« Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (1) | Home | Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (3) »
Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (2)
By admin | October 23, 2009
Ada banyak kesulitan dengan pandangan tentang penamaan. Awalnya, nampak bahwa ini hanya diterapkan kepada kata benda (atau ekspresi nomina secara umum); memang tata bahasa tradisional sering mendefinisikan kata benda, berbeda dari kata sifat, kata kerja, preposisi, dan sebagainya, sebagai ‘nama seseorang atau sesuatu’. Jika bukan mustahil, hal ini mempersulit perluasan teori penamaan guna memasukkan bagian-bagian lain dalam bahasa lisan. Tak diragukan lagi bahwa warna dapat diberi label, seperti yang dilakukan pada grafik warna. Dengan demikian sangat mungkin bahwa kata warna (adjektiva), dapat dianggap sebagai nama. Tapi ini sama sekali tidak masuk akal untuk diberlakukan kepada sebagian besar adjektiva lainnya. Sejak awal tulisan ini, saya telah menggunakan kata sifat: menarik, relevan, bermanfaat, tradisional, sulit, dan masuk akal. Berapa banyak kata-kata ini dapat digunakan sebagai label untuk mengidentifikasi sesuatu yang dinyatakan? Intinya bahkan nampak lebih jelas pada masalah verba. Secara virtual, hampir tidak mungkin untuk dapat mengidentifikasi apa yang ‘dinamai’ oleh kata kerja. Bahkan jika kita mengambil sebuah kata kerja seperti ‘run’ dan berusaha untuk menggambarkan dengan anak laki-laki berjalan (baik dalam gambar diam atau bergerak) tidak ada cara yang jelas di mana kita dapat mengisolasikan ‘berjalan’ sebagai bagian dari itu. Dengan menggunakan kata benda, kita seringkali dapat menggambar objek yang dilambangkannya. Tapi ini sulit dilakukan pada kata kerja. Maka, mari kita pikirkan verba ‘run’ dan berusaha untuk menggambarkan apa yang ditunjukkan dengan gambar seorang anak laki-laki berjalan. Ada dua kesulitan yang muncul (bahkan jika kita memiliki gambar bergerak). Pertama, kita tidak diberi sajian terpisah antara ‘boy’ (seorang anak laki-laki) dengan ‘running’ (berlari). Kita membutuhkan metode yang cukup memuaskan untuk memisahkan keduanya. Kedua, bahkan hingga sejauh kita dapat membedakan anak laki-laki dan ‘apa yang dia lakukan’, akan jauh lebih sulit untuk mengidentifikasi secara tepat tentang karakteristik yang penting dari apa yang dinyatakan oleh verba daripada apa yang dinyatakan oleh kata benda. Misalnya, apakah berjalan hanya melibatkan gerakan kaki atau lengan juga terlibat? Apakah kita perlu melibatkan perubahan posisi? Apakah kecepatan juga relevan? Jelas tidak ada sesuatu yang dapat dengan mudah dikenali dan diidentifikasi sebagai ‘berlari’. Masalahnya bahkan jelas lebih sulit pada kata-kata semacam remember, like, atau see. Pertimbangan serupa juga berlaku untuk preposisi (up, under) dan konjungsi (when, because), kemudian kata ganti (I, he) bahkan membuat masalah ini lebih sulit, karena mereka menyatakan hal yang berbeda pada waktu yang berbeda.
Terlepas dari masalah tersebut, dapatkah kita mempertahankan teori penamaan, tetapi menerapkannya pada kata benda saja? Terdapat beberapa kata benda, seperti egunicorn, goblin, fairy, yang berhubungan dengan makhluk-makhluk yang tidak ada; mereka tidak nyata dan menyatakan benda-benda yang ada di dunia. Salah satu jalan keluar dari kesulitan ini adalah dengan membedakan dua macam dunia, yakni dunia nyata dan dunia dongeng. Tapi dengan begitu, kita mengakui bahwa kata-kata tidak hanya berupa nama sesuatu dan itu harus melibatkan beberapa penjelasan yang cukup memuaskan, yaitu dengan menganalogikannya –mulai dari memberikan nama kepada objek di dunia nyata, hingga memberikan nama kepada objek yang tidak ada. Memberikan penjelasan untuk hal tersebut sangat mungkin, namun sejumlah kata menjadi bukti dari fakta bahwa kata-kata tidak hanya dinamai berdasarkan obyek pengalaman kita.
Topics: Linguistics >< Linguistik | No Comments »







