« Ibu dan Ayah yang Diuji Allah | Home | Bangsa Israel = Bangsa Terkutuk (?) »
Dan Kosovo Pun ‘Merdeka’
By admin | August 13, 2008
Minggu, 10 Shafar 1429 / 17 Februari 2008 di Pristina, Ibukota Kosovo…
Ribuan orang memadati jalan-jalan untuk menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Pasukan gabungan NATO dan PBB sibuk hilir mudik mengamankan massa. Mereka nampak serius menjalankan tugasnya. Sementara tentara gabungan Serbia dan Montenegro hanya melongo tanpa daya seraya terpaku menyaksikan semua keriaan itu bagai kucing kudis yang meneteskan liur karena menatap hidangan lezat. Itulah pemandangan yang saya tangkap melalui layar CNN.
Layar siaran langsung CNN hari itu menunjukan bagaimana salah satu simfoni Beethoven mengiringi naiknya bendera kebangsaan rakyat Kosovo yang kemudian berkibar dengan gagahnya di puncak tiang Istana Pristina. Bersamaan dengan itu, Presiden Fatmir Sejdiu dan Perdana Menteri Hashim Tachi memproklamasikan kemerdekaan bangsa yang terdiri atas etnis gabungan Serbia dan Albania tersebut. Segera setalah itu, ribuan orang jatuh dalam kebahagiaan dan keharuan. Tangis kebahagiaan merebak di mana-mana. Semua orag saling bersalaman dan berpelukan.
WE ARE FREE! Sebuah spanduk dengan tulisan besar diarak beramai-ramai oleh sekelompok pemuda sambil berpawai di atas mobil. Nyaris tak ada wajah murung yang bisa saya lihat di layar kaca, selain tampang sengak beberapa tentara NATO, PBB, dan Serbia. Semua nampak berbahagia menyambut kemerdekaan itu. Seolah itulah akhir dari semua perjuangan mereka sejak menyatakan pemisahan diri dari Serbia pada 1991.
Benarkah Kosovo telah merdeka? Secara de facto, mereka telah memiliki pemerintahan definitif dan pengakuan dari berbagai negara di dunia. Beberapa negara berpengaruh (AS, Inggris, Perancis, Italia) pun serta-merta telah menyatakan pengakuan mereka atas kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan tersebut. Berarti secara de jure pun mereka mulai ‘merdeka’. Namun ada beberapa hal yang perlu dicatat oleh negara yang baru ‘merdeka’ ini.
Belajar dari kasus kemerdekaan beberapa negara pasca tahun 1999 (Timor Leste & Sahara Barat), kemerdekaan sebuah bangsa tak lebih dari permainan segelintir kapitalis bangsat yang hanya ingin meraih keuntungan sesaat dari gejolak politik di suatu kawasan. Seorang yang cermat akan mampu melihat bahwa dukungan Australia pada kemerdekaan Timor Leste pada awal 1999 disebabkan karena ketidakpuasan mereka pada konsesi minyak di blok Celah Timor yang mereka peroleh dari Indonesia. Di sisi lain, Fretilin (front pembebasan Timor Leste yang didukung mayoritas rakyat Timor Leste) mampu menjanjikan konsesi yang lebih memuaskan bila Timor Leste merdeka. Dan…SIMSALABIM! Timor Leste pun merdeka.
Lalu apa yang sesungguhnya mereka peroleh setelah merdeka? Timor Leste terjebak dalam gejolak politik berkepanjangan. Sebagian besar pembesar Fretilin yang kini menjadi partai berkuasa dan berhaluan komunis tidak tahu bahwa pucuk-pucuk pimpinan mereka telah memberikan konsesi minyak Celah Timor dengan nilai yang sangat edan (90:10 –dengan 90 untuk Australia selama 50 tahun) demi menebus kemerdekaan mereka. Gejolak politik kemudian berujung pada pendongkelan Perdana Menteri Mari Alkatiri dan pemberontakan seorang Mayor bernama Alfredo Reinado.
Akankah kasus yang sama terjadi pada Kosovo? Menarik sekali bahwa ada banyak persamaan antara Kosovo dan Timor Leste. Mari kita cermati bersama.
1. Timor Leste sebelumnya merupakan wilayah integral negara lain (Indonesia), begitu pun Kosovo (Serbia).
2. Latar belakang pemisahan Timor Leste adalah masalah faktor historis (Mereka dicaplok Indonesia dalam Operasi Seroja tahun 1976), begitu pula Kosovo (Mereka dicaplok Serbia dalam Perang Balkan tahun 1928).
3. Sentimen agama merupakan faktor primer yang diapungkan Timor Leste (mereka mayoritas beragama Katolik vs. Indonesia yang mayoritas Islam. Bandingkan pula ini dengan Kosovo (mereka mayoritas Islam Vs. Serbia yang mayoritas Kristen Ortodoks).
4. Dunia Barat (Baca Uni Eropa dan AS) sepenuhnya mendukung kemerdekaan Timor Leste, begitu pula dengan kemerdekaan Kosovo.
5. Timor Leste memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar di blok Celah Timor, begitu pula Kosovo yang wilayahnya dekat dengan Laut Kaspia yang dikenal memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar. Seperti kita ketahui, minyak bagaikan darah dan Dunia Barat bagaikan Drakula. Ada darah, maka ada drakula. Ada minyak, maka ada AS dan Uni Eropa.
Menyimak semua fakta di atas, alangkah baiknya bila kata MERDEKA bagi Kosovo diberi tanda kutip (‘ ’) sambil kita menanti dan mencermati apa yang akan terjadi selanjutnya. (^_^)
Minggu, 11 Shafar 1429 / 18 Februari 2008
The Count of Monte Cristo / Abu Zaidan / Mahardhika Zifana
Topics: Social & History >< Sosial & Sejarah | No Comments »







