• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus
    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus by Mahardhika Zifana
    My rating: 5 of 5 stars
    View all my reviews

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « | Home | »

    Khalifah Umar bin Khattab ra. Vs. Para Pelatih Sepakbola

    By admin | November 19, 2008

    ‘The best defense is attacking’

    ‘Sebaik-baiknya pertahanan adalah Penyerangan’

    Selama ini kita mengenal ungkapan tersebut sering didengungkan oleh para pelatih sepakbola yang menganut karakter permainan menyerang, seperti Marco van Basten, Johan Cruijjf, dan Luiz Felipe Scolari. Entah ada hubungannya atau tidak, 15 Abad yang lalu Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah mengeluarkan ungkapan:

    ‘Khairul difa’i, al hujaani’

    Arti kalimat tersebut kurang lebih sama dengan kalimat beken dalam filosofi sepakbola menyerang di atas. Itulah sebabnya mengapa dalam masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, tentara Islam sangat agresif melancarkan dakwah dengan jalan jihad dan sukses menaklukan wilayah-wilayah di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

    Pada hakikatnya, sebuah pola permainan dalam sepakbola tidak melulu mementingkan titik berat pada permainan menyerang atau bertahan karena sepakbola menuntut dua hal yang sama pentingnya, yakni mencegah lawan mencetak gol dan mencetak gol ke gawang lawan. Karena itu, dalam sebuah skema permainan menyerang, sebuah tim tetap memerlukan para pemain bertahan (bek). Begitu pula dalam skema permainan bertahan, sebuah tim tetap memerlukan para pemain menyerang (striker atau forwarder). Pada kenyataannya, masing-masing pola memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung kepada permainan yang dikembangkan oleh tim masing-masing. Sebuah tim yang mengandalkan sepakbola bertahan pun bisa sukses mengalahkan lawan, terbukti oleh skema gerendel Catenaccio Italia yang berhasil memberikan gelar juara dunia di tahun 1982 di Spanyol.

    Dahulu, Khalifah Umar bin Khattab ra. ternyata tidak melulu memperhatikan perluasan wilayah Khilafah, namun juga menjaga pertahanan akidah dan pengetahuan rakyat di dalam negara Khilafah dengan sebaik-baiknya. Beliau berjuang keras mempertahankan kemakmuran rakyat sebagai pilar kekuatan negara. ‘Pola permainan’ inilah yang dianut oleh para pemimpin Islam sehingga membuat Islam berjaya selama 12 abad, hingga akhirnya performa kekuatan politik Islam mulai menurun di Abad ke-18 dan hancur lebur di Abad ke-20 dengan tumbangnya Khilafah Usmaniyah di Turki.

    Bagaimana dengan ‘pola permainan’ Umat Islam sekarang? Jujur saja, saya kira sekarang ini, Umat Islam bagai ‘bermain tanpa pola’. Umat Islam sekarang sedang menjadi bulan-bulanan lawan yang terus ‘mencetak gol demi gol’ ke gawang Umat Islam, mulai dari pembakaran Masjidil Aqsha di tahun 1960-an hingga pelecehan Nabi Muhammad Saw. dalam kartun Jylland Posten tahun 2006 dan penulisan novel ‘Jewel of Madina’ baru-baru ini.

    Bagaimana jika sebuah kesebelasan memiliki tim pelatih yang memahami permainan dengan sempurna? Mulai dari pelatih kepala, pelatih fisik, hingga pelatih kiper semua tahu skema terbaik dan kemampuan tim asuhannya. Jaminan gelar juara mungkin lebih besar ada di tangan. Namun ini tak terlepas dari penampilan pemain dalam menjalankan instruksi pelatih.

    Jika seorang pelatih menginstruksikan pemainnya untuk bermain dengan pola 4-4-2, maka jelas bahwa 4 anak asuhnya harus berdiri sejajar di tengah sebagai gelandang, 4 lainnya berdiri sejajar di belakang sebagai bek, dan 2 lainnya berdiri di depan sebagai penyerang. Plus satu kiper di bawah gawang tentunya. Masing-masing memiliki tugas dan kewajiban sendiri yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya guna meraih kemenangan.

    Jika Umat Islam diibaratkan sebagai sebuah tim sepakbola, maka Nabi Muhammad Saw. adalah pelatih kepala. Kemudian para Khulafaur Rasyidin adalah para asistennya. Pelatih kepala telah menginstruksikan kepada Umat Islam untuk menarapkan sebuah ‘skema permainan’ yang disebut Syariah dan Khilafah, pola yang menjadi jaminan prestasi ‘kesebelasan’ ini. Namun ternyata ‘kesebelasan’ ini bermain dengan ‘skema’ kapitalisme dan liberalisme. Maka kacaulah ‘permainan kesebelasan’ ini.

    Nah…inilah analogi situasi yang dihadapi Umat Islam dengan dunia sepakbola.

    Di tengah situasi banyaknya kebobolan di gawang, Umat Islam ternyata tidak serta merta menyadari kesalahannya. Beberapa pemainnya malah menyalahkan skema permainan yang diinstruksikan pelatih. Ada juga yang mangkir dan keluar dari arena permainan. Lalu ketidakjelasan permainan yang dikembangkan pun semakin kacau karena tidak adanya kerjasama tim yang kompak. Tidak jelas siapa yang jadi kiper, siapa yang jadi bek, siapa yang jadi gelandang, dan siapa yang jadi striker. Lalu, tidak jelas pula siapa kaptennya di lapangan, semua pemain mengenakan ban kapten karena semua ingin menjadi kapten.

    Padahal instruksi tim pelatih sangat jelas dan mudah dipahami. Pelatih kesebelasan ini adalah manusia terbaik yang paham apa yang harus dilakukan. Kekacauan ini jelas disebabkan oleh ketidakmengertian pemain pada skema yang diinstruksikan pelatih. Juga dipicu oleh keengganan pemain menyimak instruksi pelatih dengan sebaik-baiknya. Para pemain terbawa oleh irama permainan lawan dan tidak bisa mengambangkan permainan.

    Hingga saya membuat tulisan ini, peluit akhir masih belum berbunyi. Masih belum terlambat bagi kesebelasan ini untuk membenahi permainan, menerapkan skema dan pola yang diinginkan pelatih kepala. Menata kembali permainan, membangun pertahanan dan penyerangan untuk bisa mencetak gol ke gawang lawan. Namun, ini kembali kepada akar masalah, bersediakah para pemain melaksanakan instruksi pelatih dan menjalankan tugas masing-masing dengan penuh disiplin dan tanggung jawab?

    • Share/Bookmark

    Topics: Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat, Social & History >< Sosial & Sejarah | 1 Comment »

    One Response to “Khalifah Umar bin Khattab ra. Vs. Para Pelatih Sepakbola”

    1. irfan Says:
      June 30th, 2009 at 7:34 am

      mantap analoginya. jadi ingat analogi rasulullah tentang umat islam yang jadi buih di lautan dan makanan yang diperebutkan.

      umat islam saat ini sedang diacak-acak. sebagian pemainnya masih bertahan, sebagian lain mengundurkan diri. yang bertahan pun bingung. malah sebagian menjadi pembantu tim lawan. kita butuh satu komando untuk melawan musuh. komando yang akan menyatukan seluruh tim.

    Comments

    rahasia-kaum-falasha