• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Rahasia Kaum Falasha Rahasia Kaum Falasha by Mahardhika Zifana

    My review

    rating: 5 of 5 stars


    View all my reviews.

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (2) | Home | Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (4) »

    Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (3)

    By admin | October 24, 2009

    Ada beberapa kata benda yang sama sekali tidak mengacu pada objek fisik, juga tidak mengacu pada item imajiner. Jadi kita tidak dapat mengidentifikasi objek yang dinamai cinta, benci, inspirasi, omong kosong. Ketika para ahli tata bahasa berbicara tentang kata benda yang menjadi nama benda-benda tertentu, kita dapat mempertanyakan apakah cinta, benci, dsb. adalah kata benda. Jika mereka bersikeras mengatakan ‘Ya, namun benda tersebut adalah abstrak’, maka jelas bahwa satu-satunya alasan mengapa para ahli itu menyebut kata-kata tersebut sebagai benda adalah karena kata-kata benda tersebut berhubungan dengan apa yang dimaksudnya. Akan tetapi, kemudian seluruh definisi menjadi sirkuler, ketika sesuatu dinamai dengan kata benda.

    Bahkan sekalipun ada benda-benda fisik yang yang dapat diidentifikasi, itu tidak berarti bahwa makna kata atau ungkapan yang relevan tersebut sama dengan denotasinya. Salah satu contoh yang paling dikenal untuk menggambarkan masalah ini ialah the evening star dan the morning star. kedua frasa tersebut dapat dikatakan memiliki makna yang sama, keduanya juga mendenotasikan satu objek, yakni Planet Venus. Serupa dengan hal tersebut, kita dapat menyatakan apa yang di dalam The Mikado karya Gilbert & Sullivan disebut sebagai First Lord of the Treasury, Lord Chief Justice, Commander in Chief, Lord High Admiral, Master of the Buck Hounds dan sebutan lainnya merujuk kepada Pooh-Bah saja. Berdasarkan fakta ini, maka jika pembahasan ini dimulai dengan menyitir nomina yang tepat akan menyesatkan. Karena berbagai nomina tersebut digunakan untuki merujuk orang, tempat, waktu tertentu, dsb., dapat diperdebatkan apakah benda tersebut memiliki denotasi dan semuanya dapat disebut memiliki makna sendiri. Secara normal, kita tidak akan bertanya What does John Smith mean? atau What is the meaning of Paris?

    Kesulitan lainnya adalah kenyataan bahwa jika kita membatasi perhatian kita pada kata-kata yang berhubungan dengan benda-benda yang terlihat di dunia sekitar kita, mereka cenderung sering tampak menunjukkan keseluruhan perangkat objek yang berbeda. Contohnya kursi, dinyatakan dalam segala macam ukuran dan bentuk, namun secara pasti apakah yang menjadikan kursi tersebut sebagai kursi yang memiliki sandaran atau tanpa sandaran? Seringkali garis pemisah di antara benda yang didenotasikan oleh satu kata dan benda lain yang didenotasikan oleh kata lainnya saling tumpang tindih dan samar. Bagaimana sebuah bukit memang menunjukan sebuah buki dan bukan gunung? Atau anak sungai bukan sungai? Dalam dunia pengalaman, objek tidak dikelompokkan bersama-sama secara jelas, demikian pula untuk berbicara, untuk pemberian label dengan satu kata. Ini adalah masalah yang telah mengganggu para filsuf sejak zaman Plato. Ada dua penjelasan ekstrim, tetapi jelas tidak membantu. Salah satunya adalah pandangan ‘realis’ bahwa segala sesuatu yang disebut dengan nama yang sama memiliki beberapa properti yang sama –bahwa ada beberapa jenis realita yang menetapkan apa yang dimaksud sebuah kursi, sebuah bukit, sebuah rumah. Kedua, pandangan ‘nominalis’ bahwa mereka tidak memiliki kesamaan apapun selain nama. Pandangan yang kedua jelas salah karena kita tidak menggunakan kursi atau bukit untuk menyebut objek yang benar-benar berbeda – objek-objek dinamakan begitu karena memiliki kesamaan. Akan tetapi pandangan yang pertama pun tak kalah invalid. Karena tidak ada kelas-kelas objek yang didefinisikan secara natural di dunia sekitar kita, menunggu label untuk diterapkan atasobjek-objek tersebut; salah satu bagian masalah di dalam semantik adalah untuk menetapkan kelas apa sajadi sana. Bahkan sekalipun tidak ada kelas yang natural, dapat dinyatakan bahwa ada kelas-kelas yang ‘universal’, kelas yang umum ada pada semua bahasa. Namun dalam hal ini tidak bisa begitu. Klasifikasi objek dalam bentuk kata-kata digunakan untuk mendenotasikan mereka berbeda dari bahasa satu bahasa ke bahasa lainnya. Contohnya jika kita mengambil kata bahasa Inggris stool, chair, arm-chair, couch, sofa, kita tidak akan menemukan ekivalen yang sangat pas sekali di dalam bahasa lainnya. Kata bahasa Perancis fauteuil memang nampak seolah ekivalen dengan kata bahasa inggris arm-chair, namun mengingat adanya lengan (arms) mungkin menjadi karakter esensial dari arm-chair, maka tidak demikian pada fauteuil. Pertimbangan yang sama dapat berlaku pada kata chest of drawers, sideboard, cupboard, wardrobe, tallboy, dsb. Sistem-sistem warna dalam berbagai bahasa juga nampak berbeda-beda, terlepas dari sistem ‘alamiah’ pada pelangi. Kata-kata dalam bahasa seringkali tidak mencerminkan begitu banyaknya realitas dalam dunianyata, namun mencerminkan kepentingan orang-orang yang berbicara dalam bahasa itu sendiri. Hal ini cukup jelas jika kita melihat kebudayaan-kebudayaan yang berbeda dari kita sendiri. Malinowski (1920 [1949: 299-300]) mencatat bahwa para penduduk pulau Trobiand menetapkan nama-nama untuk hal-hal yang berguna bagi mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari yang tidak berhubungan dengan kata-kata dalam bahasa Inggris. Demikian pula, Boas (1911:20) mencatat bahwa orang-orang Eskimo memiliki empat kata untuk ‘snow’ (salju) –‘Snow on the ground’ (salju di tanah), ‘falling snow’ (hujan salju), ‘drifting snow’ (salju hanyut) dan ‘snowdrift’ (timbunan salju). Sementara, Whorf (1956:210) mengemukakan orang-orang Hopi hanya memiliki satu kata untuk mendenotasikan sebuah ‘benda terbang’ –baik untuk sebuah pesawat terbang, seekor serangga, atau bahkan seorang pilot. Tetapi bahkan jika kita mengakui relevansi budaya, kita hampir tidak dapat menerima bahwa realitas kultural dikategorikan independen dari bahasa dan telah tersedia, demikia pula berbicara, memiliki komponen-komponen yang diberi label dengan kata-kata.

    Sayangnya, kita juga dapat terkacaukan oleh terminologi ilmiah karena di sinilah kita seringkali menemukan terminologi tersebut sebagai kelas-kelas yang natural. Bilamana kita pergi ke kebun binatang, kita akan menemukan bahwa masing-masing hewan di sana memiliki nama tertentu, dan tidak ada hewan yang dapat diberi label dengan dua cara yang berbeda, tidak juga ditemukan adanya tumpang tindih di antara kelas-kelas.seekor gorila adalah seekor gorila, seekor singa adalah seekor singa. Hal yang sama, sebagian besarnya, juga kita temukan pada anama-nama serangga, tumbuhan, dan bahkan zat-zat kimia. Akan tetapi klasifikasi ilmiah tersebut bukanlah jenis pengalaman sehari-hari. Pada umumnya benda yang kita lihat tidak berlaku secaraketat atas satu kelas tertentu maupun kelas lainnya. Selain itu, kita seharusnya tidak terkacaukan oleh pemikiran bahwa kita dapat dan harus mengatur terminologi dengan meminta saran kepada ilmuwan. Tentu saja, sebagai manusia yang berakal dan terdidik kita akan terpengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam dan karenanya akan menyebut seekor paus sebagai ikn dan seekor kelelawar sebagai burung (karena pertanyaan mengapa ikan tidak diartikan saja sebagai ‘makhluk yang berkeriapan di air’ dan burung sebagai ‘makhluk vertebrata yang terbang’?). tetapi kita tidak bisa melangkah sejauh itu. Bloomfield (1933: 139) berpendapat bahwa garam bisa didefinisikan secara jelas sebagai natrium klorida, atau NaCl. Itulah kesalahannya. Garam, dalam bahsa biasa, merupakan zat yang ada di atas meja makan kita. Garam akan tetap menjadi garam walau komposisi kimianya tidak sesuai dengan definisi para ahli kimia. Bagi kita, garam adalah kawan saus dan mustard, yang tidak menisbatkan dirinya kepada spesifikasi ilmiah –tidak pula dalam penggunaan garam dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa biasa jelas berbeda dari bahasa ilmiah dalam hal bahwa istilah tersebut tidak didefinisikan secara jelas dan kelasnya tidak ditata secara ketat.

    • Share/Bookmark

    Topics: Linguistics >< Linguistik | No Comments »

    Comments

    rahasia-kaum-falasha