• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus
    Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus by Mahardhika Zifana
    My rating: 5 of 5 stars
    View all my reviews

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « | Home | »

    Saat Putera Keduaku Lahir

    By admin | February 14, 2008

    Ahad, 5 Muharram 1429 / 13 Januari 2007. Pukul 04.05 WIB. Aku baru menyelesaikan sebagian terjemahan buku atas order sebuah penerbit buku asal Bandung. Kemudian Ummu Zaidan, Istriku, bangun. Ia mengeluh sakit pada kandungannya. Kukatakan padanya agar banyak minum air putih. Sama sekali tak terpikirkan olehku bila istriku tercinta akan melahirkan. Kemudian aku pergi ke Mesjid untuk Shalat Subuh. Setelah itu, aku pulang kembali lalu tidur –semalaman aku tak tidur karena pekerjaanku.

    Pukul 06.40, Ummu Zaidan membangunkan aku dan bersikeras agar dapat pergi ke bidan saat itu juga. Lalu dengan setengah mengantuk, kupanaskan motor dan tak lama kemudian, kami pun meluncur ke rumah bidan. Kantukku mendadak hilang saat Bu Bidan mengatakan bahwa kandungan Ummu Zaidan sudah memasuhi tahap Bukaan 2 dan ia tak sanggup menangani proses persalinan akibat posisi bayi kami yang sungsang. Beliau menyarankan dan memberi rujukan agar kami bergegas menuju Rumah Sakit Al Islam di Jalan Soekarno-Hatta.

    Segera kupacu motorku pulang ke rumah dan membenahi barang-barang yang mungkin akan diperlukan dalam proses persalinan di Rumah Sakit. Lalu salah seorang kerabatku menawarkan diri mengantar kami dengan Kijang Innova miliknya. Aku menyambut baik tawaran itu, karena aku tak mau mengambil resiko dengan membawa Istriku yang hendak bersalin menempuh jarak belasan kilometer menggunakan sepeda motor –apalagi aku tak punya SIM.

    Pukul 09.10, kami tiba di Rumah Sakit Al Islam. Istriku langsung dibawa petugas ke unit kebidanan. Saat dokter kandungan memeriksa kondisi istriku pada pukul 09.30, beliau mengatakan bahwa dirinya akan mencoba sekuat tenaga untuk membetulkan posisi bayi ke letak yang semestinya.

    Selama hampir dua jam hingga pukul 11.40, posisi bayi kami masih tetap sungsang dengan kepala berada di bagian kiri rahim. Sepuluh menit kemudian, Dokter menstimulasi agar bayi bergerak. namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bayi kami malah bergerak pada posisi vertikal dengan kepala di atas dan kaki di bawah.

    Pukul 13.15, bukaan baru mencapai tahap ke 4, padahal semestinya dalam rentang waktu tersebut Bayi sudah berada pada posisi bukaan 7. Dokter kemudian mengatakan akan sebisa mungkin mencoba menjalankan persalinan normal, karena banyak kasus bayi lahir dengan kaki keluar terlebih dahulu dan selamat sampai akhir proses. Sungguh berat melihat perjuangan seorang perempuan yang hendak melahirkan. Apalagi bila perempuan itu ialah makhluk yang paling aku cintai dalam hidup. Selain itu, tak ada kerabat yang menemani kami menjalani semua itu. Ibuku sedang berkunjung ke Serang, Banten, untuk sebuah urusan. Adik-adikku berada di Bogor untuk liburan di rumah Tante. Sementara kerabat istriku, hampir seluruhnya, berada di Pulau Sumatera.

    Kami berdua menyerahkan apapun yang akan terjadi hari itu kepada Allah. Sungguh kami percaya bahwa Dia adalah Maha Adil dan Bijaksana yang mengetahui segala urusan dan kebaikan.

    Hingga pukul 14.21, proses masih berada pada Bukaan 4. Dokter yang penasaran kemudian mengajakku melihat monitor Ultrasonografi. Betapa terkejutnya kami saat melihat bahwa ternyata sang bayi berdiam dengan posisi kaki menyilang laksana orang duduk bersila dan membaca Manakib Syekh Abdul Qadir Jailani. Posisi bayi macam itu membuat terganjalnya dorongan yang membuat Bukaan kandungan tidak melaju sebagaimana mestinya. Dokter kemudian mengatakan kepadaku bahwa peluang keberhasilan utuk persalinan normal dalam posisi bayi yang seperti itu adalah kurang dari 50 %. Karena itu, beliau kemudian menyarankan aku untuk menandatangani persetujuan operasi bedah Cesar.

    Di dalam saku pakaianku, hanya ada uang sejumlah 1 juta rupiah. Itulah biaya yang kupersiapkan untuk kelahiran putera kedua kami dengan asumsiku bahwa bayi kami akan lahir normal. Sementara itu, biaya bedah cesar termurah di rumah sakit itu ialah sebesar Rp. 5.700.000,00. Belum lagi perhitungan biaya rawat inap dan obat-obatan, sehingga salah seorang perawat memberikan estimasi bahwa sekurangnya kami memerlukan uang sebanyak 7,5 juta rupiah.

    Bagiku, keselamatan anak dan istrku adalah hal paling utama. Maka tanpa berpikir panjang, kutandatangani surat persetujuan operasi itu. Istriku mendapat jadwal untuk menjalani pembedahan pukul 04.05 WIB. Segera setelah kutandatangani surat tersebut, kuhubungi semua kerabatku. Hampir semua merasa kaget dengan kondisi yang kami hadapi, namun mereka semua mendukung dan mendoakan kami.

    Pukul 04.10 WIB, Istriku dibawa ke ruang bedah. Rasanya sulit kulukiskan dengan kata-kata perasaan yang kualami saat itu. kekhawatiran merupakan perasaan yang paling dominan ketika itu. saat Istriku pamit dan mencium tangan kananku sebelum masuk ke ruang bedah, kubisikkan ke telinganya,

    “Sayang, berjanjilah…berjanjilah bahwa kamu akan bangun kembali untukku dan Zaidan (nama putera pertama kami). Lahirkanlah bayi kita dengan selamat.”

    “Insya Allah! Jika Allah mengizinkan, aku masih ingin hidup untuk menjadi istrimu hingga sepuluh, duapuluh, bahkan seribu tahun dari sekarang,” jawabnya sambil berurai air mata, “namun andai takdir kita sampai di sini, aku tetap berbahagia karena aku wafat saat masih menjadi istrimu.”

    Kemudian kukecup kening dan bibirnya. Lalu kusaksikan enam orang perawat membawanya masuk ke ruang bedah. Aku adalah lelaki tangguh yang jarang sekali menangis. Bahkan ketika Ayahku wafat pun, aku tak menangis. Namun entah mengapa, ketika itu dua bulir air jatuh dari pelupuk mata kanan dan kiriku. Ketakutan terbesarku ketika itu ialah kehilangan dirinya. Aku tak dapat membayangkan bagaimana aku dapat menjalani hari-hari dalam kehidupanku tanpa kehadirannya. Sungguh… dialah makhluk yang telah mengajakku menyusuri kenikmatan hidup duniawi dan ia pula makhluk yang telah mendekatkan aku kepada Tuhanku. Aku sungguh mencintainya bagaikan aku mencintai diriku sendiri. Namun cinta di dunia hanyalah bianglala senja yang dapat hilang setiap saat jika Allah menghendaki dan aku menyadari hal itu. Maka segera setelah pintu ruang bedah ditutup, aku melangkah menuju masjid untuk Shalat Ashar yang tertunda karena menunggu jadwal pembedahan istriku.

    Seusai Shalat, kupanjatkan doa kepada-Nya,

    “Allah…Engkaulah yang telah mempertemukan aku dengannya. Atas kehendak-Mu, telah lahir seorang puteraku dari rahimnya dan ampuni kelancanganku jika kali ini aku memohon agar engkau berkenan mengizinkan kelahiran putera keduaku, juga dari rahimnya. Laksana perkenanmu atas kelahiran Ya’qub as. setelah Yaisu, kelahiran Yusuf as. setelah Benyamin, Musa as. setelah Harun as. Dan selamatkanlah istriku laksana Engkau menyelamatkan Ibrahim dari jilatan api, menyelamatkan Luth as. dari azab Sodom, menyelamatkan Bani Israel dari kejaran Fir’aun di Laut Merah. Sungguh tak ada yang tidak mungkin terlaksana tanpa kehendakmu. Dan tak ada kekuatan manusia yang dapat terwujud dalam upaya tanpa izinmu. Laa hawla walaa quwwata illa bilaah…”

    Segera setelah itu, aku berlari kembali ke muka ruang bedah. dan baru saja aku berhenti, pintu ruangan itu terbuka! Seorang perawat perempuan menggendong seorang bayi. itu bayiku!

    “Anda ayahnya?” tanya sang perawat.

    Aku mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaannya.

    Kemudian ia memberikan bayi itu kepadaku. dengan tangan gemetar, kupangku sang bayi.

    “Silakan kumandangkan azan,” lanjut sang perawat.

    Aku menggeleng.

    “Tidak. Mazhab yang saya yakini tidak menganjurkan untuk mengazani telinga bayi,” jawabku sambil tak lepas menatap Bayi itu.

    Sungguh…kelahiran manusia adalah pesona tiada tara bagi seorang ayah. aku sangat ‘menikmati’ semua proses itu. kemudian sang perawat meminta kembali bayi itu dan aku diminta menandatangani berita laporan kelahiran. sesaat setelah itu, aku tersadar dan teringat istriku. Perawat penjelaskan bahwa istriku masih berada di ruang bedah untuk menjalani penjahitan luka bedah. Lalu sambil memakaikan pakaian pada bayiku, sang perawat berkata,

    “Putera Anda sehat dan normal. Ada sedikit gejala kuning dari lever, namun dapat hilang dalam beberapa hari. Ada gejala rakhitis pada tulang kaki, namun ini pun dapat diobati dalam beberapa tahun…”

    Aku tak ingat lagi apa yang dikatakannya. Yang kuingat ialah aku memfokuskan pendengaranku pada tangisan bayi itu, laksana menikmati simfoni-simfoni karya Mozart dan Bach yang kusukai. Sungguh…tangisan bayiku ialah nyanyian merdu yang sangat nikmat didengar.

    Pukul 16.45 hari itu merupakan salah satu saat bersejarah dalam hidupku. Hari itu, lima hari sebelum peringatan Insiden Karbala yang terjadi 17 abad sebelumnya, bertepatan dengan peristiwa terbelahnya Laut Merah oleh pukulan tongkat Musa as. 3 millenium sebelumnya, putera keduaku lahir. Dua jam kemudian, Istriku siuman dari pengaruh bius tanpa ada kendala berarti selain kondisi jantungnya yang lemah dan memerlukan perhatian ekstra.

    Pada awal tahun 1429 ini, Allah telah memberiku hadiah berharga. Sungguh…betapa telah kusaksikan kebesaran kuasa dan perkenan-Nya dalam menjawab segala doa yang kupanjatkan kepada-Nya di hari itu.

    Semoga kisah ini dapat memberikan hikmah bagi teman-teman yang membaca. Yakinlah pada keagungan dan kekuasaan Allah, niscaya Dia akan menolong anda lolos dari kondisi dan situasi sesulit apapun. Allahush-shamaad… Allahush-shamaad… Allahush-shamaad…Laa ilaaha ilallaah.

    Rancaekek, 10 Muharram 1429

    The Count of Monte Cristo / Abu Zaidan

    • Share/Bookmark

    Topics: Family & Education >< Pendidikan & Keluarga, True Stories >< Kisah Nyata | No Comments »

    Comments

    rahasia-kaum-falasha