« Sejarah Peradaban Bangsa Aztec, Inca, dan Maya | Home | Pembelajaran Siswa Melalui Penelitian »
Teori Belajar Holistik dan Berbagai Implikasinya Terhadap Pengembangan Sumberdaya Manusia
By admin | November 4, 2008
oleh : Baiyin Yang*
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahardhika Zifana
Problem dan solusi. Ada banyak konsep dan teori yang dapat ditemukan di dalam literatur tentang pembelajaran bagi orang dewasa. Karena adanya kompleksitas dan perbedaan di dalam proses pembelajaran bagi orang dewasa, tidak ada yang dapat memunculkan teori yang merangkum semuanya sekaligus. Teori belajar holistik yang telah dikembangkan baru-baru ini dapat memberikan suatu kerangka kerja terpadu untuk menguji beberapa teori kontemporer yang berkenaan dengan pembelajaran bagi orang dewasa. Kita juga akan membahas berbagai implikasinya terhadap teori, riset dan praktek pengembangan sumberdaya manusia.
Kata kunci: pembelajaran bagi orang dewasa, teori belajar holistik, bangunan teori
Sebagaimana telah dipaparkan dalam artikel sebelumnya pada volume ini, literatur yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa telah jauh menjangkau beragam pengaruh yang timbul di lapangan baik bagi pembelajaran orang dewasa, maupun pengembangan sumberdaya manusia (PSDM). Di masa lalu, hubungan antara teori pembelajaran orang dewasa dengan teori dan praktek PSDM belum dapat diamati ataupun dikaji. Karena itu, pengkajian yang komprehensif terhadap berbagai teori pembelajaran bagi orang dewasa menjadi bagian dari pengembangan teori dan praktek PSDM. Sebagai tambahan, pengembangan bidang PSDM dan juga pembelajaran bagi orang dewasa sangat bergantung pada konseptualisasi pembelajaran bagi orang dewasa yang memadai. Sekalipun pembelajaran bagi orang dewasa telah menjadi bagian sentral dari bidang pendidikan dewasa sejak lahir dan diciptakannya beragam teori dan model, tidak ada kerangka kerja konseptual yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena pembelajaran bagi orang dewasa yang sangat kompleks (Merriam, 2001). Tidak adanya teori belajar yang terpadu disebabkan kompleksitas dan keragaman proses pembelajaran bagi orang dewasa. Keragaman teori dan model pembelajaran bagi orang dewasa dalam literatur telah menyebabkan adanya suatu basis pengetahuan yang kuat bagi bidang pendidikan dewasa dan PSDM karena hal itu berarti ada banyak penjelasan yang dapat digali dari suatu fenomena dari beragam sudut pandang yang berbeda. Bila ada suatu fenomena yang kompleks dan berada dalam berbagai situasi yang tidak stabil, maka akan sangat penting sekali untuk memandang fenomena tersebut dari beragam sudut pandang yang berbeda. Apa yang dibutuhkan oleh kedua bidang tersebut bukan beragam pandangan yang saling berkontradiksi atau terfragmentasi, namun suatu pandangan holistik yang bisa memberikan suatu gambaran pembelajaran bagi orang dewasa yang sangat komprehensif. Sekalipun berbagai pandangan yang berbeda terhadap pembelajaran bagi orang dewasa memiliki nilai yang inheren dalam menekankan perbedaan beragam aspek pembelajaran bagi orang dewasa yang unik di dalam berbagai situasi yang berbeda, suatu pandangan yang terpadu tetap dibutuhkan karena seluruh aktivitas pembelajaran saling membagi komunalitas satu sama lain. Pada akhirnya, sebagai bagian dari umat manusia, semua orang cenderung akan lebih berbagi komunalitas daripada perbedaan. Demikian pula halnya dengan seluruh aktivitas pembelajaran bagi orang dewasa, tentu akan cenderung saling berbagi tampilan yang sama daripada perbedaan, ini sama halnya dengan berbagai aktivitas manusia lainnya. Dengan diperkuat oleh kerangka kerja konseptual pada pengetahuan dan pembelajaran yang telah dikembangkan baru-baru ini, artikel ini akan mencoba melakukan sintesa dan memadukan berbagai teori pembelajaran bagi orang dewasa yang ada.
Dalam artikel ini, suatu teori belajar holistik yang baru dikembangkan akan diperkenalkan (Yang, 2003). Rangkaian yang penting di antara teori belajar holistik dan beberapa teori pembelajaran bagi orang dewasa kontemporer yang terpilih akan ditentukan. Artikel akan ditutup dengan eksplorasi tergadap berbagai implikasi teori belajar holistik bagi teori dan praktek PSDM.
Teori Holistik Bagi Pembelajaran Orang Dewasa
Teori holistik yang baru-baru ini dikembangkan dapat membeikan suatu konseptualisasi terhadap pengetahuan dan pembelajaran (Yang, 2003). Teori holistik menyatakan ilmu pengatahuan sebagai bangunan sosial dengan tiga sisi yang berbeda dan saling berhubungan –pengetahuan eksplisit, implisit dan emansipatif. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai pemahaman manusia terhadap realita melalui korespondensi mental, pengalaman personal, dan pengaruh emosional dengan objek dan situasi di luar. Sisi eksplisit terdiri dari komponen pengetahuan kognitif yang merepresentasikan pemahaman terhadap realita. Pengetahuan eksplisit menunjukan ketakutan mental yang jelas dan khusus dan disampaikan dalam format yang fomal dan objektif. Pengetahuan eksplisit adalah kodifikasi dari pengetahuan yang membedakan kebenaran dan kesalahan.
Sisi implisist merupakan komponen pengetahuan behavioral yang menunjukan pembelajaran yang tidak dilakukan atau disampaikan secara terbuka. Pada kebanyakan kasus, kita mengetahui sesuatu lebih banyak dari yang kita kira (Polanyi, 1967). Pengetahuan implisit bersifat personal dan merupakan kebiasaan yang spesifik pada konteks. Pengetahuan jenis ini juga merupakan sesuatu yang sulit diformalisasikan dan dikomunikasikan atau dengan kata lain merupakan suatu kebiasaan yang masih harus diartikulasikan. Pengetahuan ini menunjukan sesuatu yang bekerja dalam realita berdasarkan pada observasi langsung atau keterlibatan. Pengetahuan implisit biasanya datang dan eksis dalam tindakan, aksi dan akumulasi pengalaman seseorang.
Sisi emansipatif mnerupakan komponen pengetahuan efektif dan direfleksikan dalam reaksi afektif ke dunia luar. Pengetahuan emansipatif merupakan pemahaman seseorang berdasarkan pada pengaruh emosional dan kemudian dipandang sebagai sesuatu yang bernilai. Pengetahuan ini ditunjukan melalui perasaan dan emosi yang dialami oleh manusia melalui objek dan situasi di sekitarnya. Pengetahuan emansipatif menentukan pandangan sesorang terhadap apa yanbg terjadi di dunia dan meupakan produk dari pencarian kebebasan dari pengendalian natural dan sosial. Pengetahuan ini biasanya direfleksikan oleh ungkapan afektif dan motivatif internal.
Perspektif Dialektika Terhadap Tiga Sisi Pengetahuan
Teori belajar holistik yang dimaksud mengharuskan ketiga sisi pengetahuan ditampilkan pada seluruh proses pembelajaran, sekalipun tidak semua sisi tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan (Yang, 2003). Lebih jauh lagi, teori belajar holistik memerlukan adanya perspektif dialektikal dari ketiga sisi pengetahuan tersebut. Pada satu sisi, kita perlu mengenali beberapa karakter intrinsik yang berbeda dari ketiga sisi pengetahuan tersebut. Bila kita menguji ketiga sisi pengetahuan tersebut pada waktu yang sama, ketiganya akan nampak berbeda dan saling berlawanan. Hasil yang didapat akan seperti mengamati dua sisi koin yang berbeda. Sementara itu, di sisi lainnya, kita harus dapat memahami sifat dasar komplementer dari ketiga sisi pengetahuan tersebut. Ketiganya saling bertautan satu sama lain dan tidak mungkin dipisahkan bila kita mengamatinya dengan menggunakan pespektif holistik. Ketiganya akan memperlihatkan sifat aslinya, baik kita kenali ataupun tidak. Ketiganya merupakan komponen yang sangat penting di dalam ilmu pengetahuan manusia secara keseluruhan.
Teori belajar holistik menyatakan bahwa bangunan pengetahuan tidak hanya terdiri dari ketiga sisi tersebut, namun juga ketiga lapisannya (Yang, 2003). Tiga lapisan ilmu pengetahuan terdiri atas fondasi, orientasi, manifestasi dan orientasi. Lapisan pertama adalah strata fondasi atau premis, yang ditampilkan sebagai basis dari batas-batas ketiga sisi pengetahuan yang kita kenali. Termasuk di dalam fondasi adalah berbagai asumsi tersembunyi yang diyakini sebagai sesuatu yang valid dan tidak lagi memerlukan pembuktian. Kita harus bisa menerima sejumlah asumsi tertentu untuk diketahui dan dilakukan. Lapisan ini menunjukan adanya kepercayaan epistomologi di dalam diri kita. Lapisan manifestasi merepresentasikan hasil dari pemahaman kita. Lapisan orientasi dari pengetahuan kita menentukan arah dan tendensi untuk setiap tindakan yang didasarkan pada pengetahuan. Maka, ketiga lapisan tersebut menunjukan adanya suatu kekuatan yang menuntun proses pembelajaran kita. Tabel 1 menggambarkan indikasi dari ketiga lapisan yang melingkupi ketiga sisi tersebut.
Pembelajaran Sebagai Interaksi Dinamis di Antara Sisi-Sisi Ilmu Pengetahuan
Teori belajar holistik tidak hanya memperlihatkan karakteristik ketiga sisi dan lapisan ilmu pengetahan namun juga mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah faktor yang menyatukan sisi-sisi yang berbeda tersebut. Masing-masing dari ketiga sisi ilmu pengetahuan memberikan dukungan yang dibutuhkan dalam menjaga kelangsungan sisi lainnya. Tanpa adanya dukungan dari sisi lainnya, sisi pengetahuan eksplisit hanya akan eksis sebagai fakta, figur, atau tanda-tanda yang tidak memiliki makna (contoh; bila kedua sisi lainnya tidak saling berhubungan). Lazimnya, kita menggunakan tubuh pengetahuan untuk menunjukan teori, model, dan penemuan empiris namun tidak bisa menunjukan bahwa ketiga hal ini hanya berlaku untuk sisi pengetahuan eksplisit. Dengan cara yang sama, pembelajaran juga dipengaruhi oleh pengetahuan emansipatif yang menentukan bimbingan kewajiban dan tujuan dari setiap tindakan kita. Pengetahuan implisit juga berhubungan dengan kedua sisi lainnya. Pengetahuan tersebut akan muncul sebagai pengalaman praktis yang sifatnya acak, idiosinkratis dan terasing tanpa adanya dukungan dari kedua sisi lainnya. Demikian pula dengan pengetahuan emansipatif yang akan menjadi hasrat atau emosi bila pengetahuan eksplisit dan implisit dikesampingkan dalam proses pembelajaran. Esensi dari semua itu adalah bahwa teori holistik memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang eksis dalam suatu interaksi dialektis yang dinamis dari ketiga sisinya.
Teori belajar holistik memandang bahwa pengetahuan diciptakan dan ditransformasikan melalui beragam interaksi di antara sisi pengetahuan eksplisit, implisit dan emansipatif (Yang, 2003). Beragam hubungan tersebut direfleksikan di dalam sembilan model pembelajaran: partisipasi, konseptualisasi, sistematisasi, validasi, legitimasi, transformasi, interpretasi dan materialisasi. Partisipasi merupakan suatu proses pembelajaran melalui praktek dan kemudian menghasilkan pengetahuan implisit melalui pengalaman. Konseptualisasi merupakan suatu proses artikulasi pengetahuan implisit menjadi konsep yang eksplisit. Model ini mengubah sesuatu yang familiar ke dalam penjelasan yang nyata dengan memunculkan konsep atau teori baru. Kontekstualisasi merupakan proses pembentukan pengetahuan eksplisit ke dalam pengetahuan implisit. Model ini merupakan konsep yang menggunakan konsep, contoh, formula, prinsip, dan dalil dalam suatu konteks yang spesifik. Sistematisasi merupakan suatu proses pemisahan untuk menyatukan konsepsi eksplisit ke dalam suatu sistem dengan logika dan alasannya. Mode pembelajaran ini melibatkan kombinasi di antara bagian-bgian pengetahuan eksplisit yang berbeda dalam suatu format yang konsisten. Validasi merupakan suatu proses pengujian dan modifikasi dari nilai, hasrat, penilaian yang dirasa penting dan berharga, dan berbagai jenis pembelajaran fundamental lainnya berdasarkan pada pengetahuan eksplisit (yang dipercaya sebagai kebenaran di bawah perspektif yang rasional). Legitimasi merupakan suatu proses justifikasi terhadap pengetahuan eksplisit yang didasarkan pada pengetahuan emansipatif. Transformasi merupakan suatu proses pengubahan skema yang memiliki makna lama (contohnilai, aspirasi, perilaku, perasaan dan etika) ke dalam bentuk lainnya. Materialisasi merupakan suatu proses pemindahan pengetahuan emansipatif ke dalam pemahaman bawah sadar. Mereka yang menggunakan apa yang telah dipelajari dari riset tindakan partisipatif untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari dalam proses materialisasi. Interpretasi merupakan proses pembuatan suatu skema makna dari pembelajaran yang tidak disadari dan pengalaman langsung. Kepedulian dalam keadaan sadar merupakan suatu contoh dari mode pembelajaran yang biasanya menghasilkan perubahan dalam pengetahuan emansipatif ini.
TABEL I: Teori Belajar Holistik: Indikasi Dari Sisi-Sisi dan Lapisan-Lapisan Interaksi Individu
|
Lapisan Pengetahuan |
Sisi-Sisi Pengetahuan |
||
|
Eksplisit |
Implisit |
Emansipatif |
|
|
Pondasi |
Berbagai macam Aksioma, asumsi, kepercayaan, premis |
Berbagai macam kebiasaan, norma sosial, tradisi, rutinitas |
Berbagai macam nilai, aspirasi, idealisme, pandangan |
|
Manifestasi |
Berbagai macam teori, prinsip, model, kerangka konseptual, formula |
Berbagai macam pemahaman yang tidak disarari, sebab akibat, intuisi, model mental |
Perilaku, motivasi, kebutuhan, etika, stanar moral |
|
Orientasi |
Rasionalitas |
Realitas |
Kebebasan |
Sumber: Yang (2003)
Pembelajaran Sebagai Aktivitas Individual dan Sosial
Lebih jauh lagi, teori belajar holistik menunjukan bahwa pembelajaran bukan hanya aktivitas individual namun juga merupakan suatu kegiatan sosial (Yang, 2003). Seorang pelajar individual harus berinteraksi dengan kelompok sosial di mana dia berada ataupun dengan berbagai organisasi atau kelompok yang memiliki sejumlah konteks sosial dan kultural. Teori holistik menyatakan bahwa untuk memfungsikan suatu kelompok atau organisasi, harus ada ketiga sisi ilmu pengetahuan –pengetahuan kritis, pengetahuan teknis, dan pengetahuan praktis. Ketiga sisi ilmu pengetahuan ini pada level yang berhubungan dengan organisasi digambarkan sebagai berikut:.
Totalitas pengetahuan emansipatif dari anggota suatu kelompok menjadi landasan penting bagi organisasi atau kelompok tersebut…besarnya pengetahuan implisit yang dimiliki anggota suatu kelompok membangun pengetahuan praktis. Pengetahuan praktis ada pada proses dan praktek organisasi. Sama halntya, sejumlah organisasi juga memiliki sejumlah pengetahuan teknis yang menunjukan kepercayaan pada pengetahuan ekplisit nyata dari para anggotanya dan telah dipadukan ke dalam sistem yang dimilikina. Pengetahuan teknis biasanya eksis di dalam sistem dan struktur. (Yang, 2003, hal. 122-123)
Kemudian, teori holistik memandang pembelajaran kelompok/organisasi sebagai suatu proses perubahan dalam dimensi kepercayaan kolektif (contoh: pengetahuan teknis atau pengetahuan eksplisit bersama), norma-norma sosial (contoh: pengetahuan praktis atau pengetahuan implisit yang merata), dan nilai-nilai bersama (contoh: pengetahuan kritis atau pengetahuan emansipatif dominan) di antara anggota kelompok. Dengan kata lain, pengetahuan organisasional dapat dipandang sebagai pemahaman kolektif di antara anggotanya dalam tiga bentuk: (a) pengetahuan eksplisit yang telah menjadi adat, (b) pengetahuan implisit bersama, (c) pengetahuan emansipatif dominan. Pembelajaran kelompok mencakup dimensi perubahan teknis, sosial dan politik dari kelompok tersebut. Gambar 1 menggambarkan interaksi dinamis di antara ketiga sisi pengetahuan pada skala individual atau organisasional.
Untuk memfungsikan kelompok sosial semacam tim, organisasi atau masyarakat, mereka harus memiliki pengetahuan bersama. Seperti halnya pengetahuan individual, pengetahuan kelompok atau organisasi dapat dipandang sebagai bangunan sosial yang memiliki tiga sisi dan masing-masing sisi tersebut juga memiliki tiga lapisan. Tabel 2 memuat daftar tiga lapisan pengetahuan kelompok dan organisasi di dalam tiga domain.
Singkatnya, teori belajar holistik memandang bahwa pengetahuan manusia terdiri atas tiga sisi dan masing-masing sisi memiliki tiga lapisan. Pandangan terhadap pengetahuan semacam ini menggambarkan tiga kekuatan pengendali yang memberikan motivasi pada proses pembelajaran individu. Pembelajaran dapat dipandang sebagai aktivitas individual dan juga sosial. Pada level individual, pembelajaran melibatkan perubahan pada kognisi, perilaku dan sikap seseorang sebagai hasil dari penmeliharaan keseimbangan di antara ketiga kekuatan yang mengendalikan sisi-sisi pengetahuan –rasionalitas, realitas dan kebebasan. Sekalipun ketiga kekuatan pengendali ini berfungsi dalam tiga domain yang saling berhubungan (kognitif, behavioral, afektif), ketiganya saling berhubungan satu sama lain dan ada sejumlah interaksi yang menentukan perilaku individu dalam situasi tertentu. Sekalipun ketiga sisi pengetahuan memiliki karakteristik yang berbeda dan dikendalikan oleh kekuatan yang berbeda pula, ketiganya saling bertumpu dalam situasi tertentu. Perilaku individual muncul sebagai tindakan yang berfungsi menjaga keseimbangan dari ketiga kekuatan tersebut. Dalam hal ini, keseimbangan menunjukan adanya kecocokan yang dihasilkan dari pengendalian ketiga kekuatan tersebut. Pada level sosial, pembelajaran mencakup perubahan pengetahuan teknis, praktis, dan kritis yang dimiliki bersama oleh para anggota kelompok atau organisasi sosial yang merupakan hasil dari pertahanan keseimbangan dari ketiga kekuatan pengendali yang saling berhubungan satu sama lain –efisiensi, efektivitas, dan keadilan sosial.
TABEL 2: Teori Belajar Holistik: Indikasi Dari Pengetahuan Kelompok dan Organisasi
|
Lapisan Pengetahuan |
Sisi-Sisi Pengetahuan |
||
|
Eksplisit |
Implisit |
Emansipatif |
|
|
Pondasi |
Pengetahuan eksplisit yang telah menjadi adat (sistem dan struktur) |
Pengetahuan implisit kolektif (proses dan praktek) |
Pengetahuan emansipatif yang dominan (nilai dan visi) |
|
Manifestasi |
Berbagai macam peraturan, ketentuan, kebijakan, prosedur operasi standar, spesifikasi teknis, saluran komunikasi formal dan format |
Berbagai macam norma sosial, kebiasaan, konvensi, pemahaman bersama, intuisi, pandangan, rutinitas, pengetahuan sebab-akibat, perubahan pasar |
Berbagai macam pernyataan yang bertujuan formal, filosofi manajerial, tanggung jawab sosial yang dirasakan, moral, keadilan dan kesetaraan sosial,standar etika dan moral, dan spiritual |
|
Orientasi |
Efisiensi, optimalisasi |
Efektivitas, fleksibilitas |
Keadilan dan tanggung jawab |
Sumber: Yang (2003)
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>
|
Kelompok sosial / organisasi |
|
Pengetahuan Kritis |
|
Pengetahuan Praktis |
|
Pengetahuan Teknis |
|
Individual |
|
Pengetahuan Emansipatif |
|
Pengetahuan Implisit |
|
Pengetahuan Eksplisit |
|
Lingkungan Sosial Eksternal, Kultural, Politis dan Teknologi |
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>
Gambar I: Interaksi dinamis di antara ketiga sisi ilmu pengetahuan pada level individual dan sosial (Yang, 2003)
Teori Kontemporer untuk Pembelajaran Bagi Orang Dewasa
Pada umumnya, teori pembelajaran kontemporer memunculkan model berdasarkan bagian-bagian dari sisi-sisi pengetahuan dan interaksi yang saling berhubungan. Karenanya, sangat memungkinkan untuk membuat sebuah teori holistik bagi pembelajaran orang dewasa dengan memadukan berbagai dalil umum dari teori pembelajaran kontemporer. Beberapa paragraf berikut akan menggambarkan beberapa rangkaian yang penting antara teori holistik yang pernah dikemukakan dengan beberapa teori dan konsep pembelajaran bagi orang dewasa.
Andragogi
Knowles (1968, 1980) mengemukakan konsep andragogi untuk membedakan pembelajaran bagi orang dewasa dari pembelajaran pra-dewasa. Andragogi dipandang sebagai “seni dan sains yang digunakan untuk membantu orang dewasa dalam pembelajaran” (Knowles, 1980, hal 43). Konsep andragogi didasarkan pada beberapa asumsi atau prinsip pembelajaran bagi orang dewasa yang netral (Knowles, 1968, 1980; Knowles, Holton, & Swanson, 1998). Sebagai tambahan pada beberapa perinsip pembelajaran bagi orang dewasa yang netral, andragogi telah dikembangkan untuk menerima dua faktor yang mempegaruhi pembelajaran bagi orang dewasa: (a) tujuan dan maksud pembelajaran dan (b) perbedaan individual dan situasional (Knowles dkk, 1998). Merriam dan Caffarella (1999) menyatakan bahwa deskripsi konsep dari karakteristik pembelajaran bagi orang dewasa dapat membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik terhadap pembelajaran bagi orang dewasa dan telah menggambarkan berbagai implikasi yang berguna bagi praktek instruksional.
Dengan bantuan teori belajar holistik, rangkaian atau asumsi andragogi ini telah diarahakan pada berbagai sisi pengetahuan. Konsep andragogi menekankan diri pada karakteristik pelajar dewasa dan meyakini bahwa pengalaman hidup mereka dapat menjadi sumber pembelajaran yang valid. Andragogi menekankan peran sisi pengetahuan implisit (pengalaman pelajar sebagai sumber pembelajaran, peran sosial dan kewajiban pengembangan serta kecepatan aplikasi) dan juga memandang pembelajaran bagi orang dewasa sebagai bentruk yang berorientasi pada tindakan atau perilaku. Sebagai tambahan, konsep ini juga meyakini bahwa sisi pengetahuan ermansipatif memiliki peran dalam pembelajaran. Andragogi juga menekankan peran dari kebutuhan pelajar, konsep diri dan motivasi internal dalam pembelajaran bagi orang dewasa. Ketiga asumsi tersebut berada dalam domain afektif dan kemudian berhubungan dengan pengetahuan emansipatif.
Mungkin salah satu kontribusi kunci dari konsep andragigi dapat ditentukan dengan mengkaji ulang asumsi inti dengan menggunakan teori belajar holistik. Di dalam kebanyakan masyarakat, pelajar pra-dewasa biasanya memiliki hak hukum untuk membedakan baik dan Buruk. Karenanya, anak-anak harus menerima nilai-nilai inheren dan beberapa elemen kunci pengetahuan kritis dari suatu komunitas atau masyarakat, di mana mereka cenderung menjadi penerima pasif di dalam situasi belajar pada umumnya. Di dalam seluruh bentuk masyarakat secara virtual, fungsi pendidikan tidak terbatas hanya pada pemindahan pengetahuan teknis dan kemampuan, namun juga untuk memindahkan pengetahuan kritis semacam nilai-nilai dan pandangan bersama. Di satu sisi, sekalipun banyak anak sebelum memasuki usia sadar hukum memiliki pandangan tersendiri terhadap kebenaran dan kesalahan yang berkenaan dengan tindakan dan masalah individual atau sosial, masyarakat pada umumnya memberikan hak hukum pada mereka hingga mereka memiliki usia yang cukup untuk menguji hak tersebut. Di sisi lain, terkecuali bagi mereka yang haknya sedang dicabut oleh masyarakat, orang dewasa pada umumnya memiliki kebebasan untuk menentukan penilaian sendiri terhadap beberapa isu yang berhubungan dengan standar nilai dan etika. Dengan kata lain, pelajar pra-dewasa dan beberapa pelajar dewasa dalam situasi tertentu, semacam pendidikan korektif, harus menerima sejumlah standar nilai, etika dan perilaku yang biasanya ditentukan oleh pihak lain. Di dalam situasi pembelajaran bagi orang dewasa pada umumnya, pelajar adalah warganegara yang bertanggung jawab dan memiliki hak untuk megarahkan dirinya sendiri. Pendidik harus dapat memahami konsep peran diri dan membantu pelajar dewasa untuk dapat benar-benar mengembangkan potensi perkembangannya. Jelas sekali bahwa andragogi sangat memperhitungkan sisi pengetahuan emansipatif di dalam pembelajaran bagi orang dewasa (Knowles dkk, 1998). Beberapa faktor lain yang baru ditambahkan alam konsep andragogi adalah perbedaan individual dan situasional. Faktor ini menempatkan pengaruh sosial dan kultural di dalam pembelajaran dan perbedaan di antara pelajar. Karenanya, andragogi yang dikembangkan lebih mendekati teori holistik dengan menempatkan pembelajaran sebagai interaksi antara individu dengan suatu situasi tertentu.
Konsep Belajar Dengan Kesadaran Diri
Belajar Dengan Kesadaran Diri (SDL = Self-Directed Learning) merupakan konsep lain pada pembelajaran bagi orang dewasa yang tergolong populer. SDL merupakan suatu “proses pembelajaran di mana orang mengambil inisiatif yang dibutuhkan untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pengalaman belajarnya masing-masing” (Meriam dan Caffarella, 1999, hal. 293). Beberapa rangkaian kunci yang menghubungkan teori SDL dengan teori belajar holistik dapat dilihat poada tujuan dan arah pembelajaran. (Merriam dan Caffarella (1999) menyebut bahwa tiga tujuan utama SDL adalah (a) untuk meningkatkan kemampuan pelajar dewasa, (b) untuk mempercepat pembelajaran transformasional, dan (c) untuk memperkenalkan pembelajaran emansipatif dan tindakan sosial. Model-model SDL pada umumnya memperkenalkan aktivitas pembelajaran yang berpusat pada pelajar dan terkontrol. Berdasarkan sudut pandang teori holistik, sejumlah arah bertujuan untuk menciptakan suatu perubahan bermakna terhadap pengetahuan emansipatif pelajar. Pendekatan pembelajaran ini bertujuan untuk memunculkan suatu konseptualisasi pembelajaran bagi orang dewasa sebagai suatu sistem nilai yang individualis dan berkeyakinan bahwa umat manusia akan menemukan kebebasan selama mereka megarahkan dirinya sendiri. Teori belajar holistik menentang anggapan semacam ini dan menyatakan bahwa arah dan tindakan individu lazimnya ditentukan oleh suatu nilai dan sistem kepercayaan. Merriam dan Caffarella menyimpulkan bahwa mayoritas model pembelajaran dengan kesadaran diri hanya mewakili tujuan pertama saja. Maka, SDL cenderung memperkenalkan kebebasan individual yang berlandaskan pada pembentukan sistem nilai (pengetahuan kritis bersama).
Tujuan SDL yang kedua dan ketiga adalah memperkenalkan pembelajaran yang transformasional dan emansipatif namun tidak mampu untuk benar-benar menunjukan hubungan yang dinamis di antara sisi-sisi pengetahuan yang berbeda. Teori belajar holistik memperkenankan kita untuk memahami hubungan di antara komponen yang membentuk SDL dengan lebih baik. Garrison (1997) mengemukakan suatu model SDL komprehensif yang mencakup tiga elemen: (a) manajemen diri atau kontrol kontekstual, (b) pemantauan diri atau tanggung jawab kognitif, dan (c) motivasi atau keterlibatan/kewajiban. Dimensi kontrol kontekstual menunjukan pengendalian diri pelajar dan pembatasan kondisi kontekstual. Pemantauan diri menggambarkan kemampuan pelajar untuk memantau proses kognitif dan metakognitifnya, untuk menggunakan sebuah daftar strategi belajar, dan untuk memikirkan proses berpikir yang mereka jalani. Motivasi menentukan keputusan pelajar untuk memasuki atau keluar dari aktivitas belajar dengan kesadaran diri. Ketiga elemen ini mencerminkan ketiga domain sisi-sisi pengetahuan di dalam teori holistik. Kontrol kontekstual menunjukan pengetahuan implisit pelajar dalam suatu konteks pembelajaran tertentu, pemantauan diri atau tanggung jawab kognitif nampaknya menunjukan pengetahuan eksplisit dan faktor motivasi berhubungan dengan sisi emansipatif pengetahuan. Kemudian, teori belajar holistik menciptakan suatu hubungan timbal balik di antara ketiga elemen dan dengan gamblang menjelaskan bagaimana masing-masing elemen berinteraksi satu sama lain. Teori belajar holistik tidak hanya menentukan interaksi dinamis di antara ketiga elemen mayor dalam SDL sebagai proses vital dari pembelajaran bagi orang dewasa namun juga menjelaskan hubungan ketiganya dengan domain pengetahuan sosial/organisasional yang telah banyak diketahui.
Teori Belajar Reflektif Kritis
Berbagai konsep reflektif (Schon, 1983,1987,1991) dan praktek reflektif kritis (Brookfield, 1995; Mezirow, 1998) menentang epistomologi praktek profesional kaum positivis. Berbagai konsep dan teori yang berhubungan dengan pembelajaran dapat dijelaskan dengan perspektif teori belajar holistik, sekalipun kebanyakan konsep tersebut cenderung memfokuskan diri pada pembelajaran bagi orang dewasa pada level individual. Pertama-tama, seseorang dapat mempelajari sesuatu dnegan cara yang tidak reflektif. Pembelajaran non-reflektif menunjukan suatu proses di mana seorang pelajar memerlukan pengetahuan atau kemampuan dalam suatu domain yang spesifik tanpa harus mengaktifkan sisi pengetahuan lainnya. Sebagai contoh, seseorang dapat memperoleh kemampuan bawah sadar di tempat kerjanya tanpa harus memikirkan berbagai prinsip dan aturan yang melandasinya.
Kedua, kebanyakan model pembelajaran reflektif telah dimunculkan untuk menunjukan hubungan di antara pemikiran dan tindakan pelajar. Berdasarkan prinsip teori holistik pembelajaran reflektif dapat diinterpretasikan sebagai interaksi dinamis di antara sisi pengetahuan eksplisit dan implisit pada level manifestasi. Sebagai contoh, model pembelajaran eksperiental Kolb (1984) menggambarkan suatu proses pembelajaran berdasarkan pengalaman. Model ini memandang pembelajaran sebagai suatu proses peredaran yag terdiri atas empat fase: (a) pengalaman kongkret, (b) observasi dan refleksi, (c) pembentukan konsep abstrak, dan (d) menguji situasi baru. Barnet (1989, dikutip dalam Merriam dan Caffarella, 1999) merancang suatu model dengan menambahkan satu elemen tambahan, yakni perencanaan implementasi di antara fase ketiga dan keempat. Teori belajar holistik menyatakan bahwa pengalaman kongkrit, observasi dan refleksi yang dialami seseorang akan menghasilkan pengetahuan implisit yang berhubungan langsung dengan pengalaman yang ditemukan. Schon (1987) menggunakan istilah “reflection-in-action” untuk menunjukan proses pembelajaran dari praktek profesional dan kemudian membangun pengetahuan implisit. Sejumlah pengetahuan implisit mungkin dipandang sebagai “knowledge-in-action” atau “knowing-in-action”. Proses tersebut mencerminkan “suatu proses di mana kita dapat mengirim sesuatu tanpa bisa mengatakan apa yang telah kita lakukan” (hal.31). Fase pembentukan konsep abstrak menyerupai mode pembelajran konseptualisasi di dalam teori belajar holistik. Namun, Bennet membedakan dua level konseptualisasi: bagian pertama merupakan dimensi etika/moral dan bagian lainnya merupakan dimensi teknis. Karenanya, model yang dibuat mementingkan peran emansipatif di dalam proses pembelajaran. Fase yang baru ditambahkan, perencanaan implementasi, mencerminkan suatu model sistematisasi pembelajaran di dalam teori belajar holistik. Fase ini menunjukan adanya usaha pelajar dalam menciptakan rasionalisasi tindakan. Akhirnya, fase pengujian dalam situasi yang baru atau eksperimentasi aktif sama dengan model kontekstualisasi pembelajaran yang dikemukakan dalam teori belajar holistik.
Ketiga, kosep pembelajaran reflektif kritis juga dapat dijelaskan dengan teori belajar holistik terbaru yang telah dikemukakan. Gagasan praktek reflektif kritis telah menjabarkan konsep sebelumnya dan menyentuh domain pengetahuan emansipatif (Brookfield, 1995; Mezirow, 1998), sekalipun ide tersebut tidak dapat benar-benar memilah ketiga sisi dan lapisan pengetahuan. Teori belajar holistik tidakhnaya menunjukan hubungan di antara sisi-sisi pengetahuan yang berbeda namun juga menyatakan bahwa refleksi tak lebih dari sebuah interaksi di dalam dan di antara ketiga sisi pengetahuan. Refleksi kritis melibatkan perubahan dalam lapisan pondasi dari ketiga sisi pengetahuan. Lebih jauh lagi, teori belajar holistik juga dapat digunakan untuk menjabarkan konsep-konsep yang disebut-sebut sebagai pembelajaran dengan satu atau dua lingkaran (Argyris & Schon, 1978). Gagasan pembelajaran dengan satu lingkaran menunjukan usaha seseorang untuk mendeteksi kesalahan dan merencanakan tindakan di dalam kerangka kerja atau referensi yang digunakan. Pembelajaran dengan lingkaran ganda muncul bila seseorang harus “menggunakan modifikasi dari berbagai norma, kebijakan, dan tujuan yang mendasari suatu kelompok” (hal. 3). Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan satu lingkaran mengubah lapisan manifestasi di dalam ketiga sisi pengetahuan, sementara pembelajaran dengan dua lingkaran menggabungkan lapisan manifestasi dan pondasi dari pengetahuan.
Seluruh model dan konsep pembelajaran reflektif (kritis) yang ada nampaknya telah mengadopsi suatu pendekatan pragmatis terhadap pembelajaran bagi orang dewasa, meyakini bahwa pengalaman merupakan titik awal suatu pembelajaran. Pendekatan ini cenderung lebih menekankan pada sisi implisit pengetahuan daripada dua sisi pengetahuan lainnya. Pendekatan ini juga menunjukan adanya banyak isu dan masalah yang bersinggungan dengan pembelajaran kita yang dihasilkan dari praktek dan observasi. Sekalipun suatu asumsi dapat ditanamkan untuk kepentingan yang lebih besar, peran sisi-sisi pengetahuan lainnya di dalam pembelajaran tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Sebagai contoh, rasionalitas sebagai suatu kekuatan pengendali terhadap pengetahuan eksplisit, dapat menghasilkan pengetahuan yang valid tanpa adanya pengalaman langsung. Pluto, planet kesembilan di sistem tata surya, ditemukan hanya dengan suatu kalkulasi dan prediksi astronomis. Teori holistik membutuhkan pandangan yang seimbang terhdap pembelajaran dan menyatakan bahwa pembelajaran dapat dimulai pada domain manapun –teori, praktek, dan juga spirit manusia.
Teori Pembelajaran Sosial (Kognitif)
Teori pembelajaran sosial (kognitif) menyatakan bahwa orang belajar dengan mengamati objek lainnya pada sejumlah situasi sosial tertentu. Bandura (1977) meyakini bahwa “secara virtual, segala fenomena pembelajaran yang dihasilkan dari pengalaman langsung dapat muncul dalam suatu basis yang seolah dialami sendiri melalui observasi terhadap perilaku orang lain dan konsekuensinya terhadap perilaku” (hal. 392). Gibson (2004) mengemukakan empat elemen utama dari teori Bandura: (a) proses belajar observatif, (b) determinisme timbal-balik, (c) regulasi diri, dan (d) kemampuan diri. Elemen yang pertama, proses observatif atau pembelajaran “sosial”, memuat empat komponen: perhatian, ingatan atau memori, produksi perilaku dan motivasi. Elemen yang kedua, determinisme timbal-balik, menunjukan suatu proses di mana perilaku, kognisi dan faktor personal lainnya dari seorang pelajar berinterksi dengan pengaruh lingkungan. Teori tersebut menyatakan bahwa baik faktor lingkungan maupun individual saling mempengaruhi satu sama lain. Elemen yang ketiga, regulasi diri, merupakan suatu mekanisme yang memungkinkan seseorang untuk mengatur perilaku dirinya sendiri dengan menggambarkan konsekuensi kebangkitan diri. Elemen yang keempat, kemampuan diri, adalah kepercayaan seseorang pada kemampuannya untuk menunjukan suatu perilaku di dalam situasi tertentu dengan sebaik-baiknya.
Seluruh konsep yang dikemukakan oleh teori pembelajaran sosial dapat dijelaskan oleh teori belajar holistik. Contohnya, tiga proses pembelajaran sosial (antara lain perhatian, ingatan, dan produksi tingkah laku) mengindikasikan bagaimana pelajar mendapatkan pengetahuan implisit, dan yang terakhir (yakni motivasi) merepresentasikan pengaruh pengetahuan emansipatif di dalam pembelajaran. Konsep determinisme timbal-balik menunjukan interaksi mutual dari pengetahuan individual dengan lingkungan yang dihuninya. Konsep ketiga dari teori pembelajaran sosial (kognitif0, yaitu regulasi diri, mengharuskan pelajar mampu menghubungkan dan menyeimbangkan ketiga sisi pengetahuan. Dengan kata lain, regu8lsi diri dapat dipandang sebagai suatu mekanisme yang memungkinkan individu untuk menyeimbangkan pemikiran, tindakan dan motivasinya. Terakhir, konsep kemampuan diri menekankan peran penting dari kepercayaan seseorang pada kemampuan dirinya (sebagai suatu perkiraan menyeluruh pada ketiga sisi pengetahuan) dan pengaruhnya terhadap motivasi dan aksi.
Sekalipun hampir semua konsep pembelajaran sosial (kognitif) cenderung sesuai dengan teori belajar holistik, ada satu konsep terbaru yang menawarkan suatu perspektif pembelajaran bagi orang dewasa yang lebih luas. Teori pembelajaran sosial (kognitif) memadukan sejumlah proses kognitif ke dalam alasan mengapa seseorang belajar, teori pembelajaran sosial (kognitif) memfokuskan diri pada domain pengetahuan praktis/implisit dan kemudian tidak sepenuhnya dapat mengarahkan pembelajaran kepada dua domain pengetahuan lainnya. Orang tidak dapat belajar hanya dengan mengamati (merujuk pada model belajar partisipatif dalam teori belajar holistik) namun juga melalui berpikir dan dipengaruhi. Kedua, teori pembelajaran sosial (kognitif) tidak mampu menjelaskan ketiga sisi pengetahuan dan peran relatifnnya masing-masing. Mengingat teori pembelajaran sosial (kognitif) menyatakan bahwa pembelajaran dimulai dari domain behavioral melalui observasi dan model behavioral (misalnya dalam domain pengetahuan implisit/praktis), teori belajar holistik menganggap bahwa pembelajaran dapat dimulai dari ketiga sisi pegetahuan manapun. Pada kenyataannya, sistem pendidikan modern, semacam pendidikan profesional, biasnya dimulai dari pengajaran terhadap murid dengan pengetahuan eksplisit/teknis dan kemudian mengarahkan para murid tersebut untuk mengamati perilaku sesungguhnya melalui masa belajar dan praktikum. Tidak ada bukti yang dapat menunjukan bahwa suatu pendekatan pembelajaran/pengajaran tidak efektif, karena itu bertentangan dengan dalil-dalil teori pembelajaran sosial (kognitif). Keempat, teori pembelajaran sosial (kognitif) membatasi fokusnya pada pengetahuan yang eksis, terutama dalam domain pengetahuan implisit/praktis, dan kemudian mengabaikan kreativitas pelajar dan pengetahuan baru yang seringkali muncul di saat proses pembelajaran berlangsung. Bila orang mengamati dan meniru perilaku orang lain dengan mudahnya, maka tidak akan ada konsep dan teori di dalam basis pengetahuan mereka. Misalkan, teori pembelajaran sosial (kognitif) itu sendiri merupakan hasil dari konseptualisasi dari apa yang telah diamati oleh para pembuat teori, namun observasi itu sendiri tidak dapat menghasilkan berbagai teori atau konsep baru yang lain. Terakhir, konsep regulasi diri tidak dapat dijelaskan dengan mudah oleh teori pembelajaran sosial (kognitif). Bandura (1982) memandang bahwa orang serigkali tidak berlaku sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Dia menggunakan istilah regulasi diri untuk menunjukan suatu mekanisme yang menghubungkan aksi dengan pengetahuan seseorang. Teori belajar holistik memperbesar konsep ini dengan memperkenalkan ketiga kekuatan pengendali (misal, lapisan orientasi pada pegetahuan) pada setiap tindakan kita –rasionalitas, realitas, dan kebebasan. Teori belajar holistik menyatakan bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pemeliharaan keseimbangan di antara ketiga kekuatan pengendali.
Teori Pembelajaran Trasformasional
Pembelajaran trasformasional mendominasi pusat literatur pembelajaran bagi orang dewasa (Merriam dan Caffarella, 1999), dan pembelajaran trasformasional “sangat penting bagi PSDM” (Swanson & Holton, 2001, hal. 171). Mezirow (1978, 1991) merupakan arsitek dan pemimpin utama dari para pendukung teori pembelajaran trasformasional. Teori ini meggambarkan bagaimana seorang dewasa yang belajar dapat menginterpretasikan pengalaman hidupnya dan menciptakan suatu makna. Pembelajaran trasformasional dipandang sebagai
Suatu proses untuk menumbuhkan kepedulian pada bagaimana dan mengapa asumsi kita mempengaruhi jalan tentang dunia kita yang kita yakini, pahami dan rasakan; mengubah berbagai struktur ekspektasi kebiasaan tersebut untuk membuat suatu perspektif yang bisa lebih inklusif, diskriminan dan terpadu; dan akhirnya, memilih atau dengan kata lain bertindak dengan menggunakan berbagai pemahaman baru tersebut. (Mezirow, 1991, hal. 167)
Berbagai konsep pola makna dan perspektif makna sangat penting bagi teori ini. Pola makna adalah “kepercayaan, perasaan, sikap, dan penilaian yang spesifik,” sementara perspektif makna adalah “perspektif yang luas, general dan berorientasi” (Mezirow, 1991, hal. 163). Pembelajaran melibatkan perubahan baik pada polamakna ataupun perspektif makna. Transformasi perspektif adalah suatu proses untuk melibatkan diri pada kebebasan atas kepercayaan, sikap, nilai, dan perasaan yang dianut yang telah membatasi dan mengubah kehidupan mereka.
Di bawah pandangan teori belajar holistik, pola makna jatuh kepada lapisan manifestasi dari ketiga sisi pengetahuan dan perspektif makna pada dua lainnya; (a) pondasi dan (b) orientasi. Dalam hal ini, lapisan pondasi pada pengetahuan eksplisit berhubungan dengan asumsi yang epistemik, lapisan pondasi pada pengetahuan implisit bertaut dengan asumsi sosial dan kultural, dan lapisan emansipatif menandai asumsi fisik. Karena itu Mezirow (1978, 1991) membuat suatu definisi orisinal terhadap transformasi perspektif yang mengindikasikan suatu proses belajar yang membawa suatu perubahan dalam dua lapisan transformasional: (a) pondasi dan (b) orientasi. Teori holistik membedakan ketiga sisi pengetahuan dan kemudian menambahkan pemahaman baru tentang pembelajaran transformasional. Teori holistik menyatakan bahwa pembelajaran transformasional hanya dapat dimunculkan bila pengetahuan emansipatif pelajar berubah. Karenanya, beberapa aktivitas pembelajaran dapat menjadi reflektif dan menyebabkan perubahan perspektif makna di dalam domain pengetahuan eksplisit dan implisit, namun beberapa jenis aktivitas pembelajaran tersebut bisa saja bukan merupakan suatu pembelajaran transformasional karena pengetahuan emansipatifnya belum melewati perubahan yang sangat besar.
Teori pembelajaran holistik menganjurkan agar pembelajaran transformasional melibatkan perubahan mendalam dalam domain pengetahuan emansipatif. Perubahan yang sederhana atau penambahan pengetahuan eksplisit dan implisit dalam perspektif makna yang ada dengan hanya sedikit atau bahkan sama sekali tanpa perubahan di dalam domain emansipatif mungkin dipandang sebagai pembelajaran instrumental atau preservatif. Beberapa perubahan pada perspektif makna dalam domain pengetahuan eksplisit dan implisit (misal kerangka kerja referensi bagi kedua sisi) mungkin tidak akan menciptakan pembelajaran transformasional yang berarti (misal ; perubahan besar). Membedakan ketiga sisi dan lapisan pengetahuan dan peran relatif mereka dalam proses pembelajaran transformasional dapat meningkatkan studi atas pembelajaran transformasional.
Brooks (2004) mengemukakan empat cabang teoritis pembelajaran transformasional: (a) pendekatan rasional Jack Mezirow, (b) pendekatan Jungian, (c) teori emansipatif Paulo Freire (1970, 1972, 1973), dan (d) mode transformatif pembelajaran tindakan. Keempat cabang tersebut menghubungkan dalil-dalil teori belajar holistik. Pertama, daftar teori rasional Mezirow (1978, 1990, 1991) dengan cakupan proses kognitif pada pembelajaran transformasional. Teori ini menunjukan bahwa pembelajaran sebagian besarnya merupakan suatu proses individual yang dipengaruhi oleh rasionalitas. Berdasarkan pandangan teori pembelajaran holistik, pendekatan rasional ini menyarankan agar pelajar memiliki otonomi dan memandang peran sisi pengetahuan eksplisit dalam pembelajaran transformasional. Kedua, pendekatan Jungian pada pembelajaran transformasional nampak menekankan sisi pengetahuan emansipatif, sekalipun dalam level individual. Dengan didukung oleh agenda humanistik tentang aktualisasi diri, pendekatan ini menyatakan bahwa tujuan utama dari pembelajaran adalah untuk membebaskan pelajar dari kontrol bawah sadar individual dan pembatasan norma sosial. Ketiga, pendekatan Freire menyoroti hak dan keadilan sosial. Pendekatan ini menggunakan proses pembelajaran transformasional untuk memunculkan kesadaran pemahaman partisipan di dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Berdasarkan perspektif pembelajaran holistik, pendekatan ini bertujuan untuk mengubah pengetahuan emansipatif individual dan pengetahuan kritis yang dimiliki oleh suatu kelompok partisipan. Pendekatan ini menganggap sistem sosial yang ada terlalu mengekang, dan mereka yang terkekang harus dibebaskan melalui kesadaran kritis. Terakhir, pendekatan pembelajaran tindakan bertujuan untuk melakukan transformasi individual sekaligus organisasional. Berdasarkan pandangan teori belajar holistik, pendekatan ini bertujuan mengadakan suatu perubahan mendalam terhadap pengetahuan praktis yang dimiliki oleh sekelompok partisipan guna memecahkan berbagai masalah keseharian yang muncul di dalam kelompok.
Pedagogi Kritis
Pedagogi kritis merupakan suatu bentuk pendidikan orang dewasa yang berakar pada teori kritis. Teori kritis menyatakan bahwa pembelajara tidak semata-mata berkisar pada proses mental atau teknis guna memecahkan permasalahan dengan tujuan produktivitas dan efisiensi. Pedagogi kritis berpendapat bahwa pembelajaran bagi orang dewasa bukan sekedar proses individual, namun juga proses sosial dan politis (Cunningham, 2004). Pedagogi kritis menganggap pengetahuan bukan suatu entitas netral, namun merupakan suatu perangkat yang telah terbangun secara sosial dan politis. Ada beragam konseptualisasi yang berbeda di dalam pendidikan pedagogi kritis, dan tiga tema utamanya dapat ditemukan di antara beragam konseptualisasi tersebut, termasuk di antaranya kelas sosial, kekuatan dan pengekangan, pengetahuan dan kebenaran (Merriam & Caffarella, 1999). Pola pertama menggambarkan perhatian terhadap ketimpangan sosial yang tercermin dalam ras, gender, dan kelas sosial dan ekonomi. Tema ini menyarankan diselenggarakannya berbagai pengkajian politik dan ekonomi terhadap pembelajaran dan pendidikan. Tema kedua menganggap bahwa ketimpangan sosial merupakan hasil dari kekuatan sistem yang hegemonik. Pedagogi kritis berniat membekali mereka yang dikekang oleh kekuatan sistem yang ada, semacam perusahaan multinasional atau lembaga pemerintah yang berkuasa, dengan diskursus rasional tentang sumber kekuatan, pengetahuan dan pengekangan. Tema ketiga dari pedagogi kritis berada pada sifat dasar pengetahuan dan kebenaran. Tema ini menganggap bahwa pengetahuan telah terkontruksi secara sosial dan bahwa kebenaran itu relatif. Beberapa pendukungnya bahkan lebih jauh lagi menganggap bahwa tidak ada satu pun kebenaran atau realitas yang bebas dari jangkauan manusia.
Pedagogi kritis dan akarnya, yakni teori kritis bertentangan dengan teori holistik tentang pengetahuan dan pembelajaran dalam hal domain pegetahuan. Sebenarnya, gagasan tiga sisi pengetahuan yang dianut oleh teori holistik terinspirasi oleh tipologi pengetahuan yang dicetuskan oleh Habermas (1971). Habermas (1971, 1984) mengungkapkan tiga macam pengetahuan (teknis, praktis dan emansipatif) dan menganggap bahwa ketiga tipe pengetahuan tersebut dapat memenuhi tiga macam kebutuhan manusia yang berbeda –yaitu teknis, komunikatif dan emansipatif. Teori holistik meminjam tiga konsep tersebut dengan menggunakan suatu pandangan yang dialektis. Teori terbaru yang dikemukakan menganggap bahwa ketiga sisi pengetahuan dan kepentingan manusia yang saling berhubungan tidak dapat dipisah-pisah, sekalipun semuanya memiliki karakter yang berbeda dan dikendalikan oleh kekuatan yang berbeda pula. Ketiganya merupakan suatu kesatuan dan tensi yang menentukan dan mendorong pengembangan dan pembelajaran manusia.
Sekalipun pedagogi kritis juga mengenal interaksi dinamis di antara individu dan konteks sosial, namun pedagogi kritis menyoroti pengetahuan sebagian besarnya pada level individual. Berdasarkan perspektif teori belajar holistik, pengetahuan sosial seperti pengetahuan yang ada dalam suatu kelompok atau organisasi bukan sekedar kumpulan kepercayaan yang sederhana yang berasal dari para anggotanya. Baik pedagogi kritis maupun teori belajar holistik memandang bahwa pengetahuan praktis/implisit ditentukan oleh sosialisasi, namun keduanya memiliki pandangan yang berbeda terhadap kedua sisi pengetahuan yang lainnya. Untuk sisi pengetahuan teknis/eksplisit, banyak ahli teori dan postmodernis yang menganggapnya sebagai multi-realitas dan kemudian menyangkal konsep kebenaran. Namun teori belajar holistik menganggapnya sebagai suatu realitas tunggal dan menganggap kemampuan manusia yang terbatas dapat menemukan kebenaran di dalam suatu fenomena yang kompleks. Di satu sisi, pengetahuan dipandang sebagai bangunan yang dibangun dari suatu proses perspektif yang berhubungan dengan interaksi dinamis di antara ketiga sisi pengetahuan dan tendensi bahwa manusia menolak atau menyangkal informasi yang tidak sama dengan struktur pengetahuan yang mereka miliki. Sementara itu di sisi lainnya, teori belajar holistik menyatakan dunia yang kompleks telah mendorong kita untuk merasakan segalanya secara berbeda dan karenanya memiliki interpretasi yang berbeda pula. Karena itu, berbagai interpretasi tersebut tidak dapat begitu saja dipandang sebagai kebenaran karena tidak semuanya memiliki tingkat validitas yang sama.
Berkenaan dengan sumber validasi sisi pengetahuan kritis/emansipatif, pedagogi kritis dan teori belajar holistik memiliki perbedaan pandangan. Sekalipun banyak ahli teori kritis yang menempatkan pengetahuan kritis/emansipatif pada interpretasi dan kesadaran pengetahuan praktis/implisit, teori belajar holistik menekankan pentingnya validasi peran pengetahuan teknis/eksplisit. Pedagogi kritis beranggapan bahwa suatu bagian dari pengetahuan emansipatif/kritis kita telah menyimpang karena rasionalitas teknis, namun pandangannya sendiri memiliki paradoks karena implikasi praktisnya sangat rasional sekali. Teori belajar holistik menjaga nilai logika dan alasan. Faktanya, seseorang dapat melihat ada banyak binatang yang juga menguasai ketiga sisi pengetahuan dan sejumlah perangkat intelegensia yang diperlukan dalam pembelajaran. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah super-rasionalitas yang hanya dimiliki oleh manusia. Sebuah penelitian terbaru telah menemukan bahwa kera juga memiliki rasa keadilan dan kesetaraan (Brosnan & de Waal, 2003). Bagaimanapun, tidak mungkin sekelompok kera dapat membangun sistem sosial yang bagus untuk menjamin berlangsungnya keadilan seperti yang dilakukan oleh manusia. Rasionalitas pula yang telah membawa manusia keluar dari jurang zaman kegelapan atau Dark Ages.
Karena itu, teori holistik menyerukan perlu adanya keseimbangan pandangan terhadap ketiga sisi ilmu pengetahuan. Teori belajar holistik menyatakan bahwa ketiga kekuatan yang mengendalkan pengetahuan senantiasa berpindah ke dalam berbagai arah yang tidak terbatas jumlahnya. Seperti halnya kekuatan pengendali sisi teknis eksplisit pengetahuan, rasionalitas merepresentasikan suatu arah, karena rasionalitas memerlukan suatu pemahaman total terhadap semesta. Sekalipun memang tidak memungkinkan untuk dapat menjangkau rasionalitas total (yang tidak terhingga), manusia tidak boleh menyerah dan berhenti berusaha untuk menemukan kebenaran dan rasionalitas berdasarkan sumber-sumber pengetahuan yang tersedia. Selain itu, dengan bersikap realistis atau dengan menggunakan kekuatan pengendali terhadap sisi pengetahuan kritis/emansipatif, manusia cenderung akan semakin merasa bahwa dunia yang kompleks dan senantiasa berubah ini memang tidak terbatas. Kebebasan dan keadilan sosial, kekuatan pengendali terhadap sisi pegetahuan kritis/emansipatif akan semakin terasa tidak terbatas karena masalah yang dihadapi oleh manusia pada umumnya berkisar pada ketidakpuasan pada hasrat yang tidak tersalurkan dan keterbatasan sumber. Karenanya, teori belajar holistik mengusulkan agar memadukan ketiga sisi pengetahuan dalam suasana harmoni yang lebih besar. Pedagogi/teori kritis menyatakan bahwa ada nilai-nilai umum yang harus dimiliki oleh setiap manusia semacam keadilan sosial, kesetaraan, kesamaan, kemampuan personal, keamanan dan kebebasan. Bila memperhatikan keadaan dunia saat ini, seharusnya masyarakat kapitalis yang sangat menghargai nilai-nilai produktivitas dan efisiensi sangat perlu dan bahkan wajib menghargai nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti keadilan dan kesetaraan sosial. Pada umumnya masalah sosial dan global justru bukan disebabkan oleh inefisiensi. Ini bisa dilihat dengan mudah pada kebanyakan komoditas yang ternyata berlebih. Resesi ekonomi modern bukan disebabkan oleh kurangnya suplai barang dan jasa namun lebih banyak disebabkan oleh kebutuhan yang stagnan dan kurang tercukupi dalam diri konsumen biasa. Sangat normal sekali bagi kelompok- kelompok sosial untuk memiliki perbedaan satu sama lain, dan juga memiliki pemahaman yang berbeda terhadap idsu sosial. Sistem politik yang demokratis harus dapat memberikan mekanisme yang sesuai, seperti dialog dan negosiasi, untuk mengatasi beragam perbedaan tersebut beserta segala ancaman konflik yang dapat muncul dari perbedaan tersebut.
Pandangan pedagogi kritis yang menyatakan bahwa pembelajaran bukan sekedar suatu proses psikologis dari seorang pelajar individual adalah benar. Pembelajaran juga harus dipandang sebagai suatu proses sosial dan politis. Ungkapan bahwa sistem pendidikan/pembelajaran modern telah memangkas jarak pengetahuan, kesejahteraan dan kehidupan yang layak pun adalah benar adanya. Harus dicatat pula bahwa kehidupan manusia yang lebih layak telah meningkat. Ini ditunjukan oleh sejumlah indikator, misalnya meningkatnya angka harapan hidup dan menurunnya tingkat kematian bayi. Dengan mencermati pembelajaran kontemporer di lapangan, pedagogi kritis mengungkapkan bahwa globalisasi ekonomi telah dikendalikan oleh keuntungan usaha yang menjadi beban para pekerja. Kenyataannya, berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan proses manufaktur telah banyak yang hilang, tidak hanya di negara-negara maju, namun juga di negara-negara berkembang, bersamaan dengan meningkatnya produkivitas (Colvin, 2003). Tidak seperti yang diperkiraan banyak pihak, Cina yang merupakan negara berkembang mengalami banyak kehilangan pekerjaan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun tidak diragukan lagi bahwa standar kehidupan di negara tersebut telah meningkat secara signifikan sejak diterapkannya kebijakan reformasi ekonomi. Berdasarkan perspektif pedagogi kritis, banyak ahli PSDM yang menjadi bagian dari kepentingan perusahaan dan kemudian hanya menyumbangkan sedikit perhatian untuk tindakan sosial untuk memajukan suatu masyarakat yang layak dan setara. Teori pembelajaran holistik memandang bahwa interpretasi kita terhadap keadilan dan kesetaraan sosial menjadi landasan bagi berbagai komponen utama pengetahuan kritis/ emansipatif bersama dan harus diperkenalkan pada seluruh anggota kelompok sosial. Perusahaan-perusahaan cenderung lebih menghargai pengetahuan teknis/eksplisit daripada pengetahuan kritis/emansipatif karena adanya tekanan produktivitas dan efisiensi. Teori belajar holistik memandang bahwa produktivitas dan efisiensi merupakan refleksi dari nilai-nilai inti kapitalisme. Teori tersebut juga menunjukan bahwa nilai-nilai bersama yang ada bukan merupakan suatu proses langsung. Pengetahuan kritis/emansipatif perlu didukung dan di validasi oleh dua sisi pengetahuan lainnya, pengetahuan teknis/eksplisit dan pengetahuan praktis/implisit.
Berbagai Implikasi Terhadap Riset dan Praktek PSDM
Berbagai pengkajian terhadap beragam teori umum kontemporer yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa berdasarkan teori belajar holistik tersebut memiliki beragam implikasi terhadap riset dan praktek PSDM. Teori holistik untuk pembelajaran bagi orang dewasa merupakan sebuah teori yang relatif baru yang memberikan suatu perspektif komprehensif pada proses pembelajaran orang dewasa. Teori tersebut memiliki implikasi tersendiri bagi pembangunan teori dan riset dalam bidang PSDM. Pertama, teori belajar holistik menyediakan suatu kerangka kerja yang sangat membantu dalam menguji teori pembelajaran yang ada. Teori belajar holistik memandang bahwa pembelajaran muncul sebagai interaksi dinamis di antara berbagai konteks sosial, kognisi, dan motivasi. Walaupun masing-masing teori umum dalam pembelajaran bagi orang dewasa cenderung memfokuskan diri pada berbagai sisi atau lapisan pengetahuan yang terbatas, teori belajar holistik memerlukan adanya pendekatan terpadu pada pembelajaran di lapangan. Pada umumnya, para pendidik dan ahli cenderung memahami nilai dari suatu pendekatan holistik secara intuitif, namun mereka dibatasi oleh kurangnya pemahaman terhadap kerangka kerja integratif. Teori holistik untuk pembelajaran bagi orang dewasa bertentangan dengan literatur umum yang membahas ketiga sisi ilmu pengetahuan dan menciptakan suatu perangkat analitik untuk mengkaji atau menelaah kembali konsep dan teori dalam bidang pembelajaran orang dewasa dan PSDM yang telah ada. Sebagai contoh, andragogi telah menjadi pendekatan yang banyak digunakan dalam pelatihan, namun hanya sedikit riset yang telah dilakukan untuk menguji apakah berbagai prinsip inti bagi pelajar dewasa dapat dipertahankan atau tidak. Teori belajar holistik menyoroti tiga lapisan pengetahuan (pondasi, manifestasi, dan orientasi) dan kemudian melahirkan suatu perangkat yang efektif untuk mengkaji berbagai asumsi di dalam teori tersebut. Berdasarkan poerspektif teori belajar holistik, beberapa prinsip inti dari pembelajaran di dalam andragogi hanya merupakan asumsi-asumsi belaka yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebagai contoh, asumsi motivasi intrinsik pelajar dan asumsi terhadap pengetahuan yang telah ada tidak mungkin diterapkan pada semua pelajar dalam segala situasi, hal tersebut bergantung pada karakteristik pelajar dan segala situasinya.
Kedua, teori belajar holistik tidak hanya menyediakan suatu kerangka kerja terpadu untuk menguji berbagai teori yang telah ada, namun juga memberikan arah bagi pembangunan riset dan teori di masa yang akan datang. Teori belajar holistik meyakini bahwa ada interaksi dinamis di antara ketiga sisi dan lapisan pengetahuan pada level individual maupun sosial yang menentukan proses pembelajaran bagi orang dewasa. Karenanya, berbagai studi di masa yang akan datang harus dilakukan untuk menciptakan berbagai mekanisme interaksi di antara faktor-faktor individual dan sosial. Untuk contoh, kita akan kembali menyoroti andragogi. Konsep ini memfokuskan sebagian besar perhatiannya pada karakteristik individual pelajar dan tidak mampu menunjukan pengaruhnya pada faktor sosial dan kelomok. Konsep pembelajaran orang dewasa lainnya, yakni SDL, juga menempatkan individu sebagai fokus utama. Berdasarkan perspektif teori belajar holistik, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang lebih efektif akan muncul bila ada kesesuaian di antara pengetahuan emansipatif pelajar (kebutuhan pembelajaran langsung dan motivasi) dengan pengetahuan kritis dalam kelompok. Karenanya, pengkajian terhadap berbagai teori umum yang membahas pembelajaran orang dewasa berdasarkan teori holistik ini menghasilkan sejumlah hipotesis dari riset yang berharga bagi penelitian di masa yang akan datang.
Ketiga, teori belajar holistik memiliki implikasi bukan hanya bagi pembelajaran individual namun juga pembelajaran, perubahan, dan pegembangan kelompok. Henderson (2002) membandingkan beberapa teori perubahan yang telah ada di dalam bidang pengembangan organisasi, pembelajaran kelompok, pembelajaran orang dewasa dan pengembangan psikologi. Henderson menyimpulkan bahwa perubahan berbagai teori pada level indiviodual dan kelompok tidak saling berkaitan satu sama lain. Berbagai teori yang membahas transformasi dan perubahan organisasi cenderung bersifat deskriptif dan seringkali tidak dapat mengarahkan proses bagi perubahan individual. Banyak teori yang menyatakan bahwa individu di dalam kelompok akan beradaptasi pada perubahan lingkungan. Karenanya, berbagai teori tersebut tidak mencermati berbagai perubahan internal pada level individual. Sekalipun berbagai teori yang membahas pembelajaran dan perubahan individual telah menghasilkan deskripsi yang banyak dan detail bagi proses transformatif individual, bukti yang ada telah menunjukan adanya hubungan di antara pembelajaran transformatif individual dengan perubahan kelompok. sejumlah bukti yang ditemukan juga cenderung mendukung suatu pandangan integratif dan holistik terhadap transformasi individu dan kelompok. Karena itu, berbagai penelitian di masa yang akan datang perlu mengkaji peran ketiga sisi dan lapisan pengetahuan yang berbeda dalam perubahan transformasional. Berbagai studi di dalam pengembangan kelompok harus menguji interaksi dinamis di antara pengetahuan individu dan kelompok dan menemukan pengaruh sisi-sisi pengetahuan yang berbeda terhadap transformasi individual dan juga kelompok.
Berbagai analisis tersebut juga dapat menghasilkan implikasi bagi praktek PSDM. Dengan menguji berbagai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing teori kontemporer yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa, artikel ini juga memberikan sejumlah informasi yang berharga bagi para praktisi PSDM. Sekalipun para praktisi pada umumnya cenderung menghargai suatu pendekatan holistik di dalam pembelajaran, mereka pada umumnya kurang memiliki pemahaman terhadap kerangka kerja yang baik. Analisis terhadap beragam teori tersebut memberikan suatu perspektif integratif yang dapat berperan sebagai model baru dalam praktek PSDM. Sebagai contoh, pengkajian terhadap andragogi telah memperlihatkan bahwa beberapa prinsip inti dari konsep ini merupakan gabungan dari asumsi dan dalil. Para praktisi PSDM harus mencermati bahwa beragam asumsi tersebut tidak dapat dijalankan di dalam segala situasi. Di dalam situasi tertentu, semacam pelatihan pemadam kebakaran, di mana pelajar memiliki pengetahuan yang kurang dan hanya memiliki pengetahuan teknis, maka isi dan prosedur pelatihan tidak dapat dan tidak harus dibicarakan lagi bila konsensus yang menyangkut tujuan telah ditentukan dengan jelas. Maka, prinsip pembuatan tujuan pembelajaran yang mutual dan bantuan bagi mereka untuk menilai hasil yang diinginkan seperti yang dikemukakan oleh teori andragogi harus dibatasi. Bila sisi pengetahuan kritis telah benar-benar dipahami oleh kelompok, instruktur, dan partisipan pendukung, maka proses instruksional perlu mengkonsentrasikan diri pada dua domain pengetahuan lainnya.
Kesimpulan
Seluruh poin di dalam suatu teori –segala jenis teori di dalam bidang akademik atau profesional apapun- bertujuan untuk memberikan penjelasan yang memadai terhadap fenomena alam atau sosial dengan cara yang eksplisit. Berdasarkan perspektif pembelajaran holistik, teori adalah suatu konstruksi eksplisit yang membicarakan konsep dan konstruksi yang bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu. Berdasarkan teori holistik bagi pembelajaran orang dewasa yang baru saja dikembangkan, artikel ini menemukan hubungan antara teori yang baru saja dimunculkan tersebut dengan sejumlah teori kontemporer dalam bidang pembelajaran orang dewasa. Pada umumnya, teori yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa cenderung menelaah pengetahuan dan pembelajaran secara umum dan tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan dalam bidang pembelajaran bagi orang dewasa. Berbagai implikasi yang muncul bagi teori, riset, dan praktek PSDM telah dibahas di dalam artikel ini. Penelitian diperlukan untuk mengkaji interaksi dinamis di antara sisi-sisi dan lapisan-lapisan pengetahuan baik pada level individual maupun level kelompok. Lebih jauh lagi, para praktisi PSDM harus mencermati kekurangan dan keterbatasan dari berabagai teori pembelajaran yang telah ada, termasuk teori pembelajaran holistik yang terbaru ini.
Baiyin Yang adalah profesor bidang pengembangan sumber daya manusia dan pembelajaran orang dewasa di Universitas Minnesota. Dia mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas Georgia dan sebelumnya mengajar di Universitas Auburn dan Universitas Idaho. Penelitian utamanya difokuskan pada validasi dan pengembangan teori pengetahuan holistik dan pembelajaran bagi orang dewasa. Bidang penelitiannya mencakup perencanaan dan evaluasi program, pembelajaran orang dewasa dan kelompok, cara-cara mempengaruhi dan memperk
Teori Belajar Holistik dan Berbagai Implikasinya Terhadap Pengembangan Sumberdaya Manusia
Baiyin Yang
Problem dan solusi. Ada banyak konsep dan teori yang dapat ditemukan di dalam literatur tentang pembelajaran bagi orang dewasa. Karena adanya kompleksitas dan perbedaan di dalam proses pembelajaran bagi orang dewasa, tidak ada yang dapat memunculkan teori yang merangkum semuanya sekaligus. Teori belajar holistik yang telah dikembangkan baru-baru ini dapat memberikan suatu kerangka kerja terpadu untuk menguji beberapa teori kontemporer yang berkenaan dengan pembelajaran bagi orang dewasa. Kita juga akan membahas berbagai implikasinya terhadap teori, riset dan praktek pengembangan sumberdaya manusia.
Kata kunci: pembelajaran bagi orang dewasa, teori belajar holistik, bangunan teori
Sebagaimana telah dipaparkan dalam artikel sebelumnya pada volume ini, literatur yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa telah jauh menjangkau beragam pengaruh yang timbul di lapangan baik bagi pembelajaran orang dewasa, maupun pengembangan sumberdaya manusia (PSDM). Di masa lalu, hubungan antara teori pembelajaran orang dewasa dengan teori dan praktek PSDM belum dapat diamati ataupun dikaji. Karena itu, pengkajian yang komprehensif terhadap berbagai teori pembelajaran bagi orang dewasa menjadi bagian dari pengembangan teori dan praktek PSDM. Sebagai tambahan, pengembangan bidang PSDM dan juga pembelajaran bagi orang dewasa sangat bergantung pada konseptualisasi pembelajaran bagi orang dewasa yang memadai. Sekalipun pembelajaran bagi orang dewasa telah menjadi bagian sentral dari bidang pendidikan dewasa sejak lahir dan diciptakannya beragam teori dan model, tidak ada kerangka kerja konseptual yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena pembelajaran bagi orang dewasa yang sangat kompleks (Merriam, 2001). Tidak adanya teori belajar yang terpadu disebabkan kompleksitas dan keragaman proses pembelajaran bagi orang dewasa. Keragaman teori dan model pembelajaran bagi orang dewasa dalam literatur telah menyebabkan adanya suatu basis pengetahuan yang kuat bagi bidang pendidikan dewasa dan PSDM karena hal itu berarti ada banyak penjelasan yang dapat digali dari suatu fenomena dari beragam sudut pandang yang berbeda. Bila ada suatu fenomena yang kompleks dan berada dalam berbagai situasi yang tidak stabil, maka akan sangat penting sekali untuk memandang fenomena tersebut dari beragam sudut pandang yang berbeda. Apa yang dibutuhkan oleh kedua bidang tersebut bukan beragam pandangan yang saling berkontradiksi atau terfragmentasi, namun suatu pandangan holistik yang bisa memberikan suatu gambaran pembelajaran bagi orang dewasa yang sangat komprehensif. Sekalipun berbagai pandangan yang berbeda terhadap pembelajaran bagi orang dewasa memiliki nilai yang inheren dalam menekankan perbedaan beragam aspek pembelajaran bagi orang dewasa yang unik di dalam berbagai situasi yang berbeda, suatu pandangan yang terpadu tetap dibutuhkan karena seluruh aktivitas pembelajaran saling membagi komunalitas satu sama lain. Pada akhirnya, sebagai bagian dari umat manusia, semua orang cenderung akan lebih berbagi komunalitas daripada perbedaan. Demikian pula halnya dengan seluruh aktivitas pembelajaran bagi orang dewasa, tentu akan cenderung saling berbagi tampilan yang sama daripada perbedaan, ini sama halnya dengan berbagai aktivitas manusia lainnya. Dengan diperkuat oleh kerangka kerja konseptual pada pengetahuan dan pembelajaran yang telah dikembangkan baru-baru ini, artikel ini akan mencoba melakukan sintesa dan memadukan berbagai teori pembelajaran bagi orang dewasa yang ada.
Dalam artikel ini, suatu teori belajar holistik yang baru dikembangkan akan diperkenalkan (Yang, 2003). Rangkaian yang penting di antara teori belajar holistik dan beberapa teori pembelajaran bagi orang dewasa kontemporer yang terpilih akan ditentukan. Artikel akan ditutup dengan eksplorasi tergadap berbagai implikasi teori belajar holistik bagi teori dan praktek PSDM.
Teori Holistik Bagi Pembelajaran Orang Dewasa
Teori holistik yang baru-baru ini dikembangkan dapat membeikan suatu konseptualisasi terhadap pengetahuan dan pembelajaran (Yang, 2003). Teori holistik menyatakan ilmu pengatahuan sebagai bangunan sosial dengan tiga sisi yang berbeda dan saling berhubungan –pengetahuan eksplisit, implisit dan emansipatif. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai pemahaman manusia terhadap realita melalui korespondensi mental, pengalaman personal, dan pengaruh emosional dengan objek dan situasi di luar. Sisi eksplisit terdiri dari komponen pengetahuan kognitif yang merepresentasikan pemahaman terhadap realita. Pengetahuan eksplisit menunjukan ketakutan mental yang jelas dan khusus dan disampaikan dalam format yang fomal dan objektif. Pengetahuan eksplisit adalah kodifikasi dari pengetahuan yang membedakan kebenaran dan kesalahan.
Sisi implisist merupakan komponen pengetahuan behavioral yang menunjukan pembelajaran yang tidak dilakukan atau disampaikan secara terbuka. Pada kebanyakan kasus, kita mengetahui sesuatu lebih banyak dari yang kita kira (Polanyi, 1967). Pengetahuan implisit bersifat personal dan merupakan kebiasaan yang spesifik pada konteks. Pengetahuan jenis ini juga merupakan sesuatu yang sulit diformalisasikan dan dikomunikasikan atau dengan kata lain merupakan suatu kebiasaan yang masih harus diartikulasikan. Pengetahuan ini menunjukan sesuatu yang bekerja dalam realita berdasarkan pada observasi langsung atau keterlibatan. Pengetahuan implisit biasanya datang dan eksis dalam tindakan, aksi dan akumulasi pengalaman seseorang.
Sisi emansipatif mnerupakan komponen pengetahuan efektif dan direfleksikan dalam reaksi afektif ke dunia luar. Pengetahuan emansipatif merupakan pemahaman seseorang berdasarkan pada pengaruh emosional dan kemudian dipandang sebagai sesuatu yang bernilai. Pengetahuan ini ditunjukan melalui perasaan dan emosi yang dialami oleh manusia melalui objek dan situasi di sekitarnya. Pengetahuan emansipatif menentukan pandangan sesorang terhadap apa yanbg terjadi di dunia dan meupakan produk dari pencarian kebebasan dari pengendalian natural dan sosial. Pengetahuan ini biasanya direfleksikan oleh ungkapan afektif dan motivatif internal.
Perspektif Dialektika Terhadap Tiga Sisi Pengetahuan
Teori belajar holistik yang dimaksud mengharuskan ketiga sisi pengetahuan ditampilkan pada seluruh proses pembelajaran, sekalipun tidak semua sisi tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan (Yang, 2003). Lebih jauh lagi, teori belajar holistik memerlukan adanya perspektif dialektikal dari ketiga sisi pengetahuan tersebut. Pada satu sisi, kita perlu mengenali beberapa karakter intrinsik yang berbeda dari ketiga sisi pengetahuan tersebut. Bila kita menguji ketiga sisi pengetahuan tersebut pada waktu yang sama, ketiganya akan nampak berbeda dan saling berlawanan. Hasil yang didapat akan seperti mengamati dua sisi koin yang berbeda. Sementara itu, di sisi lainnya, kita harus dapat memahami sifat dasar komplementer dari ketiga sisi pengetahuan tersebut. Ketiganya saling bertautan satu sama lain dan tidak mungkin dipisahkan bila kita mengamatinya dengan menggunakan pespektif holistik. Ketiganya akan memperlihatkan sifat aslinya, baik kita kenali ataupun tidak. Ketiganya merupakan komponen yang sangat penting di dalam ilmu pengetahuan manusia secara keseluruhan.
Teori belajar holistik menyatakan bahwa bangunan pengetahuan tidak hanya terdiri dari ketiga sisi tersebut, namun juga ketiga lapisannya (Yang, 2003). Tiga lapisan ilmu pengetahuan terdiri atas fondasi, orientasi, manifestasi dan orientasi. Lapisan pertama adalah strata fondasi atau premis, yang ditampilkan sebagai basis dari batas-batas ketiga sisi pengetahuan yang kita kenali. Termasuk di dalam fondasi adalah berbagai asumsi tersembunyi yang diyakini sebagai sesuatu yang valid dan tidak lagi memerlukan pembuktian. Kita harus bisa menerima sejumlah asumsi tertentu untuk diketahui dan dilakukan. Lapisan ini menunjukan adanya kepercayaan epistomologi di dalam diri kita. Lapisan manifestasi merepresentasikan hasil dari pemahaman kita. Lapisan orientasi dari pengetahuan kita menentukan arah dan tendensi untuk setiap tindakan yang didasarkan pada pengetahuan. Maka, ketiga lapisan tersebut menunjukan adanya suatu kekuatan yang menuntun proses pembelajaran kita. Tabel 1 menggambarkan indikasi dari ketiga lapisan yang melingkupi ketiga sisi tersebut.
Pembelajaran Sebagai Interaksi Dinamis di Antara Sisi-Sisi Ilmu Pengetahuan
Teori belajar holistik tidak hanya memperlihatkan karakteristik ketiga sisi dan lapisan ilmu pengetahan namun juga mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah faktor yang menyatukan sisi-sisi yang berbeda tersebut. Masing-masing dari ketiga sisi ilmu pengetahuan memberikan dukungan yang dibutuhkan dalam menjaga kelangsungan sisi lainnya. Tanpa adanya dukungan dari sisi lainnya, sisi pengetahuan eksplisit hanya akan eksis sebagai fakta, figur, atau tanda-tanda yang tidak memiliki makna (contoh; bila kedua sisi lainnya tidak saling berhubungan). Lazimnya, kita menggunakan tubuh pengetahuan untuk menunjukan teori, model, dan penemuan empiris namun tidak bisa menunjukan bahwa ketiga hal ini hanya berlaku untuk sisi pengetahuan eksplisit. Dengan cara yang sama, pembelajaran juga dipengaruhi oleh pengetahuan emansipatif yang menentukan bimbingan kewajiban dan tujuan dari setiap tindakan kita. Pengetahuan implisit juga berhubungan dengan kedua sisi lainnya. Pengetahuan tersebut akan muncul sebagai pengalaman praktis yang sifatnya acak, idiosinkratis dan terasing tanpa adanya dukungan dari kedua sisi lainnya. Demikian pula dengan pengetahuan emansipatif yang akan menjadi hasrat atau emosi bila pengetahuan eksplisit dan implisit dikesampingkan dalam proses pembelajaran. Esensi dari semua itu adalah bahwa teori holistik memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang eksis dalam suatu interaksi dialektis yang dinamis dari ketiga sisinya.
Teori belajar holistik memandang bahwa pengetahuan diciptakan dan ditransformasikan melalui beragam interaksi di antara sisi pengetahuan eksplisit, implisit dan emansipatif (Yang, 2003). Beragam hubungan tersebut direfleksikan di dalam sembilan model pembelajaran: partisipasi, konseptualisasi, sistematisasi, validasi, legitimasi, transformasi, interpretasi dan materialisasi. Partisipasi merupakan suatu proses pembelajaran melalui praktek dan kemudian menghasilkan pengetahuan implisit melalui pengalaman. Konseptualisasi merupakan suatu proses artikulasi pengetahuan implisit menjadi konsep yang eksplisit. Model ini mengubah sesuatu yang familiar ke dalam penjelasan yang nyata dengan memunculkan konsep atau teori baru. Kontekstualisasi merupakan proses pembentukan pengetahuan eksplisit ke dalam pengetahuan implisit. Model ini merupakan konsep yang menggunakan konsep, contoh, formula, prinsip, dan dalil dalam suatu konteks yang spesifik. Sistematisasi merupakan suatu proses pemisahan untuk menyatukan konsepsi eksplisit ke dalam suatu sistem dengan logika dan alasannya. Mode pembelajaran ini melibatkan kombinasi di antara bagian-bgian pengetahuan eksplisit yang berbeda dalam suatu format yang konsisten. Validasi merupakan suatu proses pengujian dan modifikasi dari nilai, hasrat, penilaian yang dirasa penting dan berharga, dan berbagai jenis pembelajaran fundamental lainnya berdasarkan pada pengetahuan eksplisit (yang dipercaya sebagai kebenaran di bawah perspektif yang rasional). Legitimasi merupakan suatu proses justifikasi terhadap pengetahuan eksplisit yang didasarkan pada pengetahuan emansipatif. Transformasi merupakan suatu proses pengubahan skema yang memiliki makna lama (contohnilai, aspirasi, perilaku, perasaan dan etika) ke dalam bentuk lainnya. Materialisasi merupakan suatu proses pemindahan pengetahuan emansipatif ke dalam pemahaman bawah sadar. Mereka yang menggunakan apa yang telah dipelajari dari riset tindakan partisipatif untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari dalam proses materialisasi. Interpretasi merupakan proses pembuatan suatu skema makna dari pembelajaran yang tidak disadari dan pengalaman langsung. Kepedulian dalam keadaan sadar merupakan suatu contoh dari mode pembelajaran yang biasanya menghasilkan perubahan dalam pengetahuan emansipatif ini.
TABEL I: Teori Belajar Holistik: Indikasi Dari Sisi-Sisi dan Lapisan-Lapisan Interaksi Individu
|
Lapisan Pengetahuan |
Sisi-Sisi Pengetahuan |
||
|
Eksplisit |
Implisit |
Emansipatif |
|
|
Pondasi |
Berbagai macam Aksioma, asumsi, kepercayaan, premis |
Berbagai macam kebiasaan, norma sosial, tradisi, rutinitas |
Berbagai macam nilai, aspirasi, idealisme, pandangan |
|
Manifestasi |
Berbagai macam teori, prinsip, model, kerangka konseptual, formula |
Berbagai macam pemahaman yang tidak disarari, sebab akibat, intuisi, model mental |
Perilaku, motivasi, kebutuhan, etika, stanar moral |
|
Orientasi |
Rasionalitas |
Realitas |
Kebebasan |
Sumber: Yang (2003)
Pembelajaran Sebagai Aktivitas Individual dan Sosial
Lebih jauh lagi, teori belajar holistik menunjukan bahwa pembelajaran bukan hanya aktivitas individual namun juga merupakan suatu kegiatan sosial (Yang, 2003). Seorang pelajar individual harus berinteraksi dengan kelompok sosial di mana dia berada ataupun dengan berbagai organisasi atau kelompok yang memiliki sejumlah konteks sosial dan kultural. Teori holistik menyatakan bahwa untuk memfungsikan suatu kelompok atau organisasi, harus ada ketiga sisi ilmu pengetahuan –pengetahuan kritis, pengetahuan teknis, dan pengetahuan praktis. Ketiga sisi ilmu pengetahuan ini pada level yang berhubungan dengan organisasi digambarkan sebagai berikut:.
Totalitas pengetahuan emansipatif dari anggota suatu kelompok menjadi landasan penting bagi organisasi atau kelompok tersebut…besarnya pengetahuan implisit yang dimiliki anggota suatu kelompok membangun pengetahuan praktis. Pengetahuan praktis ada pada proses dan praktek organisasi. Sama halntya, sejumlah organisasi juga memiliki sejumlah pengetahuan teknis yang menunjukan kepercayaan pada pengetahuan ekplisit nyata dari para anggotanya dan telah dipadukan ke dalam sistem yang dimilikina. Pengetahuan teknis biasanya eksis di dalam sistem dan struktur. (Yang, 2003, hal. 122-123)
Kemudian, teori holistik memandang pembelajaran kelompok/organisasi sebagai suatu proses perubahan dalam dimensi kepercayaan kolektif (contoh: pengetahuan teknis atau pengetahuan eksplisit bersama), norma-norma sosial (contoh: pengetahuan praktis atau pengetahuan implisit yang merata), dan nilai-nilai bersama (contoh: pengetahuan kritis atau pengetahuan emansipatif dominan) di antara anggota kelompok. Dengan kata lain, pengetahuan organisasional dapat dipandang sebagai pemahaman kolektif di antara anggotanya dalam tiga bentuk: (a) pengetahuan eksplisit yang telah menjadi adat, (b) pengetahuan implisit bersama, (c) pengetahuan emansipatif dominan. Pembelajaran kelompok mencakup dimensi perubahan teknis, sosial dan politik dari kelompok tersebut. Gambar 1 menggambarkan interaksi dinamis di antara ketiga sisi pengetahuan pada skala individual atau organisasional.
Untuk memfungsikan kelompok sosial semacam tim, organisasi atau masyarakat, mereka harus memiliki pengetahuan bersama. Seperti halnya pengetahuan individual, pengetahuan kelompok atau organisasi dapat dipandang sebagai bangunan sosial yang memiliki tiga sisi dan masing-masing sisi tersebut juga memiliki tiga lapisan. Tabel 2 memuat daftar tiga lapisan pengetahuan kelompok dan organisasi di dalam tiga domain.
Singkatnya, teori belajar holistik memandang bahwa pengetahuan manusia terdiri atas tiga sisi dan masing-masing sisi memiliki tiga lapisan. Pandangan terhadap pengetahuan semacam ini menggambarkan tiga kekuatan pengendali yang memberikan motivasi pada proses pembelajaran individu. Pembelajaran dapat dipandang sebagai aktivitas individual dan juga sosial. Pada level individual, pembelajaran melibatkan perubahan pada kognisi, perilaku dan sikap seseorang sebagai hasil dari penmeliharaan keseimbangan di antara ketiga kekuatan yang mengendalikan sisi-sisi pengetahuan –rasionalitas, realitas dan kebebasan. Sekalipun ketiga kekuatan pengendali ini berfungsi dalam tiga domain yang saling berhubungan (kognitif, behavioral, afektif), ketiganya saling berhubungan satu sama lain dan ada sejumlah interaksi yang menentukan perilaku individu dalam situasi tertentu. Sekalipun ketiga sisi pengetahuan memiliki karakteristik yang berbeda dan dikendalikan oleh kekuatan yang berbeda pula, ketiganya saling bertumpu dalam situasi tertentu. Perilaku individual muncul sebagai tindakan yang berfungsi menjaga keseimbangan dari ketiga kekuatan tersebut. Dalam hal ini, keseimbangan menunjukan adanya kecocokan yang dihasilkan dari pengendalian ketiga kekuatan tersebut. Pada level sosial, pembelajaran mencakup perubahan pengetahuan teknis, praktis, dan kritis yang dimiliki bersama oleh para anggota kelompok atau organisasi sosial yang merupakan hasil dari pertahanan keseimbangan dari ketiga kekuatan pengendali yang saling berhubungan satu sama lain –efisiensi, efektivitas, dan keadilan sosial.
TABEL 2: Teori Belajar Holistik: Indikasi Dari Pengetahuan Kelompok dan Organisasi
|
Lapisan Pengetahuan |
Sisi-Sisi Pengetahuan |
||
|
Eksplisit |
Implisit |
Emansipatif |
|
|
Pondasi |
Pengetahuan eksplisit yang telah menjadi adat (sistem dan struktur) |
Pengetahuan implisit kolektif (proses dan praktek) |
Pengetahuan emansipatif yang dominan (nilai dan visi) |
|
Manifestasi |
Berbagai macam peraturan, ketentuan, kebijakan, prosedur operasi standar, spesifikasi teknis, saluran komunikasi formal dan format |
Berbagai macam norma sosial, kebiasaan, konvensi, pemahaman bersama, intuisi, pandangan, rutinitas, pengetahuan sebab-akibat, perubahan pasar |
Berbagai macam pernyataan yang bertujuan formal, filosofi manajerial, tanggung jawab sosial yang dirasakan, moral, keadilan dan kesetaraan sosial,standar etika dan moral, dan spiritual |
|
Orientasi |
Efisiensi, optimalisasi |
Efektivitas, fleksibilitas |
Keadilan dan tanggung jawab |
Sumber: Yang (2003)
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>
|
Kelompok sosial / organisasi |
|
Pengetahuan Kritis |
|
Pengetahuan Praktis |
|
Pengetahuan Teknis |
|
Individual |
|
Pengetahuan Emansipatif |
|
Pengetahuan Implisit |
|
Pengetahuan Eksplisit |
|
Lingkungan Sosial Eksternal, Kultural, Politis dan Teknologi |
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>
Gambar I: Interaksi dinamis di antara ketiga sisi ilmu pengetahuan pada level individual dan sosial (Yang, 2003)
Teori Kontemporer untuk Pembelajaran Bagi Orang Dewasa
Pada umumnya, teori pembelajaran kontemporer memunculkan model berdasarkan bagian-bagian dari sisi-sisi pengetahuan dan interaksi yang saling berhubungan. Karenanya, sangat memungkinkan untuk membuat sebuah teori holistik bagi pembelajaran orang dewasa dengan memadukan berbagai dalil umum dari teori pembelajaran kontemporer. Beberapa paragraf berikut akan menggambarkan beberapa rangkaian yang penting antara teori holistik yang pernah dikemukakan dengan beberapa teori dan konsep pembelajaran bagi orang dewasa.
Andragogi
Knowles (1968, 1980) mengemukakan konsep andragogi untuk membedakan pembelajaran bagi orang dewasa dari pembelajaran pra-dewasa. Andragogi dipandang sebagai “seni dan sains yang digunakan untuk membantu orang dewasa dalam pembelajaran” (Knowles, 1980, hal 43). Konsep andragogi didasarkan pada beberapa asumsi atau prinsip pembelajaran bagi orang dewasa yang netral (Knowles, 1968, 1980; Knowles, Holton, & Swanson, 1998). Sebagai tambahan pada beberapa perinsip pembelajaran bagi orang dewasa yang netral, andragogi telah dikembangkan untuk menerima dua faktor yang mempegaruhi pembelajaran bagi orang dewasa: (a) tujuan dan maksud pembelajaran dan (b) perbedaan individual dan situasional (Knowles dkk, 1998). Merriam dan Caffarella (1999) menyatakan bahwa deskripsi konsep dari karakteristik pembelajaran bagi orang dewasa dapat membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik terhadap pembelajaran bagi orang dewasa dan telah menggambarkan berbagai implikasi yang berguna bagi praktek instruksional.
Dengan bantuan teori belajar holistik, rangkaian atau asumsi andragogi ini telah diarahakan pada berbagai sisi pengetahuan. Konsep andragogi menekankan diri pada karakteristik pelajar dewasa dan meyakini bahwa pengalaman hidup mereka dapat menjadi sumber pembelajaran yang valid. Andragogi menekankan peran sisi pengetahuan implisit (pengalaman pelajar sebagai sumber pembelajaran, peran sosial dan kewajiban pengembangan serta kecepatan aplikasi) dan juga memandang pembelajaran bagi orang dewasa sebagai bentruk yang berorientasi pada tindakan atau perilaku. Sebagai tambahan, konsep ini juga meyakini bahwa sisi pengetahuan ermansipatif memiliki peran dalam pembelajaran. Andragogi juga menekankan peran dari kebutuhan pelajar, konsep diri dan motivasi internal dalam pembelajaran bagi orang dewasa. Ketiga asumsi tersebut berada dalam domain afektif dan kemudian berhubungan dengan pengetahuan emansipatif.
Mungkin salah satu kontribusi kunci dari konsep andragigi dapat ditentukan dengan mengkaji ulang asumsi inti dengan menggunakan teori belajar holistik. Di dalam kebanyakan masyarakat, pelajar pra-dewasa biasanya memiliki hak hukum untuk membedakan baik dan Buruk. Karenanya, anak-anak harus menerima nilai-nilai inheren dan beberapa elemen kunci pengetahuan kritis dari suatu komunitas atau masyarakat, di mana mereka cenderung menjadi penerima pasif di dalam situasi belajar pada umumnya. Di dalam seluruh bentuk masyarakat secara virtual, fungsi pendidikan tidak terbatas hanya pada pemindahan pengetahuan teknis dan kemampuan, namun juga untuk memindahkan pengetahuan kritis semacam nilai-nilai dan pandangan bersama. Di satu sisi, sekalipun banyak anak sebelum memasuki usia sadar hukum memiliki pandangan tersendiri terhadap kebenaran dan kesalahan yang berkenaan dengan tindakan dan masalah individual atau sosial, masyarakat pada umumnya memberikan hak hukum pada mereka hingga mereka memiliki usia yang cukup untuk menguji hak tersebut. Di sisi lain, terkecuali bagi mereka yang haknya sedang dicabut oleh masyarakat, orang dewasa pada umumnya memiliki kebebasan untuk menentukan penilaian sendiri terhadap beberapa isu yang berhubungan dengan standar nilai dan etika. Dengan kata lain, pelajar pra-dewasa dan beberapa pelajar dewasa dalam situasi tertentu, semacam pendidikan korektif, harus menerima sejumlah standar nilai, etika dan perilaku yang biasanya ditentukan oleh pihak lain. Di dalam situasi pembelajaran bagi orang dewasa pada umumnya, pelajar adalah warganegara yang bertanggung jawab dan memiliki hak untuk megarahkan dirinya sendiri. Pendidik harus dapat memahami konsep peran diri dan membantu pelajar dewasa untuk dapat benar-benar mengembangkan potensi perkembangannya. Jelas sekali bahwa andragogi sangat memperhitungkan sisi pengetahuan emansipatif di dalam pembelajaran bagi orang dewasa (Knowles dkk, 1998). Beberapa faktor lain yang baru ditambahkan alam konsep andragogi adalah perbedaan individual dan situasional. Faktor ini menempatkan pengaruh sosial dan kultural di dalam pembelajaran dan perbedaan di antara pelajar. Karenanya, andragogi yang dikembangkan lebih mendekati teori holistik dengan menempatkan pembelajaran sebagai interaksi antara individu dengan suatu situasi tertentu.
Konsep Belajar Dengan Kesadaran Diri
Belajar Dengan Kesadaran Diri (SDL = Self-Directed Learning) merupakan konsep lain pada pembelajaran bagi orang dewasa yang tergolong populer. SDL merupakan suatu “proses pembelajaran di mana orang mengambil inisiatif yang dibutuhkan untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pengalaman belajarnya masing-masing” (Meriam dan Caffarella, 1999, hal. 293). Beberapa rangkaian kunci yang menghubungkan teori SDL dengan teori belajar holistik dapat dilihat poada tujuan dan arah pembelajaran. (Merriam dan Caffarella (1999) menyebut bahwa tiga tujuan utama SDL adalah (a) untuk meningkatkan kemampuan pelajar dewasa, (b) untuk mempercepat pembelajaran transformasional, dan (c) untuk memperkenalkan pembelajaran emansipatif dan tindakan sosial. Model-model SDL pada umumnya memperkenalkan aktivitas pembelajaran yang berpusat pada pelajar dan terkontrol. Berdasarkan sudut pandang teori holistik, sejumlah arah bertujuan untuk menciptakan suatu perubahan bermakna terhadap pengetahuan emansipatif pelajar. Pendekatan pembelajaran ini bertujuan untuk memunculkan suatu konseptualisasi pembelajaran bagi orang dewasa sebagai suatu sistem nilai yang individualis dan berkeyakinan bahwa umat manusia akan menemukan kebebasan selama mereka megarahkan dirinya sendiri. Teori belajar holistik menentang anggapan semacam ini dan menyatakan bahwa arah dan tindakan individu lazimnya ditentukan oleh suatu nilai dan sistem kepercayaan. Merriam dan Caffarella menyimpulkan bahwa mayoritas model pembelajaran dengan kesadaran diri hanya mewakili tujuan pertama saja. Maka, SDL cenderung memperkenalkan kebebasan individual yang berlandaskan pada pembentukan sistem nilai (pengetahuan kritis bersama).
Tujuan SDL yang kedua dan ketiga adalah memperkenalkan pembelajaran yang transformasional dan emansipatif namun tidak mampu untuk benar-benar menunjukan hubungan yang dinamis di antara sisi-sisi pengetahuan yang berbeda. Teori belajar holistik memperkenankan kita untuk memahami hubungan di antara komponen yang membentuk SDL dengan lebih baik. Garrison (1997) mengemukakan suatu model SDL komprehensif yang mencakup tiga elemen: (a) manajemen diri atau kontrol kontekstual, (b) pemantauan diri atau tanggung jawab kognitif, dan (c) motivasi atau keterlibatan/kewajiban. Dimensi kontrol kontekstual menunjukan pengendalian diri pelajar dan pembatasan kondisi kontekstual. Pemantauan diri menggambarkan kemampuan pelajar untuk memantau proses kognitif dan metakognitifnya, untuk menggunakan sebuah daftar strategi belajar, dan untuk memikirkan proses berpikir yang mereka jalani. Motivasi menentukan keputusan pelajar untuk memasuki atau keluar dari aktivitas belajar dengan kesadaran diri. Ketiga elemen ini mencerminkan ketiga domain sisi-sisi pengetahuan di dalam teori holistik. Kontrol kontekstual menunjukan pengetahuan implisit pelajar dalam suatu konteks pembelajaran tertentu, pemantauan diri atau tanggung jawab kognitif nampaknya menunjukan pengetahuan eksplisit dan faktor motivasi berhubungan dengan sisi emansipatif pengetahuan. Kemudian, teori belajar holistik menciptakan suatu hubungan timbal balik di antara ketiga elemen dan dengan gamblang menjelaskan bagaimana masing-masing elemen berinteraksi satu sama lain. Teori belajar holistik tidak hanya menentukan interaksi dinamis di antara ketiga elemen mayor dalam SDL sebagai proses vital dari pembelajaran bagi orang dewasa namun juga menjelaskan hubungan ketiganya dengan domain pengetahuan sosial/organisasional yang telah banyak diketahui.
Teori Belajar Reflektif Kritis
Berbagai konsep reflektif (Schon, 1983,1987,1991) dan praktek reflektif kritis (Brookfield, 1995; Mezirow, 1998) menentang epistomologi praktek profesional kaum positivis. Berbagai konsep dan teori yang berhubungan dengan pembelajaran dapat dijelaskan dengan perspektif teori belajar holistik, sekalipun kebanyakan konsep tersebut cenderung memfokuskan diri pada pembelajaran bagi orang dewasa pada level individual. Pertama-tama, seseorang dapat mempelajari sesuatu dnegan cara yang tidak reflektif. Pembelajaran non-reflektif menunjukan suatu proses di mana seorang pelajar memerlukan pengetahuan atau kemampuan dalam suatu domain yang spesifik tanpa harus mengaktifkan sisi pengetahuan lainnya. Sebagai contoh, seseorang dapat memperoleh kemampuan bawah sadar di tempat kerjanya tanpa harus memikirkan berbagai prinsip dan aturan yang melandasinya.
Kedua, kebanyakan model pembelajaran reflektif telah dimunculkan untuk menunjukan hubungan di antara pemikiran dan tindakan pelajar. Berdasarkan prinsip teori holistik pembelajaran reflektif dapat diinterpretasikan sebagai interaksi dinamis di antara sisi pengetahuan eksplisit dan implisit pada level manifestasi. Sebagai contoh, model pembelajaran eksperiental Kolb (1984) menggambarkan suatu proses pembelajaran berdasarkan pengalaman. Model ini memandang pembelajaran sebagai suatu proses peredaran yag terdiri atas empat fase: (a) pengalaman kongkret, (b) observasi dan refleksi, (c) pembentukan konsep abstrak, dan (d) menguji situasi baru. Barnet (1989, dikutip dalam Merriam dan Caffarella, 1999) merancang suatu model dengan menambahkan satu elemen tambahan, yakni perencanaan implementasi di antara fase ketiga dan keempat. Teori belajar holistik menyatakan bahwa pengalaman kongkrit, observasi dan refleksi yang dialami seseorang akan menghasilkan pengetahuan implisit yang berhubungan langsung dengan pengalaman yang ditemukan. Schon (1987) menggunakan istilah “reflection-in-action” untuk menunjukan proses pembelajaran dari praktek profesional dan kemudian membangun pengetahuan implisit. Sejumlah pengetahuan implisit mungkin dipandang sebagai “knowledge-in-action” atau “knowing-in-action”. Proses tersebut mencerminkan “suatu proses di mana kita dapat mengirim sesuatu tanpa bisa mengatakan apa yang telah kita lakukan” (hal.31). Fase pembentukan konsep abstrak menyerupai mode pembelajran konseptualisasi di dalam teori belajar holistik. Namun, Bennet membedakan dua level konseptualisasi: bagian pertama merupakan dimensi etika/moral dan bagian lainnya merupakan dimensi teknis. Karenanya, model yang dibuat mementingkan peran emansipatif di dalam proses pembelajaran. Fase yang baru ditambahkan, perencanaan implementasi, mencerminkan suatu model sistematisasi pembelajaran di dalam teori belajar holistik. Fase ini menunjukan adanya usaha pelajar dalam menciptakan rasionalisasi tindakan. Akhirnya, fase pengujian dalam situasi yang baru atau eksperimentasi aktif sama dengan model kontekstualisasi pembelajaran yang dikemukakan dalam teori belajar holistik.
Ketiga, kosep pembelajaran reflektif kritis juga dapat dijelaskan dengan teori belajar holistik terbaru yang telah dikemukakan. Gagasan praktek reflektif kritis telah menjabarkan konsep sebelumnya dan menyentuh domain pengetahuan emansipatif (Brookfield, 1995; Mezirow, 1998), sekalipun ide tersebut tidak dapat benar-benar memilah ketiga sisi dan lapisan pengetahuan. Teori belajar holistik tidakhnaya menunjukan hubungan di antara sisi-sisi pengetahuan yang berbeda namun juga menyatakan bahwa refleksi tak lebih dari sebuah interaksi di dalam dan di antara ketiga sisi pengetahuan. Refleksi kritis melibatkan perubahan dalam lapisan pondasi dari ketiga sisi pengetahuan. Lebih jauh lagi, teori belajar holistik juga dapat digunakan untuk menjabarkan konsep-konsep yang disebut-sebut sebagai pembelajaran dengan satu atau dua lingkaran (Argyris & Schon, 1978). Gagasan pembelajaran dengan satu lingkaran menunjukan usaha seseorang untuk mendeteksi kesalahan dan merencanakan tindakan di dalam kerangka kerja atau referensi yang digunakan. Pembelajaran dengan lingkaran ganda muncul bila seseorang harus “menggunakan modifikasi dari berbagai norma, kebijakan, dan tujuan yang mendasari suatu kelompok” (hal. 3). Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan satu lingkaran mengubah lapisan manifestasi di dalam ketiga sisi pengetahuan, sementara pembelajaran dengan dua lingkaran menggabungkan lapisan manifestasi dan pondasi dari pengetahuan.
Seluruh model dan konsep pembelajaran reflektif (kritis) yang ada nampaknya telah mengadopsi suatu pendekatan pragmatis terhadap pembelajaran bagi orang dewasa, meyakini bahwa pengalaman merupakan titik awal suatu pembelajaran. Pendekatan ini cenderung lebih menekankan pada sisi implisit pengetahuan daripada dua sisi pengetahuan lainnya. Pendekatan ini juga menunjukan adanya banyak isu dan masalah yang bersinggungan dengan pembelajaran kita yang dihasilkan dari praktek dan observasi. Sekalipun suatu asumsi dapat ditanamkan untuk kepentingan yang lebih besar, peran sisi-sisi pengetahuan lainnya di dalam pembelajaran tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Sebagai contoh, rasionalitas sebagai suatu kekuatan pengendali terhadap pengetahuan eksplisit, dapat menghasilkan pengetahuan yang valid tanpa adanya pengalaman langsung. Pluto, planet kesembilan di sistem tata surya, ditemukan hanya dengan suatu kalkulasi dan prediksi astronomis. Teori holistik membutuhkan pandangan yang seimbang terhdap pembelajaran dan menyatakan bahwa pembelajaran dapat dimulai pada domain manapun –teori, praktek, dan juga spirit manusia.
Teori Pembelajaran Sosial (Kognitif)
Teori pembelajaran sosial (kognitif) menyatakan bahwa orang belajar dengan mengamati objek lainnya pada sejumlah situasi sosial tertentu. Bandura (1977) meyakini bahwa “secara virtual, segala fenomena pembelajaran yang dihasilkan dari pengalaman langsung dapat muncul dalam suatu basis yang seolah dialami sendiri melalui observasi terhadap perilaku orang lain dan konsekuensinya terhadap perilaku” (hal. 392). Gibson (2004) mengemukakan empat elemen utama dari teori Bandura: (a) proses belajar observatif, (b) determinisme timbal-balik, (c) regulasi diri, dan (d) kemampuan diri. Elemen yang pertama, proses observatif atau pembelajaran “sosial”, memuat empat komponen: perhatian, ingatan atau memori, produksi perilaku dan motivasi. Elemen yang kedua, determinisme timbal-balik, menunjukan suatu proses di mana perilaku, kognisi dan faktor personal lainnya dari seorang pelajar berinterksi dengan pengaruh lingkungan. Teori tersebut menyatakan bahwa baik faktor lingkungan maupun individual saling mempengaruhi satu sama lain. Elemen yang ketiga, regulasi diri, merupakan suatu mekanisme yang memungkinkan seseorang untuk mengatur perilaku dirinya sendiri dengan menggambarkan konsekuensi kebangkitan diri. Elemen yang keempat, kemampuan diri, adalah kepercayaan seseorang pada kemampuannya untuk menunjukan suatu perilaku di dalam situasi tertentu dengan sebaik-baiknya.
Seluruh konsep yang dikemukakan oleh teori pembelajaran sosial dapat dijelaskan oleh teori belajar holistik. Contohnya, tiga proses pembelajaran sosial (antara lain perhatian, ingatan, dan produksi tingkah laku) mengindikasikan bagaimana pelajar mendapatkan pengetahuan implisit, dan yang terakhir (yakni motivasi) merepresentasikan pengaruh pengetahuan emansipatif di dalam pembelajaran. Konsep determinisme timbal-balik menunjukan interaksi mutual dari pengetahuan individual dengan lingkungan yang dihuninya. Konsep ketiga dari teori pembelajaran sosial (kognitif0, yaitu regulasi diri, mengharuskan pelajar mampu menghubungkan dan menyeimbangkan ketiga sisi pengetahuan. Dengan kata lain, regu8lsi diri dapat dipandang sebagai suatu mekanisme yang memungkinkan individu untuk menyeimbangkan pemikiran, tindakan dan motivasinya. Terakhir, konsep kemampuan diri menekankan peran penting dari kepercayaan seseorang pada kemampuan dirinya (sebagai suatu perkiraan menyeluruh pada ketiga sisi pengetahuan) dan pengaruhnya terhadap motivasi dan aksi.
Sekalipun hampir semua konsep pembelajaran sosial (kognitif) cenderung sesuai dengan teori belajar holistik, ada satu konsep terbaru yang menawarkan suatu perspektif pembelajaran bagi orang dewasa yang lebih luas. Teori pembelajaran sosial (kognitif) memadukan sejumlah proses kognitif ke dalam alasan mengapa seseorang belajar, teori pembelajaran sosial (kognitif) memfokuskan diri pada domain pengetahuan praktis/implisit dan kemudian tidak sepenuhnya dapat mengarahkan pembelajaran kepada dua domain pengetahuan lainnya. Orang tidak dapat belajar hanya dengan mengamati (merujuk pada model belajar partisipatif dalam teori belajar holistik) namun juga melalui berpikir dan dipengaruhi. Kedua, teori pembelajaran sosial (kognitif) tidak mampu menjelaskan ketiga sisi pengetahuan dan peran relatifnnya masing-masing. Mengingat teori pembelajaran sosial (kognitif) menyatakan bahwa pembelajaran dimulai dari domain behavioral melalui observasi dan model behavioral (misalnya dalam domain pengetahuan implisit/praktis), teori belajar holistik menganggap bahwa pembelajaran dapat dimulai dari ketiga sisi pegetahuan manapun. Pada kenyataannya, sistem pendidikan modern, semacam pendidikan profesional, biasnya dimulai dari pengajaran terhadap murid dengan pengetahuan eksplisit/teknis dan kemudian mengarahkan para murid tersebut untuk mengamati perilaku sesungguhnya melalui masa belajar dan praktikum. Tidak ada bukti yang dapat menunjukan bahwa suatu pendekatan pembelajaran/pengajaran tidak efektif, karena itu bertentangan dengan dalil-dalil teori pembelajaran sosial (kognitif). Keempat, teori pembelajaran sosial (kognitif) membatasi fokusnya pada pengetahuan yang eksis, terutama dalam domain pengetahuan implisit/praktis, dan kemudian mengabaikan kreativitas pelajar dan pengetahuan baru yang seringkali muncul di saat proses pembelajaran berlangsung. Bila orang mengamati dan meniru perilaku orang lain dengan mudahnya, maka tidak akan ada konsep dan teori di dalam basis pengetahuan mereka. Misalkan, teori pembelajaran sosial (kognitif) itu sendiri merupakan hasil dari konseptualisasi dari apa yang telah diamati oleh para pembuat teori, namun observasi itu sendiri tidak dapat menghasilkan berbagai teori atau konsep baru yang lain. Terakhir, konsep regulasi diri tidak dapat dijelaskan dengan mudah oleh teori pembelajaran sosial (kognitif). Bandura (1982) memandang bahwa orang serigkali tidak berlaku sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Dia menggunakan istilah regulasi diri untuk menunjukan suatu mekanisme yang menghubungkan aksi dengan pengetahuan seseorang. Teori belajar holistik memperbesar konsep ini dengan memperkenalkan ketiga kekuatan pengendali (misal, lapisan orientasi pada pegetahuan) pada setiap tindakan kita –rasionalitas, realitas, dan kebebasan. Teori belajar holistik menyatakan bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pemeliharaan keseimbangan di antara ketiga kekuatan pengendali.
Teori Pembelajaran Trasformasional
Pembelajaran trasformasional mendominasi pusat literatur pembelajaran bagi orang dewasa (Merriam dan Caffarella, 1999), dan pembelajaran trasformasional “sangat penting bagi PSDM” (Swanson & Holton, 2001, hal. 171). Mezirow (1978, 1991) merupakan arsitek dan pemimpin utama dari para pendukung teori pembelajaran trasformasional. Teori ini meggambarkan bagaimana seorang dewasa yang belajar dapat menginterpretasikan pengalaman hidupnya dan menciptakan suatu makna. Pembelajaran trasformasional dipandang sebagai
Suatu proses untuk menumbuhkan kepedulian pada bagaimana dan mengapa asumsi kita mempengaruhi jalan tentang dunia kita yang kita yakini, pahami dan rasakan; mengubah berbagai struktur ekspektasi kebiasaan tersebut untuk membuat suatu perspektif yang bisa lebih inklusif, diskriminan dan terpadu; dan akhirnya, memilih atau dengan kata lain bertindak dengan menggunakan berbagai pemahaman baru tersebut. (Mezirow, 1991, hal. 167)
Berbagai konsep pola makna dan perspektif makna sangat penting bagi teori ini. Pola makna adalah “kepercayaan, perasaan, sikap, dan penilaian yang spesifik,” sementara perspektif makna adalah “perspektif yang luas, general dan berorientasi” (Mezirow, 1991, hal. 163). Pembelajaran melibatkan perubahan baik pada polamakna ataupun perspektif makna. Transformasi perspektif adalah suatu proses untuk melibatkan diri pada kebebasan atas kepercayaan, sikap, nilai, dan perasaan yang dianut yang telah membatasi dan mengubah kehidupan mereka.
Di bawah pandangan teori belajar holistik, pola makna jatuh kepada lapisan manifestasi dari ketiga sisi pengetahuan dan perspektif makna pada dua lainnya; (a) pondasi dan (b) orientasi. Dalam hal ini, lapisan pondasi pada pengetahuan eksplisit berhubungan dengan asumsi yang epistemik, lapisan pondasi pada pengetahuan implisit bertaut dengan asumsi sosial dan kultural, dan lapisan emansipatif menandai asumsi fisik. Karena itu Mezirow (1978, 1991) membuat suatu definisi orisinal terhadap transformasi perspektif yang mengindikasikan suatu proses belajar yang membawa suatu perubahan dalam dua lapisan transformasional: (a) pondasi dan (b) orientasi. Teori holistik membedakan ketiga sisi pengetahuan dan kemudian menambahkan pemahaman baru tentang pembelajaran transformasional. Teori holistik menyatakan bahwa pembelajaran transformasional hanya dapat dimunculkan bila pengetahuan emansipatif pelajar berubah. Karenanya, beberapa aktivitas pembelajaran dapat menjadi reflektif dan menyebabkan perubahan perspektif makna di dalam domain pengetahuan eksplisit dan implisit, namun beberapa jenis aktivitas pembelajaran tersebut bisa saja bukan merupakan suatu pembelajaran transformasional karena pengetahuan emansipatifnya belum melewati perubahan yang sangat besar.
Teori pembelajaran holistik menganjurkan agar pembelajaran transformasional melibatkan perubahan mendalam dalam domain pengetahuan emansipatif. Perubahan yang sederhana atau penambahan pengetahuan eksplisit dan implisit dalam perspektif makna yang ada dengan hanya sedikit atau bahkan sama sekali tanpa perubahan di dalam domain emansipatif mungkin dipandang sebagai pembelajaran instrumental atau preservatif. Beberapa perubahan pada perspektif makna dalam domain pengetahuan eksplisit dan implisit (misal kerangka kerja referensi bagi kedua sisi) mungkin tidak akan menciptakan pembelajaran transformasional yang berarti (misal ; perubahan besar). Membedakan ketiga sisi dan lapisan pengetahuan dan peran relatif mereka dalam proses pembelajaran transformasional dapat meningkatkan studi atas pembelajaran transformasional.
Brooks (2004) mengemukakan empat cabang teoritis pembelajaran transformasional: (a) pendekatan rasional Jack Mezirow, (b) pendekatan Jungian, (c) teori emansipatif Paulo Freire (1970, 1972, 1973), dan (d) mode transformatif pembelajaran tindakan. Keempat cabang tersebut menghubungkan dalil-dalil teori belajar holistik. Pertama, daftar teori rasional Mezirow (1978, 1990, 1991) dengan cakupan proses kognitif pada pembelajaran transformasional. Teori ini menunjukan bahwa pembelajaran sebagian besarnya merupakan suatu proses individual yang dipengaruhi oleh rasionalitas. Berdasarkan pandangan teori pembelajaran holistik, pendekatan rasional ini menyarankan agar pelajar memiliki otonomi dan memandang peran sisi pengetahuan eksplisit dalam pembelajaran transformasional. Kedua, pendekatan Jungian pada pembelajaran transformasional nampak menekankan sisi pengetahuan emansipatif, sekalipun dalam level individual. Dengan didukung oleh agenda humanistik tentang aktualisasi diri, pendekatan ini menyatakan bahwa tujuan utama dari pembelajaran adalah untuk membebaskan pelajar dari kontrol bawah sadar individual dan pembatasan norma sosial. Ketiga, pendekatan Freire menyoroti hak dan keadilan sosial. Pendekatan ini menggunakan proses pembelajaran transformasional untuk memunculkan kesadaran pemahaman partisipan di dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Berdasarkan perspektif pembelajaran holistik, pendekatan ini bertujuan untuk mengubah pengetahuan emansipatif individual dan pengetahuan kritis yang dimiliki oleh suatu kelompok partisipan. Pendekatan ini menganggap sistem sosial yang ada terlalu mengekang, dan mereka yang terkekang harus dibebaskan melalui kesadaran kritis. Terakhir, pendekatan pembelajaran tindakan bertujuan untuk melakukan transformasi individual sekaligus organisasional. Berdasarkan pandangan teori belajar holistik, pendekatan ini bertujuan mengadakan suatu perubahan mendalam terhadap pengetahuan praktis yang dimiliki oleh sekelompok partisipan guna memecahkan berbagai masalah keseharian yang muncul di dalam kelompok.
Pedagogi Kritis
Pedagogi kritis merupakan suatu bentuk pendidikan orang dewasa yang berakar pada teori kritis. Teori kritis menyatakan bahwa pembelajara tidak semata-mata berkisar pada proses mental atau teknis guna memecahkan permasalahan dengan tujuan produktivitas dan efisiensi. Pedagogi kritis berpendapat bahwa pembelajaran bagi orang dewasa bukan sekedar proses individual, namun juga proses sosial dan politis (Cunningham, 2004). Pedagogi kritis menganggap pengetahuan bukan suatu entitas netral, namun merupakan suatu perangkat yang telah terbangun secara sosial dan politis. Ada beragam konseptualisasi yang berbeda di dalam pendidikan pedagogi kritis, dan tiga tema utamanya dapat ditemukan di antara beragam konseptualisasi tersebut, termasuk di antaranya kelas sosial, kekuatan dan pengekangan, pengetahuan dan kebenaran (Merriam & Caffarella, 1999). Pola pertama menggambarkan perhatian terhadap ketimpangan sosial yang tercermin dalam ras, gender, dan kelas sosial dan ekonomi. Tema ini menyarankan diselenggarakannya berbagai pengkajian politik dan ekonomi terhadap pembelajaran dan pendidikan. Tema kedua menganggap bahwa ketimpangan sosial merupakan hasil dari kekuatan sistem yang hegemonik. Pedagogi kritis berniat membekali mereka yang dikekang oleh kekuatan sistem yang ada, semacam perusahaan multinasional atau lembaga pemerintah yang berkuasa, dengan diskursus rasional tentang sumber kekuatan, pengetahuan dan pengekangan. Tema ketiga dari pedagogi kritis berada pada sifat dasar pengetahuan dan kebenaran. Tema ini menganggap bahwa pengetahuan telah terkontruksi secara sosial dan bahwa kebenaran itu relatif. Beberapa pendukungnya bahkan lebih jauh lagi menganggap bahwa tidak ada satu pun kebenaran atau realitas yang bebas dari jangkauan manusia.
Pedagogi kritis dan akarnya, yakni teori kritis bertentangan dengan teori holistik tentang pengetahuan dan pembelajaran dalam hal domain pegetahuan. Sebenarnya, gagasan tiga sisi pengetahuan yang dianut oleh teori holistik terinspirasi oleh tipologi pengetahuan yang dicetuskan oleh Habermas (1971). Habermas (1971, 1984) mengungkapkan tiga macam pengetahuan (teknis, praktis dan emansipatif) dan menganggap bahwa ketiga tipe pengetahuan tersebut dapat memenuhi tiga macam kebutuhan manusia yang berbeda –yaitu teknis, komunikatif dan emansipatif. Teori holistik meminjam tiga konsep tersebut dengan menggunakan suatu pandangan yang dialektis. Teori terbaru yang dikemukakan menganggap bahwa ketiga sisi pengetahuan dan kepentingan manusia yang saling berhubungan tidak dapat dipisah-pisah, sekalipun semuanya memiliki karakter yang berbeda dan dikendalikan oleh kekuatan yang berbeda pula. Ketiganya merupakan suatu kesatuan dan tensi yang menentukan dan mendorong pengembangan dan pembelajaran manusia.
Sekalipun pedagogi kritis juga mengenal interaksi dinamis di antara individu dan konteks sosial, namun pedagogi kritis menyoroti pengetahuan sebagian besarnya pada level individual. Berdasarkan perspektif teori belajar holistik, pengetahuan sosial seperti pengetahuan yang ada dalam suatu kelompok atau organisasi bukan sekedar kumpulan kepercayaan yang sederhana yang berasal dari para anggotanya. Baik pedagogi kritis maupun teori belajar holistik memandang bahwa pengetahuan praktis/implisit ditentukan oleh sosialisasi, namun keduanya memiliki pandangan yang berbeda terhadap kedua sisi pengetahuan yang lainnya. Untuk sisi pengetahuan teknis/eksplisit, banyak ahli teori dan postmodernis yang menganggapnya sebagai multi-realitas dan kemudian menyangkal konsep kebenaran. Namun teori belajar holistik menganggapnya sebagai suatu realitas tunggal dan menganggap kemampuan manusia yang terbatas dapat menemukan kebenaran di dalam suatu fenomena yang kompleks. Di satu sisi, pengetahuan dipandang sebagai bangunan yang dibangun dari suatu proses perspektif yang berhubungan dengan interaksi dinamis di antara ketiga sisi pengetahuan dan tendensi bahwa manusia menolak atau menyangkal informasi yang tidak sama dengan struktur pengetahuan yang mereka miliki. Sementara itu di sisi lainnya, teori belajar holistik menyatakan dunia yang kompleks telah mendorong kita untuk merasakan segalanya secara berbeda dan karenanya memiliki interpretasi yang berbeda pula. Karena itu, berbagai interpretasi tersebut tidak dapat begitu saja dipandang sebagai kebenaran karena tidak semuanya memiliki tingkat validitas yang sama.
Berkenaan dengan sumber validasi sisi pengetahuan kritis/emansipatif, pedagogi kritis dan teori belajar holistik memiliki perbedaan pandangan. Sekalipun banyak ahli teori kritis yang menempatkan pengetahuan kritis/emansipatif pada interpretasi dan kesadaran pengetahuan praktis/implisit, teori belajar holistik menekankan pentingnya validasi peran pengetahuan teknis/eksplisit. Pedagogi kritis beranggapan bahwa suatu bagian dari pengetahuan emansipatif/kritis kita telah menyimpang karena rasionalitas teknis, namun pandangannya sendiri memiliki paradoks karena implikasi praktisnya sangat rasional sekali. Teori belajar holistik menjaga nilai logika dan alasan. Faktanya, seseorang dapat melihat ada banyak binatang yang juga menguasai ketiga sisi pengetahuan dan sejumlah perangkat intelegensia yang diperlukan dalam pembelajaran. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah super-rasionalitas yang hanya dimiliki oleh manusia. Sebuah penelitian terbaru telah menemukan bahwa kera juga memiliki rasa keadilan dan kesetaraan (Brosnan & de Waal, 2003). Bagaimanapun, tidak mungkin sekelompok kera dapat membangun sistem sosial yang bagus untuk menjamin berlangsungnya keadilan seperti yang dilakukan oleh manusia. Rasionalitas pula yang telah membawa manusia keluar dari jurang zaman kegelapan atau Dark Ages.
Karena itu, teori holistik menyerukan perlu adanya keseimbangan pandangan terhadap ketiga sisi ilmu pengetahuan. Teori belajar holistik menyatakan bahwa ketiga kekuatan yang mengendalkan pengetahuan senantiasa berpindah ke dalam berbagai arah yang tidak terbatas jumlahnya. Seperti halnya kekuatan pengendali sisi teknis eksplisit pengetahuan, rasionalitas merepresentasikan suatu arah, karena rasionalitas memerlukan suatu pemahaman total terhadap semesta. Sekalipun memang tidak memungkinkan untuk dapat menjangkau rasionalitas total (yang tidak terhingga), manusia tidak boleh menyerah dan berhenti berusaha untuk menemukan kebenaran dan rasionalitas berdasarkan sumber-sumber pengetahuan yang tersedia. Selain itu, dengan bersikap realistis atau dengan menggunakan kekuatan pengendali terhadap sisi pengetahuan kritis/emansipatif, manusia cenderung akan semakin merasa bahwa dunia yang kompleks dan senantiasa berubah ini memang tidak terbatas. Kebebasan dan keadilan sosial, kekuatan pengendali terhadap sisi pegetahuan kritis/emansipatif akan semakin terasa tidak terbatas karena masalah yang dihadapi oleh manusia pada umumnya berkisar pada ketidakpuasan pada hasrat yang tidak tersalurkan dan keterbatasan sumber. Karenanya, teori belajar holistik mengusulkan agar memadukan ketiga sisi pengetahuan dalam suasana harmoni yang lebih besar. Pedagogi/teori kritis menyatakan bahwa ada nilai-nilai umum yang harus dimiliki oleh setiap manusia semacam keadilan sosial, kesetaraan, kesamaan, kemampuan personal, keamanan dan kebebasan. Bila memperhatikan keadaan dunia saat ini, seharusnya masyarakat kapitalis yang sangat menghargai nilai-nilai produktivitas dan efisiensi sangat perlu dan bahkan wajib menghargai nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti keadilan dan kesetaraan sosial. Pada umumnya masalah sosial dan global justru bukan disebabkan oleh inefisiensi. Ini bisa dilihat dengan mudah pada kebanyakan komoditas yang ternyata berlebih. Resesi ekonomi modern bukan disebabkan oleh kurangnya suplai barang dan jasa namun lebih banyak disebabkan oleh kebutuhan yang stagnan dan kurang tercukupi dalam diri konsumen biasa. Sangat normal sekali bagi kelompok- kelompok sosial untuk memiliki perbedaan satu sama lain, dan juga memiliki pemahaman yang berbeda terhadap idsu sosial. Sistem politik yang demokratis harus dapat memberikan mekanisme yang sesuai, seperti dialog dan negosiasi, untuk mengatasi beragam perbedaan tersebut beserta segala ancaman konflik yang dapat muncul dari perbedaan tersebut.
Pandangan pedagogi kritis yang menyatakan bahwa pembelajaran bukan sekedar suatu proses psikologis dari seorang pelajar individual adalah benar. Pembelajaran juga harus dipandang sebagai suatu proses sosial dan politis. Ungkapan bahwa sistem pendidikan/pembelajaran modern telah memangkas jarak pengetahuan, kesejahteraan dan kehidupan yang layak pun adalah benar adanya. Harus dicatat pula bahwa kehidupan manusia yang lebih layak telah meningkat. Ini ditunjukan oleh sejumlah indikator, misalnya meningkatnya angka harapan hidup dan menurunnya tingkat kematian bayi. Dengan mencermati pembelajaran kontemporer di lapangan, pedagogi kritis mengungkapkan bahwa globalisasi ekonomi telah dikendalikan oleh keuntungan usaha yang menjadi beban para pekerja. Kenyataannya, berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan proses manufaktur telah banyak yang hilang, tidak hanya di negara-negara maju, namun juga di negara-negara berkembang, bersamaan dengan meningkatnya produkivitas (Colvin, 2003). Tidak seperti yang diperkiraan banyak pihak, Cina yang merupakan negara berkembang mengalami banyak kehilangan pekerjaan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun tidak diragukan lagi bahwa standar kehidupan di negara tersebut telah meningkat secara signifikan sejak diterapkannya kebijakan reformasi ekonomi. Berdasarkan perspektif pedagogi kritis, banyak ahli PSDM yang menjadi bagian dari kepentingan perusahaan dan kemudian hanya menyumbangkan sedikit perhatian untuk tindakan sosial untuk memajukan suatu masyarakat yang layak dan setara. Teori pembelajaran holistik memandang bahwa interpretasi kita terhadap keadilan dan kesetaraan sosial menjadi landasan bagi berbagai komponen utama pengetahuan kritis/ emansipatif bersama dan harus diperkenalkan pada seluruh anggota kelompok sosial. Perusahaan-perusahaan cenderung lebih menghargai pengetahuan teknis/eksplisit daripada pengetahuan kritis/emansipatif karena adanya tekanan produktivitas dan efisiensi. Teori belajar holistik memandang bahwa produktivitas dan efisiensi merupakan refleksi dari nilai-nilai inti kapitalisme. Teori tersebut juga menunjukan bahwa nilai-nilai bersama yang ada bukan merupakan suatu proses langsung. Pengetahuan kritis/emansipatif perlu didukung dan di validasi oleh dua sisi pengetahuan lainnya, pengetahuan teknis/eksplisit dan pengetahuan praktis/implisit.
Berbagai Implikasi Terhadap Riset dan Praktek PSDM
Berbagai pengkajian terhadap beragam teori umum kontemporer yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa berdasarkan teori belajar holistik tersebut memiliki beragam implikasi terhadap riset dan praktek PSDM. Teori holistik untuk pembelajaran bagi orang dewasa merupakan sebuah teori yang relatif baru yang memberikan suatu perspektif komprehensif pada proses pembelajaran orang dewasa. Teori tersebut memiliki implikasi tersendiri bagi pembangunan teori dan riset dalam bidang PSDM. Pertama, teori belajar holistik menyediakan suatu kerangka kerja yang sangat membantu dalam menguji teori pembelajaran yang ada. Teori belajar holistik memandang bahwa pembelajaran muncul sebagai interaksi dinamis di antara berbagai konteks sosial, kognisi, dan motivasi. Walaupun masing-masing teori umum dalam pembelajaran bagi orang dewasa cenderung memfokuskan diri pada berbagai sisi atau lapisan pengetahuan yang terbatas, teori belajar holistik memerlukan adanya pendekatan terpadu pada pembelajaran di lapangan. Pada umumnya, para pendidik dan ahli cenderung memahami nilai dari suatu pendekatan holistik secara intuitif, namun mereka dibatasi oleh kurangnya pemahaman terhadap kerangka kerja integratif. Teori holistik untuk pembelajaran bagi orang dewasa bertentangan dengan literatur umum yang membahas ketiga sisi ilmu pengetahuan dan menciptakan suatu perangkat analitik untuk mengkaji atau menelaah kembali konsep dan teori dalam bidang pembelajaran orang dewasa dan PSDM yang telah ada. Sebagai contoh, andragogi telah menjadi pendekatan yang banyak digunakan dalam pelatihan, namun hanya sedikit riset yang telah dilakukan untuk menguji apakah berbagai prinsip inti bagi pelajar dewasa dapat dipertahankan atau tidak. Teori belajar holistik menyoroti tiga lapisan pengetahuan (pondasi, manifestasi, dan orientasi) dan kemudian melahirkan suatu perangkat yang efektif untuk mengkaji berbagai asumsi di dalam teori tersebut. Berdasarkan poerspektif teori belajar holistik, beberapa prinsip inti dari pembelajaran di dalam andragogi hanya merupakan asumsi-asumsi belaka yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebagai contoh, asumsi motivasi intrinsik pelajar dan asumsi terhadap pengetahuan yang telah ada tidak mungkin diterapkan pada semua pelajar dalam segala situasi, hal tersebut bergantung pada karakteristik pelajar dan segala situasinya.
Kedua, teori belajar holistik tidak hanya menyediakan suatu kerangka kerja terpadu untuk menguji berbagai teori yang telah ada, namun juga memberikan arah bagi pembangunan riset dan teori di masa yang akan datang. Teori belajar holistik meyakini bahwa ada interaksi dinamis di antara ketiga sisi dan lapisan pengetahuan pada level individual maupun sosial yang menentukan proses pembelajaran bagi orang dewasa. Karenanya, berbagai studi di masa yang akan datang harus dilakukan untuk menciptakan berbagai mekanisme interaksi di antara faktor-faktor individual dan sosial. Untuk contoh, kita akan kembali menyoroti andragogi. Konsep ini memfokuskan sebagian besar perhatiannya pada karakteristik individual pelajar dan tidak mampu menunjukan pengaruhnya pada faktor sosial dan kelomok. Konsep pembelajaran orang dewasa lainnya, yakni SDL, juga menempatkan individu sebagai fokus utama. Berdasarkan perspektif teori belajar holistik, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang lebih efektif akan muncul bila ada kesesuaian di antara pengetahuan emansipatif pelajar (kebutuhan pembelajaran langsung dan motivasi) dengan pengetahuan kritis dalam kelompok. Karenanya, pengkajian terhadap berbagai teori umum yang membahas pembelajaran orang dewasa berdasarkan teori holistik ini menghasilkan sejumlah hipotesis dari riset yang berharga bagi penelitian di masa yang akan datang.
Ketiga, teori belajar holistik memiliki implikasi bukan hanya bagi pembelajaran individual namun juga pembelajaran, perubahan, dan pegembangan kelompok. Henderson (2002) membandingkan beberapa teori perubahan yang telah ada di dalam bidang pengembangan organisasi, pembelajaran kelompok, pembelajaran orang dewasa dan pengembangan psikologi. Henderson menyimpulkan bahwa perubahan berbagai teori pada level indiviodual dan kelompok tidak saling berkaitan satu sama lain. Berbagai teori yang membahas transformasi dan perubahan organisasi cenderung bersifat deskriptif dan seringkali tidak dapat mengarahkan proses bagi perubahan individual. Banyak teori yang menyatakan bahwa individu di dalam kelompok akan beradaptasi pada perubahan lingkungan. Karenanya, berbagai teori tersebut tidak mencermati berbagai perubahan internal pada level individual. Sekalipun berbagai teori yang membahas pembelajaran dan perubahan individual telah menghasilkan deskripsi yang banyak dan detail bagi proses transformatif individual, bukti yang ada telah menunjukan adanya hubungan di antara pembelajaran transformatif individual dengan perubahan kelompok. sejumlah bukti yang ditemukan juga cenderung mendukung suatu pandangan integratif dan holistik terhadap transformasi individu dan kelompok. Karena itu, berbagai penelitian di masa yang akan datang perlu mengkaji peran ketiga sisi dan lapisan pengetahuan yang berbeda dalam perubahan transformasional. Berbagai studi di dalam pengembangan kelompok harus menguji interaksi dinamis di antara pengetahuan individu dan kelompok dan menemukan pengaruh sisi-sisi pengetahuan yang berbeda terhadap transformasi individual dan juga kelompok.
Berbagai analisis tersebut juga dapat menghasilkan implikasi bagi praktek PSDM. Dengan menguji berbagai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing teori kontemporer yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa, artikel ini juga memberikan sejumlah informasi yang berharga bagi para praktisi PSDM. Sekalipun para praktisi pada umumnya cenderung menghargai suatu pendekatan holistik di dalam pembelajaran, mereka pada umumnya kurang memiliki pemahaman terhadap kerangka kerja yang baik. Analisis terhadap beragam teori tersebut memberikan suatu perspektif integratif yang dapat berperan sebagai model baru dalam praktek PSDM. Sebagai contoh, pengkajian terhadap andragogi telah memperlihatkan bahwa beberapa prinsip inti dari konsep ini merupakan gabungan dari asumsi dan dalil. Para praktisi PSDM harus mencermati bahwa beragam asumsi tersebut tidak dapat dijalankan di dalam segala situasi. Di dalam situasi tertentu, semacam pelatihan pemadam kebakaran, di mana pelajar memiliki pengetahuan yang kurang dan hanya memiliki pengetahuan teknis, maka isi dan prosedur pelatihan tidak dapat dan tidak harus dibicarakan lagi bila konsensus yang menyangkut tujuan telah ditentukan dengan jelas. Maka, prinsip pembuatan tujuan pembelajaran yang mutual dan bantuan bagi mereka untuk menilai hasil yang diinginkan seperti yang dikemukakan oleh teori andragogi harus dibatasi. Bila sisi pengetahuan kritis telah benar-benar dipahami oleh kelompok, instruktur, dan partisipan pendukung, maka proses instruksional perlu mengkonsentrasikan diri pada dua domain pengetahuan lainnya.
Kesimpulan
Seluruh poin di dalam suatu teori –segala jenis teori di dalam bidang akademik atau profesional apapun- bertujuan untuk memberikan penjelasan yang memadai terhadap fenomena alam atau sosial dengan cara yang eksplisit. Berdasarkan perspektif pembelajaran holistik, teori adalah suatu konstruksi eksplisit yang membicarakan konsep dan konstruksi yang bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu. Berdasarkan teori holistik bagi pembelajaran orang dewasa yang baru saja dikembangkan, artikel ini menemukan hubungan antara teori yang baru saja dimunculkan tersebut dengan sejumlah teori kontemporer dalam bidang pembelajaran orang dewasa. Pada umumnya, teori yang membahas pembelajaran bagi orang dewasa cenderung menelaah pengetahuan dan pembelajaran secara umum dan tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan dalam bidang pembelajaran bagi orang dewasa. Berbagai implikasi yang muncul bagi teori, riset, dan praktek PSDM telah dibahas di dalam artikel ini. Penelitian diperlukan untuk mengkaji interaksi dinamis di antara sisi-sisi dan lapisan-lapisan pengetahuan baik pada level individual maupun level kelompok. Lebih jauh lagi, para praktisi PSDM harus mencermati kekurangan dan keterbatasan dari berabagai teori pembelajaran yang telah ada, termasuk teori pembelajaran holistik yang terbaru ini.
Baiyin Yang adalah profesor bidang pengembangan sumber daya manusia dan pembelajaran orang dewasa di Universitas Minnesota. Dia mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas Georgia dan sebelumnya mengajar di Universitas Auburn dan Universitas Idaho. Penelitian utamanya difokuskan pada validasi dan pengembangan teori pengetahuan holistik dan pembelajaran bagi orang dewasa. Bidang penelitiannya mencakup perencanaan dan evaluasi program, pembelajaran orang dewasa dan kelompok, cara-cara mempengaruhi dan memperkuat, studi perilaku dan pembelajaran kelompok lintas budaya, dan metode-metode penelitian kuantitatif. Sekarang ini, beliau menjabat sebagai editor metode kuantitatif pada Human Resource Developmental Quarterly dan editor konsultan pada Adult Education Quarterly.
uat, studi perilaku dan pembelajaran kelompok lintas budaya, dan metode-metode penelitian kuantitatif. Sekarang ini, beliau menjabat sebagai editor metode kuantitatif pada Human Resource Developmental Quarterly dan editor konsultan pada Adult Education Quarterly.
Topics: Family & Education >< Pendidikan & Keluarga | No Comments »







