« Makna Hari Ied | Home | Mujahid Vs. Teroris –dilema sebutan untuk Trio Bom Bali I »
Barack Hussein Obama, Indonesia, dan Umat Islam
By admin | November 13, 2008
Barack Hussein Obama. Itulah nama lengkap Presiden Amerika Serikat ke-44 yang baru saja terpilih pada 5 Nopember 2008 lalu. Dalam autobiografinya, dijelaskan bahwa nama ‘Barack’ berasal dari bahasa Swahili ‘Barq’ yang artinya ‘berkah’, kemungkinan kata ini diserap dari bunyi kata dan makna yang sama dalam bahasa Arab. ‘Hussein’ adalah kata adjektif dalam bahasa Arab yang berarti ‘yang bagus’ atau ‘yang indah’. Sementara ‘Obama’ adalah nama marganya yang berasal dari Kaki Gunung Kilimanjaro di Kenya, Afrika. Dengan demikian, nama ‘Barack Hussein Obama’ bisa diartikan ‘berkah yang indah/bagus dari putera keluarga Obama’. Benar-benar nama yang luar biasa dan dalam maknanya.
Kemenangan Barrack Obama dalam Pemilihan Presiden AS disebut-sebut sebagai peristiwa bersejarah dalam dunia demokrasi. Untuk pertama kalinya, seorang keturunan Afrika bisa menduduki posisi sebagai orang nomor satu di negara yang disebut-sebut sebagai pemegang ‘unattested hegemony’ itu. Lazimnya, Presiden AS, baik dari Republik maupun Demokrat, adalah seorang WASP (White, Anglo-Saxon, and Protestant) atau orang kulit putih keturunan Inggris yang beragama Protestan –walau ini juga tak sepenuhnya benar karena Presiden AS ke-5, Martin Van Buren, adalah seorang turunan Belanda. Jelas Barack Obama adalah seorang BAP (Black, Afro-American, and Protestant) dan karenanya, kemenangannya telah melawan ‘pakem’ dalam hal asal-usul orang yang menduduki jabatan tersebut.
Kemenangan kubu Demokrat dalam pemilu AS kali ini seakan dilengkapi pula dengan kemenangan telak mereka di House of Representatives (DPR) dan Senat. Dengan demikian, komposisi Kongres AS pada periode berikutnya akan didominasi oleh kubu Demokrat yang begaya lebih liberal, sekular, dan humanis.
Banyak kalangan di Indonesia yang menaruh harapan besar atas terpilihnya Presiden baru dari kubu Demokrat ini, demikian pula di negara-negara lainnya. Salah satu janji kampanye Obama yang paling diingat mungkin adalah ikrarnya untuk menarik pasukan AS secara bertahap hingga akhir 2010 nanti. Ini jelas membuncahkan harapan besar bagi Umat Islam agar saudara-saudara meraka yang ada di Irak dan Afghanistan terbebas dari pendudukan AS dan pertikaian senjata berkepanjangan sejak awal Abad ke-21 ini.
Bagi saya secara pribadi, terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS tidak akan memberikan perubahan signifikan apapun terhadap Umat Islam, khususnya di Indonesia. Fakta menunjukan bahwa siapapun orang yang menjadi Presiden AS, baik dari Demokrat atau Republik, hanya memberikan satu macam kontribusi bagi Dunia Islam : Kesengsaraan. Jika ingatan kita masih bagus, sebelum memasuki tahun 2000 AS memiliki seorang Presiden Demokrat bernama Bill Clinton dan apa yang diberikan Clinton bagi Umat Islam? Clinton memberikan embargo senjata bagi Indonesia, Suriah, Iran, Irak, dan negara-negara berpenduduk mayoritas Islam lainnya. Clinton juga menetapkan embargo perdagangan yang menyengsarakan rakyat Irak dan Iran. Berbagai kebijakan Clinton tak ada yang memberikan manfaat besar bagi Umat Islam, terlepas dari fakta bahwa mayoritas muslim moderat di AS pun adalah pendukung Partai Demokrat.
Barack Obama ialah seorang Demokrat, bukan Republik. Satu hari setelah Pidato kemenangannya di Chicago, Obama membeberkan rancangan kabinetnya yang ternyata banyak diisi oleh orang-orang kubu Clinton yang banyak memengaruhi kebijakan AS di masa pemerintahan Clinton. Dengan demikian, vice-versa dengan harapan banyak orang, pemerintahan Obama kali ini hanya akan menjadi kelanjutan bagi kebijakan umum AS –yakni kapitalisme- dan warna-warna khas Demokrat yang pro lingkungan, HAM, anti-perang, feminisme, liberal, sekular dan bentuk aktivitas humanisme lainnya.
Masalah-masalah yang menjadi semangat usungan kubu Demokrat jelas akan menjadi moncong senjata yang terarah kepada Indonesia. Penegakkan HAM yang amburadul, separatisme di Papua, korupsi yang edan-eling, dan UU anti-Pornografi yang dinilai mengekang kebebasan dan hak perempuan, akan menjadi sasaran-sasaran empuk dari naluri pemerintahan Demokrat AS. Jadi…jangan mimpi di siang bolong dengan berharap pada Obama!
Obama memang pernah tinggal selama 4 tahun di Indonesia. Obama juga memang memiliki Ayah dan keluarga besar di Kenya yang beragama Islam. Tapi jangan pernah berharap bahwa Obama akan pro-Islam dan baik hati kepada Indonesia. Program-program dan kebijakan yang ditawarkannya di masa kampanye pun jauh dari harapan tersebut. Bagi saya, Barack Hussein Obama tidak akan menjadi ‘berkah yang indah’. Barack Hussein Obama, seperti halnya para Presiden AS sebelumnya, hanya akan bisa memberikan ‘bencana yang dahsyat’ kepada Indonesia dan Dunia Islam.
Topics: Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat, Social & History >< Sosial & Sejarah | 3 Comments »








April 30th, 2009 at 1:26 am
infonya sangat berguna bagi saya, lagi nyari bahan tesis ne, tengkyu..
June 30th, 2009 at 8:12 am
ketika memandang amerika dan pemerintahnya kita harus memandangnya sebagai wujud/implementasi dari ideologi kapitalisme. kita tidak bisa memandang obama sebagai person semata.
ideologi kapitalisme yang rakus akan terus melahap kekayaan dunia islam. mungkin dulu bush membidik kekayaan umat islam di irak dengan dalih senjata pemusnah masal. saat ini obama dan amerika tengan membidik kekayaan umat islam di pakistan dan afganistan. hari demi hari saudara2 kita disana terus terbunuh oleh bom pesawat amerika.
jangan percaya janji manis obama.
August 11th, 2010 at 4:13 pm
i could readily say that Barack Obama will be one of the greatest US Presidents;;”