• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus
    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus by Mahardhika Zifana
    My rating: 5 of 5 stars
    View all my reviews

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « | Home | »

    Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (1)

    By admin | October 22, 2009

    Bahasa bisa dianggap sebagai suatu sistem komunikasi dengan penanda (signifie) pada satu sisi, dan tertanda (signified) di sisi lain. Terlepas dari hal tersebut, masalah dasar semantik adalah bagaimana menentukan hubungan di antara keduanya.

    Salah satu pandangan tertua dalam masalah ini ditemukan dalam kitab dialog Plato, Cratylus. Pada dialog tersebut, Plato menyatakan bahwa penanda (signifie) adalah kata dalam bahasa dan tertanda (signified) adalah objek di dunia yang ‘berdiri untuk’, ‘merujuk pada’, atau ‘menunjukkan’. Dengan kata lain, kata-kata adalah ‘nama’ atau ‘label’ untuk benda-benda.

    Pada awalnya, pandangan ini merupakan suatu pandangan yang menarik, karena nampak bahwa semua bahasa memiliki kata-kata atau ungkapan, seperti John Smith, Paris, Wesnesday, yang disebut kata benda, dengan fungsi penamaan atau label. Seorang anak mempelajari banyak kata melalui proses penamaan. Dia biasanya diberi tahu nama-nama benda oleh orangtuanya, dan upaya berbahasa pertama darinya akan melalui tahapan di mana ia hanya membuat bunyi ‘Da da’ ketika dia melihat ayahnya, atau memproduksi nama-nama dalam versinya sendiri untuk menyebut kereta api, bus, kucing, dll., ketika ia melihat objek yang relevan dalam kehidupan nyata atau dalam sebuah buku.

    Sebelum kita lanjutkan, kita dapat menyimpulkan dua poin terminologis. Pertama, walaupun kita telah membahas tentang kata-kata, kita perlu membicarakan rangkaian kata-kata, biasanya dengan identitas gramatikal, misalnya seluruh frasa nomina. Untuk kepentingan ini, kita akan menggunakan istilah EKSPRESI. Kedua, kita perlu menetapkan perbedaan antara DENOTASI dan REFERENS (Lyons 1977:206-7). Denotasi digunakan untuk menunjukkan kelas orang, benda, dll., serta pada umumnya diwakili oleh ekspresi. Sementara Referens digunakan untuk menunjukkan orang-orang, hal-hal, dll. yang sesungguhnya, yang dirujuk oleh itu dalam konteks tertentu. Dengan demikian, sapi akan menunjukkan kelas dari semua sapi, tapi sapi itu juga akan merujuk pada sapi tertentu. Sayangnya, tidak ada konsistensi di kalangan para ahli dalam penggunaan istilah-istilah ini.

    • Share/Bookmark

    Topics: Linguistics >< Linguistik | No Comments »

    Comments

    rahasia-kaum-falasha