« Saka Calendar and Buddhist Calendar | Home | Javanese Hijriyya Calendar »
Pernah Ada Komunitas Yahudi di Cina
By admin | December 25, 2008
Bukti-bukti arkeologis menunjukkan adanya eksistensi komunitas Yahudi di Cina pada awal abad ke-8. Ketika itu memang banyak saudagar Yahudi yang bepergian melintasi Jalur Sutra antara Persia dan India. Banyak pengelana, termasuk Marco Polo, pada abad 13, melaporkan pertemuan mereka dengan orang-orang Yahudi di Cina. Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), salah seorang kaisar Ming diberitakan pernah menganugerahkan tujuh nama marga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di sana. Beberapa nama tersebut masih teridentifikasi hingga zaman sekarang: Ai, Lao, Jin, Li, Shi, Zhang dan Zhao. Shi dan Jin adalah nama-nama yang sama dengan nama Yahudi yang umum ditemukan di barat: Stone dan Gold.
Sebuah tugu peringatan kuno (pilar batu peringatan) mencatat bahwa tahun 1421 merupakan puncak proses asimilasi orang-orang Yahudi ke dalam masyarakat Cina. Mereka diperbolehkan untuk ikut serta dalam ujian pegawai negara dan memasuki profesi-profesi pemerintahan. Catatan-catatan lokal dari abad 16-20 menceritakan bahwa orang-orang Yahudi umumnya mencapai kesuksesan di tengah masyarakat beraliran Confusius terlepas proporsi jumlah mereka yang kecil.
Dilaporkan pula bahwa pada 1163, Ustad Leiwei (dalam bahasa Persia yang dekat dengan Cina, Ustad berarti ‘Rabbi’) menjadi pemimpin agama, dan bahwa mereka membangun sebuah sinagoga yang dikelilingi oleh sebuah balai studi, sebuah pemandian untuk ritual baptis, dan dapur bersama untuk menyediakan daging kosher (Ibrani = halal).
Ironisnya, penemuan orang-orang Yahudi Kaifeng lebih menarik minat orang Kristen Eropa daripada orang-orang Yahudi sendiri. Sementara Yahudi Kaifeng kehilangan kontak dengan saudara-saudara mereka. Orang luar pertama yang melakukan kontak dengan koloni Yahudi Kaifeng ialah para pendeta Jesuit pada abad 17. Mereka melaporkan bahwa sinagoga Yahudi Kaifeng tetap hidup dan menjalankan praktek peribadatan serta peringatan hari raya, mereka tetap mengharamkan babi, menyunat anak-anak mereka, dan mengikuti syariah Musa seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi Eropa.
Asimilasi
Alasan hilangnya jejak dan asimilasi komunitas tersebut adalah kurangnya Taurat terjemahan Cina, hilangnya pengetahuan bahasa Ibrani, kurangnya jumlah Rabbi, dan rusaknya sinagoga mereka oleh banjir Sungai Kuning. Pada pertengahan abad 19, kemiskinan menyeebabkan orang-orang Yahudi yang tersisa menjual bangunan dan Mushaf-mushaf sinagoga ke misionaris Protestan.
Peninggalan sinagoga mereka meliputi catatan tatacara ritual peribadatan, dua mangkuk batu, catatan pencucian badan sebelum upacara ibadah, serta kayu silinder gulungan Taurat kasus. Ini, serta salinan prasasti-prasasti yang disebutkan di atas kini berada di di Royal Ontario Museum, Toronto.
Selama Abad Pertengahan, para ahli teologi Eropa sangat tertarik dengan mushaf Torah Kaifeng. Mereka ingin membandingkan kitab tersebut dengan kitab mereka sendiri karena ahli-ahli teologi Kristen menduga adanya perubahan sejumlah ayat-ayat tertentu di dalam Taurat pada zaman Talmud, yang menyebabkan sengketa hebat di Eropa pada Abad 16. Kembali pada sebuah kitab yang “murni dan benar” akan menyelesaikan masalah, dan jika bagian-bagian yang hilang ditemukan, akan membuktikan bahwa para rabbi memang telah mengubah naskah kitab suci.
Organisasi-organisasi Kristen membeli dan menyimpan enam gulungan Taurat Kaifeng. Tentu saja, gulungan Taurat Kaifeng yang ditemukan akhirnya memang identik dengan gulungan Taurat di Eropa.
Ketidaktahuan
Komunitas yahudi tersebut terus melemah, seperti tercatat di dalam surat kaum Yahudi Kaifeng ke Barat pada pertengahan abad ke-19: “Morning and night, with tears in our eyes and with offerings of incenses do we implore that our religion may again flourish. We sought everywhere, but could find none who understood the letter of the Great Country (Hebrew) which causes us deep sorrow.” Komunitas Kaifeng bahkan pernah menampilkan gulungan Taurat di tempat-tempat umum dengan tanda menawarkan balasan untuk setiap musafir yang lewat dan dapat menerjemahkan teks tersebut untuk mereka.
Walaupun kurang praktek formal keagamaan, Yahudi Kaifeng memiliki rasa identitas etnis. Beberapa orang tetap mendaftar anak-anak mereka sebagai “Youtai” (Yahudi) pada dokumen pemerintah, tepat di sebelah kolom di mana identitas mereka seharusnya ditulis “Han” (Etnik Cina). Mereka pun senang menerima kunjungan orang-orang Yahudi asing ke tempat mereka. Mempelajari warisan mereka sangat sulit karena sangat sedikit catatan tentang Judaisme yang tersedia di Cina.
Disarikan dari: http://www.jewish-holiday.com
Topics: Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat, Social & History >< Sosial & Sejarah | No Comments »







