« Saat Putera Keduaku Lahir | Home | Dan Kosovo Pun ‘Merdeka’ »
Ibu dan Ayah yang Diuji Allah
By admin | March 14, 2008
Rabu, 15 Muharram 1429 / 23 Januari 2007. Pukul 23.00.
Aku dan istriku panik luar biasa. Zulfan, putera kedua kami yang baru berusia 10 hari, tak henti-hentinya muntah dan buang air. Ia juga tak henti-hentinya menangis dan sesekali kejang. Malam itu, waktu istirahat kami habis untuk ‘menikmati’ kebingungan tersebut.
Keesokan harinya, kami bergegas membawa Zulfan ke Rumah Sakit. Dokter mendiagnosa bahwa putera keduaku itu mengidap komplikasi broncopneumonia dan keracunan obat. Dalam bahasa awam, broncopneumonia berarti paru-parunya basah akibat terendam cairan. Rupanya Zulfan sering tersedak saat minum ASI maupun susu formula, sehingga saluran pernafasannya basah. Sementara racun obat disebabkan melalui perantaraan ASI yang tidak sehat. Istriku memang meminum obat pemacu hormon jantung akibat jantungnya yang lemah. Ternyata ini memberikan akibat fatal pada bayi kami.
Konsekuensinya, kami yang baru sepekan pulang dari rumah sakit setelah persalinan Istriku, harus kembali menginap di rumah sakit untuk merawat bayi kami. Semoga catatan ini menjadi pelajaran untuk anda yang ingin, sedang, dan akan punya anak. Jangan pernah menganggap sepele bayi yang tersedak, karena akibatnya bisa fatal.
Selama 6 hari kami merawat dan menunggui Zulfan di rumah sakit dengan harap-harap cemas. Beruntunglah kami, karena kondisinya semakin membaik. Setelah enam hari, kami pun dapat bernafas lega dan pulang ke rumah. Namun baru sehari kami berada di rumah, kami kembali dihadapkan pada situasi pelik.
Putera sulung kami, Zaidan, mengalami demam tinggi. Terbersit rasa bersalah dalam hati kami. Rasanya selama pekan itu, kami kurang memperhatikan Zaidan dan lebih terfokus kepada Zulfan, sehingga kesehatannya terganggu. Mau tak mau, kami pun harus membawa Zaidan ke dokter.
Dokter mengatakan kepada kami bahwa Zaidan mengidap Typus. Lagi-lagi, aku harus menginjak lantai rumah sakit, kali itu untuk menunggui Zaidan. Istriku tak mungkin ikut menginap di rumah sakit karena harus memperhatikan Zulfan yang baru pulih. Begitulah kami berbagi tugas. Memiliki 2 orang anak yang sedang sakit merupakan ujian dari Allah yang terasa berat untuk ditanggung.
‘Badai pasti berlalu’. Laksana judul film yang dibintangi Vino Bastian, itulah keyakinan yang kami tanamkan dalam hati. Tawakal ialah cara kami untuk bertahan menghadapi semua ini. Kami senantiasa menanamkan dalam hati kami bahwa tak mungkin Allah menguji manusia di luar kemampuan.
Badai pun berlalu (atau sekedar reda???). Setelah hari-hari melelahkan dengan segala konsekuensi yang kami jalani: Persalinan dengan Cesar, Zulfan yang sakit, dan Zaidan yang sakit, akhirnya kami menemukan ujung dari segala kelelahan ini. Jahitan akibat operasi di perut istriku mulai kering, Zulfan mulai kembali sehat dan normal (walau masih belum boleh minum ASI), dan Zaidan pun mulai membaik dan bisa makan makanan yang agak berat.
Kami pun menemukan sebuah momen indah. Hari Rabu, 6 Shafar 2008, sore hari, aku dan istriku duduk di teras rumah. Istriku menggendong Zulfan yang sibuk ‘menyadap’ susu dari dot. Sementara aku memangku Zaidan. Kami berempat menyaksikan mentari tenggelam di ufuk barat. Itu memang fenomena alam biasa. Namun bagi kami, momen itu terasa indah dan pantas disyukuri. Kami diberi kenikmatan dalam wujud 2 anak yang sehat dan tampan serta kesempatan untuk duduk dengan santai bersama mereka. Bersama-sama, kami menyaksikan siang berganti malam. Seperti itulah ujian dan cobaan berganti dengan kesenangan. Sedih dan duka berganti dengan kebahagiaan. Dan…tentu saja…hidup pun akan berganti dengan kematian…Seperti itulah hidup berjalan bagi kami.
Nun jauh di sana. Ribuan kilometer jaraknya, beberapa ibu dan ayah yang tinggal di Palestina mungkin tidak bisa menikmati momen indah seperti halnya kami. Tetap saja, Allah pun memberi kenikmatan kepada mereka. Mereka diberi kesempatan untuk menjadi orang tua dari para Mujahid yang akan membebaskan Palestina dari cengekeraman Israel. Dalam termangu, aku memandang wajah kedua buah hatiku. Mereka putih bersih dan bercahaya laksana kapas tanpa noda. Allah…akankah aku sanggup mewarnai mereka dengan kalimat-Mu?
Rabu, 6 Shafar 1429
Topics: Family & Education >< Pendidikan & Keluarga, True Stories >< Kisah Nyata | No Comments »







