« Cermin Hati | Home | Pelajaran Moral Berharga di Balik Opera van Java »
Antara Al Qur’an dan Kedahsyatan sebuah Puisi
By admin | July 7, 2009
Jika anda perhatikan note-note facebook saya secara seksama, baru pada dua atu tiga note terakhir saya menyertakan tag nama-nama friends di dalam note yang saya buat. Sebelumnya, saya tidak pernah nge-tag siapapun dalam note-note yang saya post di facebook. Ini, terutama untuk note-note yang berisi puisi. Saya nge-post puisi-puisi itu lebih karena ingin memperbanyak notes (hehe…), bukan berharap untuk dibaca banyak orang.
Walau demikian, puisi-puisi itu ternyata banyak juga yang membaca. Ada beberapa yang diberi tanda ‘like’ oleh sahabat-sahabat jamaah fesbukiyyah. Saya senang juga menyaksikan bahwa ada beberapa orang yang memberikan apresiasi tinggi kepada puisi saya tanpa harus susah payah nge-tag dan ‘maksa’ orang membacanya. Ini pun membuat saya jadi PeDe dan mulai yakin bahwa bakat dan kemampuan menulis saya tidak terbatas pada menulis fiksi dan esei, namun juga menulis puisi dan syair (narsis, ya? Hehehe…).
Nah, ternyata ada hal yang juga mencengangkan di balik puisi-puisi itu yang membuat saya tertegun dan heran. Baru pada beberapa hari terakhir ini saya ngeh dan sadar akan hal itu. Ada beberapa orang yang tiba-tiba saja merasa bahwa di antara puisi-puisi itu ditujukan kepada diri mereka secara pribadi. Beberapa orang itu, ada yang merasa dan yakin bahwa saya mengungkapkan kebencian pribadi, ketidaksukaan, bahkan juga cinta kepada diri mereka atau orang tertentu. Akibatnya ada orang-orang yang jadi berubah sikapnya. Ada orang yang tadinya sebel jadi baik (alhamdulillah) ada yang tadinya baik jadi tambah baik (alhamdulillah) lalu ada yang tadinya baik jadi sebel (astaghfirullah) dan, yang paling paling parah, yang tadinya sebel jadi tambah sebel (astaghfirullahal adziim…, gustiiii…, jelema teh meni kabina-bina teuing atuuuh!).
Duh…, saya jadi heran dan bingung juga. Perasaan, setiap kali menulis puisi, motivasi yang saya kembangkan dalam membuat kalimat adalah apa yang terlintas di kepala, bukan perasaan dalam hati. Puisi-puisi saya itu murni puisi, lho! Dari pencarian kalimat untuk membuat susunan kalimat indah semata, bukan karya-karya yang bersifat dekrit atau proklamasi.
Fenomena ini lalu memancing saya untuk membuka-buka beberapa buku tentang apresiasi puisi. Kemudian saya teringat bahwa ada sifat-sifat umum dalam puisi –yakni, pada mulanya puisi memiliki sifat lepas dan apersepsi (non-persepsi), kemudian pemahaman atas kalimat-kalimat di dalamnya menjadi sisi subjektif pembaca. Misalnya begini; cara saya memahami puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar, tentu akan berbeda dengan cara anda atau orang lain dalam memahami puisi tersebut. Nah, rupanya si sisi subjektif ini juga akan berpengaruh bilamana apresiator mengenal orang yang menulis puisi itu secara pribadi.
Ooo… saya pun paham, mengapa ada orang-orang yang memiliki persepsi seperti yang saya kemukakan di atas.
Kemudian saya jadi teringat kepada Al Qur’an. Gaya bahasa yang digunakan dalam Qur’an adalah syair. Bahasanya indah dan enak disimak dengan purwakanti yang bagus. Misalnya, lihat surah An-Naas. Penggalan suku kata terakhir pada surah itu selalu berbunyi ‘naas’, sangat sistematis dan teratur dengan pengalan suku-suku kata yang pas saat dibaca dan dilagukan.
Nah, saat tiba pada poin pemahaman dan apresiasinya sebagai syair, saya pun jadi paham mengapa seorang yang shaleh giat membaca dan mempelajari makna dan kandungan ayat-ayat Qur’an. Betapa tidak, di sana ada banyak ayat yang mengabarkan tentang surga beserta deskripsi surga dan keindahannya, serta kualifikasi orang-orang saleh yang layak masuk surga. Maka, saya pun menyadari, mengapa ayat-ayat Qur’an itu bisa membuat orang senang. Dengan gaya syair dalam Al Qur’an itu, mereka Ge-eR dengan kabar tentang siapa saja yang layak masuk surga. Hehehe…., becanda, ah. Piss!
Poinnya ialah begini; mungkin Allah sengaja membentuk gaya bahasa Qur’an dalam wujud syair untuk lebih mendekatkan makna dan pemahamannya dalam perspektif orang yang membacanya. Maka, orang yang hanya membaca tanpa berusaha menyelami maknanya memang tidak akan tahu dan mendekatkan persepsi pribadi mereka untuk menjadi pribadi yang selaras dengan Qur’an itu sendiri, karena itu hanya akan terjadi pada orang yang ‘mengenal’ Allah secara pribadi. Beghitchu…
Setuju, engga? Terserah, ah!
Allahu’alam.
Topics: Culture & Literature >< Sastra & Budaya, Motivasi >< Motivation, Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat | No Comments »







