« Antara Sunni dan Syi’ah | Home | Evolusionis Vs. Kreasionis »
Pemimpin Yang Kurindukan
By admin | September 20, 2008
Rasulullah Saw. turut bertempur dalam hampir semua peperangan. Beliau turut menggali parit dan bahkan mengangkat batu terbesar di saat perang Khandaq. Ketika suatu malam ada kepanikan karena kuda milik salah seorang sahabat lepas dari tali kekangnya, beliau juga yang mampu mengejar dan menjinakkannya.
Tradisi melayani dan mengayomi rakyat berlanjut pada sosok-sosok pemimpin setelah Muhammad Saw. yang dijuluki Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar ra. siap melayani nenek-nenek yang hidup sebatang kara, mulai dari menyiapkan makannya hingga menyapu halaman rumahnya.
Umar bin Khattab ra. pun melayani rakyat dengan melakukan ronda, berkeliling berusaha menangkap denyut kehidupan rakyat yang sesungguhnya. Ia mendengar bayi yang meronta-ronta karena disapih sebelum waktunya agar ibunya mendapat tunjangan dari baitul maal. Keesokan harinya ia membuat peraturan setiap bayi segera mendapat subsidi dari negara tanpa harus menunggu saat disapih.
Said bin Amir ra. pernah didaftar oleh amil zakat sebagai mustahik (penerima zakat) padahal ia seorang gubernur. Umar bin Abdul Aziz sangat kaya raya tetapi setelah memangku jabatan sebagai kepala negara, ia justru tidak memiliki harta apa-apa lagi. Bila yang sebenarnya harus diwujudkan demikian, apakah kiranya masih ada orang yang berambisi untuk menjadi pejabat?
Banyak untaian cerita indah seputar ketegasan, keadilan, kelembutan, dan kecakapan para pemimpin Islam zaman dulu dalam memimpin negara sehingga Islam mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahannya. Mungkinkah sosok pemimpin seperti Abu Bakar dan Umar dapat dihadirkan di negeri ini?
Di zaman sekarang ini, pemimpin macam SBY bisa diam atau tidur nyenyak di istana ketika orang-orang di sekitar istananya menangis dan mengungsi karena banjir menghantam dan merendam rumah-rumah mereka.
Yusuf Kalla yang terlahir dari keluarga kaya raya ternyata kurang peka melihat fenomena sosial di sekitarnya. Yusuf Kalla memang manusia yang berhati Batara Kala Dengan dinginnya, ia mengomentari supir angkot yang mogok akibat memperotes kenaikan BBM dengan kata-kata: “AH! Biarkan saja…toh nanti juga mereka narik lagi karena butuh uang buat makan.”
Seorang Aburizal Bakrie dengan tenangnya bisa berkata bahwa media tak perlu terlalu banyak mengekspos korban banjir di jakarta dengan alasan, “Toh mereka juga masih bisa tertawa.”
Para anggota DPR (Dedemit Parasit Rakyat) telah menunjukkan bahwa mereka ternyata adalah keledai berwujud manusia. Saat rakyat berdemo menentang PP No. 37, mereka malah berdemo meminta agar PP No. 37 segera diberlakukan. Aspirasi siapakah yang mereka wakili?
Negeri macam apa ini? Andai Allah memberiku pilihan sebelum hidup, aku akan memilih untuk dilahirkan sebagai anjingnya Ashabul Kahfi, keledainya Uzair, atau untanya Muhammad. Sungguh berat hidup sebagai manusia. Apalagi manusia di zaman sekarang…
Mahardhika Zifana
Topics: Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat | No Comments »







