• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus
    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus by Mahardhika Zifana
    My rating: 5 of 5 stars
    View all my reviews

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « | Home | »

    Pembelajaran Siswa Melalui Penelitian

    By admin | November 5, 2008

    Michael Schallies dan Anja Lembens

    University of Education Heidelberg, Science Technology Society Institute,

    Heidelberg, Jerman

    diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahardhika Zifana

    Suatu proyek penelitian dan pengembangan yang melibatkan 10 sekolah di Jerman Selatan. Tujuannya untuk membantu mengembangkan kemampuan siswa sekolah menengah untuk memahami rekayasa bioteknologi/genetika. Landasan teori dalam merencanakan aktivitas kelas dengan merujuk pada pengembangan moral dan kognitif siswa dilampirkan. Fokus utama dari artikel ini ialah percontohan langsung melalui penelitian langsung yang dirancang dan dilaksanakan langsung oleh siswa tingkat-kelas 8 (usia 14-15 tahun) di salah satu sekolah. Penelitian diarahkan untuk melibatkan ahli-ahli dari luar dan menggunakan laboratorium riset industri untuk menjawab langsung pertanyaan yang dikemukakan siswa. Relevansinya terhadap pengembangan pemahaman kompleks terhadap sains yang berbeda dibahas dalam laporan ini. Proyek ini dievaluasi oleh suatu tim lintas disiplin ilmu. Riset dilakukan dengan menggunakan suatu metode kualitatif dan kuantitatif, dengan meekankan pada observasi partisipan dan validasi hasil yang komunikatif.

    Kata Kunci: Pengembangan Kognitif dan Moral, Observasi Partisipan, Evaluasi Komunikatif, Aktivitas Kelas.

    Pendahuluan

    Dalam memandang kompleksitas pada suatu tatanan masyarakat berbasis teknologi, sangat krusial bagi para siswa sebagai warga masa depan untuk mampu memahami sains dan menyesuaikan diri secara cepat dengan dunia yang senantiasa berubah. Memahami sains memerlukan kemampuan kognitif yang kompleks dari individu yang terlibat. Hal tersebut telah sering dikemukakan dalam berbagai literatur sebagai bentuk-bentuk kapabilitas, misalnya berpikir reflektif dan kritis, fokus pada orientasi hasil, berpikir logis dan rasional, yang semuanya mengarahkan pada pengambilan kesimpulan secara pribadi. Proyek sekolah yang digambarkan dalam laporan ini dapat dipandang sebagai bagian dari berbagai aspek teori tersebut, menawarkan tugas-tugas pembelajaran pada para siswa dengan serangkaian kemampuan untuk pengambilan keputusan, pengambilan langkah dan evaluasi secara nyata dalam situasi yang sesungguhnya.

    Pada tahun 1996, Departemen Pendidikan Federal merancang sebuah proyek penelitian dan pengembangan yang dinamakan Schools Ethics Technology (SET). Tujuan adalah untuk menemukan berbagai cara lintas kelas dan mata pelajaran pada level sekolah menengah yang dapat membantu mengembangkan kemampuan individual siswa untuk memahami dan meneliti rekayasa bioteknologi/genetika. Rekayasa bioteknologi/genetika digolongkan sebagai percontohan dari teknologi modern.

    Sebagai landasan teori dalam merencanakan aktivitas kelas, tujuan interdisipliner dalam penentuan “memahami sains” dilakukan. Berbagai konsep pedagogi, didaktika biologi dan kimia, penilaian teknologi dan etika dalam sains diperhitungkan pula (Schallies dkk, 2000).

    Berbagai masalah kompleks dalam konteks sains tidak dapat diselesaikan melalui landasan faktual semata. Pandangan-pandangan individual dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan sosio-moral yang justru cenderung tidak berhubungan dengan pengetahuan faktual (Keck dan Renn, 1999). Selain itu, seseorang harus membuat suatu pembeda sitematik antara pengetahuan, motivasi moral, dan perilaku (Nunner Winkler, 1993), karena tidak adanya paralelisme kognitif-afektif (Colby dan Kohlberg, 1986). Motivasi moral merupakan suatu istilah yang didefinisikan sebagai intensi seorang individu untuk mengambil tindakan yang dipandang perlu dalam menyikapi isu yang dipertanyakan (Nunner Winkler, 1993;1996). Bertanggung jawab dalam kehidupan nyata merupakan sesuatu yang berada pada konteks spesifik, karena di dalam berbagai situasi, berbagai standar perilaku yang berbeda-beda cenderung mudah diterima (Atholf dan Garz, 1986).

    Karena itu, pengembangan berpikir kritis (critical thinking) harus dipandang sebagai proses dua langkah yang meliputi:

    1. kognisi, refleksi terhadap berbagai alternatif dan pengambilan keputusan; dan

    2. pembangunan motivasi moral untuk bertindak di dalam koridor yang ditetapkan.

    Dalam konteks sains-teknologi-masyarakat, penilaian tergantung pada pengembangan kognitif dan moral individual.

    Untuk mempersiapkan lulusan sekolah dalam mengemban peran aktif sebagai warganegara yang bertanggung jawab, kita telah menentukan –sebagai tujuan pendidikan jangka panjang– berbagai kompetensi pemahaman sebagai kemampuan (Schallies dkk, 2002):

    - memahami sains sebagai upaya metodik dalam pengetahuan dan sistem sosial dalam bersikap

    - memahami berbagai masalah di bidang teknologi-teknologi baru sebagai masalah-masalah interdisipliner yang hanya dapat diselesaikan melalui upaya-upaya interdisipliner

    - untuk mengenali dan memperhitungkan perbedaan antara pendekatan teknologi (suatu jenis teknologi yang dimbil dan diterapkan pada suatu masalah) dengan pendekatan yang berorientasi pada masalah (berbagai teknologi alternatif yang dapat diterapkan) dalam pemecahan msalah

    - untuk menggunakan -sebagai tambahan bagi pengetahuan faktual dan instrumental- berbagai etika yang ditujukan sebagai makna refleksi.

    Untuk perencanaan aktivitas kelas, Tesis yang dibuat Skorupinski patut dikedepankan (Skorupinski, 1999):

    ‘Ilmuwan mampu dan memiliki tanggung jawab untuk membuat berbagai pernyataan tentang pengembangan teknologi baru karena merekalah yang menemukannya dan karenanya lebih memahaminya.

    Namun untuk menentukan berbagai sasaran, tujuan, dan konsekuensi dengan memperhatikan hasrat dan keberterimaannya, ilmuwan tak diragukan lagi memiliki kompetensi atau otoritas yang lebih besar dibandingkan warganegara lainnya’

    Tesis ini mengimpliksikan suatu komitmen bersama antara ahli dan awam dalam pengambilan keputusan. Tesis tersebut juga mengimpliksikan pentingnya para ahli dan awam berhadapan dalam membahas masalah sains dan teknologi. Sistem pendidikan perlu mempersiapkan siswa sebagai warga masa depan untuk berada dalam situasi-situasi semacam itu.

    Dalam perencanaan aktivitas bersama para guru, seluruh pertimbangan teoretis digolongkan dalam tiga pedoman (Dietrich, 1988):

    - Kelas perlu mengedepankan sikap interdisipliner

    - Kelas perlu memiliki sekurangnya kompleksitas minimum

    - Kelas perlu mengedepankan sikap etis sebagai makna refleksi.

    Metodologi

    Pandangan umum terhadap rancangan penelitian (Lamnek, 1995; Frieberthäuser, 1997) dan pendekatan pada sekolah-sekolah ada pada Peraga 1.

    <!–[Image]–>

    Schools Ethics Technology,

    Proyek Penelitian dan Pengembangan

    Bidang Penelitian

    Evaluasi

    Mode Intervensi

    Pendekatan ke sekolah-sekolah

    Orientasi mutu di atas tujuan

    Awalan Kerja Proyek

    Integrasi Peneliti ke sekolah-sekolah

    Akhiran Kerja Proyek

    Validasi Komunikatif

    <!–[Image]–>

    Peraga 1 Organisasi Intervensi dan Pendekatan ke Sekolah-sekolah

    Seluruh 255 sekolah menengah di BioRegion Rhein-Neckar-Triangle, Jerman Selatan dihubungi melalui surat edaran, memberikan informasi dan pembahasan rinci pada para stafnya. Mereka kemudian diundang untuk mengirimkan lamaran resmi yang ditandatangani staf, siswa, dan orang tua guna ikut ambil bagian dalam proyek Schools Ethics Technology.dukungan terhadap kerja proyek diberikan oleh tim peneliti dan suatu jaringan kerja yang terdiri atas 80 institusi dan perusahaan. Mereka mewakili lokasi-lokasi di mana pengetahuan ilmiah tentang rekayasa bioteknologi / genetika dilaksanakan dan masing-masing pihak memiliki tujuan yang berorientasi pada masyarakat. Para pihak tersebut bersedia untuk menyediakan tempat pembelajaran di luar sekolah. Selain itu, para ahli dari luar juga bersedia untuk ikut masuk ke dalam kelas bilamana mereka dibutuhkan.

    Akhirnya, dipilih sepuluh sekolah menengah. Tiga bentuk pertanyaan dikembangkan untuk memunculkan pandangan berikut ini dalam benak siswa (N=3081) dan guru (N=127):

    (1) pengetahuan fakta dan konsep tentang rekayasa bioteknologi / genetika.

    (2) mengkaji teknologi

    (3) memandang sains, teknologi, masyarakat, dan

    (4) kultur sekolah (Schallies, Wellensiek, dan Lembens, 1999).

    Karena kita memiliki teori pembelajaran yang telah kita kembangkan sebelumnya, suatu pertanyaan terbuka tentang penggunaan teknologi yang sesuai diberikan pada seluruh tingkat-kelas mulai dari 5 hingga 13. kategorisasi dan analisa spesifik terhadap usia dan jenis kelamin menunjukan bahwa kemampuan untuk membuat pandangan yang seimbang muncul hingga persentase nyata pada kelompok usia 13-15 tahun (15% m; 27% f) dan 16-18 tahun (20% m; 34% f), secara signifikan lebih terlihat pada perempuan (p < 0,001). Baik siswa maupun guru sama-sama berpikir bahwa kelas sains ‘natural’ untuk bersinggungan dengan aspek etis sains (Schallies, Wellensiek, dan Lembens, 2002).

    Dalam laporan ini, kerja proyek dalam Realschule spesifik (sekolah menengah dengan suatu bias teknis menengah) digambarkan sebagai contoh utama. Kerja proyek di sekolah berlangsung selama empat bulan. Rangkaian kerja proyek diikuti oleh suatu tim yang terdiri atas dua peneliti yang menerapkan observasi partisipan, wawancara dan portofolio. Sekolahnya relatif kecil (370 siswa dan 33 guru) dan 210 siswa ikut berpartisipasi sebagai sukarelawan dalam investigasi dengan berbagai pertanyaan.

    Memulai proyek di sekolah

    Menemukan tempat yang sesai dalam kurikulum untuk menyelearaskannya dengan proyek SET merupakan pekerjaan pertama yang dijalankan. Akhirnya, staf dan siswa dari dua tingkat-kelas sebanyak delapan kelas bergabung dalam kerja proyek dan diputuskan untuk mulai bekerja dengan menggarap sistem kekebalan tubuh manusia dan kerentanan manusia terhadap infeksi bakteri dan virus; topik yang lazim ditemukan pada tingkat-kelas tersebut. Dalam pembahasan awal, dua pertanyaan utama dikemukakan: ‘Mengapa kita lebih sering jatuh sakit di musim dingin dibandingkan di musim panas?’ dan ‘Apakah memakan makanan yang sehat atau diet dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita?’

    Siswa segera menyadari kompleksitas kedua pertanyaan tersebut. Tidak ada guru maupun anggota tim peneliti yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Disepakati bahwa bantuan ahli diberikan hanya pada informasi-informasi yang relevan.

    Dari daftar perusahaan yang bekerjasama, satu perusahaan akhirnya dipilih, yakni yang memiliki spesialisasi dalam pengembangan dan produksi tes-tes dan perlengkapan-perlengkapan untuk menganalisa komponen-komponen seluler dari sistem kekebalan. Salah seorang guru mengadakan kontak dengan perusahaan tersebut, dan salah seorang stafakademik di perusahaan menyanggupi untuk bertandang ke sekolah, guna memberikan ceramah tentang pekerjaan mereka dan menjawab berbagai pertanyaan siswa tentang sistem kekebalan.

    Para siswa telah memersiapkan pertanyaan-pertanyaan sejak mereka berada dalam kelas dan kemudian mengirimkannya pada ahli yang dilibatkan. Ahli tersebut sebelumnya tidak pernah berbicara langsung dengan siswa di kelas, dan di sisi lain para siswa belum pernah saa sekali berdiskusi dengan ahli. Karenanya, ahli tersebut memulai dengan ceramah yang tidak mampu ditangkap siswa. Berkat intervensi guru, kendala bahasa antara ahli dan siswa dapat diatasi, dan hanya dengan cara itulah dialog yang sesungguhnya dapat terjadi, semisal: ‘Bahan kimia apa yang digunakan dalam tes?’, ‘Jenis perlengkapan aa yang digunakan dalam riset?’, ‘Bagaimana suasana kerja di perusahaan?’. Akhirnya, muncullah pertanyaan sentral: Bagaimana sistem kekebalan seseorang dapat terpengaruhi oleh kondisi di sekitarnya?

    Rangkaian ini memunculkan ide untuk melakukan suatu eksperimen ‘nyata’ guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Apakah sistem kekebalan dapat dipengaruhi oleh nutrisi. Dalam rangkaian diskusi tersebut, ahli menawarkan untuk melakukan tes terhadap sistem kekebalan para siswa di laboratorium perusahaan; para siswa akan memahami metode dan instrumen dalam mengukur, melalui kolaborasi aktiof dengan teknisi aboratorium di laboratorium perusahaan.

    Tabel 1 Nukilan dari catatan siswa

    Sarapan

    Makan siang

    Makan malam

    Senin

    ½ Chelsea Bun

    1 hamburger, 1 Coca Cola, 2 buah Pir, 1 Pudding diet

    1 salad hijau, 1 pretzel

    Selasa

    2 buah Pir

    Bawang perai-paprika-sayuran

    kentang, dada kalkun campur roti bubuk

    2/3 ham rolls

    2 sosis babi

    1 pudding diet

    Rabu

    1 buah Paprika

    Mie, 1 risoles, daging kambing alas daun selada

    2 potong roti tak beragi dengan ham dan sosis babi

    1 paprika, jus apel yang dicampur air

    Aktivitas siswa

    Aktivitas kelas kemudian diarahkan untuk menata tahapan eksperimen. Para siswa memutuskan untuk membagi diri mereka menjadi tiga kelompok: kelompok pertama diharuskan memakan makanan-makanan sehat selama tiga minggu, kelompok kedua memakan makanan-makanan ‘tak sehat’, dan kelimpok ketiga memakan makanan-makanan diet normal dengan disertai mengkonsumsi obat yang berkhasiat untuk menstimulasi sistem kekebalan (ekstraksi dari Echinacea purpurea, yang bisa dibeli tanpa resep dokter).

    Pada awalnya, kelompok-kelompok tersebut diharuskan untuk menemukan apa yang dimaksud dengan diet sehat. Dalam kurikulum, nutrisi merupakan salah satu pokok bahasan dalam subyek “Manusia dan Lingkungan”. Para guru bertanggung jawab atas subjek tersebut, maka mereka pun kemudian bergabung dalam kerja proyek –memberikan pelajaran reguler tentang nutrisi- yang menjadi landasan untuk membuat rencana diet yang sesuai. Selain itu, informasi tentang ekstraksi Echinacea purpurea wajib diperoleh dari produsennya (RatiopharmTM; Dr. MadausTM) dan ahli farmasi. Siswa diharuskan menyusun dan menulis surat-surat yang dibutuhkan , yang merupakan subjek muatan normal dalam kelas Bahasa Jerman.

    Sampel darah diambil guna mengukur aktivitas sistem kekebalan. Hal ini tak dapat dilakukan tanpa persetujuan orang tua. Selembar surat formal permohonan izin kemudian dibuat oleh para siswa sendiri, surat tersebut kemudian disertai lampiran berupa surat yang menjelaskan rancangan eksperimen dan tujuan dilaksanakannya eksperimen tersebut. Selain itu, para siswa diharuskan melaksanakan pendekatan terhadap dokter setempat untuk mengatur jadwal pengambilan sampel.

    Selama aktivitas ini dilaksanakan, guru dan tim peneliti membahas prasyarat dan keperluan dalam pelaksanaan eksperimen suara secara ilmiah. Pertanyaan yang kemudian mengemuka ialah apakah memungkinkan bila suatu penelitian yang melibatkan masyarakat dilaksanakan?. Dalam hal ini, nasehat ahli kembali dibutuhkan. Sejumlah staf akademik dari Pusat Etika di Sciences of Tübingen Universitymenjelaskan pada para siswa tentang pedoman dan hukum perundang-undangan yang mengatur masalah eksperimen yang melibatkan manusia. Hal-hal tersebut harus senantiasa dipatuhi, misalnya tidak ada pengecualian bilaman eksperimen yang dijalankan kemudian merampas kebebasan individu seseorang. Karena itu, eksperimen nyata yang direncanakan para siswa harus dijankan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, harus melalui segala tahapan yang dibutuhkan, dan seseorang yang memutuskan untuk berhenti di tengah eksperimen harus diizinkan tanpa mendapat sanksi apapun dari kelompok penyelenggara eksperimen. Sebelumnya, kemungkinan adanya hasil eksperimen yang tidak diharapkan perlu dibahas dan dipertimbangkan guna memungkinkan individu yang terlibat memutuskan untuk berpartisipasi atau tidak dalam eksperimen yang melibatkan manusia tersebut. Ini kemudian memicu pertanyaan susulan: siapa yang bertanggung jawab bilamana terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dalam penyelenggaraan eksperimen, misalnya saat dilaksanakannya pengambilan sampel darah para siswa? Dalam sesi diskusi kelas, akhirnya disepakati bahwa tanggung jawab tersebut dibebankan pada seseorang, karena eksperimen tersebut sepenuhnya bersifat sukarela dan resiko-resiko yang dapat muncul kemudian dijelaskan pada para pihak yang terlibat dalam eksperimen. Dalam diskusi tersebut juga disepakati bahwa siswa yang tidak ingin dites darahnya tetap memiliki hak untuk menjadi anggota dari kelompok yang menyelenggarakan eksperimen, sertamemiliki hak dan kewajiban yang sama sebagaimana anggota kelompok lainnya.

    Akhirnya, para siswa menentukan tingkatkeketatan rencaa diet beserta prilaku simpangannya dalam diskusi kelas, karena kemungkinan memakan makananmakanan sehat selama tiga pekan (tanpa coklat, tanpa keripik kentang, tanpa makanan yang manis-manis) jelas nampak tidak menarik bagi beberapa siswa. Negosiasi-negosiasi berujung pada ‘peraturan’ diharuskannya membuat catatan yang memuat makanan-makanan yang dilarang (lihat Tabel 1) guna memungkinkan diketahuinya dan dijelaskannya efek-efek berbagai penyimpangan dari rencana diet pada tahapan selanjutnya.

    Setelah menyepakatihal tersebut, para siswa membahas perencanaan akhir kelompok, merinci rancangan eksperimen dan rencana diet, serta membuat hipotesis eksperimen (lihat Tabel 2).

    Tabel 2 Hipotesis para siswa pada awal eksperimen

    - makanan sehat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh

    - bila seseorang telah memiliki kebiasaan selalu makan makanan sehat sepanjang waktu, maka tidak ada efek apapun bila dia makan makanan sehat selama tiga minggu saja

    - nutrisi yang tak sehat akan menurunkan aktivitas sistem kekebalan

    - obat-obatan pembantu sistem kekebalan akan meningkatkan aktivitas sistem kekebalan

    Kebenaran dari eksperimen langsung

    Eksperimen kemudian dimulai. Segera setelah sampel darah mereka diambil, setengah dari siswa dalam kelas menumpang sebuah bis yang kemudian membawa mereka untuk meneliti sampel-sampel makanan di laboratorium perusahaan yang melaksanakan analisa (untuk kilasan, lihat Tabel 3). Sementara anggota kelas lainnya pergi ke laboratorium riset tiga peka kemudian dengan membawa sampel darah kedua yang diambil di akhir eksperimen. Dalam hal ini, dijamin bahwa setiap siswa diberi kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam prosedur analitik di laboratorium riset. Mereka diharuskan ikut membantu teknisi laboratorium dalam kondisi steril guna menunjang pekerjaan yang selaras, diberi rincian dan pandangan teknisi laboratorium melalui perangkat-perangkat terkomputerisasi, dan diajak berdiskusi tentang suasana kerja, pelatihannya, serta penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tersebut.

    Tiga pekan kemudian prosedur tersebut diulang oleh anggota kelas yang lainnya. Hasil akhir dari penelitian sampel darah kemudian diteruskan pada siswa lain di sekolah dan diolah dalam aktivitas kelas.

    Tabel 3 Mengukur aktivitas sistem kekebalan dengan menentukan indeks phgocytosis

    - bateri yang tak aktif (E. coli), yang ditandai dengan celupan fluorescent, tercampur dalam sampel darah

    - setelah masa inkubasi, bakteri tidak terpadukan oleh monocytes dan granulocytes tercuci

    - sampel-sampel dipersiapkan untuk mengukur proses dua tahapan guna menentukan:

    1. Jumlah sel yang memakan bakteri melalui phgocytosis
    2. jumlah bakteri yang dimakan per sel

    - indeks perhitungan phgocytosis melalui pengukuran

    PhagotestTM dikembangkan oleh ORPEGEN pharma (Heidelberg) untuk mengukur tingkat phgocytosis dari monocytes dan granulocytes dalam sampel darah.

    Hasil-hasil

    Hasil yang diperoleh kemudian diketahui tidak memenuhi harapan para siswa, sebagaimana dikemukakan dalam hipotesis yang mereka buat. Seorang siswa dari kelompok diet ‘sehat’ dan siswa lainnya dari kelompok diet ‘tak sehat’ menunjukan peningkatan tertinggi dalam aktivitas sistem kekebalan (lihat Peraga 2). Hasil yang tak diharapkan ini perlu diolah. Setelah memelajari seluruh catatan secara seksama, diketahui bahwa siswa yang makan dalam interval reguler sepanjang eksperimen menunjukan peningkatan dalam aktivitas sistem kekebalan. Pemasukan agen stimulan juga tidak memberikan peningkatan berarti. Simpulan akhir dari para siswa ialah:

    - nutrisi reguler memiliki efek positif terhadap sistem kekebalan.

    - Durasi eksperimen terlalu singkat guna memutuskan apakah suatu agen stimulan memiliki efek positif terhadap sistem kekebalan.

    - Catatan yang terjaga dengan baik sangat esensial dalam mengantisipasi hasil yang tak terduga.

    Setelah mengakhiri aktivitas kelas, seluruh data yang tersedia diproses dan dipresentsikan dalam pertemuan staf sekolah.

    Pembahasan

    Proyek ini membantu siswa untuk mendapat pengalaman bahwa sains merupakan suatu proses, bukan produk. Uniknya, dalam pembahasan akhir hanya siswa perempuan yang mengemukakan aspek ini sebagai pengalaman positif. Siswa laki-laki menekankan pengalaman laboratorium praktis dari kunjungan mereka ke perusahaan.

    Proyek semacam ini tidak dapat diterapkan pada kurikulum sekolah normal tanpa penunjang dan dukungan dari luar. Proyek semacam ini juga memberikan pengalaman pada para guru bahwa pendidikan merupakan suatu proses, bukan produk. Dalam skala pengajaran, fokus penilaian terhadap perkembangan perubahan pembelajaran dari pengukuran produk untuk menilai proses pembelajaran. Guru tidak dituntut untuk itu, atau untuk bekerjasama dengan kolega-kolega dari disiplin ilmu lain. Karena itu, proyek di sekolah harus disertai oleh guru yang terlatih dalam hal tersebut. Selain itu, pelatihan guru di bidang ini harus mengemukakan pentingnya pengajaran interdisipliner, dan lembaga pelatihan guru harus memadukan proyek interdisipliner dalam kurikulum yang terpadu.

    Proyek ini merupakan contoh dari wujud sifat transdisipliner pada skala sekolah. Siswa harus melakukan pendekatan pada suatu masalah dalam kompleksitas yang sesungguhnya; bukan hanya mengumpulkan pandangan dari berbagai disiplin, namun juga melibatkan siswa dan guru dalam proses memadukan berbagai pandangan yang berbeda dalam posisi yang sama. Guna mencapai tujuan, komunikasi dan kerjasama dari berbagai pihak sangat diperlukan –peneliti, siswa, guru, ahli dari luar- pada sepanjang pelaksanaan kerja proyek. Masing-masing pihak harus menerima peran ganda yang dibebankan padanya dan konflik inheren yang muncul di dalamnya: misalnya menjadi seorang ahli dalam satu bidang pengetahuan dan orang awam dalam bidang lainnya.

    Pengetahuan terkini yang dibutuhkan memiliki konteks yang spesifik, namun universal dalam hal ‘pemahaman sains’. Kemampuan siswa seringkali diremehkan dalam kerja kelas sehari-hari. Orientasi strategis normal yang mereka kuasai dalam pembelajaran dapat dihasilkan melalui tantangan yang sesungguhnya; memberikan kesempatan pada siswa untuk memikul tanggung jawab individual sebagai kunci bagi pembangunan motivasi.

    Pengalaman yang diperoleh dari proyek ini mendorong kita untuk menata ulang kurikulum kita untuk pendidikan guru di university of education Heidelberg: ‘studi interdisipliner’ semantara ini harus diwajibkan untuk diterapkan pada para siswa oleh pihak-pihak yag berwenang, dan kenyataannya dalam kehidupan universitas, proyek telah dipadukan dalam rangkaian kerja normal. Kerja proyek dilaksanakan oleh tim-tim mahasiswa dari berbagai fakultas. ‘tindakan aksi’ telah selesai ditata dan dievaluasi oleh suatu tim peneliti.

    Dr. Michael Schallies adalah profesor dalam bidang pendidikan kimia di University of Education Heidelberg, Science Technology Institute, Im Neuenheimer Feld 561, D-69120 Heidelberg. Tel: +49-6221-477291; fax: +49-6221-477271; Email: schallies@ ph-heidelberg.de. Anja Lembens adalah kandidat Doktor pada University of Education Heidelberg. Tel: +49-6221-477268; Fax: +49-6221-477271; Email: lembens@ph-heidelberg.de.

    • Share/Bookmark

    Topics: Family & Education >< Pendidikan & Keluarga | 3 Comments »

    3 Responses to “Pembelajaran Siswa Melalui Penelitian”

    1. elma Says:
      November 26th, 2008 at 10:37 am

      Selama ini pendidikan di negara kita memang berat kepada produknya bukan prosesnya. Padahal seperti kita ketahui dengan proses itulah siswa lebih terampil.

    2. Guntur Says:
      December 4th, 2008 at 12:03 pm

      Apakah tidak bisa kalau tidak menggunakan sosis babi & buah paprika

    3. Mahardhika Zifana Says:
      December 4th, 2008 at 12:09 pm

      :D Ya Bisa aja…
      Segalanya tergantung selera…

    Comments

    rahasia-kaum-falasha