« Pelajaran Moral Berharga di Balik Opera van Java | Home | The Development of Human Civilization (1) : Introduction »
29 Juli 2001
By admin | July 29, 2009
ESA: Sebuah Perjalanan Pada 29 Juli 2001
Sahabat-sahabatku, yang pernah menjadi organ tubuh ESA periode 2001/2002…
Saudara-saudaraku yang selalu kucintai seperempat hati (yang sepenuh hatiku mah da cuman buat Rieka doang)…
Seandainya malam tadi aku sedang berada di Afgahanistan untuk menghadang gerak laju tentara AS dan NATO bersama para pejuang Taliban, Pasti note ini tidak akan pernah ada…
Seandainya malam tadi aku sedang berada di Palestina dan sedang melempari tentara-tentara Israel dengan batu bersama bocah-bocah Palestina, Niscaya note ini tidak akan pernah kubuat…
Seandainya malam tadi aku sedang berada di Xinjiang dan sedang mencoba menembus barikade tentara Cina di depan Mesjid bersama para demonstran Uighur, Jelas note ini tidak akan pernah kutulis…
Tapi aku tidak berada di tempat-tempat itu. Bahkan aku belum pernah ke tempat-tempat itu. Walau kobar-kobar dalam dadaku selalu membuatku ingin pergi ke tempat-tempat itu dan bergabung dengan calon-calon penghuni surga untuk menjemput maut yang akan menghantar pertemuan dengan para bidadari di dalam surga…
Malam tadi aku hanya duduk di ruang kerjaku, menghadapi komputer bututku yang sering nge-hang. Tahukah kalian apa yang kulakukan? Bukan mengetik. Karena komputer itu tidak kunyalakan. Bukan pula melamun.
Malam tadi, Aku membuka-buka diari milikku dari tahun 2001. Lalu Aku menemukan catatan yang kubuat pada tanggal ini, 29 Juli…
29 Juli 2001, hari ini, delapan tahun yang lalu…
Ingatkah kalian, ada apa pada tanggal ini delapan tahun yang lalu? Baiklah, jika ada di antara kalian yang belum ingat, biar kukatakan ada apa di tanggal ini. Akan kucuplik beberapa bagian dari dalam diari yang kucatat di buku itu. Sebelumnya perlu kuungkapkan, ada beberapa kalimat utuh dari dalam diariku itu yang sengaja kuhilangkan, kusensor, karena tidak pantas dibaca anak-anak berusia di atas lima belas tahun. Hehehe….
Ini dia cuplikan diariku:
29 Juli 2001
Pagi tadi, sejak pukul enam pagi, anak-anak sudah banyak yang datang. Aku sendiri baru bangun jam setengah enam. Lalu Aku bergegas mandi dan mengganti pakaian pada pukul enam tepat. Setelah mandi, kulihat isi lokerku pada lemari kayu yang teronggok di pojok sekretariat ESA. Saat itulah kusadari bahwa tak ada kameja bersih yang dapat kukenakan. Semua celana pentalon milikku juga kotor. Apa boleh buat, kupakai celana jins biru yang sudah enam hari belum kucuci. Lalu hanya ada satu kaos bergambar Ogre sedang menjulurkan lidah. Akhirnya kupakai kaus itu.
Walau sang ketua panitia ada di Sekretariat ESA, dan siap untuk memimpin keberangkatan dengan gagah berani dan secara ksatria dengan sedikit olol leho, jelas aku yang akan bertanggung jawab karena sang Presiden berada jauh di tempat yang akan kami tuju. Sementara Presiden tidak ada, tanggung jawabnya kan beralih kepadaku sebagai Sekjen?
Sejak jam tujuh, Trisna mengatur para peserta. Dia sibuk mondar-mandir kesana-kemari kayak setrikaan baru panas. Bis yang kami sewa dari Pusdikkowad kemudian datang sekira pukul delapan kurang. Edy Engkus datang jam delapan kurang lima. Dia akan jadi satu-satunya Senior yang bergabung dalam perjalanan ini. Tepat pada pukul delapan, Kang Ahmad Bukhori, dosen muda kami yang ganteng dan cool itu, datang. Dia mewakili Pak Bach yang berhalangan hadir, seperti biasanya. Hmm… no comment about this…
Pukul delapan tepat, upacara keberangkatan dimulai. Tamu-tamu undangan hadir. Di sana ada Kaicho Himabaja, Presiden serta Kanzler DSV, juga Ketua Senat yang belum mandi. Sang Ketua Senat nampak bersemangat…, kecengannya ada di antara barisan peserta. Jadi maklum saja kalau beliau was trying to look for face (berusaha cari muka).
Trisna memberikan laporan persiapan keberangkatan dengan lugas dan ngagerenyem. Tak lupa tangannya bergerak ke sana-kemari sambil bicara. Mungkin itu akibat rambutnya yang baru beberapa hari terakhir dipangkas pendek. Dia jelas jadi nampak lebih tampan, walau tetap mirip Suneo. Hihi… Kang Abuh juga memberikan sambutan mewakili ketua jurusan dengan kalimat-kalimat yang indah. Namun aku lupa lagi, kalimat apa saja yang dia ucapkan. Hehe…
Sebelumnya, aku memberikan sambutan mewakili Presiden Esa. Tadi pagi, pidato sambutanku itu sangat pendek. Aku sangat terilhami oleh Pidato Fidel Castro di Sidang Umum PBB sehari lalu, yang cuma satu menit. Masa sih…, aku kalah sama Fidel Castro? Maka aku hanya berbicara selama empat puluh detik dalam sambutan itu.
Segera setelah upacara itu usai, kami mulai menaikkan barang-barang ke atas bus. Anak-anak nampak kian bersemangat. Si Anjas yang nampak celeno dengan celana katun hitamnya yang rada ngatung pagi tadi, nampak senang dan bersiul-siul. Arief dan Iman menggotong tape besar milik jurusan. Mereka persis bagai anak kembar, dengan perut yang sama-sama membusung ke depan. Vidi, Rendi, Heri Embah, Heri Ristanu, anak-anak laki-laki lainnya nampak bersemangat membenahi barang-barang yang bejibun ditumpuk di dalam bis. Aku…, tentu saja tidak mau kalah. Tadi pagi aku mengangkut… tambang plastik. Hihi…
Tepat pukul delapan tiga puluh. Bis itu membawa kami berlalu dari kampus UPI, maka… dimulailah petualangan puluhan anak manja yang menamakan dirinya Hima Bahasa Inggris UPI ini…
“Lokasi P2M…, here we come!”
Demikian aku berteriak di dalam bus saat roda-roda bus mulai menggilas batas gerbang UPI.
Perjalanan di bis tadi sungguh luar biasa. Suara celoteh dan tawa-canda anak-anak menghias dinding-dinding bus yang besar itu. Sementara lagu-lagu MLTR dan Ike Nurjanah mengalun dari tape yang ada di samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai bus supaya baik jalannya. Tak kalah liarnya adalah di barisan kursi belakang. Di sana, asap rokok mengepul ke sana kemari dari mulut Aldo, Pocong, Anjas, Trisna, Iman…, dan tentu saja…Aku.
Suara protes anak-anak perempuan yang mati-matian mengaku tidak suka asap rokok sesekali meningkahi kepulan-kepulan asap nikmat itu.
Trisna sibuk mondar-mandir sepanjang perjalanan itu. Andai bis itu adalah sebuah bis komersial, pasti aku akan mengira dia pedagang asongan yang cuman naik di lampu merah saja. Sang ketua memang harus nampak sibuk. Lalu aku juga tak mau kalah sama sang ketua. Kalau sang ketua OC sibuk, maka ketua SC juga harus lebih sibuk. Maka aku pun ikutan mondar-mandir…, menyisir makanan-makanan ringan yang berada di tangan para perawan ESA. (Mudah-mudahan mereka memang masih pearwan) Hehehe…
Demikian kesibukan itu terus berjalan hingga bis mencapai Jalan Cagak, lalu berbelok ke arah Wanayasa. Anak-anak mulai ‘tumbeng’ di sana. Banyak di antara mereka yang mulai cape. Tidak sedikit pula yang memutuskan untuk berlalu ke alam mimpi. Di jok belakang saja sudah tidak lagi terdengar suara riuh dan gaduh. Anjas nampak pulas sambil memeluk buku Kahlil Gibran. Pocong masih terjaga, namun matanya menerawang ke gugusan pepohonan di pinggir jalan. Sementara Vidi nampak memejamkan mata sambil menyumbat kedua daun telinganya dengan walkman. Yang paling mengenaskan adalah si Aldo. Kulihat air liurnya menetes-netes. Kudengar ia begadang tadi malam. Maka kuterbitkan niat dalam hati untuk menggodanya. Aku berteriak:
“Woy! Aya nu molor bari ngacay!”
Sontak anak-anak bangun dan menatapku, lalu kutunjuk muka si Aldo. Keriuhan pun kembali muncul. Kudengar tawa di sana-sini.
Setelah itu, saat Bus semakin mendekati Wanayasa, anak-anak mulai ribut lagi. Suasana yang sempat senyap, kembali riuh dengan celoteh dan canda tawa.
My God! Itu pengalaman yang luar biasa!
Beberapa kilometer mendekati Wanayasa, aku mengganti kaset di tape dengan kaset rekamanku yang kemudian membuat anak-anak protes. Wajar saja jika mereka protes…, karena pada satu side kaset tersebut hanya ada satu lagu yang terus diputar berulang-ulang:
“Duhai kekasih hati…
Kugubahkan nasyid ini..
………
Dst.”
Semula kukira mereka tidak menyadari bahwa hanya ada satu lagu yang diulang-ulang hingga tiba-tiba saja dari barisan belakang menggema paduan suara yang dipimpin Aldo:
“Insya Allah… Insya Allah… Insya Allah… Insya Allah…”
Hahaha…. lucu sekali menyaksikan respon mereka.
Dan demikianlah canda, tawa, celoteh, celetuk, dan nyanyian mengiringi perjalanan tadi. Sungguh sebuah perjalanan yang luar biasa. Mungkin siang tadi adalah siang yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku hingga aku mati…, atau setidaknya hingga aku pikun. Naudzubillah! Aku ingin tetap ganteng tanpa perlu pikun sampai akhir hayatku.
Kami tiba di Kiarapedes saat arloji Swiss Army bajakan di tanganku menunjuk pukul 10.21. Segera saja kami mengangkut semua barang dari dalam bis, lalu memindahkannya ke Balai Desa Kiarapedes yang akan menjadi markas kami selama seminggu ke depan.
Tim advance yang berangkat sejak jumat menyambut kami di sana.
Ada Endil yang penampilannya nampak kayak embok-embok karena dia lagi masak, mempersiapkan makanan untuk kami yang baru datang.
Ada si Feri Novirona yang sedang buang sampah.
Lalu ada Aslina…, tentu saja, karena dialah sang kuncen –orang yang paling menguasai seluk-beluk Kiarapedes.
Juga ada Eri yang nampak capek. Kudengar dari Aslina bahwa saat mereka berbelanja sehari sebelumnya, ia mengangkut karung beras di pundaknya. Hmm… tidak apa-apa, Ri. Rasulullah pun memberi uswah sebagai pemimpin yang baik dengan mengangkut batu-batu saat membangun masjid nabawi. Firasatku mengatakan bahwa Eri akan selalu mengingat pengalaman itu dengan ulasan senyum di wajah, seperti biasanya…, dia kan selalu tersenyum, kontras denganku yang hanya tersenyum sama cewek-cewek kecengan saja. Haha…
Tidak banyak yang bisa kuingat pada siang tadi saat kami baru tiba. Yang kuingat hanyalah momen itu berlangsung begitu cepatnya. Hingga kemudian Pak Kades datang dan kami harus memulai upacara penerimaan di Balai Desa yang cukup representatif gedungnya, tapi parah wc-nya itu. Kudengar di kampung itu hanya ada sedikit rumah yang memiliki wc dan kamar mandi. Ini tentu kabar baik bagi mereka yang senang mengintip orang mandi –orang-orang dengan tampang kayak si Aldo dan si Anjas, juga si Vidi dan si Heri Embah.
Nah…, momen yang menggelitik terjadi saat upacara penerimaan tadi. Upacara dimulai dengan pembacaan ayat Qur’an. Lalu Trisna lagi-lagi ngasih laporan. Dan Eri ngasih sambutan (Huff…! Tugas kembali pada sang pemilik). Kemudian tiba sambutan dari Pak Kades yang tampangnya kayak preman belum mandi. Semua ngasih sambutan yang pendek-pendek, paling cuman si Kades itu yang ngasih sambutan lima belas menitan.
Masalahnya datang waktu Bapak Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kiarapedes-Wanayasa ngasih sambutan. Dan Bapak Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kiarapedes-Wanayasa ini namanya Bapak Uci Sanusi. Dan Bapak Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kiarapedes-Wanayasa ini tidak lain dan tidak bukan adalah ayahnya Aslina.
Waktu Pak Uci naik mimbar, anak-anak bertepuk tangan riuh bagai sedang menonton konser Bon Jovi di Gurun Sahara (emang Bon Jovi pernah konser di Gurun Sahara?). Lalu saat dia ngomong, dia banyak melucu. Anak-anak tertawa. Terhibur. Demikian selama sepuluh menit dia ngomong.
Kukira dia akan beres setelah lima belas menit.
Namun ternyata dia lanjut sampai dua puluh menit.
Eh…, dia lanjut lagi sampai sampai dua puluh lima menit.
Pada poin ini, bodornya sudah tidak basah lagi dan anak-anak nampak bosan. Si Agung Doja saja sampai nguap, lalu ngobrol dengan si Dani Babon di ujung ruangan. Padahal mereka tahu aku ada di belakang, dan tahu bahwa aku biasanya sangat marah sama pengurus ESA yang enggak tahu aturan –ngobrol di waktu ada ucapan sambutan acara apapun. Namun kali tadi, aku biarkan mereka. Aku sendiri merasa penat.
Menit ketigapuluh. Aku sendiri sudah mulai tidak sabar. Tapi aku masih mencoba duduk di dalam ruangan.
Menit ketigapuluh lima, kesabaranku habis dan aku keluar lewat pintu di belakang Balai. Di teras Balai Desa itu, aku lalu menyulut sebatang Dji Sam Soe. Ah…, nikmatnya. Anak-anak tak ada yang berani keluar. Mungkin mereka menyangka aku sengaja keluar untuk mencegah agar mereka tak keluar. Padahal mah, cuman pengen ngeroko aja.
Menit keempatpuluh, Pak Uci masih berbicara di depan. Tapi Aslina tiba-tiba ikut keluar. Hehe… Ternyata dia sendiri juga bosen mendengar bokapnya itu pidato.
“Si Bapa teh meni lami, nyariosna, “ kata Aslina.
“Sugan, eta…,” jawabku, “raraosanana nuju masihan tablig akbar mereun?”
Aku terkekeh.
Akhirnya setelah satu jam lebih lima menit berbicara, Pak Uci mengakhiri pidatonya.
Anak-anak nampak senang. Seakan lega dan baru saja selesai menjalani pemeriksaan di Mabes Polri akibat terlilit kasus korupsi.
Seusai upacara penerimaan, kami mulai berbenah. Trisna dan aku mengatur penempatan anak-anak di rumah penduduk. Sebelumnya kutekankan dengan bahasa yang lugas bahwa mereka tidak boleh protes. Kutekankan pula bahwa tidak ada yang boleh protes soal makanan. Sebelumnya, saat makan siang, aku mendengar ada seseorang yang ngedumel masalah makanan. Dan itu cukup menyinggung perasaan Endil dan kru advance yang memasak makan siang tadi. Aku sangat marah karena hal itu. Tapi saat kucari siapa orang yang ngedumel soal makanan itu, tak seorang pun mau mengaku.
Oh iya…, siang tadi Mas Yudha, Mbak Rita, dan Kang Irwan datang. Lokasi KKN mereka enggak jauh dari tempat P2M, dan mereka menyempatkan diri untuk melongok keberadaan kami di Kiarapedes. Senangnya ditengok sama senior. Siang tadi, di mataku, ketiga orang itu nampak bagai Trio Lingua yang hendak konser tunggal di Kiarapedes, sangat menghibur dan membesarkan hatiku, Trisna, dan kru P2M lainnya.
Setelah penempatan anak-anak, aku ikut mengantar anak-anak ke rumah tinggal mereka bersama Trisna dan Eri. Rumah-rumah yang punya wc, menjadi prioritas untuk anak-anak perempuan. Sementara anak-anak laki-laki ditempatkan di rumah-rumah yang kelas balangsak ke bawah.
Anjas, Rendi, dan si Embah ditempatkan di rumah Ma Unuh, mereka paling dekat dari Posko di balai desa. Aku juga akan tinggal di situ. Namun untuk malam itu, aku memutuskan untuk bobo di Balai Desa saja bersama Trisna, Endil, dan Aslina. Bobonya terpisah tentu saja.
Maghrib. Kami berkumpul di Balai Desa. Trisna membagi jadwal mengajar dan kegiatan untuk esok harinya. Kasihan sekali Trisna. Dia kelihatan cape. Mudah-mudahan dia bakal kuat seminggu ke depan. Setelah itu, kami menutupnya dengan wejangan dari sang Presiden…, dan aku, tentu saja.
Selepas isya, anak-anak pun bubar.
Huff…! Hari yang sungguh luar biasa. Mudah-mudahan selama enam hari ke depan masih ada cerita indah untuk kutanam di dalam memori di kepalaku. ..
SEGITU AJA
Nah…, Sahabat-sahabatku…
Saudara-saudaraku…
Kalian masih ingat dengan momen itu? Aku yakin kalian pasti masih ingat. Aku sengaja menukil salah satu bagian dari diariku untuk berbagi dan meretas kembali memori kalian tentang keping dari masa lalu kita. Aku ingin mengingatkan bahwa…
Kita pernah muda
Kita pernah ceria
Kita pernah berkarya
Dan…
Kita pernah bersama
… berbagi cerita
…
Kalian boleh menyebut aku lebay, atau melow, atau apapun yang menandakan bahwa aku lemah. Tapi sejujurnya, saat aku membaca diariku itu…, ada bulir-bulir air yang merembes dari sela-sela kelopak mataku, lalu mengalir menelusuri alur pipi dan hidungku. Aku teringat kalian. Aku rindu kalian. Aku rindu saat-saat kita rapat, mengobrol, berdiskusi, dan lainnya. Aku bahkan rindu bermain smackdown di tengah Sekretariat ESA di gedung butut bernama Pentagon itu (dengan posisi paling atas, tentu saja. Da kalau jadi yang tertumpuk paling bawah mah amit-amit, sori-dori, deh bo, deh yay).
Saudara-saudaraku…,
Terakhir, aku hanya ingin mengucapkan satu frasa sederhana saja untuk kalian semua, untuk orang-orang yang berada di dalam Bis Pusdikkowad dan di Kiarapedes pada 29 Juli 2001:
Terima kasih.
(Karena pernah memberikan satu hari yang sangat indah untukku…)
Topics: True Stories >< Kisah Nyata | 1 Comment »








February 16th, 2010 at 12:44 pm
keren kang, rina aja sampe ketawa2 bacanya….! bener2 keinget UPI banget…jujur, I miss that moment very much…..!