• Custom Search

    Subscribe/Lihat RSS

    Comments/Komentar RSS

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook by Clicking the Picture Below

    Be a Fan of Mahardhika Zifana in Facebook

    Add to Technorati Favorites

    Add to Google

    Add to My Yahoo!

    Mau Belanja Buku Online? Klik gambar di bawah ini:


    Masukkan Code ini K1-93B216-3
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

    Mau Domain Gratis Keren www.namadomain.co.cc? Klik gambar di bawah ini:

    CO.CC:Free Domain

    Butuh Web-Hosting Gratis Terbaik? Klik Gambar di bawah ini:

    Free Web Hosting with Website Builder

    Rahasia Kaum Falasha Rahasia Kaum Falasha by Mahardhika Zifana

    My review

    rating: 5 of 5 stars


    View all my reviews.

    Mahardhika Zifana's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

    Cari Uang Banyak di Internet? Klik gambar di bawah ini:

  • « A JOURNEY TO THE PAST –Sebuah Perjalanan Menembus Sekat Waktu dalam LKM Hima Bahasa Inggris UPI 2008 | Home | Konsep Islam Dalam Pendidikan Keluarga »

    Skorsing

    By admin | November 14, 2008

    oleh Mahardhika Zifana*

    <Cerpen ini saya tulis khusus untuk Asep Gunawan, alias Opiek –Presiden Hima Bahasa Inggris UPI Periode 2006/2007 pada bulan Oktober 2006. Jadi bukan untuk kepentingan komersial (seperti biasanya kalau saya nulis Cerpen, hehe…) Berhubung ternyata baru bulan Oktober 2008 hard copy-nya bisa saya berikan, jadi baru sekarang sayaupload di blog ini. Semoga ada guna dan manfaatnya, terutama untuk mereka –para aktivis dan para mantan aktivis Ormawa.>

    Suatu hari di bulan September 2006

    “Bila lewat jam 12 malam acara masih berlangsung, maka kami terancam akan diusulkan untuk diskorsing, Kang…” ujar Opiek, sang Presiden Hima[1]. Wajahnya mengisyaratkan sejuta bimbang yang tak mungkin dapat kuterka atau kukira-kira. Lalu kutatap Ramdhan, dia tersenyum simpul. Kutatap matanya dan dia menatapku. Namun Ramdhan hanya mengangkat bahu dengan senyum simpul yang tetap menghias wajahnya. Kemudian, satu-persatu, kutatap wajah-wajah di sekelilingku; ada beragam ekspresi yang tak dapat kujelaskan satu persatu.

    Acara LDKM[2] Hima Bahasa Inggris UPI[3] kali ini rupanya mendapat ujian yang cukup berat. Pak Iwa, Ketua Jurusan[4] Bahasa Inggris, ingin agar Peserta LDKM mendapat jatah waktu yang cukup untuk tidur. Sementara, tradisi Hima kami mensyaratkan bahwa LDKM ialah acara tanpa tidur, artinya peserta LDKM harus terjaga sepanjang malam sebagai bagian dari riyadhah[5] untuk melatih fisik dan mental kepemimpinan mereka sebagai calon organisator.

    Di kampus kami, hubungan antara dosen dan mahasiswa, birokrat dan aktivis memang merupakan hubungan yang pelik bagai benang kusut bergulung dengan tali rami dan sedikit tahi cicak. Di satu sisi, para aktivis organisasi tidak ingin menjadi subordinat dari birokrasi kampus level manapun; mulai dari rektorat, dekanat, hingga jurusan (tanpa -at). Di sisi lain, aku dapat memahami bahwa para dosen dan birokrat kampus sebenarnya memiliki niat baik untuk memandu organisasi mahasiswa intra-kampus agar dapat tampil secara lebih elegan dan manusiawi.

    Kemudian, dalam diamku aku teringat masa lima tahun silam, ketika aku, Eri, Arief, Trisna, dan beberapa kawan lainnya sedang berada pada posisi yang kini diduduki oleh Opiek, Wafi, dan kawan-kawannya. Ingatan itu masih segar dalam otakku.

    Suatu pagi di bulan September tahun 2001….

    “Pak Wahyu memanggil kita, Ka,” ujar Eri.

    “Ada apa, Ri?”

    “Soal LDKM dan PAB[6] yang akan kita gelar, “ ujar Eri. Sejenak ia menghela nafas. Matanya menerawang seolah mencoba menerobos dinding tebal Sekretariat Hima Bahasa Inggris di Gedung Pentagon[7] sore itu.

    “Kapan?” tanyaku seolah tak acuh. Tanganku mencoba meneruskan ketukan-ketukan di kibor komputer, membuat surat undangan untuk seluruh anggota SC[8] KAB[9] Hima.

    “Besok…,” jawab Eri. Kemudian ia melanjutkan, ”Hanya kita berdua, saja.”

    Maka keesokan harinya, selepas mengikuti kuliah Writing, kami berdua bergegas menuju Kantor Jurusan. Pak Wahyu sedang menandatangani beberapa surat ketika kami datang. Beliau kemudian mempersilakan kami untuk masuk. Di balik meja Ketua Jurusan, kulihat Pak Bachrudin sedang sibuk menekuri beberapa lembar kertas yang entah apa isinya. Beliau nampak tak acuh dengan kehadiran kami. Seperti itulah jurusan kami dulu. Kami, para Pengurus Hima, memang lebih banyak berhubungan dengan Pak Wahyu –sang Sekretaris Jurusan- daripada dengan sang Ketua Jurusan, Pak Bachrudin.

    Tak lama kemudian, Pak Wahyu meraih kursi dan duduk di depan kami. Sejenak beliau duduk dan bersandar bagai orang melepas penat setelah bekerja berat. Mungkin pekerjaannya hari itu memang banyak sehingga membuat wajahnya nampak masai. Kemudian beliau membelai kepalanya yang hanya ditumbuhi sedikit rambut di bagian belakang. Setelah berkali-kali menghela nafas panjang, beliau berkata,

    “Ini soal acara Hima, Ri…, Ka…” ujarnya sambil memandang ke arah Eri dan aku bergantian.

    “Ada apa dengan acara Hima, Pak?” tanyaku diplomatis dan masih terpengaruh dengan judul film ‘Ada Apa dengan Cinta’ yang CD bajakannya baru saja kutonton malam hari sebelumnya di Komputer Hima.

    “Kami, pihak jurusan dengan sangat menyesal dan terpaksa tidak akan memberi izin untuk kegiatan-kegiatan Hima yang akan melibatkan mahasiswa baru di dalamnya.”

    Aku dan Eri menghela nafas hampir bersamaan. Aku sebenarnya sudah dapat menduga apa yang akan beliau katakan. Itu adalah cerita lama yang selalu diulang setiap tahun dengan tokoh-tokoh yang sama; Ketua & Sekretaris Jurusan Vs. Presiden & Sekretaris Jenderal Hima. Yang membedakan hanya pemeran tokoh-tokoh itu yang berganti-ganti.

    Tak lama kemudian, dengan gaya diplomasi tipuan ala Presiden Amerika[10], Pak Wahyu melanjutkan apa yang telah beliau sampaikan dengan retorika argumentasi yang tak dapat dijejalkan ke dalam otak kami. Inti pembicaraannya ialah bahwa Jurusan sebenarnya selalu berada bersama Hima dalam setiap kegiatan apapun terkecuali kegiatan yang di dalamnya ada mahasiswa baru. Alasannya ialah ketakutan mereka akan kemungkinan munculnya perpeloncoan senior pada junior dalam acara-acara itu.

    Sebagai orang yang selalu mencoba menjadi manusia empatik, aku sebenarnya sangat memahami alasan kekhawatiran itu. Sepekan sebelum hari itu, seorang mahasiswa baru Jurusan Geologi meninggal dunia di ITB saat sedang mengikuti acara outbond Hima Geologi ITB. Sebuah acara yang mirip dengan acara PAB yang akan kami selenggarakan.

    Praktis pertemuan di jurusan itu dilewatkan dengan omongan nonsense Pak Wahyu tentang kemanusiaan dalam relevansinya terhadap hubungan senior dan junior di dalam organisasi Hima. Setelah itu, aku dan Eri keluar dari ruangan itu dengan aneka pikiran yang berputar di otak kami bagai piringan hitam gramophone hingga langkah-langkah kaki kami sampai di Sekretariat Hima.

    So, what will we do, Mr. President?”[11] ujarku membuka percakapan.

    “Itu semua nonsense, bulshit dan sekaligus unbelieveable!” jawab Eri. Tekanan emosi terdengar lugas dalam nada bicaranya.

    “Kasus ITB itu tak bisa dijadikan justifikasi untuk melarang kegiatan di sini, Ka!” lanjut Eri, masih dengan nada yang sama.

    Aku termangu dengan jeritan dalam hati bahwa ucapan Eri seratus persen benar. Hima Bahasa Inggris UPI yang kami pimpin tak memiliki kultur kekerasan yang dapat mencelakakan para junior yang baru bergabung di dalamnya. Sebaliknya, kami bahkan sangat protektif pada adik-adik kelas kami.

    Dua minggu sebelum hari itu, BEM fakultas menggelar acara Orientasi Kampus. Acara inilah yang menjadi salah satu cukang-lantaran[12] dilarangnya kegiatan Hima, karena acara itu dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mencabut hak asasi para junior. Hima kami adalah satu-satunya Hima di Fakultas yang bereaksi keras akan hal ini. Kami mengancam akan menarik adik-adik kami dari acara itu jika mereka terus-menerus diperlakukan tak manusiawi. Tak lupa, aku juga sempat melontakan ancaman bahwa Hima kami akan vakum dalam kegiatan ormawa fakultas jika kegiatan penerimaan baru masih tetap diwarnai perpeloncoan. Peristiwa itu jelas sudah menjadi bukti sahih bahwa kekhawatiran jurusan bahwa akan terjadi perpeloncoan dalam acara Hima sangat tidak beralasan.

    Namun alasan tinggal alasan. Larangan pun tetap larangan. Dua hari setelah hari itu, aku dan Eri giat melakukan lobi-lobi ke jurusan agar Hima tetap diperbolehkan menggelar acara untuk para junior. Namun untuk setiap seribu argumen yang kami ajukan, maka seketika jurusan pun memiliki seribu satu argumen untuk menyanggah kami. Tentu itu bukan hal aneh. Bukankah mereka adalah guru-guru kami yang tentu saja jauh lebih pandai dari kami. Di antara barisan jurusan ada banyak profesor, doktor, dan master yang siap memberikan jutaan argumen cerdas nan tak terbantahkan. Sementara di barisan Hima, hanya ada mahasiswa-mahasiswa kurang ilmu yang mencoba mengubah pendirian para mahaguru berilmu tinggi.

    Alhasil, dua hari itu tak memberikan efek apapun bagi keputusan jurusan. Anak ingusan sekalipun tak akan mau menjilat ludah yang telah ia cipratkan ke tanah, apalagi para mahaguru dengan deretan gelar profesor, doktor, dan master di sekeliling namanya.

    Namun jangan panggil kami dengan nama Dhika dan Eri jika kami menyerah begitu saja. Hari berikutnya, kami kumpulkan semua pengurus Hima untuk melaksanakan rapat darurat. Hampir semua pengurus Hima hadir ketika itu. Kami pun segera memulai rapat dengan menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi Hima. Antusiasme pengurus Hima dalam menyikapi masalah ini sungguh di luar dugaan. Sebelumnya, kami menduga jika kumpulan anak manja yang menamakan diri sebagai anggota ‘Kabinet Hima Bahasa Inggris UPI’ itu akan menyerah begitu saja dan meminta kami untuk mengikuti saja apa kata dosen karena takut imbas skorsing hingga D.O. sepeti di ITB. Namun ternyata dugaan kami salah.

    “Jangan sebut diri kita aktivis jika kita menyerah begitu saja pada justifikasi tak ilmiah yang disodorkan guru-guru kita!” ujar Trisna[13] berapi-api. Trisna ialah Ketua Departemen Komunikasi kami.

    “Saya sepakat dengan Trisna. Puncak dari pengabdian kita sebagai pengurus Hima ialah pendidikan yang bisa kita berikan pada adik-adik kita. Kita tak hendak mengkafirkan mereka…kita hendak mendidik mereka agar menjadi militan-militan tangguh yang siap mengemban tugas sebagai agent of change di negeri ini,” ujar Budi[14] tak kalah sengit. Budi ialah Ketua Biro Keuangan.

    “Yang terpenting, pendidikan itu tak akan pernah terwujud jika acara yang hendak kita gelar dibatalkan begitu saja,” timpal Arief[15], Ketua Departemen Organisasi yang bertanggung jawab langsung pada acara pengkaderan mahasiswa baru. Dia patut menjadi orang yang paling tersinggung dengan ide jurusan untuk mengeliminasi acara yang dibawahinya, sebab itu berarti kegiatan persiapan yang telah digarapnya bersama para stafnya selama berbulan-bulan akan sia-sia. Mereka pun akan dihitung sebagai makhluk-makhluk yang menghabiskan waktu secara mubazir karena hal itu.

    “Kita semua memahami hal tersebut,” ujar Eri memangkas aneka opini yang isinya seragam walau rupanya tak sama, “hanya yang sedang kita cari di sini ialah solusi dari masalah yang kita hadapi.”

    Paparan Eri membungkam semua mulut di ruang rapat. Hampir semua orang nampak termenung karena berpikir, walau cara mereka berpikir tentu berbeda-beda. Di sudut kiri ruangan, kulihat Ima[16] –Ketua Departemen Pendidikan- mengusap-usap ujung kerudung biru yang membungkus kepalanya. Sementara di sudut lain, Iman Kosasih[17] –Ketua Departemen Minat & Bakat- memonyongkan bibirnya sambil mengkerutkan kening. Mirip simpanse yang sedang anfaal.

    Semenit-dua menit berlalu, tak ada ide yang mencuat ke permukaan. Akhirnya aku mengambil inisiatif,

    “Sebenarnya, kita harus bertanya pada diri kita; apa sebenarnya yang hendak kita cari dalam menggelar kaderisasi anggota baru?”

    “Lho? Kok kau nanya lagi, Sekjen?!” teriak Indra[18] dari pojok belakang ruangan. Yang ini ialah Ketua Biro Administrasi Hima. Tangannya sibuk mengelap kacamata tebalnya. Semua mata di ruang itu kemudian terarah padaku.

    Aku berdehem satu kali dan siap mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan maksudku. Namun gelegar suara milik Rendi si Ketua Divisi Kerohanian mendahuluiku,

    “Apa yang dikatakan Kang Dhika benar adanya, kawan. Sebelum kita mengambil keputusan tentang sikap apa yang hendak dikeluarkan oleh organisasi kita dalam menyikapi masalah ini, kita perlu menyelami dulu akar masalahnya. Dan kalimat tanya dari Sekjen kita tadi ialah akar yang sesungguhnya, bukan larangan dari jurusan itu.”

    “Bijak sekali, kawan. Sungguh bijak,” timpal Eri sambil melirik sang Ketua Divisi. Makhluk yang dilirik menyeringai seperti kambing sedang birahi. Aku tak ingin membiarkan masalah ini larut dalam jeratan polemik debat kusir, maka aku kembali bersuara,

    “Jawaban pertanyaan tadi sebenarnya sederhana…ketika kita bertanya; apa sebenarnya yang hendak kita cari dalam menggelar kaderisasi anggota baru? Jawabannya ialah pendidikan yang bisa kita berikan pada adik-adik kita…persis seperti yang dikatakan Budi…Nah, karena itu… objek dari semua polemik ini ialah adik-adik kita, para mahasiswa baru…’ ucapanku terpotong suara merdu dari tengah ruangan,

    “Nggak usah muter-muter, lah! Langsung saja ke inti permasalahannya. Apa sih yang mau antum omongin,” pemilik suara ini ialah makhluk paling cantik yang pernah aku lihat di dunia –setidaknya hingga saat itu. Aku percaya bahwa Tuhan menciptakan makhluk ini langsung dengan tangan-Nya sendiri karena hasil ciptaannya begitu indah. Namanya *****, Ketua ETS[19].

    Biasanya, aku selalu kehabisan kata bila bertukar ucap dengan makhluk itu. Sialnya, dalam rapat penting itu, kebiasaan itu kembali muncul karena aku pun terdiam dan otakku kehilangan memori untuk melanjutkan apa yang hendak kukatakan. Semua ideku hilang dan berganti dengan wajah indahnya.

    Eri adalah makhluk paling mengagumkan di Hima. Ia memang peka dengan kebiasaanku itu, maka ia segera mengambil alih jalur bicara,

    “Aku bisa memahami maksud Dhika. Maksudmu ialah kita kembalikan semua ini pada para junior itu sendiri…bukan begitu, Dhik?” ujarnya sambil melirik ke arahku sambil menepuk punggungku agak keras, mungkin maksudnya hendak menyadarkan aku yang lagi melongo. Pantaslah bila seluruh mahsiswa Jurusan Bahasa Inggris memilihnya sebagai Presiden Hima Bahasa Inggris. Karena ia adalah makhluk cerdas yang memahami kelemahan kawannya dan cepat menangkap maksud orang lain.

    “Eh…oh…iya…begitu, Ri” ujarku tergagap-gagap. Sial pada saat itu karena otakku ini masih berkutat pada makhluk berkerudung hijau di tengah ruangan.

    “Hei, Sekjen…kau sakit mendadak, ya?”teriak Indra dari pojok ruangan. Aku menggeleng perlahan.

    “Nggak!” teriakku lantang.

    Singkat cerita, rapat hari itu pun menelurkan hasil yang mengagumkan. Kami sepakat untuk terus menggarap kegiatan-kegiatan KAB. Masalah larangan jurusan akan kami serahkan pada Mahasiswa baru sebagai objek dari kegiatan itu. Bila mereka merasa harus mengikuti kegiatan itu, maka dengan senang hati tangan kami terbuka menyambut mereka. Namun bila mereka tak mau mengikuti acara itu, kami pun tak akan memaksa. Ini sejalan dengan visi dan misi organisasi untuk selalu mengedepankan hak asasi manusia dalam menentukan pilihan sendiri.

    Kami telah mengoper bola kepada mahasiswa baru. Merekalah yang akan menentukan apa yang hendak mereka perbuat. Kami hanya akan berkonsentrasi pada persiapan dan penyelenggaraan kegiatan. Sikap kami itu kemudian kami sampaikan pada jurusan. Seperti film-film Hollywood usang yang di-re-run tanpa bosan oleh stasiun-stasiun TV Indonesia, sikap jurusan pun sama seperti tahun-tahun sebelumnya; marah besar karena ketidakpatuhan kami pada kebijakan mereka yang tidak bijak di mata kami.

    Tak pelak lagi, ancaman skorsing, pemotongan nilai, hingga D.O. bertebaran memenuhi rongga-rongga telinga kami dalam setiap kesempatan tatap muka kami dengan para guru kami yang sesungguhnya amat kami hormati dan banggakan. Namun seperti yang dikatakan oleh pepatah, anjing menggonggong dan kafilah pun berlalu. Dalam hal ini, kami tentu berperan sebagai kafilah. Sedang birokrat universitas dengan segala perangkatnya ialah A*****nya.

    Ancaman-ancaman macam skorsing, pemotongan nilai, hingga D.O. kami anggap tak lebih dari serapah sampah yang tak akan terbukti. Kami tahu benar hal ini karena seketika setelah ultimatum jurusan keluar, kami giat mencari literatur tentang skorsing dan aneka sanksi lain yang mungkin dapat dijatuhkan pada mahasiswa. Dan aneka peraturan mulai dari Undang-undang Sistem Pendidikan, Peraturan Pemerintah tentang pendidikan tinggi hingga Statuta dan AD/ART universitas mengatur masalah ini dengan ketat sekali sehingga memberikan skorsing pada mahasiswa tak semudah membalik telapak tangan. Dilihat dari segi yurisprudensi pun kami tak mungkin tersentuh oleh tangan-tangan sanksi. Bila kasus ITB dijadikan acuan, maka itu tak relevan. Di Hima kami, tak pernah ada dalam sejarahnya seorang mahasiswa baru mampus ketika mengikuti acara Hima. Jangankan meninggal, tergores seujung kuku oleh jamahan senior pun tidak. Kami adalah manusia-manusia berbudaya yang belajar pendidikan dan kelemahlembutan sastra dan bahasa. Itulah yang kami terjemahkan dalam kegiatan Hima.

    Rencana kami kemudian berjalan mulus tanpa hambatan. Skorsing, pemotongan nilai, hingga D.O. yang dikumandangkan tak mempan bagai peluru membentur baja. Segera setelah kami kemukakan sikap kami pada jurusan, pihak jurusan pun bergerilya pada mahasiswa baru agar memboikot acara-acara KAB. Namun ikatan emosional mereka dengan para pengurus Hima jelas lebih besar dibanding dengan para guru kami. Bagaimanapun kami dan mereka berstatus sama; mahasiswa.

    Akhirnya, hingga akhir hayat studi kami di UPI, tak sekalipun sanksi macam skorsing, pemotongan nilai, apalagi D.O. menjamah kami. Beruntung sekali bahwa para dosen kami adalah manusia-manusia profesional dan memiliki integritas tinggi. Pertentangan kami dengan mereka dalam alur birokrasi dan organisasi tak pernah berimbas ke dalam kelas. Praktis kami pun tetap dapat lulus dengan nilai bagus. Hampir semua pengurus Hima yang seangkatan denganku, terutama para ketua departemen, lulus sangat memuaskan dengan IPK di atas tiga. Eri Kurniawan, sang Presiden, bahkan lulus dengan cum-laude segera mengabdi di almamater kami sebagai dosen.

    Hal itulah yang membedakan kami dengan para pengurus Hima generasi berikutnya. Daya tahan fisik dan mental, jasmani dan rohani, kognitif dan psikomotorik, yang kami miliki dalam menghadapi tekanan birokrat jelas jauh lebih baik dari generasi-nya Opik. Penanganan kami terhadap sebuah masalah pun jauh melampaui kemampuan mereka. Kami ‘bermain cantik dan elegan’ dalam menghadapi tekanan dan serangan bagai pertahanan tim sepakbola Italia yang menganut sistem gerendel catenaccio. Kami pun mampu melakukan counter-attack yang cepat bagai serangan balik tim sepakbola Inggris.

    Aku pikir, dari generasi-ke-generasi, kualitas manusia-manusia yang mengurus Hima semakin menurun karena beberapa sebab. Yang pasti individu-individu yang berkutat di dalamnya tak bisa disalahkan karena mereka pun merupakan salah satu bagian dari sistem. Dan sistem itu terus menggiring mahasiswa menjauhi sikap militan yang sesungguhnya dibutuhkan dalam menjalankan suatu organisasi. Pembuat sistemlah yang harus disalahkan, bukan manusia yang hidup di dalamnya ataupun sistem itu sendiri.

    *Mahardhika Zifana adalah seorang penulis, penerjemah, dan pedagang. Saat kuliah di UPI pernah menjadi aktivis mahasiswa kelas teri.



    [1] Hima ialah akronim dari Himpunan Mahasiswa. Jenis organisasi intra universiter yang menghimpun mahasiswa berdasarkan Jurusan atau Program Studi.

    [2] LDKM ialah singkatan dari Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa. Sebuah acara yang dapat ditemukan di berbagai Himpunan Mahasiswa. Biasanya berisi pembekalan aneka kemampuan dasar organisasi dan kepemimpinan

    [3] Hima Bahasa Inggris UPI ialah organisasi intra universiter yang menghimpun mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia.

    [4] Ketua Jurusan ialah pimpinan birokrasi universitas di tingkat Jurusan.

    [5] Riyadhah ialah sebuah kata dalam bahasa Arab yang artinya kurang lebih ‘latihan’ atau ‘pembiasaan’.

    [6] PAB ialah singkatan dari Pengukuhan Anggota Baru. Salah satu acara dalam rangkaian Kaderisasi Anggota Baru (KAB) Hima. Biasanya diadakan setelah LDKM. Bentuk acara ini ialah outbond.

    [7] Gedung Pentagon ialah sebuah gedung butut di kampus UPI yang menjadi simbol hegemoni ‘aktivisme’ para mahasiswa FPBS UPI. Di Gedung itulah 6 Hima di FPBS UPI bermarkas. Hima Bahasa Inggris yang diceritakan dalam kisah ini adalah salah satunya.

    [8] SC merupakan kependekan dari Steering Committee. Dalam bahasa Indonesia berarti Panitia Pengarah, Merupakan hierarki tertinggi dari keseluruhan panitia. Tugas utamanya memastikan kepemimpinan Ketua Panitia Pelaksana berjalan sesuai prosedur yang berlaku. Di Hima Bahasa Inggris UPI, Ketua SC untuk setiap kegiatan dijabat oleh Sekretaris Jenderal organisasi itu secara Ex-Officio.

    [9] Lihat no. 6. ini adalah serangkaian acara yang digelar pada setiap awal tahun ajaran untuk menyambut kehadiran mahasiswa baru yang juga merupakan anggota baru Hima.

    [10] Maksudnya Presiden Amerika Serikat. Karakter antagonis nan jahat yang selalu pura-pura baik walau seisi dunia tahu bahwa ia adalah makhluk barbar nan biadab yang tidak manusiawi. Pemerannya berganti setiap empat tahun dalam sebuah sandiwara politik yang diberi judul ‘Pemilu Demokratis’. Hingga tahun 2005, sudah ada 43 orang yang memerankan karakter ini.

    [11] Kalimat ini dinukil dari sebuah percakapan dalam film Air Force One yang memajang aktor beken Harisson Ford sebagai pemeran utama.

    [12] Ungkapan dalam bahasa sunda yang kurang-lebih berarti ‘penyebab’.

    [13] Orang ini sekarang sudah menjadi guru di Perguruan Al Azhar

    [14] Kalo’ yang ini sudah jadi PNS di lingkungan Departemen Agama

    [15] Si Aa yang satu ini, sekarang bekerja sebagai Senior Editor di sebuah penerbit.

    [16] Saat tulisan ini dibuat, si teteh ini baru saja meraih gelar master.

    [17] Jadi Guru SMA di Sukabumi

    [18] Orang ini sudah menjadi pengusaha sukses di Banjaran, Bandung Selatan.

    [19] English Tutorial Service –Biro Jasa Kursus Hima Bahasa Inggris UPI. Nama dan identitasnya sengaja saya sensor demi menjaga privasi dan kehormatannya.

    • Share/Bookmark

    Topics: Family & Education >< Pendidikan & Keluarga, True Stories >< Kisah Nyata | No Comments »

    Comments

    rahasia-kaum-falasha