• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Rahasia Kaum Falasha Rahasia Kaum Falasha by Mahardhika Zifana

    My review

    rating: 5 of 5 stars


    View all my reviews.

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « Sektor Riil Vs Sektor Finansial : Mana Prioritas Pemerintah Indonesia? | Home | Skorsing »

    A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008

    By admin | November 14, 2008

    A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008

    Sabtu, 18 Oktober 2008 lalu, saya didaulat untuk mengisi materi ‘Teknik Persidangan’ dalam acara LKM[1] Hima Bahasa Inggris UPI[2] 2008. Setelah berbulan-bulan (atau mungkin bertahun-tahun?) saya tak lagi ‘bersentuhan’ dengan Hima Bahasa Inggris UPI, saya akhirnya berkesempatan untuk kembali melakukannya.

    Saya dijadwalkan untuk mengisi pada pukul 14:25 WIB. Namun sejak pukul 12:25, saya sudah tiba di kampus. Saya sengaja tiba jauh lebih awal. Selain karena takut terlambat dan mencederai janji kepada Panitia, saya pun tak sabar lagi ingin segera melihat seperti apa wajah sebuah kegiatan Hima Bahasa Inggris UPI di masa sekarang.

    Semula, saya heran mengapa materi ‘Teknik Persidangan’ disampaikan pada waktu siang hari bolong seperti itu. Biasanya, materi ‘Teknik Persidangan’ disampaikan beberapa saat sebelum sidang di malam hari. Kemudian saya mendapatkan jawaban yang menyentak: LKM kali ini dipenggal dalam dua hari kegiatan yang masing-masing hari hanya boleh digelar sampai pukul 17:00. Dengan demikian, acara persidangan dalam LKM pun akan harus digelar siang hari keesokan harinya.

    Sesaat setelah tiba, saya menyempatkan diri untuk makan siang lebih dulu di sebuah warung yang terletak tak jauh dari kampus UPI. Beberapa saat kemudian, Ramdhan Adhi, sahabat baik saya, menemui saya dan kami pun berlalu menuju gedung PKM.

    Sekira pukul 13.25, kami menjejakkan kaki di lobi gedung PKM. Nampak wajah-wajah muda nan bersemangat dengan jas almamater membungkus tubuhnya lalu-lalang di antara lobi dan pelataran gedung PKM. Asep Gunawan alias Opiek, mantan Presiden Hima Bahasa Inggris UPI periode 2006/2007, dan Wafi Wifqatillah, mantan Sekretaris Jenderal Hima Bahasa Inggris UPI periode 2006/2007, menyambut kami di lobi. Kebetulan, mereka berdua didaulat untuk menjadi para hakim Mahkamah dalam kegiatan tersebut. Kemudian kami duduk di salah satu pojok lobi PKM dan berbincang-bincang –saling melepas kangen dan menanyakan kabar masing-masing.

    Tak lama kemudian, beberapa orang panitia menemui saya dan membicarakan persiapan penyampaian materi yang akan saya berikan. Hadir pula sang Presiden Hima Bahasa Inggris UPI, Yazid. Kami pun berbicara lumayan banyak tentang situasi dan kondisi Hima di masa sekarang.

    Ada turihan luka mendalam di hati saya ketika mendengar cerita bahwa hingga saat kegiatan LKM tersebut digelar, Hima Bahasa Inggris UPI masih belum memiliki sekretariat tetap pasca kebakaran gedung pentagon beberapa waktu lalu. Seketika, empati saya mengalir deras kepada para pengurus Hima Bahasa Inggris UPI periode sekarang. Bayangkan saja: mereka harus berjuang mempertahankan eksistensi Hima Bahasa Inggris UPI di tengah ketiadaan sekretariat. Entah bagaimana mereka melaksanakan koordinasi, kegiatan kesekretariatan harian, hingga kumpul-kumpul antar-sesama tanpa adanya sekretariat. Dengan segala keterbatasan tersebut, adalah sebuah prestasi besar bagi mereka untuk dapat tetap menggelar kegiatan itu. Dalam hal ini, semangat mereka layak untuk diberikan apresiasi tersendiri.

    Pukul 14:15 WIB, panitia mempersilakan saya untuk segera beranjak ke Auditorium PKM, tempat kegiatan LKM digelar. Dengan langkah kaki bergetar dan jantung berdebar, saya memasuki auditorium yang relatif cukup luas tersebut. Namun seketika itu pula, turihan luka di hati saya semakin dalam.

    Di dalam ruangan yang relatif cukup luas tersebut, saya lihat peserta yang mengisi ruangan hanya memenuhi antara 4-5 deretan terdepan. Selebihnya, nampak kursi auditorium kosong-melompong atau diisi oleh beberapa orang panitia yang duduk termangu, mengikuti jalannya acara. Subhanallah! Gejala apakah ini? Apakah kegiatan kaderisasi Hima Bahasa Inggris UPI sudah nampak sebagai kegiatan yang tidak menarik di mata para mahasiswa baru?

    Dalam nada bimbang dan kelebatan beragam pertanyaan di benak saya, saya menyampaikan materi tentang Teknik Persidangan kepada para peserta. Hingga saya usai menyampaikan materi dan berlalu dari tempat itu, beragam pertanyaan itu tetap ada.

    Malam hari. Ketika ragam pertanyaan itu belum juga menemukan jawaban, saya menerima sebuah sms dari salah seorang panitia. Isinya kurang lebih meminta kesediaan saya untuk menyaksikan jalannya sidang keesokan harinya. Karena saya memang penasaran ingin melihat jalannya persidangan tersebut untuk sekaligus memastikan apakah penyampaian materi yang saya lakukan sukses atau tidak, saya memutuskan untuk datang kembali ke kampus UPI keesokan harinya.

    Saya datang pukul 13.00 lebih sedikit. Saya melihat dan mengamati jalannya sidang. Para peserta yang hanya sedikit itu nampaknya cukup memahami etika dan aturan sidang. Secara umum, saya merasa cukup puas dengan hal itu, pertanda bahwa materi ‘Teknik Persidangan’ yang saya sampaikan hari sebelumnya cukup meresap ke dalam sanubari mereka. But still…ragam pertanyaan yang kemarin bertubi-tubi memukul genderang otak saya kembali mencuat.

    Pukul 16.15, Saya lalu keluar dari Auditorium PKM. Saya melihat kearah kerumunan panitia, kemudian ke arah peserta yang berhamburan keluar untuk istrirahat shalat ashar. Kemudian saya melihat ke dalam ruangan PKM. Di samping kanan ruang auditorium, bendera Hima Bahasa Inggris melambai tertiup angin, seolah sedang melambai kepada saya dan mengajak saya menekuri kembali perikehidupan di kampus. Angan saya memang terbang ke masa lalu, ketika saya masih menjadi mahasiswa dan Sekretaris Jenderal Hima Bahasa Inggris UPI. Namun kaki saya tetap berpijak di masa sekarang, masa ketika tahun-tahun itu telah terlewati.

    Saya kemudian berjalan ke luar gedung PKM. Di halaman gedung PKM, saya menatap ke arah bangunan gedung FPBS yang baru, sebuah gedung yang bersih dan kokoh. Lalu saya berjalan ke muka gedung itu. Gedung itu adalah mesin waktu yang akan menghantarkan para panitia berjas almamater itu ke masa depan. Dari situ, saya mengarahkan pandangan saya ke muka Gedung Pentagon yang kusam. Bagian depannya telah tertutup seng pembatas. Saya lihat kekumuhannya lalu kembali beranjak teringat kepada masa lalu.

    Gedung itu dinamai Pentagon –sama dengan nama Gedung Markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Bukan hendak meniru atau menjiplak, bentuk alas gedung itu memang segi tujuh alias pentagon.

    Masa dahulu, pada hari-hari kerja di waktu siang, Gedung Pentagon biasanya digunakan sebagai tempat kuliah bagi mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni. Sementara bila malam tiba, gedung itu seolah berubah menjadi pasar malam. Betapa tidak, di gedung itu ada lima markas HMJ[3] di lingkungan Fakultas Bahasa dan Seni. HMJ Bahasa Indonesia di lantai tiga, HMJ Bahasa Perancis dan HMJ Seni Rupa di lantai dua, HMJ Bahasa Arab dan Hima Bahasa Inggris –Himpunan kami- di lantai dasar. Para aktivis HMJ yang biasa nongkrong di sekitar gedung itu selalu membuat kehebohan saat malam. Terkadang di muka gedung itu ada kumpulan orang bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi dengan kombinasi suara dan musik gitar yang men sana en corporesano –alias musik ke sana suara ke sono. Atau, ada juga mahasiswa yang suka teriak-teriak di muka gedung itu –katanya sih mendeklamasikan puisi, walau akhirnya lebih mirip dengan racauan orang gila. Bagaimanapun, gedung itu terasa sebagai gedung yang paling hidup bila dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya di kampus itu. Cita rasa sastra dan seni mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni memang terbilang unik bila dibandingkan dengan mahasiswa fakultas lainnya.

    Tanpa terasa, tiba-tiba saja langkah kaki saya telah sampai di dekat sisi gedung tempat sebuah ruangan yang dulu merupakan sekeretariat Hima Bahasa Inggris di ujung ruangan. Saya melirik melalui seng pembatas ke dalam, jelas tak ada seorang pun di sana. Hanya ada dinding kusam yang kotor dan kesunyian yang melanda tempat itu, sesunyi hati saya yang sedang termangu di dekatnya.

    Lalu saya duduk di depan seng pembatas gedung pentagon dan menatap ke depan. Dari tempat saya duduk, saya menatap lurus ke Villa Isola, bangunan tua yang pernah menjadi saksi kedigjayaan seorang Tuan tanah bernama Baretti[4] pada masa penjajahan Belanda. Bangunan itu masih tegak dan kokoh berdiri, tetap menjadi simbol keagungan Kampus Bumi Siliwangi UPI yang setiap harinya menampung ribuan orang mahasiswa. Dulu, saya adalah salah satu dari mahasiswa-mahasiswa itu. Saya datang ke kampus ini untuk mengejar mimpi dan masa depan. Kini, saya hanyalah seorang biasa yang menyaksikan para mahasiswa itu mengejar mimpi dan masa depan dalam janji balutan gelar sarjana.

    Pandangan saya kemudian kembali ke ruangan di pojok gedung pentagon itu.

    Dulu di muka ruangan itu, saya biasa berkacak pinggang sambil menatap ke dalam sekretariat yang selalu berantakan, lalu marah-marah kepada para anggota Kabinet Hima Bahasa Inggris yang selalu malas membersihkan ruangan…

    Dulu di muka ruangan itu, Fahrul Riza –yang sekarang menjadi instruktur Aikido itu, sering duduk sambil menggoda perempuan-perempuan yang lewat di depan ruangan.

    Dulu di muka ruangan itu, Arief Kurniawan –yang sekarang menjadi Senior Editor di Grafindo itu, sering membaca buku sambil melamun, kebiasaan khasnya…

    Dulu di muka ruangan itu, Trisna Kristiana –yang sekarang menjadi Guru di Al Azhar itu, selalu menyeruput kopi di pagi hari sambil menghisap sebatang rokok ketengan.

    Dulu di muka ruangan itu, Eri Kurniawan –yang sekarang menjadi Dosen UPI yang sedang belajar di Amerika itu, sering duduk melamun, entah memikirkan apa.

    Dulu di muka ruangan itu, Budi Sampurna –yang sekarang menjadi PNS di Departemen Agama itu, sering duduk menghitung pengeluaran dan pemasukan keuangan Hima.

    Dan dulu di dalam ruangan itu…kami berkumpul, berbicara, bertengkar, bermain, tidur, makan, menonton televisi atau VCD bajakan, dan melakukan banyak hal lainnya.

    Sejenak kesunyian terus melingkupi saya yang sedang duduk di situ, sesunyi cinta saya kepada ruangan di pojok gedung pentagon itu. Demi melihat kondisi ruangan itu sekarang, mata saya tidak dapat menahan derasnya buliran air yang mendesak keluar dari mata saya. Sendiri di tempat itu, saya menangis tersedu-sedu. Saya menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua emosi di dalam dada.

    My journey to the past… perjalanan waktu yang saya lakukan, dengan sebuah mesin waktu bernama kenangan, telah menghantarkan saya kepada luka mendalam di dada. Luka yang terturih karena cinta kepada ruangan di pojok gedung pentagon itu. Beberapa orang lalu-lalang di muka gedung kumuh itu dan beberapa di antaranya menatap ke arah saya yang sedang menangis sendiri. Orang-orang itu, tetap tak dapat menghilangkan kesunyian di hati saya, kesunyian cinta saya kepada ruangan di pojok gedung butut bernama pentagon itu…

    Minggu, 19 Oktober 2008.



    [1] Latihan Kepemimpinan Mahasiswa. Dulu kegiatan ini bernama LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa)

    [2] Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris UPI

    [3] HMJ ialah singkatan untuk Himpunan Mahasiswa Jurusan. Istilah umum untuk menyebut organ mahasiswa Intra Universiter tingkat jurusan.

    [4] Baretti sebenarnya dilahirkan sebagai orang Italia. Namun ia menjadi warganegara Belanda.

    • Share/Bookmark

    Topics: Family & Education >< Pendidikan & Keluarga, True Stories >< Kisah Nyata | 4 Comments »

    4 Responses to “A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008”

    1. heru kabariyanto Says:
      February 27th, 2009 at 7:10 am

      Wah kang dika, kalau kenyataan sidang sudah seperti itu bagaimana dengan GERAKAN MAHASISWA yang terkenang TULUS dan AGUNG itu ya…

      Jadi sedih juga ya. Ada gelitik dihati untuk balik lagi ke KAMPUS untuk menghidupkan kembali keDINAMISan KAMPUS.

    2. Mahardhika Zifana Says:
      February 27th, 2009 at 12:17 pm

      heru kabariyanto:

      Iya, Akh…
      saya juga begitu.

    3. Neng Vivin Says:
      February 28th, 2009 at 1:21 pm

      sok atuh, buat kang Heru, kami antos kehadiran akang di kampus, di ESA…
      at least untuk bernostalgia..tapi jg sambil berbagi cerita

    4. Mahardhika Zifana Says:
      March 1st, 2009 at 1:25 am

      Kang Heru mah Jurusan Bahasa Arab, Neng. Tapi jigana memang match kalo diundang ke acara2 ESA karena visi dan misinya benar-benar berjiwa ESA.

    Comments

    rahasia-kaum-falasha