• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus
    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus by Mahardhika Zifana
    My rating: 5 of 5 stars
    View all my reviews

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « | Home | »

    Bubble Economy = Ekonomi yang Bebal

    By admin | November 10, 2008

    Bubble economy adalah salah satu julukan yang diberikan kepada sistem ekonomi kapitalisme. Mengapa julukan tersebut diberikan? Mari kita telaah bersama secara cermat.

    Kapitalisme adalah konsep yang menjadi ‘komoditi’ yang ditawarkan Dunia Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat. Konsep kapitalisme dengan segala terapannya dikenal memiliki ciri dalam bentuk terjadinya guncangan dan kebangkrutan, resesi, bahkan juga kejatuhan ekonomi secara berkala. Pada tahun 1997, krisis finansial di Asia –yang di Indonesia populer dengan sebutan krisis moneter- ditengarai sebagai akibat dari pasar finansial dan spekulasi gaya liberal. Satu dekade kemudian, beberapa negara macam Indonesia dan Thailand masih belum mampu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi.

    Ketika sebagian besar negara-negara AsiaTenggara belum pulih dari terjangan krisis 1997, dunia diliputi krisis ekonomi global yang dimulai dengan krisis finansial yang melanda seluruh dunia. ‘The Credit crunch’ di Inggris pada musim panas 2007 telah menimbulkan kepanikan dan kekacauan liar biasa dalam pasar finansial dunia sehingga menyebabkan terjadinya burst pada pasar kredit perumahan di Amerika Serikat. Ancaman krisis pada terjadinya resesi ekonomi dunia, sangat berpotensi memicu macetnya peningkatan kesejahteraan dan meningkatnya angka pengangguran dalam perekonomian Barat serta memupus uang sejumlah 1 juta Dollar dari nilai sistem ekonomi dunia[i].

    Para ahli ekonomi pendukung Kapitalisme menyatakan bahwa faktor-faktor individual adalah penyebab krisis. Mereka senantiasa mencoba untuk tidak menyalahkan sistem Kapitalisme. Pantauan setiap bulannya sejak musim panas 2007 memberikan informasi yang jelas tentang akar masalah yang sesungguhnya. Kejatuhan Northern Rock, Bank terbesar kelima di Inggris Raya, kebangkrutan hampir seluruh perusahaan utama di Amerika Serikat, kebijakan terkordinasi untuk menggelontorkan miliaran Dollar AS ke pasar finansial serta peleburan Bear Stern, bank investasi terbesar kelima di Amerika Serikat pada Maret 2008.

    Saat masyarakat Barat menyadari terjadinya krisis kredit dan mengantri di bank-bank untuk menarik uang mereka sebagai antisipasi kemungkinan bahwa bank mereka akan mengalami kebangkrutan, kepala berita di berbagai suratkabar terkemuka Barat memuat kabar mencemaskan tentang peningkatan harga-harga komoditas pangan pokok. Bank Dunia memperingatkan bahwa skala harga-harga tersebut akan terus bertahan hingga tahun 2015[ii]. Banyak rakyat miskin di seisi dunia yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk membeli makanan kini mulai merasakan kesulitan untuk membeli makanan bagi diri mereka sendiri. Kekacauan dan protes marak terjadi di mana-mana mulai dari Haiti hingga Indonesia, kekurangan makanan sangat berpotensi memunculkan pergolakan geopolitik.

    Di saat perekonomian global menghadapi ancaman nyata akan terjadinya resesi dan inflasi (khususnya akibat tak terkendalinya laju inflasi makanan) Minyak –sumber daya yang paling banyak diperdagangkan di dunia pun mencapai level yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pada Januari 2008, harga minyak telah mencapai nilai 100 Dollar AS per barel akibat pedagang tunggal besar memaksakan menjual minyak dalam skala perdagangan-perdagangan kecil untuk memperluas pasar mereka. Pada bulan Mei 2008, secara tak terduga Minyak mencapai nilai 135 Dollar per barel. Ini berarti bahwa harga minyak telah meningkat 25% sejak Januari 2008 atau 200% sejak awal Abad ke-21. Karena minyak memainkan peran penting dalam perekonomian Barat, mereka pun menghadapi krisis yang tak terduga dengan ancaman langsung pada sektor-sektor riil kunci sebagai bahaya yang siap menerkam.

    Cepat naiknya harga komoditas di pasar global muncul pada saat yang bersamaan dengan krisis kredit global. Para bankir, ahli ekonomi, dan politisi Barat telah gagal membangun opini publik tentang adanya hubungan di antara krisis tersebut dan secara dogmatik lebih suka menyalahkan Cina dan India dengan tudingan terlalu banyak konsumen, spekulan rakus, regulasi dan transparansi yang tak jelas di sana.

    Krisis kredit global, krisis pangan, dan krisis minyak lagi-lagi membuktikan betapa lemahnya sistem ekonomi kapitalis. Seiring kejatuhan akibat krisis kredit global dan krisis konomi yang berlanjut dan semakin meluas, tuntutan akan berbagai alternatif kini semakin mengemuka. Buku ini bertujuan untuk memberikan gagasan agar meninggalkan berbagai penyebab krisis dan mengevaluasi beberapa konsep yang bernafaskan Kapitalisme, yang tak pelak lagi akan selalu menyebabkan krisis. Buku ini akan memberikan pada berbagai faktor yang telah memberikan kontribusi pada krisis serta meneliti mengapa Kapitalisme selalu memunculkan krisis secara reguler.

    Salah satu ciri penting sebelum terjadinya burst atau ledakan dalam skema ekonomi kapitalis ialah adanya bubble atau penggelembungan dalam sektor tertentu. Contohnya ialah pasar perumahan di Amerika Serikat. Bank-bank AS nekat membuka kredit bagi masyarakat yang berada di level sub-prime, sehingga lahirlah konsep sub-prime mortgage demi memperluas pasar kredit. Pendanaan sektor ini mereka ambil dari pasar finansial di mana banyak spekulan yang bertaruh menaruh uangnya di sektor ini demi melihat bahwa pasar perumahan AS terus berkembang. Padahal perkembangan sektor perumahan tersebut disebabkan oleh sub-prime mortgage di mana sebagian besar krediturnya adalah masyarakat yang berada di level menengah ke bawah.

    Ketika masyarakat yang memegang kredit sektor sub-prime mortgage ternyata terbukti mengalami gagal bayar, maka hancurlah sektor perumahan AS. maka gelembung besar itu pun meledak…and the bubble burst! Ternyata diantara sekian banyak pihak yang memegang portofolio sektor perumahan AS, banyak pula bank-bank dari seluruh dunia yang memegangnya. Akibatnya, mereka pun mengalami kehancuran finansial akibat menguapnya dana di sektor ini. Dengan segera, krisis ini menjalar ke mana-mana mulai dari Eropa, Afrika, hingga Asia.

    Pelajaran utama dari konsep bubble economy sebenarnya bukan hanya terjadi saat ini atau tahun 1997 saja. Sejak Kapitalisme menjadisistem ekonomi yang dominan, kita sering menyaksikan guncangan-guncangan semacam ini. Pada tahun 1920-an saja, Amerika Aserikat pernah dihantam badai ekonomi yang tak kalah dahsyat dari sekarang dan mereka hanya bisa lolos dari lubang jarum setelah kemenangan di Perang Dunia ke-2, ketika banyak tanah jajahan musuh-musuhnya yang beralih ke tangan mereka, sehingga mereka berkesempatan mengembangkan industri setelah memperoleh akses besar minyak Timur Tengah dan bahan mentah Asia dan Afrika dengan harga yang hanya menguntungkan mereka dan memiskinkan rakyat Asia dan Afrika.

    Entah harus berapa kali lagi krisis macam ini terjadi agar kita semua sadar bahwa Kapitalisme sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi umat manusia. Bubble economy memang ekonomi yang bebal…


    [i] Containing System Risks and Restoring Financial Soundness, Global financial stability report, IMF, April 2008,

    th

    accessed 24 May 2008, http://www.imf.org/external/pubs/ft/gfsr/2008/01/pdf/text.pdf

    [ii] L Wroughton & J Topsfield, ‘World’s new crisis: soaring food prices,’ April 2008, accessed 27 May 2008,

    http://www.theage.com.au/articles/2008/04/14/1208025091644.html

    • Share/Bookmark

    Topics: Social & History >< Sosial & Sejarah | No Comments »

    Comments

    rahasia-kaum-falasha