• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus
    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus by Mahardhika Zifana
    My rating: 5 of 5 stars
    View all my reviews

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « | Home | »

    Munculnya Masyarakat Modern Dalam Sosiologi Kontemporer

    By admin | September 25, 2008

    Munculnya Masyarakat Modern Dalam Sosiologi Kontemporer

    (B): Marxis, neo-Marxis, dan Teori Pendukung

    Sejak awal kelahirannya, Marxisme telah menjadi salah satu paham yang paling berpengaruh di Eropa. Namun dalam pandangan sosiologi, paham ini terus mengalami kemerosotan ke titik nol sejak dekade 1960-an dan 1970-an. Karena itu, para pemikir Marxis mencoba untuk menemukan formula baru dalam tataran konsep sosiologi. Setelah itu, lahirlah neo-Marxisme.

    Pandangan Kaum Marxis terhadap Kapitalisme Barat

    Para pemikir Marxis memiliki pandangan berbeda dalam hal ini. Beberapa di antara mereka berkeyakinan bahwa perkembangan kapitalisme barat yang bertentangan dengan paham mereka adalah sesuatu yang harus dilawan dengan kekuatan kaum proletar. Sementara sebagian lainnya berpandangan bahwa kapitalisme barat yang sedang menghadapi krisis harus dibiarkan mengalami kejatuhannya sendiri.

    Hegemoni Kapitalisme Barat

    Berdasarkan pada pandangan pertama, kelas kapitalis yang berkuasa telah menguasai segala aspek sosial dan menghasilkan sistem yang stabil dengan menanamkan rasacinta tanah air pada kaum yang berada pada kelas yang lebih rendah serta membuat mereka patuh pada sistem. Antonio Gramsci telah mengemukakan suatu teori hegemoni yang menyatakan bahwa kelas yang dominan telah mendapatkan penyerahan diri dari kelas rendah yang menjadi subjek dan karenanya mampu mengurangi kekerasan yang dibutuhkan dalam melakukan tekanan pada kelas yang lebih rendah. Mekanisme untuk menekan kelas yang lebih rendah tersebut berada pada beberapa institusi dan asosiasi yang secara berkala terus mengkampanyekan ideologi yang dianut oleh kelas yang berkuasa. Dalam hal ini, kaum borjuis didukung oleh kelas sekunder dan aliansi ini telah menciptakan suatu hambatan yang nyata bagi kelas pekerja.

    Kegagalan kelas pekerja untuk menciptakan kebanggan kelas dan oposisi yang revolusioner telah menjadi salah satu perhatian utama dari Institute for social Research yang dibentuk di Frankfurt pada 1923. para ahli di institut ini mencoba mensintesa Marxisme dengan psikoanalisis dan analisis atas kultur dan ideologi.

    Salah satu figur yang paling berpengaruh dari institut tersebut adalah Herbert Marcuse. Marcuse (1964) inilah yang kemudian memandang bahwa masyarakat kapitalis dibentuk oleh represi atas kebebasan; melalui kapasistas sistem yang telah dipaksakan atas semua orang; melalui berbagai alienasi yang membuat orang menjadi tidak peduli pada beberapa hal. Semua itu kemudian melemahkan kekuatan yang berpotensi sebagai oposisi –terutama kelas pekerja. Karena itu, kelas pekerja tidak memiliki kekuatan yang memadai sebagai opossi yang dapat menghasilkan perubahan.

    Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa hal:

    (a) Peran teknologi: teknologi dikmbangkan seolah untuk kepentingan semua orang.namun pada akhirnya mendukung sstem untuk melakukan eksploitasi pada kelompok tertentu.

    (b) Toleransi terhadap kebebasan yang terbatas: kebebasan berekspresi dan berorganisasi hanya diperbolehkan bila tidak brtentangan dengan sistem yang berlaku.

    (c) Iklan komersial: orang didorong untuk bersikap konsumtif melalui periklanan. Karenanya, tidak ada kontrol sosial bagi daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

    (d) Kultur massa: kultur sengaja dibuat untuk menghambat kemajuan dengan dalih tradisi dan kebiasaan yang menjadi candu bagi masyarakat.

    (e) Gender: gender dihubungkan dengan aktivitas politik, sehingga ada gender tertntu yang ditekan agar tidak ikut berpartisipasi dalam pembangunan politik dan masyarakat – dalam hal ini perempuan.

    Kesimpulan akhir, kapitalisme barat hanya memberikan kebebasan yang tidak boleh bertentangan dengan sistem yang dipraktekkannya dan ideologi yang dianutnya, bukan kebebasan yang sebenarnya.

    Louis Althuser, seorang figur yang terkemuka dalam bidang pemikiran Marxisme Eropa mengemukakan pemikiran yang hampir sama. Walau begitu, Althusser tidak memberikan kesimpulan yang bernada pesimistis.Althusser memandang ideologi sebagai perangkat yang tak tergantikan bagi sebuah masyarakat. Menurutnya, kontrol idologi dilakukan ole kaum kapitalis melalui aparatus khusus yang dibuat untuk itu. Althusser membedakan antara aparatus negara represif yang memiliki fungsi untuk melakukan kekerasan (termasuk didalamnya adalah militer, pemerintah, polisi, pngadilan, sistem penjara), dengan aparatus negara ideologis yang memiliki fungsi utama untuk melakukan kontrol ideologi

    • Share/Bookmark

    Topics: Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat | No Comments »

    Comments

    rahasia-kaum-falasha