« Antara Al Qur’an dan Kedahsyatan sebuah Puisi | Home | 29 Juli 2001 »
Pelajaran Moral Berharga di Balik Opera van Java
By admin | July 11, 2009
Sudah lama saya tidak menonton sinetron. Sekira dua bulan terakhir, pada setiap prime time antara jam 8 sampai jam 9 malam, saya rajin menonton Opera van Java (OvJ) di Trans7 setiap hari Senin – Jumat. OvJ adalah sebuah pertunjukan yang unik dan khas sekali. Secara pribadi, saya menganggap para kreator dan tim kreatif yang bekerja dalam acara ini telah memberikan sebuah tontonan yang konyol namun menghibur. Inilah yang membedakan OvJ dengan sinetron. Walau sama-sama konyol, bagi saya sinetron sama sekali tidak mengibur dan memberikan input berarti.
OvJ mengadaptasi teknik penceritaan wayang, di mana seorang dalang, yaitu Parto Patrio, menjadi narator sekaligus pengatur laku para wayang. Bedanya, dalam OvJ, wayang yang dimainkan mirip dengan Wayang Wong (wayang orang). Sekurangnya, ada 4 wayang tetap di sana –Azis Gagap, Sule SOS, Andre Taulany, & Nunung Srimulat. Kemudian kelengkapan lainnya, adalah 2 orang sinden, yakni Dewi Gita dan Rina API. Lalu apa bedanya OvJ dengan Wayang Wong?
Pertama, kisah yang ditampilkan dalam OvJ tidak melulu berkisar pada kisah-kisah wayang tradisional macam Bharatayudha, Ramayana, Kakawin Arjuna, dsb. OvJ juga menampilkan berbagai kisah klasik dari bangsa-bangsa lain di dunia –misalnya dalam episode dua hari lalu ditampilkan kisah Sindbad the Sailorman yang diadaptasi dari cerita 1001 Malam. Ini adalah nilai lebih OvJ lainnya. Kalangan yang cenderung kuper dan tidak mengenal kisah atau peristiwa sejarah setidaknya jadi bisa tahu tentang kisah atau momen sejarah tersebut. Walaupun pasti tidak akurat karena sebagai acara komedi, OvJ banyak menyimpangkan kisah-kisah dan cerita, namun setidaknya penonton yang belum tahu jadi tahu bahwa di Galia ada kisah Asterix, atau di Denmark ada cerita Hansel & Gretel, dan sebagainya.
Kelebihan lainnya, adalah sebuah kekonyolan. Para wayang, terutama Azis Gagap dan Sule SOS, sering menyimpang dari naskah yang telah digariskan dalam cerita yang mereka mainkan. Bukan sekedar improvisasi konyol, penyimpangan yang mereka lakukan benar-benar sebuah penyimpangan total. Dalam episode yang saya tonton tadi, misalnya, Kisah yang dituturkan adalah tentang Nyai dasima. Namun sule dan Azis dengan seenaknya mengganti cerita menjadi Si Pitung dan si Ja’i.
Kekonyolan mereka itu terkadang memancing amarah Sang Dalang. Uniknya, kemarahan Sang Dalang ini juga yang biasa memancing tawa penonton. Itulah sebabnya, setiap di akhir pementasan OvJ, sang Dalang selalu membacakan sebuah pantun yang bunyinya tetap: “Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya bingung. Yang pening bisa ketawa!”
Bagi saya, penyimpangan skenario yang sering dilakukan Sule dan Azis sesungguhnya bukan sekedar kekonyolan atau banyolan hampa yang terkadang garing. Namun jika kita renungkan secara mendalam, sebenarnya ada nilai filosofis di balik penyimpangan naskah dan skenario cerita itu.
Dunia ini panggung sandiwara, kata Ahmad Albar. Hakikatnya, manusia berperan sebagai wayang. Kemudian Allah adalah Sang Dalang dalam sandiwara besar ini. Masing-masing memiliki peran yang harus dimainkan, sesuai dengan skenario. Apakah skenario kehidupan dunia?
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51: 56)
Seperti halnya dalam OvJ, para wayang diberikan kebebasan untuk memilih. Mereka masing-masing bisa memilih –apakah hendak memainkan perannya sesuai tuntunan Sang Dalang, atau memilih untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan skenario. Tentu saja, ada konsekuensi untuk masing-masing pilihan.
Nah, anda mau memilih yang mana? Sesuai skenario, atau menciptakan penyimpangan demi sebuah kelucuan yang mungkin hanya jadi bahan tertawaan tanpa makna?
Topics: Motivasi >< Motivation, Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat | 2 Comments »








September 8th, 2009 at 2:13 am
Kesan pertama melihat OvJ terutama pada bagian banyolannya, saya katakan :”sableng” baget. Kalo sudah bercanda bisa sampai merusak properti. Pun kalo sudah adegan “pukul-memukul”. Orang sunda bilang “heureuy kuli”.
Dalam khazanah seni tradisi Sunda saya jadi ingat sebuah format pementasan drama yang dikenal dengan istilah Longser. Melihat “liberalisasi” yang ada dalam OvJ, konsep OvJ hampir mirip dengan Longser. Ada “wayang” bisa protes sama dalang, atau bisa berinteraksi dengan penonton, hingga tidak jelas batas-batas antara pemain, penonton, dalang, nayaga, dsb….
Ada yang meyakini bahwa “hanya” mendatangkan kelucuan, jadi bahan “ketawaan” tanpa makna, semua itu menjadi perilaku yang menyenangkan orang lain. Entah, kalau menyenangkan orang lain seperti ini termasuk ibadah atau nggak…..
September 17th, 2009 at 4:20 am
opra vanjava is the best ilike you?