« Falasha | Home | Antara Islam, Tasawuf, dan Kebatinan di Jawa »
Nasrani yang Melaksanakan Shalat dan Berhaji
By admin | October 10, 2008
Beberapa waktu lalu, saat sedang mengikuti sebuah acara di BKPRMI, salah seorang kawan saya mengeluarkan dan memamerkan sebuah penemuan yang ‘unik’, yakni sebuah kaligrafi bertuliskan huruf Arab. Lantas di mana uniknya kaligrafi itu? Keunikan kaligrafi tersebut ada pada bunyi kalimatnya, yakni:
Bismil Abi Wal ‘Ibni Wa Ruuhul Qudsi Al Ilah Al Wahid
‘Dengan Menyebut Nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, Tuhan Kami Yang Satu’
Nah, saat teman-teman saya banyak yang terkesima dengan penemuan ini, saya sudah tak merasa aneh lagi dengan hal macam ini. Bertahun-tahun lalu, saya sempat mempelajari Sejarah Schisma dalam perkembangan Kristen.
Nun jauh di Suriah sana, sebuah sekte Kristen Ortodoks memiliki kebiasaan macam ini. Syahdan sekte ini sudah masuk pula ke Indonesia dan memiliki kantor pusat di Surabaya. Kanisah Ortodoks Syiria atau KOS, demikian mereka menamakan diri.
Bila umat Islam memiliki shalat wajib sebanyak lima waktu dalam sehari-semalam, maka sekte KOS ini memiliki 7 waktu shalat yang mereka namakan Assab‘us Shalawat. 7 waktu shalat ini terdiri atas sa’atul awwal (fajar/shubuh), sa’atuts tsalis (dhuha), sa’atus sadis (dhuhur), sa’atut tis’ah (ashar), sa’atul ghurub (maghrib), sa’atun naum (Isya’), dan sa’atul layl (tengah malam).
Mereka juga mengenal ibadah puasa seperti halnya umat Islam. Bila kita (umat Islam) berpuasa selama sekitar 30 hari pada bulan Ramadhan, maka sekte ortodoks ini berpuasa selama 40 hari selama sekitar bulan April. Bila kita mengenal puasa sunnah setiap senin dan kamis, maka sekte ini mengenal puasa Rabu dan Jum’at dalam sepekan untuk mengenang kesengsaraan Kristus. Sekte ini juga mengenal pengeluaran semacam zakat. Zakat dalam sekte ini ialah sebanyak sepersepuluh dari pendapatan kasar. Kitab suci yang mereka gunakan juga bukan kitab terjemahan lazimnya umat Kristen lainnya, namun kitab Injil yang berbahasa Aramaik –bahasa yang dilafalkan Yesus semasa hidupnya.
Shalat yang mereka lakukan pada dasarnya sama dengan shalat umat Islam, yakni dengan gerakan berdiri, ruku, dan sujud. Namun shalat dalam sekte ini diambil dari tradisi peribadatan Umat Yahudi sebagai akar-rumpun dari kemunculan Isa Almasih. Dalam bahasa Ibraninya, ibadah serupa shalat ini disebut ‘erev wa boker we tsohorayim.
Setiap satu shalat mereka terdiri atas tiga raka’at (satuan gerakan). Rakaat pertama hanya terdiri atas posisi qiyam (berdiri). Pada rakaat kedua, ada gerakan ruku dan sujud. Pada saat melakukan gerak rukuk dan sujud ini, mereka membuat tanda salib di kedua bahu dan kepala. Bacaan yang mereka gunakan berbahasa Arab, Aramaik, Yunani, dan Ibrani. Dalam rakaat ini, mereka biasa membaca kidung pujian yang dikutip dari kitab Mazmur. Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan qanun al imam, semacam pengakuan kepada Tuhan (syahadat) yang dikenal dalam sekte mereka.
Sebelum shalat ditunaikan. Mereka juga mengenal panggilan semacam adzan. Dalam panggilan shalat ala mereka ini ada kalimat yang mirip kalimat adzan, misalnya hayya ala shalah (marilah kita salat). Kalimat lainnya misalnya Hayya alassalah bissalam (marilah kita salat dengan damai).
Shalat mereka ini dilakukan dengan menghadap ke timur. Alkisah, dulu mereka biasa mengikuti Umat Yahudi yang shalat menghadap ke Baitul Maqdis, seperti juga Umat Islam pada awalnya sebelum diperintahkan berputar haluan ke Ka’bah. Namun karena Baitul Maqdis dihancurkan pasukan Romawi, sekte ini lalu menjadikan tubuh Yesus sebagai kiblat. Nah, karena mereka yakin bahwa Yesus kini berada di surga (istiwa all yaminillah), makar mereka shalat menghadap ke timur. Ini karena dalam Kitab Kejadian ayat 28, dikisahkan bahwa Surga (Eden) ada di Timur.
Nah, apakah hanya shalat, zakat, puasa saja persamaan sekte ini dengan Islam? Tidak juga. Mereka juga mengenal ibadah ziarah semacam haji. Ibadah haji ala mereka dilaksanakan ke Palestina. Dalil mereka dilandaskan kepada Kitab Ulangan 16: 16-17 bahwa disebutkan hag atau haji dilakukan ke tanah suci Palestina menjelang Pekan Kudus (perayaan Paskah), tiga kali dalam setahun. Dan khusus untuk sekte ini, sepulangnya dari sana setiap pemeluk Kristen Ortodoks memperoleh sertifikat dari Patriarkh Jerusalem dengan sebutan gelar hadzi (pria) dan hadzina (wanita).
Kalau kita kaji secara historis, rumpun Agama Abrahamik pada dasarnya memiliki ritual ibadah yang itu-itu saja sejak zaman Ibrahim (Abraham) sendiri: antara Shalat, Zakat, dan Puasa di samping khitan untuk lelaki. Menurut pendapat saya, berdasarkan ciri-cirinya, sekte KOS inilah yang layak menyandang gelar ‘Ahli Kitab’ sebagaimana disebut dalam Al Qur’an, bukan orang-orang Katolik Roma, Yunani, apalagi Protestan. Merekalah People of the Book yang sesungguhnya, dihalalkan memakan masakan mereka serta menikahi perempuan-perempuan mereka. Adapun pada kelompok selain sekte Ortodoks, rasanya saya sulit menggolongkan mereka sebagai Ahli Kitab. Aliran-aliran Kristen Barat lebih cenderung Hellenik, bukan Abrahamik, karena budaya-budaya pagan Eropa warisan Romawi dalam tradisi peribadatan dan konsep akidah yang mereka miliki.
Topics: Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat | 4 Comments »








February 18th, 2009 at 5:29 am
katholik ortodoks memang katholik yg konon di bawa
oleh santo petrus yg mana dari budaya yahudi dan di utus bangsa timur tengah , keturunan abraham
tetapi pemahaman kiblat sesungguhnya orang kristen
adalah kristus itu sendiri sedangkan hosti/ roti yg di berkati menurut iman katholik ortodox maupun katholik kultur roma adalah roti yg telah di tahbiskan menjadi tubu dan darah kristus yg di yakini dpat membantu menumbuhkan diri semakin seperti kristus yg di kiblatkan
June 30th, 2009 at 8:02 am
al Qur’an ketika menyebut ahli kitab, sekaligus dengan ciri2nya. mereka adalah yahudi dan nasrani yang kita kenal sekarang. mereka pulalah yang dihalalkan memakan masakannya serta menikahi perempuan-perempuannya.
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (TQS an Nisa 171)
June 16th, 2010 at 11:36 am
woww
August 23rd, 2010 at 3:32 pm
http://triyantobanyumasan.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=11&action=edit