« Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (3) | Home | Kamus Linguistik Inggris-Indonesia (A-D) »
Konsep Penamaan Dalam Cakupan Semantik (4)
By admin | October 25, 2009
Salah satu jalan keluar dari semua kesulitan kita adalah dengan mengatakan bahwa hanya BEBERAPA KATA saja yang benar-benar menunjukkan benda –bahwa anak-anak mempelajari BEBERAPA di antaranya sebagai label. Ini merupakan esensi dari gagasan Russel (1940:25, 66 [1962: 23, 63]) yang menyatakan bahwa ada dua jenis kata, ‘kata benda’ dan ‘kata kamus’. Kata benda seolah-olah dipelajari, yaitu dengan menunjuk kepada benda, sedangkan kata-kata kamus harus didefinisikan sebagai kata benda. Sehingga kata-kata benda memiliki DEFINISI OSTENSIF.
Ternyata berdasarkan sebagian besar gambaran yang telah kami kemukakan, bisa jadi masalah ini tidak memiliki solusi. Ini karena untuk memahami sebuah definisi estentif, kita harus benar-benar memahami apa yang ditunjuk. Jika saya menunjuk ke sebuah kursi dan mengatakan ‘this is a chair’, hal terpenting pertama yang perlu disadari adalah bahwa saya menunjuk ke seisi objek, bukan ke salah satu kaki kursi, atau ke kayu yang digunakan untuk membuat kursi itu. Dengan begitu, pemahaman mungkin bisa lebih mudah tercapai, namun sangat penting pula bagi kita untuk memahami apa saja karakteristik sebuah kursibila definisinya adalah untuk memberi nilai tertentu. Bagi seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak tahu apa itu kursi mungkin akan berasumsi bahwa sebuah kursi tanpa sandaran atau dengan sandaran adalah yang dimaksud sebagai kursi. Ia mungkin bahkan tidak yakin apakah kata chair juga bisa diterapkan untuk menyebut meja, karena definisi ostentif bahkan tidak memunculkan apa yang kita tunjuk sebagai kursi adalah sesuatu untuyk diduduki, selain dari seperangkat furnitur. Menunjuk ke arah suatu objek itu sendiri memerlukan identifikasi atas objek tersebut, spesifikasi kualitas yang membuat benda tersebut disebut sebagai kursi atau meja. Dalam hal ini kita memerlukan pemahaman yang baik, bahkan mungkin pemahaman seluruh kategorisasi dari bahasa yang bersangkutan. Seorang filsuf, Wittgenstein (1953: 16), berkomentar, “Aku harus menguasai bahasa untuk memahami sebuah definisi ostensif.”
Kembali ke masalah penguasaan bahasa pada anak, jelas bahwa seorang anak tidak mempelajari nama-nama benda secara sederhana. Karena jika sang anak memang melakukannya, maka dia tidak akan mampu menangani segala macam kompleksitas yang telah kita bahas. Terlepas dari semua itu, mempelajari suatu bahasa tidak semata berarti mempelajari ‘this is a …’; lalu ia mengatakan buku, ketika melihat sebuah buku. Kita tidak akan bisa memecahkan masalah hanya dengan melihat seorang anak belajar bahasa, karena pemahaman terhadap apa yang dicapai yang anak merupakan masalah yang sama dengan pemahaman terhadap apa yang dilakukan orang dewasa dalam ujaran normalnya.
Pada tulisan ini, kita telah berbicara banyak tentang makna kata-kata. Namun kita juga akan harus membahas makna kalimat. Sampai di sini, sudah dapat kita katakan bahwa teori penamaan pada kalimat tidak lebih memuaskan daripada penamaan terhadap kata. Kita tidak dapat menghubungkan makna suatu kalimat terhadap sesuatu dan peristiwa di dunia secara langsung. Pandangan terkuat yang menghubungkan kalimat dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa aktual, semisal There is a horse on the lawn berlaku hanya jika di lapangan rumput memang ada kuda, jelas tidak bisa dipertahankan, karena kita bisa saja berbohong atau melakukan kesalahan (karena sesungguhnya tidak ada kuda di lapangan rumput). Pandangan yang lebih lemah menyatakan bahwa makna dipandang dalam hal kondisi di mana kalimat bisa jadi benar –makna dari kalimat There is a horse on the lawn yang kemudian dinyatakan dalam ‘kondisi sesungguhnya’ melibatkan sejenis hewan tertentu yang pada waktu tertentu berada di sebuah kawasan berrumput.
Disarikan dari: F.R. Palmer. 1991. Semantics. New York. Cambridge University Press.
Topics: Linguistics >< Linguistik | No Comments »







