telah brjuang dan berkorban semata-mata hanya untuk cita-cita? Cita-cita yang suci dan tinggi? Mengapakah orang lain harus membalas pengorbanannya? Mengapa pula ia menuntut bangsanya? Seharusnyalah suatu pengorbanan mendapat balasan? Tidak! Tidak! Tidak suatu amal kebajikan mengharapkan balasan….”(Ali, 1958:53).
Topics: Culture & Literature >< Sastra & Budaya | No Comments »








