« AS Bukan Negara yang Tak Tertandingi | Home | Laskar yang Mencoba Meraih Pelangi »
Gara-Gara Pengemis
By admin | October 29, 2008
Saya belum bisa meninggalkan kebiasaan buruk merokok. Ini juga menjadi biang keluhan dari keluarga saya yang sering merasa terganggu dengan asap rokok. Dua hari yang lalu, saya hendak membeli rokok ke warung. Lalu saat saya baru membuka pagar rumah, seorang pengemis lelaki yang sudah tua datang dan menadahkan sebuah wadah tepat di depan dada saya.
Kemudian kebimbangan meliputi pikiran saya. Saya hanya punya uang lima ribu rupiah yang akan saya gunakan untuk membeli rokok. Namun saya juga tidak tega melihat pengemis tua yang menadahkan wadah di depan saya. Kemudian saya mencoba membuang kebimbangan dan memasukkan dua ribu rupiah ke dalam wadah yang disodorkan pengemis itu. Habis perkara!
Lalu saya berjalan menuju warung. Toh masih ada tiga ribu rupiah lagi di saku celana saya. Namun belum sampai kaki saya di warung, seorang pengemis (lagi) lainnya tiba-tiba menghampiri saya. Dia seorang perempuan tua yang bajunya compang-camping. Sudah bisa ditebak apa yang akan dia lakukan. Sama seperti pengemis sebelumnya, ia menyodorkan sebuah wadah ke depan dada saya. Lagi-lagi, saya membuang jauh-jauh kebimbangan, lalu memasukkan seribu rupiah ke dalam wadah miliknya.
Setelah itu saya berlari menuju warung. Saya ogah ketemu pengemis lainnya lagi. Pokoknya dengan dua rebu yang tersisa itu, saya harus beli rokok! Namun saat di warung, seraut wajah indah berdiri menyambut kedatangan saya dengan senyum. Itu Istri saya.
Entah bagaimana ceritanya, istri saya ternyata sedang belanja di warung dan entah bagaimana pula, uang untuk membayar belanjaannya kurang. Mau tahu berapa kurangnya? DUA RIBU RUPIAH! Akhirnya, dengan dongkol, saya berikan semua uang yang tersisa di saku celana saya. Kemudian kami pulang bersama. Saya harus menahan keinginan untuk merokok hari itu.
Bukan pertemuan dengan istri di warung yang membuat saya dongkol berat. Ketika saya dan istri saya lewat di depan masjid (di sebelah rumah saya), nampak dua sosok manusia sedang merokok di teras masjid. Dua orang itu, seorang lelaki tua dan seorang perempuan tua, sama-sama merokok. Siapakah mereka gerangan?
)^!hrg%@# (#Hzj&*b!!tmfwk!!
Mereka adalah dua pengemis yang saya bagi sarebu ewang sebelum saya sampai di warung! Capppeeee deeeh!
Rancaekek, 10 Dzulhijjah 1428
Mahardhika Zifana
Topics: True Stories >< Kisah Nyata | 5 Comments »








December 30th, 2008 at 10:44 am
hihihihihihihihihihih…..
sudah jatuh, tertimpa gajah pula.
nah kang, pengemis2 itu teh datang sbg ‘teguran’ buat kang dhika supaya berhenti merokok.
kumaha sih?sakitu ditingalikeun ku Allah teh, masih keneh ngerasa dongkol…(tapi emang sih, apalagi di bagian ngeliat pengemis yg tadi ngerokok hahahahahaha)
sok atuh, sebelum Alveolus di paru-paru akang tidak mampu lagi menukar CO2 dengan O2, mendingan diberhentiin aja yah ngerokoknya.
sok atuh, yg kecanduan narkoba aja bisa, masa yg addicted sm rokok ga bisa?
eta komo deui ai nyadar haseup rokokna ngaganggu si Z & Z mah, pan karunya.
nanti, apa kata duniaaa????
December 31st, 2008 at 12:04 pm
Neng Vivin: Iya, kali, ya?
January 14th, 2009 at 3:07 am
iya kaleee yee…wuee
March 11th, 2009 at 5:58 am
hihihihi….
Harusnya bukan dongkol bang, tapi bersyukur, karena Allah sudah berbaik hati membebaskan paru-paru abang dari racun rokok.
Lagian kan nggak ada gunanya merokok, tidak hanya merusak kesehatan sendiri, tapi juga kesehatan orang-orang di sekitar kita, dan bikin kantong jadi jebol biz uang kok dibakarin gitu
btw, salam kenal ya^^
March 11th, 2009 at 11:51 am
Rukia:
Iya…emang bersyukur, kok (setelah dingkol) hehe…salam kenal juga.